
Perasaan bahagia ketika melihat pria yang diharapkannya datang, seketika berubah menjadi bencana. Pria itu tidak datang sendiri, melainkan bersama istrinya. Lantas Airin yang semula akan memeluk untuk menyambutnya, terpaksa harus ia tahan dahulu.
Padahal dirinya sudah membayangkan akan lebih banyak waktu bersamanya dengan alasan karena permintaan sang ibu, namun kenyataannya sangat berbeda. Semuanya kacau karena gadis itu.
Ck! Airin kesal, untuk apa juga gadis itu ikut.
"Kau sudah datang?" Tanyanya ramah. Bayu mengangguk sekilas, genggaman tangan sang istri ia pererat lagi. Kemudian tidak lupa juga ia sambut kedatangan gadis cantik disebelahnya. "Hai, kau pasti istrinya Bayu?"
"Iya" Sahut Grizelle sekenanya.
Tidak ingin berbasa-basi lebih lama lagi, Bayu meminta Airin untuk menunjukan dimana letak kamar Sonia dirawat yang ternyata sudah ia duga pasti berada dikamar tersebut.
"Mommy lihat, siapa yang datang" Seru Airin menghampiri Sonia yang terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit. Wajahnya begitu pias dengan sorot mata yang begitu sayu. "Ada Bayu" Bisiknya kemudian.
Sonia menoleh, ia tersenyum pada pria tampan yang bersiri disebelah ranjangnya. "Bayu" Panggilnya lirih. Sonia mengisyaratkan agar Bayu mendekat.
"Ya"
"Bisakah kita berbicara berdua saja?" Pintanya kemudian.
Bayu menatap Grizelle yang juga menatapnya, ia mengisyaratkan sesuatu menggunakan tangannya, seakan berkata "Jangan lepaskan ini" sambil menyentuh telinganya yang sudah ia pasang dengan earphone yang menghubungkan keduanya, membuat Grizelle mengedipkan matanya mengerti.
"Apa yang ingin anda katakan?" Bayu bertanya setelah istrinya dan juga Airin keluar dari kamar perawatan.
"Menikahlah dengan Airin" Pinta Sonia tanpa berbasa-basi.
Bayu tersenyum miring, melipat tangan didepan dada. "Apa untungnya jika saya menikahi putri anda, nyonya Sonia?" Ucapnya remeh. "Tentu harus ada keuntungan untuk saya, contohnya untuk perusahaan?" Lagipula siapa juga yang mau dengan piala bergilir sepertinya. Kalaupun Bayu belum menikah, dia juga tidak akan pernah mau dengannya.
"Bukankah kalian saling mencintai sejak kecil, bagaimana mungkin kau berkata keuntungan atas sebuah rasa cinta?"
Cinta?
Rasanya Bayu tidak tahan untuk tidak tertawa.
"Anda salah faham atas kebaikanku terhadap putrimu nyonya. Satu hal yang harus anda ketahui, saya tidak pernah mencintai putri anda sedikitpun. Dulu maupun sekarang!"
DEG!
"Kau berbohong. Aku masih ingat bagaimana sedihnya kau saat mengantar kami ke bandara dulu. Airin begitu mencintaimu, bahkan ketika kami masih di Rusia, dia tidak pernah henti-henti nya memikirkan mu"
"Wah, saya merasa tersanjung sekali mendengarnya"
"Jadi tolonglah, menikahlah dengan putriku sebelum aku pergi untuk selama-lamanya. Paling tidak aku akan merasa tenang karena Airin bersama dengan pria yang begitu dicintainya"
Cih!
Sementara itu, didepan kamar ruang perawatan, Airin dan juga Grizelle duduk bersampingan. Mereka tidak banyak berinteraksi, terlebih Grizelle masih kesal mendengar percakapan yang ditunjukan suaminya kemarin pagi.
"Kau tahu, saat kecil kami begitu dekat"
Airin mengawali percakapannya, membuat Grizelle yang enggan berbicara terpaksa merespon malas. "Benarkah?"
"Ya. Dia selalu melindungi ku dari anak-anak nakal yang selalu menggangguku" Airin kembali bersuara, membuat atmosfer disekelilingnya berubah panas. Apakah wanita itu sedang berusaha memanas-manasi dirinya agar cemburu? Tidak akan mempan sama sekali.
"Mas Bayu memang pria yang sangat baik, karena itu aku menerima pinangannya." Oh Grizelle, jangan sampai terpancing emosinya, dirinya tidak boleh kalah dan harus lebih bisa membuat wanita itu kepanasan.
