I Love You, Muridku

I Love You, Muridku
149


__ADS_3

Seriously, aku itu suka banget sama sad ending .. Apalagi pemeran utamanya meninggal mwehehee


But kalian don't worry, aku sayang banget sama Cherry kalau kalian mau tau, apalagi visualnya itu bias aku.


Maaf lama banget ya update nya? aku masih sibuk karena anak aku baru masuk PAUD, ini juga curi-curi waktu buat ngetik.


Ya sudah, selamat membaca semuanya ;)


...***************...


"Mas, kamu jangan diam terus dong!"


Setelah mendengar kabar jika Arjuna akan mengadakan pertunangan dengan Mawar, mommy dari dua bayi kembar itu tidak hentinya berbicara kepada sang suami.


Tentu bukan tanpa alasan jika Grizelle sedikit tidak rela mereka bertunangan, bukan karena Grizelle tidak menyukai Mawar, bukan! Tapi karena Cherry yang beberapa bulan sempat ia lihat menggendong seorang anak lah yang menjadi penyebabnya. Dan Grizelle sangat yakin jika bayi itu adalah anak dari Arjuna.


Manjanya Grizelle terus menyuruh sang suami untuk melakukan sesuatu.


"Mas harus bagaimana sayang? Biarin lah, mereka sudah dewasa dan bisa-"


"Mas!"


Grizelle membanting undangan tersebut ke lantai, menghampiri suaminya yang sedang duduk di sofa lalu menatapnya kecewa.


"Sayang-"


"Ada bayi diantara mereka. Mas tega liat anaknya kak Cherry tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah? Mas gak malu punya sahabat yang tidak bertanggung jawab dengan apa yang sudah dilakukannya?" Sela Grizelle menahan tangisannya. Entah kenapa memikirkan Cherry, hatinya ikut merasakan penderitaan wanita itu. "Aku juga perempuan mas, aku bisa ngerasain gimana kalau aku ada diposisi kak Cherry. Mengandung sendirian, melahirkan tanpa suami dan membesarkan seorang diri. Itu terlalu kejam, mas!"


"Mas gak lihat bagaimana penampilan kak Cherry saat itu. Aku sendiri aja shock dan menyangka kalau itu bukan kak Cherry yang aku kenal"


Bayu panik melihat wajah istri tercintanya hampir menangis. Pria itu langsung menarik Grizelle duduk dipangkuan nya lalu memeluknya serta mengusap punggung itu dengan lembut.


Bukannya Bayu tidak mau membantu, mencari jarum dalam tumpukan jerami pun bukan hal susah untuknya, apalagi hanya mencari keberadaan seseorang manusia dengan identitas yang masih berada dalam satu atap langit dengannya.


Tetapi, karena respon Arjuna tempo dulu lah yang membuat Bayu enggan dan akan terasa percuma juga jika ingin membantu.


Lagipula Arjuna sudah bersama Mawar, kan? Bayu yakin jika Arjuna bukan tipe pria yang mudah menaruh hati kepada sembarang wanita manapun jika itu bukan atas dasar hatinya sendiri.


"Ssst, jangan nangis sayang. Oke baiklah, mas akan menyuruh anak buah mas mencari keberadaan dia" Ucap Bayu membuat Grizelle yang berada dalam pelukannya mendongak dengan riak wajah berbinar bahagia. "Mas akan menyuruh Hendry untuk melacaknya dengan mudah. Kamu jangan khawatir, si bule Chicago itu bisa di andalkan sayang"


"Serius?"


Bayu mengangguk pelan, mencium sekilas bibir flum istrinya dengan gemas. Entah kenapa, setelah mempunyai anak kembar, gadis ini terlihat semakin cantik dan - ekhm, sexy. Kadang Bayu suka tidak kuat melihat tubuh istrinya yang semakin, montok.


"Tentu sayang. Dan berhenti merengek, mas tidak bisa menahan untuk tidak memakan mu detik ini juga karena melihat wajah manja mu itu!"


