
Happy reading
Warning:
[Abt; Shawn&Fiona. If you don't like it, skip it]
🌻
Setelah memastikan bahwa Janine telah tertidur, Shawn beranjak menuju dapur untuk mengambil air minum saat dirasa tenggorokannya mulai mengering.
Dia buka lemari es dihadapannya untuk kemudian mengambil sebotol air dingin dari dalam sana. Namun saat tangannya akan menutup pintu itu kembali, tidak sengaja matanya menemukan sekotak ice cream strawberry yang mengingatkannya pada seseorang.
Beberapa menit setelah berpikir tentang; apa yang mengganggu pikirannya sehingga dirinya lupa akan sesuatu? Sampai akhirnya air yang belum sampai ke tenggorokan itu tersembur, Shawn baru menyadari bahwa dia melupakan Fiona.
"Tolol! Kenapa bisa lupa, sih?! Pasti ngamuk deh tuh"
Menyimpan gelas ke dalam wastafel, Shawn berlari menuju kamar Janine untuk mengambil jaket serta kunci mobilnya disana. Tidak lupa juga Shawn berpamitan pada Janine dan mengatakan sudah larut malam dan dia harus pulang.
Dalam perjalanan menuju rumah Fiona, mungkin sudah ke 20x Shawn menelpon namun tidak ada satupun panggilan dirinya yang dijawab oleh gadis itu. Dan Shawn yakin bahwa Fiona benar-benar marah kepadanya.
Sementara Fiona, dia sengaja mematikan dering pada ponselnya karena merasa terganggu. Tidak tahu apa kalau dia sedang menonton drama Korea?
Tidak lama kemudian bunyi klakson mobil dapat Fiona dengar memasuki pekarangan rumahnya. Meskipun malas karena enggan beranjak dari tempat tidur, Fiona terpaksa melihat siapa yang datang dan ternyata itu Shawn.
Mau tidak mau dia harus menemuinya, meskipun enggan.
"Fi"
Wajah Shawn terlihat panik. Dia pikir Fiona tidak mau menemuinya.
"Kenapa, Shawn?"
"Maafin gue, ya? Gue benar-benar lupa!"
Fiona tersenyum.
"Gapapa, santai aja kali. Lagian gue berangkat sama si Megan dan Bryan, kok"
"Tapi loe gak marah, 'kan? gue beneran lupa, Fiona"
Dalam hati Fiona mendengus. Loe pikir aja, nunggu 1 jam lamanya dan loe malah asik sama cewek lain? bego!
"Gue? Marah?" Tunjuk dirinya sendiri.
Dia tertawa, berjalan ke sebuah bangku dan duduk pada kursi yang berada disana.
"Atas dasar apa gue harus marah, Shawn? Gue gak sepenting itu sampai harus marah-marah sama loe"
Bohong!
Fiona marah. Dia kecewa dan Shawn dapat melihat dengan jelas dalam sorot matanya. Namun karena tidak ingin memperbesar masalah, Shawn memilih percaya.
__ADS_1
"Bagus deh" Jawab Shawn pelan.
"Emangnya loe habis darimana sampai lupa, Shawn?"
DEG!
Shawn harus menjawab apa? Tidak mungkin 'kan dia jujur jika seharian ini dirinya bersama cewek lain?
"Gue-- gue habis nganterin nyokap. 'kan mereka lagi liburan disini"
Fiona tersenyum, dalam hati kecewa. Kenapa sampai harus berbohong, Shawn? Kenapa harus bawa-bawa orangtua loe juga?
"Oh, gitu. ya sudah pulang sana. Sudah malam banget, gue juga mau tidur"
Saat Fiona akan pergi, Shawn menahan tangannya kemudian tatap mata Fiona seakan berkata, maaf sudah bohong.
"Kenapa lagi?"
Shawn gugup. Tidak! Shawn tidak mau membohongi Fiona, tapi keadaannya yang tidak memungkinkan untuk dirinya berterus terang. Ini masih sulit.
"Gapapa. Ya sudah loe masuk sana. Gue pulang dulu"
"Ya"
Shawn terus memperhatikan Fiona yang mulai memasuki rumahnya, perempuan itu bahkan tidak menyuruhnya masuk ke dalam seperti biasa.
