
Happy reading
🌻
"Pengantin ngelamun aja. Kesambet terus gagal nikah baru tahu rasa, loe!" Ledek Andra.
Delikan tajam Andra dapatkan. Bayu kesal dengan ritual pingitan yang rencanakan keluarganya. Pria itu hanya diam ketika Andra dan kawan-kawannya datang.
Gara-gara kejadian kemarin malam, semua alat komunikasinya diambil paksa oleh orangtuanya. Sial!
"Bayu, Bayu! dua hari doang ya elah, segitu gak kuatnya mau ketemu sama si Grizelle. Tahan dulu, kenapa? Haha" Timpal Hendry, ikut meledek. Mereka sampai tidak percaya dengan cerita papa Theo sebelum memasuki kamar Bayu tadi.
"Diam loe semua! Gak ada akhlak semua loe!"
Setelah terdiam beberapa menit setelah kedatangan mereka. Akhirnya sang tuan muda mengeluarkan suaranya. Mereka tidak perduli dengan celotehan Bayu karena terlalu sibuk mengatur game yang akan mereka mainkan.
"Loe semua dengerin gue gak, sih?!"
Ketiganya terdiam, saling memandang satu sama lain kemudian tertawa bersama. Ternyata begitu ya ketika seorang pria yang terkenal dingin sedang jatuh cinta?
"Aneh gak sih? ini beneran si Bayu Aji Bagaskara 'kan? Anaknya Choi Theo?" Heran pria berdarah Canada tersebut.
"Loe pikir gue siapa, hah?! kampret! maen ganti-ganti marga orang aja!"
"Utututuuuu~"
Sementara Bayu sedang frustrasi oleh kelakuan kawan-kawannya, berbeda dengan Grizelle yang ditemani oleh Fiona sedang tertawa terbahak-bahak menceritakan kejadian kemarin malam.
"Serius anjir?"
Fiona tidak percaya. Hanya seorang Grizelle yang mampu membuat pria sedingin Bayu lah bisa berbuat hal konyol seperti itu.
"Iya! Baru manjat pohon itu. Eh udah ketahuan pak satpam" Tunjuk Grizelle pada pohon disebelah kamarnya.
"Parah, anjir! Pak Bayu budak cinta another level"
Keduanya tertawa terbahak-bahak sampai akhirnya tawa itu terhenti oleh seseorang yang datang memasuki kamarnya.
"Janine?"
"Bolehkah aku menjadi Bridesmaids dihari pernikahan kamu nanti?"
Grizelle berteriak, lantas berlari menghampiri Janine dan memeluknya erat.
"Janine? its you?" Grizelle masih tidak percaya. "Im not dreaming, right?"
"Stop being a stupid, Grizelle. Ini aku, sahabatmu!"
Griz tertawa, ia sangat terlihat bahagia sekali dapat bertemu kembali dengan sahabatnya.
"Kapan kau datang?" Menuntun Janinne untuk duduk bersamanya, "Wait! Kenalkan ini Fiona, dia sahabatku" Fiona tersenyum, menerima uluran tangan Janinne.
"Fiona"
"Janinne, tapi kau boleh memanggilku Jen saja jika terlalu sulit"
"Okey"
"Kemarin malam. Kau akan menikah tapi tidak memberitahukanku, jahat!"
"Hey nona Janinne weigel, aku sudah mengirim pesan untukmu tapi nomor ponselmu tidak aktif!"
Janinne tertawa, ia lupa jika nomor ponselnya sudah diganti setelah dirinya memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan seseorang. Untung saja keluarga Grizelle memberitahukannya, jadi tanpa berpikir lagi dirinya langsung terbang ke Indonesia.
"Aku mengganti nomorku, maaf aku lupa memberitahumu" Sahutnya dengan tawa kecil.
"Kau sama saja seperti Megan, menyebalkan!"
"Dimana dia, kenapa aku tidak melihatnya disini?" Tanya Janinne mencari keberadaan Megan, sudah lama sekali dia tidak bertengkar dengannya. Janinne selalu iri dengan tinggi badan Megan yang sangat jauh berbeda dengannya, meskipun dirinya sudah berusaha untuk lebih tinggi, namun hasilnya tetap sama dan menyebalkannya, Megan selalu saja meledeknya.
"Dia sedang bersama pacarnya, sebentar lagi juga kesini. Kau jangan mencari gara-gara lagi dengannya, dia sudah pandai taekwondo."
"Aku tidak pernah takut!" Sahutnya sombong.