"Ya! Bayu Aji Bagaskara you are so perverted!"


Bayu tergelak, menahan rontaan Grizelle yang berusaha melepaskan diri dari terkaman singa yang sedang kelaparan. Ia tidak mau berakhir di atas ranjang dengan tubuh lemah.


Dan jika itu terjadi, sudah dipastikan jika Kenzo dan kenzi akan memiliki seorang adik diusianya yang masih sangat kecil.


"Mas lepasin gak!"


Bayu menggeleng, semakin mempererat belitan tangannya pada pinggang sang istri.


"Enggak! Kangen tau, kamu sibuk terus sama dua buntalan gembul itu"


Grizelle terkekeh pelan, mengusap Surai coklat yang sudah terlihat panjang dengan lembut.


Benar! Grizelle terlalu sibuk mengurus ke dua bayi nya, ia sampai lupa jika suaminya sedikit tidak terurus olehnya.


Rambutnya sudah panjang, bahkan sekarang di area rahangnya yang tegas sudah ada sedikit bulu-bulu halus menghiasinya.


"Rambut mas sudah panjang, tapi ko jadi gemes ya? Coba kalau pakai gaya ponytail" Grizelle mengambil sedikit rambut yang menutupi kening suaminya, lalu mengikatnya ke belakang. "Ko tambah berdamage sih mas! Jadi tambah ganteng tau gak!"


Bayu Mencebik sebal, menyusupkan kepalanya pada ceruk leher sang istri - menghirup aroma vanilla bercampur mawar yang selalu membuatnya tenang.


"Besok aku potong rambutnya ya?"


Bayu hanya mengangguk, terus sibuk mengendus leher sang istri yang masih berada dalam pangkuannya.


Grizelle tetap diam, membiarkan bayi besarnya ber-manja sebentar sebelum kedua bayinya kembali menangis meminta digendong.


🌻


Darendra sudah pulang satu jam yang lalu ketika seseorang dalam sambungan telponnya menyuruhnya untuk segera datang karena sebuah pekerjaan.


Niat untuk menemani Cherry berjualan di taman raya terpaksa ia batalkan karena pekerjaan tersebut tidak bisa ditunda.


Kesal!


Darendra setengah malas untuk beranjak, dia menatap Cherry, meminta tolong agar wanita mungil itu berpura-pura menjadi egois untuk menahannya agar tidak pergi.


Menggelikan sekali, Darendra!


Itu yang dikatakan Cherry untuk mentertawakan sikap pria yang mendadak lebay di hadapannya. Sedari tadi, setelah Cherry menceritakan semua kisahnya, Darendra seperti enggan meninggalkannya.


Dia terus berada disampingnya. Memberikan semangat dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Dan ya, Cherry percaya itu. Selama ada Juna dalam hidupnya, Cherry akan sangat baik-baik saja.


Sebelum keluar dari kontrakan kecil itu, Darendra kembali menoleh dengan wajah memelas minta ditahannya. Memasang wajah se-menyedihkan mungkin agar Cherry mengiba.


"Tahan aku Cher, say 'Please temani aku hari ini, darendra' gitu"


Cherry tergelak, memukul lumayan keras lengan pria yang sedari tadi susah sekali memasuki mobilnya. Padahal sedari tadi sudah beberapa kali di umpati oleh seseorang disebrang sana.


"Tidak! Bekerjalah Darendra, jika kau miskin, wanita mana yang mau bersamamu!"


Darendra mengerucutkan bibirnya lucu, berpura-pura tersinggung agar Cherry merasa bersalah.


Sedangkan Cherry, menatapnya dan menggeleng tidak percaya. Tampang berwibawa seperti Darendra bisa se-konyol itu? Bagaimana jika para pegawainya tau kelakuan atasannya yang sedikit - ekhm, gila.


"Kau! Siapa lagi wanita yang tidak pernah menuntut apapun. Hanya bajingan yang menelantarkan wanita seperti-"


Mulai lagi.


