
***{Edisi kangen hot Daddy sama si kembar .. Mari kita baca :v}***
Menjadi ayah dari dua bayi kembar nyatanya membuat hidup seorang Bayu aji Bagaskara yang bersifat tenang dan dingin kini berubah total. Pria yang terkenal karena sikap dinginnya telah berubah menjadi seorang pria yang banyak bicara dan juga stress tentunya.
Si kembar yang telah menginjak usia tiga tahun lebih sebulan itu sangatlah aktif. Bahkan sangat jika sudah menemukan ruangan atau tempat yang menurutnya luas.
Kaki-kaki nya yang mungil akan refleks berlarian kesana-kemari, berteriak saling mengejar, tertawa bahkan menyentuh barang apapun yang belum diketahui oleh otak mungilnya.
Mulutnya pun akan terus mengoceh dan bertanya, "Daddy ini apa, untuk apa dan blablablaa~?" membuat Daddy muda yang irit bicara itu menggelengkan kepalanya, pusing.
Selain itu, tidak ada waktu berdua untuk bermanja-manja dengan istrinya. Sekalipun ada, kedua buntalan tampan itu pasti akan mengganggu, bahkan sering memonopoli sang Istri.
"Daddy jangan dekat mommy!"
"Daddy sana!"
"Mommy milik kita, no Daddy!"
"Daddy jelek, mommy cantik"
Dan masih banyak kata-kata yang lebih menyebalkan dari itu.
Ck!
"Kenzo-Kenzi, apakah kalian bisa diam?"
Bayu yang baru selesai menyimpulkan dasinya, mendudukkan dirinya pada sebuah sofa ruang tamu setelah menerima sepatu dari maid yang telah mengambilkannya.
Pria bersurai legam itu menghela nafasnya lelah, melihat kedua putranya yang tidak bisa diam sejak tadi. Maid yang menjaganya pun ikut kewalahan, berlari kesana-kemari agar tuan muda mereka tidak terluka karena terjatuh.
Oh ya tuhan, bahkan ini masih pagi tetapi kenapa Bayu merasa ia sudah lelah dan stress lebih awal.
"No Daddy!" Sahut kedua buntalan lucu hasil buah cinta Bayu dengan Grizelle, kompak.
Lagi, Bayu hanya bisa menghela nafas. Percuma saja Pikirnya.
Sepatu mewah berwarna hitam itu baru saja akan dipakainya, belum sampai memasukan kakinya namun tubrukan kecil seseorang membuatnya terjatuh membentur lantai.
Bayu menunduk, menatap datar kedua putranya yang kini sedang bermain dibelakang punggungnya. Kenzi berteriak bahkan naik ke sofa untuk menghindari Kenzo yang mengejarnya.
"Daddy tolong aku, Abang akan menggigitku!"
Bayu memijat pangkal hidungnya pusing, melihat tingkah kedua anaknya yang kini kembali berlari saling mengejar satu sama lain.
Katanya, "Daddy lari, Abang itu zombie nanti di gigit!"
Ya ampun pasti kedua anaknya telah tertular virus drakor oleh mommy nya. Dan seperti biasa semenjak kehadiran dua buntalan kesayangan semua orang itu, mansion megah miliknya selalu dipenuhi suara-suara tawa dan teriakan di setiap waktu.
Okay, ingatkan Bayu untuk menghukum istri cantiknya itu. Ngomong-ngomong istri, Bayu jadi ingat semalam Grizelle meminta dirinya membelikan cake berbentuk buah peach, tumben sekali. Padahal istrinya itu tidak menyukai aroma buah tersebut.
Ah belikan saja permintaan tuan putri, daripada ngambek 'kan?
Setelah insiden tubuhnya dijadikan benteng, kini sepatu yang akan dipakainya sebelah lagi telah menghilang. Pria itu mencari, mungkin tergeser oleh anak-anak tapi tidak ada.
"Perasaan tadi disini deh, tapi ke-" Kalimatnya terhenti ketika melihat benda yang dicarinya menjadi korban lemparan oleh, "Hey hey hey, sepatu Daddy jangan di mainkan! Kenzo, kembalikan!" Geram Bayu frustrasi, namun ya! Tidak pernah didengarkan oleh kedua buntalan bernyawa itu.
Hah! Ingin memakai sepatu saja butuh waktu lama.
Akhirnya dengan segala kekacauan yang terjadi diruang tamu pagi ini, Bayu sudah siap untuk berangkat ke kantornya dan membawa kedua putra kembarnya tentunya.