"Haish, sama-sama keras kepala. Untung kalian tidak mencintai orang yang sama, jika iya, tamatlah sudah dunia"
__ADS_1
Mendengar itu, seketika wajah Janinne terlihat murung. Ia sudah menduga jika kedatangannya ke Indonesia bukan sesuatu yang baik bagi perasaannya, namun karena memang niatnya untuk menemui Grizelle, jadi ia tidak berpikir kembali jika pasti nanti akan bertemu juga dengan seseorang yang sudah ia kecewakan.
"Sorry, aku lupa..."
"Tidak apa-apa Griz, santai saja" Tersenyum, "Aku harap aku tidak bertemu dengannya, tapi itu pasti tidak mungkin. Sekarang saja aku sudah masuk kedalam lingkungannya" Imbuhnya dalam hati.
"Kau mengobrol lah dengan Fiona, dia pintar berbahasa Thailand. Aku akan mengambil makanan untukmu"
"Hey Griz, loe fitnah gue?" Teriak Fiona.
"Hahaha, enjoy it"
Sementara Griz sedang pergi ke dalam rumah untuk mengambil makanan, Janinne dan Fiona sudah mulai asyik mengobrol. Keduanya gampang sekali dekat karena mereka sama-sama menyukai hal-hal berbau mistis, jadi tidaklah sulit untuk saling mengakrabkan diri.
"Aku baru selesai menonton drama sweet home, kau tau apa bagian paling menyedihkan?" Tanya Janinne pada Fiona.
"Apa?" Sahut Fiona penasaran.
"Saat kau baru saja mengungkapkan perasaanmu, namun akhirnya kau harus mati karena menyelamatkan orang lain dari monster"
Fiona menangkap raut kesedihan dalam wajah Janinne, namun ia tidak mempermasalahkannya, mungkin Janinne terlalu meresapi drama tersebut.
"Oh iya, mas pedang sama mbak pentungan itu?"
"Ha?"
"Oopss sorry, kamu tidak akan mengerti dengan sebutan pemeran sweet home di Indonesian, hehe. Kita lebih mudah memanggilnya seperti itu, kalau pakai nama terlalu sulit untuk lidah kami, haha"
Griz kembali dengan nampan ditangannya, sejenak dirinya terdiam saat melihat keakraban Janinne dan juga Fiona yang sangat terlihat dekat, ia merasa khawatir jika keduanya saling mengetahui kalau mereka mencintai orang yang sama.
"You're in big trouble, Shawn" (Kamu dalam masalah besar, Shawn)
Tentu Griz merasa khawatir, keduanya adalah sahabatnya, ia tidak ingin memihak kepada salah satunya yang tentu akan berdampak jelek bagi persahabatannya. Apalagi sekarang Fiona dan Shawn begitu dekat, apa jadinya jika nanti Shawn melihat Janinne ada disini apakah akan berpengaruh pada hubungannya dengan Fiona?
"Even I can't choose. They're both pretty and nice, that's your business Shawn. I don't want to interfere" (Bahkan aku tidak bisa memilih. Keduanya cantik dan baik, Ah, itu urusanmu Shawn. Aku tidak ingin ikut campur)
🌻
"Apa Shawn tahu kau disini?" Tanya Griz. Kini mereka berada dikamar, tadinya Janinne akan menginap dihotel namun Griz memintanya untuk tetap tinggal dirumahnya.
"You're not good at lying, Janinne." Menatap Janinne, "Bahkan matamu mengatakan jika kau sangat ingin bertemu dengannya, apakah perkataanku benar?" Imbuhnya yang langsung membuat Janinne terdiam.
Benar apa kata Griz, meskipun bibirnya berkata tidak, namun hatinya selalu berbeda.
"Jangan beritahu Alex jika aku ada disini, Griz"
"Kenapa? Beri aku penjelasan yang masuk akal?"
"Aku tidak ingin bertemu dengannya, aku yakin dia sudah melupakanku atau bahkan dia sudah mempunyai kekasih. Aku harap begitu"
Ck!
"Kau sadar apa yang kau katakan?"
"Sangat!"
"Ternyata kau tidak secinta itu dengan saudaraku!" Terdengar nada kekecewaan dari Griz, namun Janinne hanya tersenyum.
"Shawn juga berkata seperti yang kau katakan saat aku mengakhiri hubungan kita"
"Lalu kenapa? kau tahu, dia merokok setelah kau memutuskannya"
"I have a reason"
"Katakan! Alasan apa yang membuat kau berpikir gila seperti itu? kau lupa perjuangan kalian mendapatkan restu dari kedua orangtuamu, Janinne?"