Cherry cepat mendorong Darendra semakin mendekat ke mobil, memaksa tubuh bertinggi 173 cm itu untuk masuk.


"Ya! Pergilah kau!"


Dasar Darendra, ucapannya selalu saja membuat Cherry - tersipu malu.


Sedangkan Darendra Mencebik, beralih menatap sang jagoan dalam gendongan yang sedari tadi terus tersenyum geli menonton perdebatan orang dewasa dihadapannya.


"Bunda mu minta di halalkan Juna, marah-marah terus. Ya sudah, ayah berangkat kerja dulu ya, ayah tidak akan berpamitan kepada bunda - seram!"


"Ya! Darendra!"


Darendra segera menghindar ketika melihat lima jari mungil itu sudah melayang mendekati lengannya, berlari kecil dan cepat memasuki mobil dengan tergelak melihat wajah Cherry yang menahan kesal.


"Bye Juna, bunda Cherry. I love you guys"


Cherry mendengus pelan, kepalanya menggeleng pusing dengan segala tingkah nya. Tangan yang tadinya sangat gemas untuk memukul tangan pria itu kini melambai. Mengucapkan hati-hati mekipun mungkin tidak terdengar sama sekali.


Sampai mobil hitam itu jauh, Cherry merasa dirinya kejam.


"Maaf Darendra, aku belum bisa membalas perasaan kamu. Aku merasa tidak pantas untuk pria sebaik dirimu"


Terlebih, aku tidak bisa mencintai siapapun lagi.


Kecuali - Arjuna.


Huh! Kadang Cherry merasa lelah dengan takdirnya.


Kenapa tuhan begitu kukuh mempertahankan rasanya, padahal sudah jelas memisahkannya dan mungkin juga sangat mustahil untuk mempersatukan nya.


Kenapa rasa itu tidak dipindahkan saja kepada seseorang yang jelas selalu ada untuknya?


Cherry ingin mencoba membuka hati, namun ia tidak mau mengkhianati. Karena rasanya sangat sulit sekali.

__ADS_1


"Nah, sekarang ayok kita jualan ditaman sana, Jun. Kue bunda sering ada yang memborong tau"


Juna tersenyum dalam gendongan kangguru nya, wajah tampan bayi berumur enam bulan itu bersorak, seakan mengerti dan memberi semangat kepada sang bunda agar semangat.


Juna sendiri sudah siap, memakai topi rajut yang dibelikan Darendra sebagai oleh-oleh Bandung kemarin dan juga baju panjang agar tubuhnya tidak tersengat langsung oleh cahaya matahari.


"Ini pertama kalinya kamu ikut bunda jualan disana. Nanti kita main sebentar ya disana? Kamu pasti senang"


Setelah mengikat keranjang kue nya dibelakang sepedanya, Cherry mengayuh sepeda yang ia dapatkan dari meminjam ibu pemilik kontrakan yang baik hati. Katanya sayang sepedanya jarang dipakai. Lagi, Cherry merasa sangat bersyukur karena ia selalu dikelilingi oleh orang-orang baik.


Hm, untung saja saat kecil Cherry tidak menolak saat ibu nya menyuruhnya untuk belajar bersepeda, ternyata sekarang berguna juga.


Sambil mengayuh sepeda dan sesekali berhenti karena ada pembeli, Cherry terus bercerita kepada Juna tentang bagaimana ia bisa naik sepeda seperti ini.


"Coba tebak Jun, siapa yang mengajarkan bunda naik sepeda?"


Cherry tersenyum, ingatan saat dia terjatuh dan menangis saat jatuh dari sepeda teringat kembali. Saat itu umurnya baru lima tahun, Cherry yang mau masuk sekolah bertekad untuk bisa naik sepeda seperti yang lainnya. Makanya dia memaksa sang ibu mengajarkannya, meskipun setelah terjatuh Cherry sangat kapok, namun Katrina sang ibu terus meyakinkannya dan akhirnya ia bisa.