Jangan tanyakan dimana istrinya berada, dia sudah diculik oleh mama Raisha dan tentu mommy nya juga untuk pergi entah kemana. Katanya, "Mas, jaga mereka ya? Aku mau jalan dulu sama mama dan mommy" Dengan polosnya.
Oke baiklah Bayu. Semangat! Karena sepertinya hari ini tidak akan mudah untuk dijalani.
Membetulkan kembali dasi serta jas nya, Bayu kembali memanggil kedua anaknya yang masih berlari kesana-kemari.
"Kenzo! Kenzi! Jangan berlari- Oh ayolah son, kalian lecet sedikit saja hidup Daddy akan terancam mati oleh mommy kalian."
"Awas ya mas! Mereka lecet sedikit saja kamu tidur dikamar tamu"
BIG NO!
"Stop it Kenzo, kenzi! Akhiri zombie nya dan ayo kita berangkat ke kantor Daddy"
"Ciap captain!" Sahut mereka bersamaan.
Dua buntalan lucu itu langsung menghampiri sang Daddy, mengambil sisi telunjuk kiri dan kanannya lalu berjalan beriringan menuju mobil dengan diikuti oleh maid yang membawakan tas kerjanya. Dan ini adalah kali ke tiganya Bayu membawa si kembar ke perusahaan.
Dia sedikit agak trauma karena kedua anaknya itu sempat membuat kerusuhan pada- nanti kalian akan tau sendiri.
Okay, mudah-mudahan saja mereka tidak membuat kekacauan (lagi) ya? Ya berdoalah Bayu, semoga tuhan mengabulkannya. Jika itu terjadi, tolong ingatkan Bayu untuk meminta Andra mengurusnya.
"Okay duduklah yang tenang dan jangan bermain kalau sedang didalam mobil karena-"
"Bahaya! Yes we know Daddy don't say it again" Potong Kenzo dengan santai.
Oh ya ampun, mereka sangat pintar sekali, meskipun sedikit menyebalkan. Banyak sih sebenarnya, hehe.
"Kalian memang pintar. Dan ingat, jangan menyulitkan Daddy ketika bekerja, okay?" Kedua anak itu mengangguk patuh, "Sulitkan saja uncle Andra, aunty Nena dan Khanaya seperti yang kalian lakukan."
"Tapi Kenzo tidak suka dengan aunty Khanaya daddy" Ujarnya jujur.
Bayu yang sudah menyalakan mesin mobil, menoleh.
"Why?"
"She's flirty, I don't like it!" (Dia genit, aku tidak suka)
__ADS_1
Bayu menanggapinya dengan terkekeh pelan, menggelengkan kepalanya dan memilih fokus pada jalan.
"Aku punya rencana untuk aunty Khanaya"
Kenzo menoleh pada saudara kembarnya, keduanya saling melempar senyum licik karena mengerti rencana apa yang akan mereka lakukan untuk membuat wanita itu kepayahan. Bayu yang melihat dari balik kaca spion mengerinyitkan alisnya, pasti akan terjadi sesuatu lagi.
"Kalian merencanakan apalagi, hm?" Tanya Bayu pada kedua putranya.
Mereka dengan kompak menggeleng.
"Tidak ada, dad."
Cih, mereka pikir Bayu akan percaya, begitu? Tentu saja tidak.
"Okay kalau tidak mau berbagi tapi, jika melakukan sesuatu jangan setengah-setengah"
Usul sang Daddy sontak membuat kedua buntalan itu terkekeh geli. Jika Daddy nya sudah memberi petuah seperti itu, itu artinya mereka akan melakukannya dengan lebih.
Tidak butuh waktu lama karena memang jarak rumah ke perusahaan tidaklah jauh, cukup 30 menit saja mereka sudah sampai meskipun terkena sedikit macet tadi. Sesampainya di sana, Bayu segera menurunkan kedua anaknya bergantian. Mereka berjalan saling berpegangan tangan, melewati beberapa pegawai yang menatapnya takjub.
"Hey lihat, bos membawa kedua putra kembarnya."
"Astaga imut sekali."
"Mereka memang benar-benar tampan."
"Jelas! Tidak lihat orangtuanya seperti apa hah!"
"Aku ingin membawanya pulang, lucu sekali."
"Benar-benar titisan serbuk berlian."
"Astaga, aku tidak bisa membedakan mana yang namanya kenzi dan Kenzo. Mereka tidak bisa dibedakan."