"Bego! Sumpah! gue gak suka loe cuekin, Fiona!" Teriak Shawn dari luar sana.
Terhitung sudah 3 hari Fiona sedikit menjaga jarak dengan Shawn. Ketika bertemu, maka Fiona akan bersikap biasa saja dan memilih diam jika tidak ditanya. Shawn yang menyadari tidak suka, lantas yang dilakukan pemuda itu adalah menarik tangan Fiona dan menjauh dari teman-temannya.
"Loe apa-apan sih, Shawn? Main tarik aja!" Ucap Fiona kesal.
"Loe yang apa-apaan! Loe kenapa sih gue tanya?! Loe beda, Fiona!" Beda karena selalu menghindar, bahkan menolak jika berkontak mata.
Mendengar pernyataan Shawn, Fiona tertawa sarkas sebelum akhirnya menjawab.
"Beda?"
Shawn mengangguk.
"Beda kenapa? Gue ngerasa gak ada yang berubah dalam diri gue"
"Loe menghindar dari gue, fi!"
"Terus apa ruginya buat loe, Shawn?"
Tidak tahu. Yang jelas, Shawn tidak suka jika Fiona acuh kepadanya.
"Gak ada 'kan?" Imbuhnya.
"Gue gak suka, Fiona! Iya! gue akuin gue salah karena lupa nemenin loe, padahal gue udah janji. Tapi gak sampe gini juga kali, fi! Kayak anak kecil tau, gak?!"
__ADS_1
Fiona menatap mata Shawn. Sial! Fiona merasa matanya sangat merah saat ini.
"Terus loe mau nyalahin gue disaat seharusnya gue lah yang nyalahin loe? Loe mau marah ke gue di saat gue yang seharusnya marah ke loe karena loe bohong? Gue harus gimana, Shawn? Gue juga punya perasaan kalau loe lupa! Wajar kan kalau gue kecewa? Kalau emang loe gak bisa, seenggaknya kasih tau gue, telpon gue biar gue gak nungguin loe hampir 2 jam. Gue-- gue sampe tolak ajakan Megan sama Bryan demi loe, tau gak! Tapi loe-- loe malah bohongin gue"
DEG!
"Gue pikir loe bakalan jujur, tapi loe malah bohong dengan alasan loe nganter nyokap loe disaat gue liat sendiri loe lagi sama cewek"
Karena saat Fiona berada di mall, dia bertemu dengan orangtua Shawn yang sedang makan disebuah resto yang cukup terkenal disana. Bahkan mereka sempat menanyakan kenapa Fiona tidak bersama dengan Shawn.
...•••FLASHBACK•••...
"Shawn lagi sibuk sama temen-temennya, tante" Alibi. Tidak mungkin Fiona mengatakan jika Shawn sedang bersama kekasihnya disaat orangtuanya tau bahwa dia sedang dekat dengan putranya.
"Dasar anak itu! Tidak bertanggung jawab sekali!"
"Maafkan Shawn ya, Fiona sayang?"
"Tidak apa-apa, om, tante"
...•••••...
"Sekalipun loe jujur kalau loe lagi nemenin Janine, its okay gue gak akan marah, Shawn. Tapi loe malah bohong"
"Gak gitu, fi! Gue bisa jelasin--"
"Gak perlu dijelasin, Shawn. Itu hak loe"
Setelah mengatakan itu, Fiona mengambil tas kemudian pergi setelah berpamitan pada Grizelle dan juga Megan.
Grizelle tentu tidak bodoh dengan apa yang sedang terjadi antara Shawn dan juga Fiona. Pasti keduanya sedang bertengkar.
"Kenapa?" Tanya Grizelle, pelan.
"Salah faham"
"Tentang?"
"I lied to her"
Grizelle berdecak, sudah menduga bahwa pasti ada kaitannya dengan Janine. Mengingat beberapa hari lalu dia sempat cerita bahwa Shawn berada di hotel tempat Janine tinggal selama ke Indonesia.
"Jangan plin-plan. u have to determine it from now on"
"Maksudnya?"
"Stop being a stupid! abang paham apa yang aku maksud. Ingat! Keduanya sahabat aku, jangan sampai mereka terluka"
🌻
Kalian team siapa? Haha.
__ADS_1