"Nenek kamu baik sekali. Kadang bunda suka bertanya, apakah dia manusia atau seorang malaikat? Dia sangat lembut dan menyayangi bunda"


"Bunda jadi rindu. Setelah kue bunda habis, kita ke makam nenek ya sayang. Sudah lama sekali bunda tidak berkunjung, pasti nenek kamu sangat merindukan kita"


Akhirnya setelah tiga puluh menit berlalu, Cherry dan juga Juna sampai disebuah taman yang selalu ramai. Wanita mungil itu langsung menjajakan kuenya disana, bersebelahan dengan pedagang lain yang ramah.


Juna sendiri sudah anteng diatas tikar kecil yang dibawa oleh Cherry, bayi itu duduk sambil memainkan boneka beruang favoritnya. Dan selang beberapa menit, beberapa rombongan ibu-ibu yang diperkirakan akan bersepeda memborong semua kue nya.


Tidak hanya itu, mereka juga meminta difoto bersama dengan Juna karena merasa gemas dengan wajah tampan putranya.


"Puji Tuhan Jun, rezeki kamu ini sayang. Kita bisa pulang cepat dan berkunjung ke makam nenek. Tapi-"


Juna menoleh, seakan bertanya kenapa?


"Kita ke pasar dahulu ya? Beli popok sama sabun mandi kamu sudah habis, hehe"


🌻


Cherry memasukan barang belanjaannya ke keranjang sepeda. Dia sudah membeli semua keperluan Juna dan juga bahan-bahan kue untuk besok.


Dilihatnya Juna dalam gendongannya, Cherry terkekeh pelan seraya mengusap Surai lembut putranya. Pantas saja tidak terdengar ocehan dari bibir mungil bayi itu, dia sudah tertidur pulas ternyata.


Cherry berhenti sebentar didepan sebuah cafe. Bukan untuk makan ataupun yang lainnya, Cherry hanya berhenti untuk membenarkan posisi Juna agar menghadap ke arahnya agar lebih nyaman untuk bayi itu.


Dan ketika cherry akan kembali untuk mengayuh sepedanya untuk pergi, wanita mungil itu menoleh ketika sebuah teriakan mengalihkan perhatiannya, Cherry dapat melihat seorang perempuan cantik sedang tersenyum ke arahnya sambil merentangkan tangannya.


"Mawar?"


Cherry tersenyum, menyambut Mawar kedalam pelukannya.


"Aku rindu sekali dengan mbak, dan juga Juna"


"Mbak juga. Bagaimana keadaanmu, Mawar? Dan sedang apa kamu disini?"


Mawar menarik tangan Cherry untuk masuk ke dalam, namun Cherry menolak karen ia merasa malu melihat dirinya. Bagaimanapun penampilannya sangat tidak cocok untuk masuk kesana.


"Aku sedang membahas acara pertunangan aku dengan-"


"Siapa, sayang?" Tanya seorang pria dibelakangnya.


DEG!


Cherry mendongakan wajahnya, menatap siluet seorang pria dibelakang Mawar.


Suara itu.


"Hey cantik"


"Bolehkan kita lebih dekat lagi?"


"Hey, aku ingin mengetahui nomor ponselmu"


"Cherry. Nama yang sangat cantik seperti orangnya. Meskipun sangat galak, but I like it"


"Hey i love you so much cewek galak!"


"Cherry, aku menyayangimu"


"Hey Cherry, bisakah kita menikah dan hidup bersama selamanya?"


Suara lembut yang selalu membuat Cherry kesal dan juga jatuh cinta secara bersamaan. Suara yang tidak hentinya mengucapkan cinta dan sayang sampai Cherry merasa sangat jengah - Ya, Cherry mendengarnya lagi dengan jelas.


Suara itu, suara-


"Ar-juna?" Ucapnya lirih.


DEG!


Cherry menutup mulutnya, langkahnya terhuyung ke belakang ketika melihat wajah seseorang yang sangat dirindukannya sedang berdiri tidak jauh dari hadapannya.