"Tidak Griz, ini masalahku"
"Kau sahabatku, berbagilah kesusahanmu denganku sedikit saja"
"Aku sedang tidak ingin membahasnya, Griz"
"Oke, asalkan kau jangan menyesal jika kau tahu dia sudah benar-benar melupakanmu"
"Tidak akan pernah"
__ADS_1
Dibalik obrolan Griz dan Janinne, ternyata ada seseorang yang mendengar semuanya. Laki-laki itu hanya berdiri mematung mendengarkan semua jawaban yang terlontar dari mulut Janinne. Siapa lagi kalau bukan Shawn.
Sebelumnya, sebelum kerumah Griz, Shawn bertemu dahulu dengan Fiona dan mereka sempat makan bersama disebuah cafe yang berada tidak jauh dari rumah Griz.
Fiona juga menceritakan jika dirinya telah bertemu dengan sahabat Griz yang dari luar negri, Shawn fikir itu adalah Maurin namun saat Shawn akan mengetuk pintu kamar Griz, ia terdiam setelah mendengar suara yang sangat dikenalnya.
"Janinne?"
"Alex"
Baru saja Shawn akan menghampiri Janinne, Griz menghentikannya. "Tunggu! Aku akan keluar, selesaikanlah masalah kalian baik-baik. Dan untukmu..." Tunjuknya pada Shawn, "Hargailah alasan oranglain" Imbuhnya.
"Tidak ada yang harus dibicarakan lagi, Griz" Tolak Janinne, karena menang tidak ada hal apapun lagi yang harus dibahas. Terlebih hubungannya juga sudah berakhir beberapa bulan lalu, jadi untuk apa membahasnya lagi.
"Sebentar saja, kalian harus berbicara"
"Tapi..."
Setelah Griz pergi, Shawn menghampiri Janinne yang duduk disofa, laki-laki itu terdiam dengan sorot mata yang susah diartikan. Ada kerinduan dan juga kekecewaan didalam nya.
"Kau pasti mendengarnya?"
Shawn mengangguk, "Iya"
"Lalu apalagi yang akan kita bicarakan, semuanya sudah jelas 'kan? Bahkan kau baik-baik saja setelah hubungan kita selesai"
"Betul"
"Semoga kau mendapatkan perempuan yang lebih pantas, Lex..."
"Tentu! Aku sudah menemukannya. Bukankah Tuhan terlalu baik? Setelah seseorang mengecewakanku dan membuat hatiku hancur, dia datang dengan keunikannya, dan aku mencintainya"
Sudah jatuh tertimpa tangga, begitulah gambaran Janinne sekarang. Ulu hatinya begitu sakit saat mendengar Shawn mengatakan itu. Tetapi mau bagaimana lagi, lebih baik Shawn membencinya, daripada membuatnya lebih hancur lagi.
"Syukurlah, semoga kau bahagia"
"Terima kasih"
Janinne tersenyum, ingin sekali rasanya ia memeluk Shawn untuk yang terakhir kalinya, namun ia tidak berani memintanya.
"Kenapa?" Heran Shawn karena Janinne terus memandanginya.
"Beruntung sekali perempuan yang menjadi pendampingmu nanti"
Tanpa sadar, Janinne menyentuh sebelah pipi Shawn. Menatapnya dengan lekat penuh dengan cinta.
"Aku sangat mencintaimu, bahkan lebih"
"Andai tuhan mengijinkan aku untuk hidup lebih lama lagi, aku tidak akan pernah mengecewakanmu. Maafkan aku. Bukan hanya kau yang tersakiti, bahkan aku lebih hancur, Lex" Gumamnya.
"Apa aku boleh memelukmu" Pintanya, "Untuk yang terakhir?" Imbuhnya dalam hati.
🌻
"Pa, ponsel Bayu?"
Sudah ke 10x nya Bayu merengek meminta ponselnya, namun papa Theo yang sudah kelewat malu tidak mendengarkan permohonan putranya sama sekali. Papa Theo tetap melanjutkan membaca koran nya.
"Pa,"
"Kasih aja pa, kasihan loh" Sahut Raisha yang baru saja datang dan ikut duduk disebelah Bayu.
"Engga!" Tegas papa Theo.
Jengah mendengar Bayu yang terus merengek dan sang istri yang membelanya, papa Theo berdiri dengan sorot mata yang tajam, seakan mengatakan jika ia tidak ingin dibantah untuk hukuman yang sudah ia tentukan.
"Gak usah lebay! sehari lagi kalian sudah resmi, lakukan apa yang ingin kau lakukan nanti" Setelah mengatakan itu, papa Theo benar-benar pergi sehingga Bayu semakin bertambah kesal.
"Papa nyebelin banget, Ma" Kesalnya.
"Banget sayang" Sahut mama Raisha membetulkan, bahkan mama Raisha saja sering dibuat jengkel karena kelakuannya.
"Mama ko mau sih sama papa?"
"Apalagi, ya cinta lah!"
__ADS_1
Bersambung...