
Semakin hari kedekatan keduanya semakin lekat. Tidak jarang juga Bayu mengantar Grizelle ke sekolah sebelum dirinya berangkat ke kantor karena tidak ada jadwal untuk mengajar dan menjemputnya jika sudah waktunya.
Namun meskipun begitu, tidak.ada seorangpun yang mengetahuinya. Grizelle dan Bayu bagai penipu ulung jika dalam lingkungan sekolah. Keduanya akan bersikap biasa saja dan seperti tidak ada dalam hubungan apa-apa.
Seperti sekarang, keduanya dengan cuek duduk bersampingan dan melanjutkan makan disaat yang lainnya saling berbisik memuji ketampanan guru disebelahnya yang hanya terhalang oleh sebuah kaca tebal tentunya. Karena kantin murid dan juga guru dibuat terpisah.
"Mama nya ngidam apa ya anaknya setampan itu"
"Heran gue, ada manusia modelnya kek dewa!"
"Jodohnya lucky banget anjir! Gue ngebayangin tuh cewek pas pembagian nyawa dikasih bonus sama tuhan buat jadi jodohnya"
"Hampir tiga tahun gue sekolah disini dan seminggu empat kali liat dia gak pernah bosen gue!"
"Jadi ingin memantaskan diri tapi sadar diri"
"Fix sih gue cemburu banget sama jodohnya. Bayangin setiap pagi pas buka mata liat pemandangan surga dihadapannya, terus bilang "Morning sweetheart" Apa tidak pingsan tuh?! Kalau gue sih langsung kejang kayaknya"
Mendengarnya ucapan memuja namun terdengar receh itu membuat gadis yang sedang khusyu membaca novelnya itu sedikit terkekeh. Merasa terhibur disaat ia cukup kesal menunggu pesanan nya jadi. Karena demi apapun perutnya sudah keroncongan daritadi.
Tidak hanya pujian receh dari teman-temannya yang duduk sebangku dengannya, disebelahnya bangku nya juga ikut memuja namun dengan kata berbeda dan terdengar geli tentunya.
"Calon suami gue ko beda ya gantengnya?"
Grizelle melirik sekilas untuk melihat pria yang dikata berbeda itu yang nyatanya terlihat sama saja seperti biasanya yang entah kenapa, auranya sangat berbeda itu.
"Apa?! calon suami?! jelas-jelas pak Bayu itu calon suami gue. Kalian lupa kita mau dijodohin?!"
Grizelle mengerutkan alisnya heran sebelum akhirnya terkekeh bersama Megan yang duduk disebelahnya. Sedikit melirik segerombolan gadis-gadis binal tidak tahu malu itu.
Jelas saja Grizelle memanggilnya seperti itu. Lihat pakaian mereka, rok yang berjarak sejengkal dari lutut, baju ketat dengan berbagai tempelan aksesoris diseluruh badannya. Bukannya keren, malah terlihat norak.
"Geli gue!"
Kemudian gadis berambut sebahu itu kembali berkata, "Tunggu aja, kalian bakalan denger kabar kalau Bayu aji Bagaskara akan bertunangan bersama Fiona Affandy Wijaya" Ucapnya dengan bangga.
"Najis! Jiji banget asli. Tingkat kepercayaan dirinya itu melebihi mang Jono yang selalu bilang kalau dia kembaran Hamish Daud tau gak!"
Mendengar itu, Grizelle tidak dapat menahan tawanya. Gadis itu terpingkal sampai tidak sadar kalau seseorang sedang menahan gemas untuk tidak mencubit pipinya.
"Tidak ada alasan untuk tidak jatuh cinta sama kamu, Grizelle"
Tanpa Bayu sadari seseorang terus memperhatikan dirinya yang sedang menatap Grizelle penuh puja.
Sialan!
Nampan yang berisi dua mangkuk bakso dengan jus itu terjatuh ke lantai ketika seseorang dengan sengaja menghalangi langkahnya. Grizelle terjatuh, tangannya mengeluarkan banyak darah ketika saat ia terjatuh tangannya menimpa pecahan beling tersebut.