"Benar!" Airin menyetujui perkataan Grizelle. "Saking baiknya dia terus menjemputku setiap hari saat berangkat sekolah dan akan mengantarkan ku ketika pulang" Imbuhnya bangga. "Kami terus bersama sampai lulus SMP, sampai akhirnya kami dipisahkan oleh jarak antara indonesia-Rusia dan kami sempat berjanji untuk saling menunggu sampai kami bertemu kembali"
Airin menoleh, ia ingin tahu apa respon Grizelle selanjutnya.
"Wah, haruskah aku cemburu nona Airin?"
"Mendengar kedekatan kami seharusnya kau mempunyai perasaan itu, bahkan beberapa hari ini kami kembali dekat dan sering bertemu. Kenapa, kau tidak mengetahuinya?"
Grizelle berpura-pura terkejut, memasang wajah terluka membuat Airin tersenyum puas melihatnya. "Benarkah? Aku tidak tahu mengenai itu"
"Bagaimana bisa, bukankah kejujuran antara suami-istri sangatlah penting? M, apa kau memang tidak penting baginya?"
Argh sialan, jika saja Grizelle tidak dalam keadaan mengandung, sudah ia keluarkan sabuk hitam didepan wajahnya yang sangat menjengkelkan itu.
__ADS_1
"Penting ataupun tidak, semua itu tidak ada urusannya denganmu. Lagipula untuk apa aku cemburu pada masalalu nya, sedangkan aku masa depannya dan aku juga yang memilikinya sekarang." Tersenyum puas penuh kemenangan. "Kau lihat?" Menunjukan perutnya yang sedikit bulat lalu mengusap nya begitu lembut. "Masa depan aku dan mas Bayu sudah tumbuh sehat disini. Ugh! Aku jadi tidak sabar menantikan kelahirannya. Pasti dia akan sangat mirip sekali dengannya, secara dia yang paling semangat membuatnya sampai aku kelelahan setiap hari"
Rahang Airin mengeras, dengan tangannya yang terkepal sempurna menahan rasa kesal yang membuncah pada dadanya. Wanita itu berusaha menahan amarahnya, bisa-bisanya gadis itu berkata seperti itu.
Memaksakan senyumnya kemudian menoleh, "Wah kau sedang hamil, selamat ya kalian" Sial! Kenapa Airin sampai tidak tahu sejak awal jika istri Bayu sedang mengandung.
"Terimakasih Airin" Sahut Grizelle sedikit meledek.
Lalu obrolan panas berhenti ketika pintu kamar itu terbuka, kedua wanita itu berdiri, namun sebelum mereka menghampiri Bayu yang sedang mengobrol bersama sang dokter, Airin sempat berbisik sesuatu yang mana membuat Grizelle sangat amat emosi.
"Bagaimana kalau kau berbagi suami denganku, pasti akan menyenangkan"
"Dasar murahan" Desis Grizelle tidak suka. Airin menoleh sarkas, hampir saja ia menampar Grizelle jika ia tidak ingat dengan tujuannya.
"Jaga mulutmu gadis kecil"
"Kenapa kau harus marah, kak William bilang pekerjaanmu memang seperti itu, bukan?" Sarkas Grizelle.
William, bukankah pria itu adalah pemilik klub tempat dirinya bekerja? Dan kenapa Grizelle mengetahuinya?
"Wah ternyata gadis kecil sepertimu mengetahui klub malam terkenal juga, apakah kau sering menjajakan diri disana?" Sinis Airin.
"Tentu aku tahu, kakakku adalah pemiliknya. William Atmawidjaya" Grizelle tersenyum penuh kemenangan, ditekannya earphone yang terpasang pada telinganya lalu mengangguk dengan senyum yang menyeringai. "Kau belum mengenalku rupanya, Airin! Kau pikir seorang Bayu Aji Bagaskara akan menikahi wanita sembarangan, apalagi wanita bergilir sepertimu" Grizelle terkekeh geli, "Kau ingin tahu tipe seperti apa wanita idamannya seorang Bayu Aji Bagaskara? Yang pertama, dia harus berasal dari keluarga terpandang, terhormat dan juga mempunyai harga diri yang tinggi. Tidak murah sepertimu, apalagi keluargamu sangat tidak jelas!" Tersenyum sinis. "Jadi jangan bermimpi terlalu tinggi untuk merebut suamiku!"