Air matanya mendesak keluar bersamaan dengan rasa sakit yang menggerogoti hatinya tanpa henti. Bahkan saking sakitnya, ia merasa kakinya tidak kuat untuk menopang tubuhnya namun dengan sekuat tenaga Cherry menahannya.


Mawar menarik tangan Arjuna, "Mas, ini bundanya Juna - mbak Cherry. Dan mbak, ini mas Arjuna, calon tunangan aku selama ini. Dia bos yang sering aku ceritakan sama mbak itu loh hehe"


Tes!


Dan bersamaan dengan kalimat tersebut, Cherry merasakan dunianya seakan hancur tak tersisa. Kini, Cherry merasa kepalanya sangat pusing.


Ia menggeleng pelan, mencoba bangun dari tidurnya - mungkin ini hanyalah mimpi buruknya dan Cherry berharap segera bangun dari alam bawah sadarnya.


Tapi sialnya


Ini nyata.


Nyata, bahwa


Arjuna telah melupakannya.


Arjuna sudah mendapatkan penggantinya.


Arjuna, pria yang sampai saat ini masih menempati tahta tertinggi dalam hatinya telah membuangnya, dari hatinya?


"Mbak-"


"Cher-"


Arjuna tidak bisa diam saja ketika melihat Cherry meneteskan air matanya. Walaupun hanya setetes, namun Arjuna dapat melihat dan merasakan lewat sorot matanya - begitu banyak luka didalamnya.


Ia benci melihat Cherry menangis, ia benci melihat Cherry bersedih namun Arjuna lupa bahwa alasan Cherry menangis saat ini adalah karena dirinya sendiri.


"Cher-"


Arjuna mencoba mendekat, namun Cherry sudah mengangkat tangannya agar pria itu berhenti mendekatinya.


"Jangan mendekat!"


Dan bersamaan dengan kalimat tersebut, Cherry berbalik lalu mengambil sepedanya untuk secepatnya pergi.


Cherry shock.


Ia terlalu terkejut dengan kenyataan yang baru diketahuinya ini.


Bahkan ia mengabaikan panggilan Mawar yang meminta penjelasan dari segala apa yang dilihatnya saat ini.


"Cherry, sayang"


DEG!


Cherry menoleh. Dia dapat melihat dengan jelas seseorang yang memanggilnya tadi.


Seorang wanita paruh baya yang begitu menyayangi nya, "Tante Diana,"

__ADS_1


Dan seseorang yang sangat membenci dirinya


Seseorang yang tidak menyukai keberadaannya.


Seseorang yang sudah membuat dirinya hidup dalam ketakutan ancamannya.


"Om, Rahardian." Lirihnya.


"Cherry sayang kemarilah, Tante sangat merindukanmu"


Baru selangkah Diana akan menghampiri dan memeluk Cherry, namun Cherry juga menyuruhnya untuk diam dan tidak mendekat.


"Stop! Kalian jangan mendekat. Saya mohon jangan sakiti kita"


"Cherry, om minta ma-"


Cherry Menggelengkan kepalanya takut, air mata nya semakin deras keluar. Juna dalam gendongannya terus ia dekap begitu erat seakan takut jika orang itu akan menyakiti putranya.


"Om saya mohon jangan sakiti kita. Saya janji akan menghilang sejauh mungkin setelah ini dan tidak akan pernah menunjukan wajah saya lagi. Tapi saya mohon, biarkan saya pergi sekarang dan jangan sakiti anak saya"


Rahardian menggeleng, menyangkal perkataan Cherry yang menuduhnya akan menyakiti mereka.


"Tidak Cherry, om tidak akan menyakiti kalian. Om minta ma-"


Cherry berteriak saat Rahardian akan mendekatinya, membuat beberapa pengunjung yang tidak terlalu jauh menengok ke arahnya.