Grizelle menangis, semua murid yang berada dikantin langsung berkerumun melihatnya. Begitu juga dengan Bayu, dia menyuruh semua murid untuk memberi akses jalan dirinya untuk membawa Grizelle ke ruang kesehatan.
"Sakit mas" Lirih Grizelle yang berada dalam gendongan Bayu, terus meringis menahan rasa nyeri pada tangannya. Bisa dibilang lukanya cukup parah karena pecahan beling tersebut cukup besar sehingga membuat lukanya cukup dalam.
"Tahan sayang"
Sedangkan di kantin, Megan menarik tangan Fiona lalu mendorongnya sampai gadis itu nyaris terjatuh jika tidak ditahan oleh teman-temannya.
"Maksud loe apa, sialan?! loe liat, tangan dia luka dan itu gara-gara kelakuan loe!"
__ADS_1
Fiona sendiri tidak menyangka jika Grizelle akan terjatuh menimpa pecahan beling tersebut. Niatnya hanya membuat gadis itu malu saja, bukan yang terjadi sekarang.
"G-gue gak se-s-sengaja Meg, sumpah!"
"Alah, loe sengaja kan mau nyelakain dia"
Dituduh seperti itu Fiona tidak terima, gadis itu balik mendorong Megan sampai gadis itu menabrak meja dibelakangnya.
"Jangan asal nuduh loe ya. Loe lupa siapa gue?"
"Siapa emangnya, pemilik negeri ini?! Loe cuma benalu di sekolah keren ini, malu-maluin nama sekolah tau gak!"
Bruk! Tubuh Fiona tersungkur ke lantai setelah seseorang datang menahan tangan Fiona yang akan menampar Megan lalu mendorongnya hingga terjatuh. Dia Bryand Orlando, kekasih Megan.
"Sekali lagi loe sentuh cewek gue, gue gak akan segan-segan bikin loe menderita Fiona! Inget baik-baik perkataan gue"
🌻
"Are you okay?" Tanya Bryand setelah mereka keluar dari kantin.
Niat yang tadinya akan menyusul Grizelle ke UKS tetapi murid lain yang melihatnya mengatakan jika dia dibawa ke rumah sakit karena dokter yang seharusnya berjaga sedang tidak masuk.
"Aku baik-baik aja tapi, Grizelle-"
"Dia sudah aman bersama pak Bayu. Kamu tenang, okay?"
Bagaimana Megan bisa tenang disaat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri sahabatnya terluka. Apalagi begitu banyak darah disana, membuat tubuhnya bergetar mengingat kembali kejadian lampau.
"Aku takut banget, dia nangis Bryand! Aku takut kalau kejadian lalu terulang lagi. Aku trauma" Cicitnya pelan. Bryand mengerutkan alisnya heran, memangnya kejadian apa yang membuat kekasihnya itu begitu ketakutan melihat Grizelle menangis. "Aku- aku takut. Saat kita masih kecil Grizelle pernah diculik dan itu mengerikan. Dia- Grizelle minta tolong ke aku tapi aku gak bisa menyelamatkan dia yang ditarik paksa oleh mereka"
🌻
Beberapa kali pria dari balik kemudi itu mengumpat, meneriaki beberapa pengendara yang menghalangi jalannya.
Bayu mengemudikan mobilnya panik, jantungnya berdetak kencang ketika melihat wajah gadis yang dicintainya kini sangat pucat karena tangannya terus mengeluarkan darah, meskipun sebelumnya Bayu sudah membalutnya dengan dasi.
"Tahan sayang, sebentar lagi kita sampai"
Perasaan panik bertambah ketika Grizelle tidak merespon ucapannya saat beberapa kali Bayu memanggilnya agar tidak pingsan.
"Sayang!"
Bayu segera menggendong Grizelle, membawanya ke ruangan khusus agar segera mendapatkan penanganan. Pria itu terduduk dilantai, badannya bergetar ketakutan. Bagaimana wajah yang selalu dipenuhi rona merah muda pada wajahnya itu, pucat.