"Kau-"
Melihat Bayu yang sudah selesai berbicara dengan dokter, membuat Airin mempunyai rencana agar mendapatkan simpati dari Bayu. Ia menjatuhkan dirinya sendiri, seakan-akan dirinya didorong oleh Grizelle. Bahkan tidak tanggung-tanggung, Airin sengaja membenturkan kepalanya pada kursi disebelahnya.
"Aduh! Kenapa kamu mendorongku?" Teriak Airin membuat Bayu menoleh panik.
Bayu sedikit berlari, menghampiri mereka. "Ada apa ini?" Bayu sedikit lega, ia kira yang berteriak adalah istrinya.
"Istrimu mendorongku, dia tidak terima jika saat kecil kita begitu dekat"
"Bohong mas, dia sendiri yang pura-pura jatuh!" Kilah Grizelle mulai terpancing emosi.
"Dia yang berbohong Bayu, padahal aku sudah mengatakan jika itu hanyalah masalalu tetapi istrimu tetap mendorongku dan hampir menamparku!" Tambahnya.
"Ayo bangun"
Grizelle terperangah tidak percaya, suaminya lebih memilih membantu wanita sialan itu daripada mendengarkan penjelasannya! Wah ini tidak bisa di biarkan.
"Mas dia bohong, aku gak nge-"
"Diam Grizelle, kamu sudah keterlaluan!"
Oh shit!
Grizelle benar-benar emosi, apalagi melihat Airin dibantu bangun oleh suaminya. Ah dia tidak rela dan awas saja kalau pulang, Grizelle akan merendam tubuh suaminya selama sejam lebih agar bakteri jalang tidak menempel lagi pada tubuh suaminya maupun dirinya.
"Mas"
"Mas mengajak kamu kesini bukan untuk membuat keributan. Tolong jaga sikap, ini rumah sakit"
HA?
🌻
Theo sudah kembali dari Surabaya lebih cepat, dia sudah tidak tahan ingin menemui putranya untuk meminta penjelasan apa maksud dari perbuatannya kemarin yang menimbulkan masalah besar. Theo benar-benar malu dan juga bingung ketika Samuel menelponnya untuk apa Bayu menanyakan keberadaan Grizelle.
"Anak itu harus di hajar, dia sudah membuatku malu! Dasar brengsek!"
Hari itu Theo baru keluar dari bandara, ia menuju mobil dimana supirnya sudah menunggu. Namun karena ia terlalu emosi memikirkan putranya, ia sampai tidak sengaja menabrak seseorang dan membuat koper kecil mereka berjatuhan.
"Oh ya ampun, saya minta maaf tuan" Ucap Theo seraya mengambil koper kecilnya yang terjatuh.
"Tidak apa-apa tuan, saya juga sedang buru-buru" Sahut orang tersebut yang juga melakukan hal yang sama.
"Sekali lagi saya minta maaf"
__ADS_1
Pria itu tersenyum ketika melihat wajah Theo, rasanya seperti tidak asing untuknya. "Apakah kau besan nya Samuel?" Tebak pria tersebut. Theo mengangguk, tetapi ia bingung siapa sebenarnya pria bule itu. Theo merasa tidak mempunyai partner kerja seperti itu.
"Ya benar. Apakah anda mengenal saya? Maaf jika saya tidak ingat" Sahut Theo.
Pria tersebut tersenyum, "Perkenalkan saya adalah Alberto Aquilani kolega dari anakmu Bayu Aji Bagaskara dan sekaligus sahabatnya Samuel." Ujar tuan Alberto.
Alberto Aquilani? Pengusaha properti tersukses di Russia. Theo memang pernah mendengar, dulu perusahaan putranya diajak bekerja sama dengan perusahaan luar yang begitu besar selain perusahaan Samuel, namun ia tidak begitu menanyakan secara detail karena dirinyapun sedang sibuk-sibuknya.
"Oh iya, maafkan saya tuan. Saya baru ingat kalau anda adalah partner kerja putra saya. Lalu untuk apa anda disini, apakah untuk bertemu Bayu atau besan saya?"
"Keduanya, saya akan bertemu mereka malam ini untuk makan malam bersama. Namun sebelumnya, saya akan menyelesaikan masalah saya terlebih dahulu"
"Masalah?" Dahi Theo berlipat dalam, masalah apa sehingga pria itu jauh-jauh dari Rusia datang ke Indonesia?