"Om please, biarkan saya hidup sekali ini saja. Maaf karena sudah mempertahankan dia. Sungguh, saya hanya ingin mempertahankan apa yang saya miliki saja-


Tidak sedikitpun pikiran untuk kalian akui, tidak! Saya tidak menginginkan apapun dari kalian semuanya, Jadi tolong om, jangan sakiti dia, saya sudah kehilangan segalanya, saya tidak mau kehilangan anak saya. Dia nyawa saya satu-satunya"


Cherry menangis sesegukan, tubuh mungilnya bergetar ketakutan melihat tatapan aneh dari orang disekelilingnya. Juna dalam gendongannya semakin ia peluk dengan erat.


Sedangkan Arjuna, pria itu sudah meneteskan air matanya daritadi. Ia ingin mendekat namun melihat ketakutan Cherry, ia hanya bisa diam menatapnya iba.


Rasa nyeri terus menggerogoti hatinya, melihat bagaimana Cherry hidup dalam ketakutan karena telah mempertahankan apa yang seharusnya dirinya lah yang melindunginya.


Sungguh, hatinya sangat sakit mendengar bagaimana wanita yang paling dicintainya menjalani hidupnya seorang diri.


Mengandung anaknya yang ia pikir sudah tiada.


Melahirkan anaknya dengan selamat tanpa dia disisinya.


Membesarkan, merawat bahkan wanita itu rela melakukan apapun agar anaknya tidak kekurangan.


Cherry sudah menaiki sepedanya dengan tergesa-gesa, Arjuna masih diam. Kepalanya terasa sangat pusing sekarang, sedangkan Mawar, perempuan itu terus menatap Arjuna dengan tatapan tidak terbaca.


"Jelaskan semuanya!"


🌻


Cherry segera pulang ke kontrakannya, ia bergegas membereskan pakaiannya dan juga Juna untuk dimasukkan ke dalam koper besarnya.


"Kita harus segera pergi, Juna" atau mereka akan menyakiti kamu, batinnya ketakutan.


Juna yang berada dalam gendongannya menatapnya dengan tatapan terluka. Entah kenapa balita yang seminggu lagi berusia tujuh bulan itu merasakan sesak ketika melihat kesedihan dalam sorot mata sang bunda.


Jika Juna bisa bicara, ingin sekali balita gembul itu mengatakan, "Bunda jangan takut, ada Juna disini" namun lidahnya belum mampu. Jadi hanya tangan mungil nya yang mampu ia gerakan untuk memeluk erat leher sang bunda saja yang bisa ia lakukan. Bahkan tanpa diduga bibirnya yang mungil itu terisak pelan dengan menumpahkan setetes cairan bening dari kelopak matanya.


"Unda" Panggilnya tanpa sengaja.


Cherry menundukan kepalanya, menatap sang anak dengan raut bahagia.


"Akhirnya kau bisa memanggil bunda juga, sayang"


Cherry meneteskan air mata, mencium ke dua pipi gembul putranya. Ada perasaan bahagia saat mendengar pertama kali Juna bisa memanggilnya 'Bunda' tetapi ada juga ketakutan karena ia khawatir jika mereka akan menyakiti Juna.


Karena bagaimanapun juga Rahardian telah melihat bagaimana Juna ada dalam gendongannya tadi, dan Cherry yakin jika pria paruh baya yang berstatus kakek dari anaknya ini pasti akan menyakitinya.


Cherry masih ingat bagaimana pria itu menyuruhnya untuk menggugurkannya dulu. Terlihat sekali tatapan jijik didalamnya, apalagi ketika pria itu melempar segepok uang ke hadapan wajahnya.


"Tidak apa-apa sayang, tidurlah kembali. Bunda akan selalu melindungi kamu, walaupun nyawa bunda yang akan menjadi taruhannya"


Juna kembali memejamkan matanya yang menahan tangis, sedangkan Cherry sudah selesai mengemasi seluruh pakaiannya. Ia mulai menyeret koper tersebut keluar.


Sebelum pergi, Cherry menghampiri pemilik kontrakan untuk berpamitan. Tidak lupa juga kepada tetangga-tetangga nya yang telah baik kepadanya.