Menutup wajahnya dengan telapak tangan, Bayu menyembunyikan jika dia sedang menangis. Tidak perduli dengan beberapa orang yang memperhatikannya. Mungkin bertanya-tanya ada apa dan kenapa begitu banyak darah pada bajunya.
Bayu segera berdiri ketika melihat suster dari ruangan dimana Grizelle sedang ditangani berlari panik, hatinya bertambah kalut melihat suster itu kembali membawa beberapa kantung darah ditangannya. Ia tidak pernah se-takut ini sebelumnya.
Setelah menunggu hampir satu jam, dokter yang menangani Grizelle keluar.
"Nona Grizelle kehilangan banyak darah karena luka tersebut sangat dalam dan mengenai sedikit uratnya. Tetapi tuan tidak perlu khawatir semuanya baik-baik saja meskipun nona Grizelle belum sadar. Tuan bisa menemuinya"
"Terimakasih dokter"
Dokter tersebut mengangguk lalu pergi setelahnya.
Mendorong pintu kaca itu dengan pelan, Bayu berjalan mendekati ranjang. Disana terbaring seorang gadis dengan perban yang melilit sebelah tangan kirinya.
__ADS_1
Tujuh jahitan, dokter juga mengatakannya. Ia tidak bisa membayangkan sesakit apa Grizelle sekarang.
"Apa masih sakit?" Bayu bertanya saat Grizelle mulai sadar. Dia meringis, tidak tega melihat wajah cantik itu terluka.
"Banget. Tapi gak apa-apa"
Grizelle kembali memejamkan mata saat usapan lembut mengenai sisi wajahnya, menikmati usapan lembut dari tangan pria yang dicintainya sampai ia kembali membuka mata, Grizelle dapat mendengar suara isakan dari seseorang yang baru saja datang.
"Mommy~"
"Sayang, mana yang sakit? mommy panggilkan do-"
"No! I just need Mommy here"
Bayu berjalan keluar saat Samuel menyuruh untuk mengikuti dirinya. Mereka duduk didepan sana, setelah Samuel menyuruh Bayu untuk berganti baju terlebih dahulu.
"Siapa yang berani bermain-main dengan saya?"
"Putri tunggal Wijaya crop"
"Sudah kamu urus?"
"Setelah ini Bayu akan mencabut semua kerjasama dengan perusahaan tersebut dan menarik semua hal apapun yang berhubungan dengannya"
"Bagus! karena Daddy tidak suka jika anggota keluarga Daddy masih terikat kerjasama dengan musuh"
🌻
Sekolah menjadi ramai setelah kejadian tadi, semua murid sedang membicarakannya beramai-ramai. Fiona sendiri sedang berdiam diri dikelas, menutup telinganya rapat agar tidak mendengar semua kalimat benci terhadapnya.
"Gila, jahat banget sih!"
"Kali ini dia bener-bener keterlaluan"
"Betul. Semoga aja pihak sekolah langsung d.o tuh cewek benalu!"
"Setuju!"
Seakan tidak punya rasa malu dan rasa bersalah, Fiona bersikap biasa saja meskipun hatinya sedikit takut mendengar teman-temannya beramai-ramai berharap dirinya dikeluarkan. Tetapi dia tidak perduli.
"Fi"
"Jangan ganggu gue!"
"Tapi Loe dipanggil pak Hendry ke ruangan BK"
DEG!
Dan saat itulah Fiona mulai was-was. Gadis itu berdiri segera keluar kelas untuk menuju ruangan tersebut. Fiona berusaha tetap tenang, jika dirinya disahkan, Fiona tinggal mengatakan saja dirinya tidak bermaksud dan hanya bercanda. Pasti semuanya akan beres.
Fiona melangkah masuk setelah mengetuk pintu dan, PLAK! Gadis itu meringis merasakan sebelah pipinya terasa panas. Dia menoleh, melihat siapa yang telah menamparnya.
DEG!
🌻
\={R E V I S I}\=
__ADS_1