"Selama ini aku hanya mampu melihatnya dalam Instagram pak Andra, tapi sekarang aku beruntung sekali bisa melihatnya secara langsung. Mereka seperti dewa kecil."
Terlepas dari kalimat-kalimat memuja dari mereka, terdapat tiga orang yang baru saja datang menatapnya ketakutan.
"Astaga, tamatlah hari indahku." - Nena.
"Lihat setan-setan kecil itu, dibalik ke imutannya tersimpan berjuta rencana licik." - Andra.
Ya tuhan, jadi ini arti aku dikejar dua singa semalam? Lindungi aku..." - Khanaya.
🌻
NOTE : Yang baca harus jeli ya .. ini tuh alurnya maju mundur (flashback). Aku sengaja enggak kasih keterangan, biar enak dibacanya.
"Tidak sayang, mana bisa bunda marah kepadamu. Ayo kita sarapan, sebelum ne-"
Juna tersenyum sumringah, segera berlari keluar kamar ketika mendengar bunyi klakson berbunyi didepan rumahnya. Juna sangat yakin itu adalah, "Nenek~" Teriaknya begitu kencang. Bocah itu berlari dengan langkah kakinya yang mungil, merentangkan kedua tangannya lalu menghambur memeluk seorang wanita paruh baya yang baru saja turun dari mobilnya.
Wanita paruh baya yang dipanggil nenek itu tersenyum lalu berjongkok untuk menyambut pelukan hangat bocah tampan itu. Baru saja seminggu tidak bertemu, tetapi kenapa begitu rindu?
"Ugh cucu nenek"
Juna mengerucutkan bibirnya setelah ia melonggarkan sedikit pelukannya untuk menatap wajah wanita itu, "Kenapa nenek lama sekali? Tidak tau apa kalau Juna rindu" protesnya lucu.
Wanita itu terkekeh sebelum akhirnya mencium gemas pipi bulat bocah yang sudah berada dalam gendongannya itu.
"Maafkan nenek ya? Beberapa hari lalu nenek harus mengurus kepulangan seseorang dahulu, sayang" Ucapnya merasa bersalah, membuat Juna yang melihatnya segera memeluk kembali wanita itu dan berkata tidak apa-apa jika itu adalah hal penting.
"Tidak apa-apa nenek, Juna mengerti ko." Sahutnya dengan cengiran lucu. Lalu setelah mengatakan itu, Juna celingukan mencari keberadaan seseorang yang juga sangat dirindukannya, "Dimana, kakek? Tidak ikut ya?" Tanyanya. Karena sedaritadi sejak kedatangan sang nenek, Juna belum menemukan keberadaan sang kakek.
"Kakek sedang ke kantor karena ada sedikit urusan. Nanti pulang sekolah kita kesana ya? Bagaimana?"
Juna mengangguk antusias, selalu senang jika diajak ke perusahaan sang kakek tapi, "Juna ijin dulu sama bunda ya, nek?"
Wanita itu mengangguk, menurunkan Juna dalam gendongannya untuk menghampiri Cherry yang sedaritadi menyaksikan kedekatan antara anaknya dengan ibu dari pria yang sangat dicintainya itu.
Jika kalian menebak itu adalah Diana, maka jawabannya adalah benar! Cherry merasa bahagia karena semuanya terasa berubah begitu cepat, melihat bagaimana putranya tertawa dalam pelukan wanita itu dan mendapatkan banyak kasih sayang yang melimpah dari semua orang.
Kini kehadiran Juna membuat semuanya berubah, semuanya berakhir dengan bahagia.
Juna yang selalu menangis karena selalu mendapatkan ejekan tidak mempunyai ayah, kini bisa dengan bangga memperkenalkan nenek dan kakeknya.
Juna yang selalu menangis mendapat hinaan kini bisa tertawa riang.
Juna yang selalu murung kini bisa bahagia.
Juna nya, hidupnya dan cintanya. Tidak ada yang lebih penting selain Juna - semesta nya. Tidak perduli jika semua orang meninggalkannya, asal bersama Juna, Cherry bahagia.
Tidak ada yang boleh seorangpun menyakiti Juna-nya
Karena menyakiti Juna sama saja menghancurkan hidupnya.
Namun kini Cherry tidak perlu khawatir, karena Juna sudah bahagia semenjak orang yang paling membenci kehadirannya kini begitu menyayanginya.
Ia masih mengingatnya dengan jelas ketika mereka berhasil menemukan keberadaan nya yang jauh dari jangkauan siapapun. Entah bagaimana bisa mereka menemukannya, padahal dirinya sudah memastikan jika kota tersebut aman. Namun semua dugaannya ternyata salah saat ketenangan hidupnya kembali terusik.
