I Love You, Muridku

I Love You, Muridku
Episode 58 - Pergi


__ADS_3

Happy reading.


Warning:


[Abt; Cherry& Arjuna. If you not interested, skip it!]


🌻


Aroma obat begitu menyeruak menembus hidung. Terlihat perempuan berambut panjang berwarna pekat itu duduk pada deretan kursi tunggu disebuah rumah sakit ibu&anak bersama pasien lainnya sedang menunggu gilirannya.


Mengusap perutnya lembut, entah sejak kapan air matanya sudah luluh membasahi pipi putihnya.


Bukan!


Bukannya dia tidak senang atas kehamilannya, hanya saja ia takut; takut jika dirinya tidak bisa merawatnya nanti dan takut akan tanggapan orangtua dari ayah bayinya ini.


Bagaimana jika mereka marah?


Bagaimana jika mereka kecewa dan menganggapnya murahan karena hamil diluar pernikahan?


Tidak! Tidak mungkin mereka berpikir seperti itu tentangnya mengingat bagaimana baiknya keluarga mereka kepadanya.


"Mikirin apa?"


Perempuan itu sedikit tersentak ketika dirasa seseorang menyentuh tangannya. Dia; cherry menoleh setelah menghapus air matanya.


"Kenapa? Mual, lagi?" Tanya seorang pria disebelahnya; Arjuna. Wajahnya terlihat panik, takut.


Cherry tersenyum, kepalanya menggeleng pelan sebelum menyandarkan kepalanya pada pundak Arjuna.


"Aku---" aku takut, Arjuna. Takut! "Bahagia"


Arjuna bawa Cherry ke dalam pelukannya, ciumi pucuk kepala perempuan mungil itu beberapa kali.


"Daddy sama mommy menyuruh kita ke rumah"


DEG!


Tumben sekali? Biasanya mereka akan to the poin jika ada hal penting apapun.


"Untuk?"


"I don't know. Mungkin tentang pekerjaan"


Dan Cherry tidak yakin dengan jawaban Arjuna saat ini. Karena jika tentang pekerjaan, untuk apa cherry harus ikut?


Jangan. Jangan sampai kekhawatiran Cherry terjadi.


"Jun?" Arjuna menoleh, buat cherry lanjutkan Kalimatnya, "Bagaimana kalau mereka tidak menerima--"


Jari telunjuk Arjuna terangkat, menutup bibir cherry.


"Kita hadapi bersama, okay?"


...•••••••••••••••••••••••••••••••...


Akhirnya setelah 1 jam menunggu, kini giliran cherry lah yang masuk. Begitu masuk, cherry dan Arjuna sudah disambut ramah oleh sang dokter.


"Pengantin baru, ya? Serasi sekali" Goda si dokter.


Cherry tersenyum malu, dalam hati tertawa miris. Menikah saja belum, batinnya.


Mengabaikan godaan sang dokter, cherry memilih menjelaskan jika sudah seminggu ini mengalami mual dan juga pusing secara bersamaan. Lantas dokter bernama Jessica itu mengajak cherry untuk melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.


"Mendengar gejala mu tadi, tentu kau pun tahu apa yang terjadi. Benar 'kan?" Bahwa dirinya sedang mengandung.


"Aku hanya ingin memastikan saja, dok" Jawab cherry.

__ADS_1


Dokter itu tersenyum.


"Baiklah. Mari kita melakukan pemeriksaan. Tapi apa sebelumnya sudah melakukan pemeriksaan di rumah, misalnya; tespek?" Cherry menggeleng karena memang belum melakukannya karena dirinya takut. "Baiklah"


Dokter itupun terlihat mengambil sebuah botol yang berisi gel yang kemudian dia oleskan ke permukaan perutnya. Dalam layar monitor yang terdapat disana, Cherry bisa melihat bagaimana dokter itu menggerakkan transducer sehingga memperlihatkan sebuah gambar hitam yang tidak terlalu jelas.


"Wah! Lihat, ada kantung rahim nya dan kalian tau apa maksudnya? Ya! Ini bayi kalian. Masih sangat kecil"


Arjuna menatap layar itu dengan lekat, ia dapat melihat calon anaknya terlihat jelas disana "Itu anak kita?" Tanya nya tidak percaya, bahkan Arjuna sampai tidak sadar jika dirinya menangis


Cherry mengangguk bahagia, "Iya, itu gara-gara kamu" Seloroh Cherry yang mana membuat dokter juga perawat yang membantunya tertawa


"Usia kandungannya sudah memasuki 6 Minggu ya, masih rentan. Tapi semuanya sehat ko" Ujar dokter itu menjelaskan


"Jangan melakukan hubungan...Ah kalian pasti mengerti maksud saya, 'kan?" Imbuhnya, lalu mereka tertawa kembali.