Tentu mereka sedih dengan keputusan wanita mungil itu yang mendadak akan pergi, mereka sudah begitu menyayangi Cherry maupun Juna.


"Neng Cherry besok saja perginya, sekarang sudah sangat sore" Bujuk ibu kontrakan yang sudah menganggapnya sebagai anaknya sendiri. Wanita berumur 60 tahun itu sangat khawatir, apalagi cuaca yang sudah mulai gelap dan sepertinya akan turun hujan.


Namun Cherry menggeleng pelan, menyentuh tangan ibu kontrakan baik hati itu dengan lembut. "Tidak apa-apa Bu, kebetulan jadwal bus nya malam. Cherry bisa langsung tidur di bus nanti"


Bersamaan dengan helaan nafasnya, ibu pemilik kontrakan itu mengangguk.


"Ya sudah, hati-hati ya neng" Ibu pemilik kontrakan tersebut mengeluarkan sebuah amplop dan langsung memberikannya kepada Cherry, "Buat kalian, jangan ditolak, ibu akan marah jika kamu tidak menerimanya. Anggap saja ini rezeki Juna"


Cherry tidak bisa menahan tangisnya, ia memeluk ibu tersebut dan mengucapkan banyak terimakasih karena beliau sudah mengijinkan wanita seperti Cherry menghuni kontrakannya.


"Jangan lupakan kita ya, Cherry. Ingat! Kita akan menjodohkan anak kita kalau sudah besar nanti." Celetuk gadis yang lebih muda setahun darinya. Gadis itu sedang hamil enam bulan dan sangat menyukai Juna. Bahkan ia menginginkan Juna untuk menjadi menantunya jika anaknya nanti perempuan.


"Hey intan, anakmu itu pria. Aku tidak mau ya anak ku mempunyai ketertarikan menyimpang!" Ketus Cherry pura-pura.


Gadis yang dipanggil intan itu Mencebik sebal, menarik Cherry kedalam pelukannya.


"Setelah dia lahir, aku akan membuatnya lagi dan melahirkan seorang anak perempuan. Awas saja kalau kau menolak menjadikan anak perempuan ku menantu mu!"


Cherry terkekeh pelan, menjitak sedikit kepala gadis itu.


"Ya berusahalah dengan giat"


🌻


Darendra memarkirkan mobilnya asal. Kakinya yang panjang bergerak cepat menyusuri deretan bus jurusan Bogor dengan jadwal keberangkatan sekitar lima menit lagi.


Pria tampan itu berlari, memeriksa setiap isi bus untuk memastikan jika Cherry berada dalam salah satu penumpang disana. Namun sayang, dia tidak menemukan keberadaan wanita mungil itu.


"Cherry please angkat telpon aku!"


Argh sialan!


"Cher please kamu dimana? Jangan pergi tanpa sepengetahuan aku"


Cherry my love


[Darendra pulanglah, jangan mencari ku yang mungkin sudah tidak ada disana.


Berhenti saat ini juga, biarkan aku pergi dan tenang bersama Juna]


[Kau tau, aku sudah mengetahui semuanya. Mawar, Arjuna mereka akan bertunangan Minggu depan. Dan aku tidak mau karena mereka sudah mengetahui keberadaan aku disana, acara pertunangan mereka menjadi gagal]


[Aku pergi Darendra. Jangan khawatir, aku adalah seorang wanita terkuat didunia hehe. Lanjutkan hidupmu sendiri, carilah wanita agar kau sibuk dengannya]


[Terimakasih karena selalu ada dalam keadaan apapun.]


[Huhu aku sedih, tapi aku kuat]


[Ini terlalu menyakitkan, bukan?]


[Tapi sungguh, aku baik-baik saja jika mereka bersama]


[Selamat tinggal, aku akan melanjutkan hidupku dengan baik]


🌻


Arjuna : Pusing, cecan semuanya :')



Masya Allah AA Darendra :')

__ADS_1



__ADS_2