Keranjang cucian yang baru ia ambil dari beberapa pelanggannya terjatuh, tubuhnya bergetar ketakutan ketika melihat orang yang paling dihindarinya berada tepat didepannya.
Cherry menggeleng, air matanya melaju begitu cepat.
"Gugurkan anak itu!"
"Tidak om, ini anak Arjuna. Cucu kalia-"
__ADS_1
"Diam! Gugurkan atau saya akan membunuhnya! Ingat Cherry, gunakan uang itu untuk mengugurkan nya. Jika saya mendapati kamu masih mempertahankannya, kamu tau sendiri akibatnya karena saya paling tidak suka dibantah!"
"Jangan pernah bermimpi kami akan mengakuinya!"
Perkataan itu terus berputar dalam otaknya. Bagaimana cara mereka melemparinya uang agar dirinya mau menggugurkan kandungannya dan bagaimana mereka menatapnya jijik karena baginya Cherry sangat tidak pantas dengan latar belakang keluarga ataupun pekerjaan - membuat Cherry berpikir jika inilah akhir dari cerita hidupnya.
"Cherry"
Cherry tersentak, kakinya mundur beberapa langkah dengan kepala yang menggeleng ribut.
"Ja-jangan d-dekat!"
"Nak, jangan takut" Diana berkata lirih. Air matanya perlahan menetes dengan isakan yang mulai terdengar. "Kami tidak akan menyakiti kalian, kami hanya ingin minta maaf"
Cherry kembali menggeleng masih memundurkan langkahnya saat melihat orang itu melangkah mendekatinya, mengeratkan pelukannya kepada Juna sebelum membalikan tubuhnya, ingin melarikan diri jika saja pergerakannya tidak di hadang oleh kedua orang berpakaian hitam itu.
"Tolong, jangan sakiti kami. Aku sudah berusaha menjauh dari hidup kalian, tetapi kenapa kalian selalu menggangguku? Bukankah kalian sendiri yang menyuruhku untuk pergi? Lalu sekarang untuk apa kalian disini? Sebenarnya apa mau kalian..."
Cherry sangat ketakutan, bahkan ucapannya tadi nyaris sama sekali tidak terdengar.
"Maaf jika aku telah lancang mempertahankan Juna tapi sungguh, aku hanya ingin mempertahankan apa yang satu-satunya aku punya. Kalian tidak perlu khawatir, aku tidak akan meminta apapun dari kalian. Aku tidak akan mengatakan apapun yang akan membuat keluarga kalian malu. Jika kalian ingin aku pergi lebih jauh, baik! Aku akan pergi saat ini juga tapi, tolong jangan sakiti kami. Aku hanya ingin hidup dengan tenang...
Aku sudah kehilangan segalanya, apakah itu belum cukup untuk kalian? Sekarang, yang aku punya hanyalah Juna, kalian juga akan merampasnya? Kenapa tidak kalian bunuh saja aku dan membiarkan anakku hidup dengan tenang?"
Seandainya kalian menjadi aku, bagaimana rasanya? Menjalani hari-hari paling menyiksa, apakah kalian bisa merasakan betapa hancurnya hidupku? Setiap detik, jam bahkan hari, aku selalu menahan rasa sakit, berharap kalian ada dan menerima kehadirannya..."
Mendengar kalimat tersebut, Diana sesak bukan main. Air matanya terus melaju menuruni pipinya. Melihat tubuh mungil itu bergetar, Diana ingin sekali memeluknya lalu mengatakan jika dia sungguh menyesal karena keegoisannya dahulu.
"Tidak nak, tidak!" Kini Diana berhasil mendekat, "Kami tidak akan menyakiti kalian. Kami hanya ingin meminta pengampunan dari kamu, bukan untuk menyakiti. Meskipun kami tau kamu tidak akan semudah itu memaafkan, t-tapi sungguh Cherry, kami sangat tersiksa oleh penyesalan ini. Maafkan kami, Cherry..."
Wajah yang tadinya terus menunduk, kini terangkat seketika.
"Apa yang kalian lakukan?"
Cherry terkejut, melihat bagaimana kedua orang itu berlutut dihadapannya. Tidak perduli dengan tatapan para tetangga yang sedaritadi menyaksikannya.