🌻


Setelah pulang dari rumah sakit, kini mereka sudah berada didepan rumah kediaman Rahardian.


Arjuna menggenggam erat erat tangan Cherry, tetapi sebelum masuk Arjuna sempat aneh melihat ada beberapa mobil mewah didepan rumahnya, mungkin ada kolega Daddy Rahardian pikirnya


"Ada tamu deh kayaknya" Tebak Cherry, tetapi matanya fokus pada satu mobil berwarna putih yang tidak asing baginya, seperti mobil... Ah tidak mungkin, mobil seperti itu banyak yang memakainya ya meskipun hanya orang-orang yang mampu saja


"Mungkin kolega Daddy" Sahut Arjuna santai, tetapi berbeda dengan Cherry, hatinya mulai tidak tenang dan menebak jika akan terjadi sesuatu didalam sana.


"Aku takut" Bisik Cherry, genggaman tangannya semakin erat


"Gak apa-apa"


"Mommy-daddy, Arjuna pulang" Teriaknya keras, ya, Arjuna memang seperti itu dimanapun dirinya berada dia selalu bertingkah semaunya


Langkah keduanya berhenti saat melihat beberapa orang sedang mengobrol diruang tamu dengan begitu hangat, bahkan Cherry melihat teman sekampusnya disana "Chelsea?"


Cherry bukan orang bodoh, ia cukup mengerti dengan situasi seperti ini, begitu juga dengan Arjuna, laki-laki itu semakin menggenggam erat tangan Cherry untuk mendekat meskipun Cherry menahannya tetapi Arjuna terus meyakinkannya lewat sorot matanya jika semuan yang ada dipikirannya bisa teratasi.


"Mom, dad!"


"Loh, ada Cherry juga, ada apa ini?" Matanya semakin menajam saat melihat genggaman tangan mereka semakin mengerat


"Justru Arjuna yang nanya ada apa ini sebenarnya?" Tukasnya


Adinda memilih tidak memperdulikan keberadaan Cherry, wanita cantik itu beralih mengandeng tangan Chelsea dengan raut wajah bahagia dan mendekatkannya kepada Arjuna "Kamu udah kenal 'kan sama Chelsea, dia satu kampus sama Cherry" Ujarnya


"Mommy pengen kamu lebih Deket sama Chelsea dan kita semua yang ada disini sepakat jika kalian akan menikah setelah Chelsea lulus kuliah beberapa bulan lagi"


DUARRR!


Cherry melepaskan genggaman tangannya, ia mundur satu langkah bersamaan dengan air mata yang lolos begitu saja.


Dadanya begitu sesak, hatinya begitu sakit seperti tertimpa batu besar berkali-kali.


Ia merasa dunianya berhenti saat ini


Akankah nasib anaknya akan sama sepertinya, yang hidup tanpa seorang ayah?


"Mom, jangan bercanda!" Arjuna mulai terbawa emosi bahkan suaranya terdengar begitu mengerikan bagi siapa saja yang mendengarnya


"Bercanda apa sih Jun, mommy serius!"


"Gak! Arjuna gak mau!" Teriaknya tidak terima sampai semua orang yang berada disana berdiri kaget


"Arjuna!"


Kini sang Daddy lah yang mulai angkat bicara, pria paruh baya itu nampak berdiri dengan sorot mata yang begitu tajam


"Tidak ada penolakan apapun!" Imbuhnya tegas.

__ADS_1


Cherry semakin memundurkan langkahnya, ia tersenyum lalu berbalik pergi bersamaan dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya


Sementara itu, Arjuna sedang berdebat dengan keluarganya tentang perjodohan yang membuatnya sangat marah, ia sampai tidak sadar jika Cherry sudah pergi


"Daddy, aku gak mau di jodoh-jodohin kayak gini, NORAK tau gak!"


"Daddy tidak mau mendengar alasan apapun!"