"Sebelumnya maaf jika saya melibatkan putra anda untuk masalah besar seperti ini tetapi saya tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi karena saya hanya mengenal Bayu dan juga Samuel saja di Indonesia. Saya telah menyuruh putra anda untuk menjebak seseorang yang telah menggelapkan uang perusahaan yang kebetulan ia kabur ke Indonesia.
Awalnya saya hanya bercerita jika perusahaan mengalami krisis keuangan karena masalah tersebut, namun sebuah kebetulan, ternyata putra anda mengenal mereka. Maka dari itu saya meminta bantuannya kepadanya karena rasanya tidak mungkin jika saya meminta bantuan kepada Samuel yang- anda sendiripun tahu Samuel seperti apa" Ujar tuan Alberto.
"Wah siapa yang sudah melakukan kejahatan besar seperti itu?" Tanya Theo penasaran.
"Dia adalah Sonia Vigatama, mantan sekretaris saya dan juga putrinya, Airin Vigatama yang terkena skandal perselingkuhan Mentri disana. Mereka sudah menjadi buronan di Rusia sejak 2 bulan lalu setelah kaburnya ke Indonesia."
Airin?
Bukankah wanita yang sempat bodyguard nya pergoki sedang berpelukan dengan putranya?
Jadi selama ini dirinya sudah salah paham, ia pikir Bayu berselingkuh dari istrinya namun itu hanyalah sebuah rencana untuk menjebak seseorang. Dan apa katanya tadi, Bayu bersama istrinya? Itu berarti semuanya sudah terencana dan hanya dirinya saja yang tidak tahu? Keterlaluan!
🌻
Bayu membawa Airin ke dalam, begitupun dengan Grizelle yang mengekorinya dibelakang. Mereka sama-sama duduk bersampingan pada sebuah sofa mewah yang terdapat diruang perawatan VVIV, dimana Sonia dirawat.
"Apa yang kalian bicarakan?" Airin bertanya. Ia melihat mommy nya yang sedang tertidur.
"Saya akan keluar sebentar untuk membeli minuman." Bayu mengalihkan pembicaraannya, menghindari pertanyaan yang dapat membuatnya mual.
"Mas aku ikut"
"Kamu diam disini" Tegas bayu berlalu pergi.
Airin tersenyum melihat perilaku dingin Bayu terhadap istrinya sendiri, dia yakin jika aktingnya tadi berhasil menarik simpatinya. "Kamu lihat sendiri kan Grizelle, suami kamu begitu mengkhawatirkan aku. Bahkan dia lebih membela aku daripada kamu, istrinya." Ledek Airin.
"Terus aku harus bagaimana Airin, apakah aku harus menceraikannya hanya karena dia seperti itu? Ngarep banget loe!" Sewot Grizelle begitu santai. "Hey nyonya Sonia, bangunlah! Jangan berpura-pura tidur. Suami saya sudah keluar ko" Sarkas Grizelle terhadap Sonia.
"Grizelle jaga mulut kamu, mommy aku memang sedang sakit!"
"Alah gak usah akting deh. Gue udah tahu semuanya!"
Mendengar Grizelle berkata seperti itu, Sonia langsung membuka matanya lebar-lebar. Ia berpikir istri dari pemilik perusahaan BA Development itu sangat cerdik dan susah untuk dibohongi.
Sonia bangun dari ranjangnya, ia tersenyum licik menatap Grizelle yang sedang duduk santai bertumpang kaki dihadapannya. "Bahaya juga ya kamu! Saya pikir kamu hanyalah gadis polos yang lugu dan tidak berdaya, ternyata kamu licik juga"
"Sesama orang licik memang sulit untuk saling membodohi, bukan?" Sahut Grizelle begitu santai. Ugh ya ampun kenapa perutnya mendadak mual ketika melihat wajah ibu dan anak itu, rasanya perutnya melilit sekali dan ingin muntah.
"Haha! Sangat mengagumkan!" Desis Sonia.
"Tante, buat apa sih pura-pura sakit kayak gini? Mau uang? Kerja lah, jangan morotin duit suami saya!"
"Suami? Yakin dia masih akan menjadi suami kamu setelah ini?"
"Maksudnya?"
"Suami kamu sudah menyetujui akan menikahi putri saya," Merangkul pundak Airin begitu bangga. "Airin Vigatama"
DEG!
🌻
...Jangan bilang sedikit ya, ini 2 episode aku satuin. ...
__ADS_1
...Follow my Ig : yarraanaya_...