"Om tau om jahat sekali, tapi- maafkan kami. Maafkan keegoisan kami dahulu, maafkan kebodohan kami"
Rahardian, pria yang menjadi penyebab seberapa menderitanya Cherry selama ini, berlutut - Bagaimana pria yang dikenal sangat angkuh itu menangis dihadapannya saat ini.
Dia memohon, bahkan kalau Cherry mengijinkannya untuk mencium kakinya pun akan ia lakukan demi mendapatkan pengampunan.
Memang Cherry terluka namun, melihat mereka begitu menyesali perbuatannya dahulu, Cherry menjadi tidak tega. Ia mendekat dihadapan mereka, memberanikan diri untuk memegang tangan keduanya agar berdiri.
"Om, Tante- bangunlah. Kalian tidak seharusnya seperti-"
"Tidak Cherry, kami pantas melakukannya. Kami jahat sekali kepadamu" Sela Rahardian.
Cherry menggelengkan kepalanya, "Jika kalian seperti ini terus, Cherry dan Juna tidak mau bertemu dengan kalian"
Diana yang semula menunduk, kini mendongkak. Menatap Cherry yang sudah berdiri tepat didepannya. Wajah itu, wajah cantik yang selalu meramaikan rumahnya - yang selalu dicintai putranya. Sekarang Diana paham, kenapa Arjuna begitu mencintai Cherry sedalam itu. Bukan hanya karena wajahnya saja yang sangat cantik, namun juga hatinya yang lapang memaafkan.
Cherry terperanjat saat sebuah tubrukan kecil mengenai kakinya. Ia menunduk, mendapati Juna sedang mendongkak menatapnya. Bocah tampan itu menatapnya khawatir, karena akhir-akhir ini bundanya sering melamun tanpa sebab. Jika ditanya pun jawabannya akan tetap sama, 'tidak apa-apa'. Huh!
"Nenek, bunda sering melamun" Adunya kepada Diana, kepala mungilnya menoleh membuat Diana segera menghampiri. "Apakah bunda sakit?" Tanyanya lagi.
Tidak, Cherry sama sekali tidak sakit. Ia hanya merasa ini seperti mimpi saja - mimpi bahwa mereka yang begitu membenci kehadiran anaknya dahulu kini begitu menyayangi bocah itu. Bahkan tidak segan Diana dan juga Rahardian memperkenalkan Juna sebagai penerus perusahaan miliknya disaat Cherry saja masih terlalu kecewa kepada putranya, Arjuna.
"Benarkah, nak? Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Diana khawatir.
"Tidak mom, Cherry hanya- bahagia saja melihat Juna mendapatkan begitu banyak kasih sayang dari kalian. Terimakasih karena telah menerima kehadiran Juna"
🌻
Karena kesal merasa diacuhkan oleh sang kakek yang hanya sibuk dengan orang-orang berwajah asing, Juna melangkahkan kaki mungilnya ke luar ruangan. Dia berjalan sendiri, tersenyum saat beberapa pegawai menyapanya ramah.
"Aku ingin susu coklat, bagaimana aku bisa turun ke bawah untuk membelinya?"
Didepan lift, Juna mendongkak. Tombol itu terlalu tinggi digapai, Juna terlalu pendek. Ia meminta seseorang perempuan berpakaian rapih yang kebetulan melewat untuk meminta bantuannya.
"Aunty, bisakah membantuku untuk ke bawah. Kakek sedang sibuk dan aku ingin meminum susu coklat dingin"
Perempuan itu tersenyum, mengangguk lalu menuntun cucu dari pemilik perusahaan itu memasuki lift.
"Memangnya kakekmu tidak khawatir kau keluar sendiri, tampan?" Tanya perempuan bernama Sofia itu dengan lembut.
"Aku kan hanya ingin meminum susu coklat aunty, bukan kabur"
Perempuan itu terkekeh mendengar jawaban Juna, "Iya-iya, aunty akan mengantarkan kamu ke bawah. Apa perlu aunty temani?"
Juna menggeleng, "Aku sudah besar, aunty. Tidak perlu"
Ugh gemas sekali.
"Baiklah. Tapi hati-hati ya, jika kau tidak bisa kembali, minta tolong saja pada pegawai yang kau temui"
"Okay"
Sesampainya di bawah, Juna berjalan sendiri tanpa di temani siapapun. Juna berjalan dengan riang, sambil menyanyikan sebuah lagu anak-anak sampai tidak sengaja menubruk seseorang dihadapannya.
"Maafkan Juna, uncle-"
DEG!
🌻
Siapa ya? 🤔
__ADS_1