Di luar, Cherry berjalan sambil menangis, satpam yang melihatnya heran, bukannya perempuan itu yang tadi datang bersama dengan tuan muda nya, tetapi kenapa perempuan itu pergi sendiri dengan keadaan menangis?


"Pak, buka gerbangnya"


"Baik non"


Setelah Cherry sampai didepan gerbang, dirinya langsung memesan taxi lalu pergi ke satu-satunya tempat dimana dirinya bisa menumpahkan semua keluh kesah hidupnya


Langkahnya terhenti tepat didepan gundukan tanah kering yang terbalut rumput hijau nan rapih, di simpannya bunga mawar putih diatasnya, perempuan itu menangis mengusap batu Nissan bertuliskan nama KATRINA AURELIE itu dengan lembut


"Ibu..." Ucapnya dengan suara parau, dadanya begitu sesak ketika menyadari jika sang ibu benar-benar sudah tiada. Meskipun baru dua tahun Katrina meninggalkannya, tetapi dirinya merasa belum lama ini Katrina memeluknya saat dirinya terpuruk.


"Cherry datang, Bu"


Laju air matanya tidak dapat di bendung lagi, Cherry menangis sesegukan


"Cherry udah kerja di kantor, Bu"


"Cherry udah berhenti jadi model, seperti yang ibu inginkan"


Semasa hidupnya, Katrina memang melarang Cherry untuk bekerja sebagi model majalah dewasa karena bagaimanapun juga seorang ibu tidak rela melihat anaknya dipandang murahan oleh semua laki-laki yang melihatnya dengan tatapan mesum, tetapi mau bagaimana lagi, butik yang didirikannya terancam bangkrut


"Ibu senang?" Tersenyum dengan mengusap batu nissan itu dengan lembut.


"Bu, Cherry bawa kabar bahagia buat ibu, tapi janji, ibu jangan marah ya?" Menyeka air matanya lalu mengambil selembar Poto USG dan memperlihatkannya


"Ini cucu ibu, umurnya baru enam minggu, dia sehat" Cherry begitu senang bisa memperlihatkan calon bayi nya yang masih sangat kecil didepan makam ibu nya, "Ibu mau jadi nenek" Tertawa kecil tetapi air matanya tidak berhenti menetes, bahkan Cherry terus menepuk dadanya yang semakin sesak.


"Andai ibu masih disini, tentu Cherry gak sebingung ini"


Bingung karena dirinya takut menyakiti bayi nya karena dirinya tidak mengerti tentang kehamilan ataupun mengurus bayi seorang diri.


"Tapi Cherry akan berusaha menjadi ibu yang baik, Seperi ibu yang merawat Cherry penuh dengan kasih sayang dan berjuang membesarkan Cherry seorang diri"


Terasa hancur seluruh dunianya saat kata-kata itu [Seorang diri] harus ia ucapkan lagi bukan untuk dirinya, melainkan untuk calon anaknya karena hubungannya bersama Arjuna mungkin tidak akan pernah ter-restui karena orang tua Arjuna sudah menjodohkannya dengan perempuan yang lebih sebanding dengan keluarganya


"Cherry pasti bisa, doakan Cherry ya Bu"


Tangisan itu begitu terdengar pilu, seseorang yang sedang memperhatikannya dari jauh tidak kuasa menahan sesak di dadanya


Gadis kecil yang selalu ia peluk ketika jam pulang kerja tiba dan selalu merengek manja kepadanya ternyata begitu menderita setelah kepergiannya


Ayah macam apa dirinya, membiarkan darah dagingnya menderita seperti itu


"Maafkan ayah, nak"


Ya, pria itu adalah Danial. ia melihat semuanya dengan jelas. Tadinya pria itu ingin berkunjung ke makam Katrina tetapi saat melihat Cherry datang, ia memilih menyembunyikan dirinya dibalik pohon rindang yang tidak jauh dari tempat Cherry berada.


Cherry masih terus menangis sampai dirinya lupa jika tidak baik seorang ibu hamil stres dan akan berdampak buruk pada janinnya


"Maafkan bunda nak, kamu sedih ya denger bunda nangis?"


"Masih ada bunda sayang" Lagi-lagi Cherry menangis, ternyata nasib anaknya akan sama seperti nya yang malang.


"Kita mulai kehidupan kita mulai besok ya"


Cherry Aurelie Herlambang


__ADS_1


🌻


Berikan cinta kalian dengan meninggalkan like disetiap episodenya, terimakasih :)


__ADS_2