
"Tumben pulang cepat, Mawar?"
"Iya mbak, jadwal si bos memang sampai siang saja. Itu juga hanya menemaninya makan siang bersama kliennya dan selanjutnya aku langsung pulang" Sahut Mawar sedikit bingung. Ia tidak tahu harus melakukan apa karena ada begitu banyak bahan-bahan kue yang tentunya cukup asing bagi Mawar. "Apa yang harus aku kerjakan, mbak?" Imbuhnya.
Cherry tersenyum, kepalanya menggeleng pelan seraya memasukan adonan kue kedalam cetakan loyang yang sudah ia siapkan tadi.
"Menjaga Juna saja. Ini sudah selesai dan hanya butuh beberapa menit untuk menunggunya matang. Setelah itu baru kau boleh membantu mbak seperti biasa" Ya memasukan kue-kue tersebut kedalam kotak maksudnya. Memangnya Mawar mau membantu apa selain itu, dia gadis bodoh dalam hal membuat kue. Memasak saja ala kadarnya, tidak seperti Cherry yang serba bisa.
Hm, beruntung sekali suaminya.
Tapi ngomong-ngomong soal suami, selama ia mengenal wanita itu, Mawar belum pernah sekalipun melihatnya. Bahkan setiap pulang bekerja Mawar yang lebih sering diam di kontrakan Cherry tidak pernah sekalipun melihat sosok yang berstatus ayah dari bayi mungil nan tampan itu.
Beberapa spekulasi seiringan bermunculan dalam benaknya. Jelas! Mawar ingin menanyakannya namun, lagi-lagi ia tidak cukup berani dan takut wanita cantik itu akan tersinggung karena ke ingin tahuannya selama ini.
Selain bertanya bagaimana perkembangan Juna - sang bayi, mawar tidak ingin bertanya lebih jauh tentang kehidupannya. Meskipun selama ini Mawar cukup blak-blakan memberitahukan kisahnya.
Cherry, hanya nama singkat itu yang selama ini mawar tahu dari wanita cantik itu. Tidak ada nama kepanjangan apapun yang tersemat dibelakang namanya yang indah itu. Apakah Cherry benar-benar tidak mempunyai siapapun lagi selain Juna, anaknya? Kenapa mawar ragu untuk mempercayainya. Cherry terlihat bukan berasal dari keluarga biasa saja, dari wajahnya pun ketika pertama kali bertemu, Mawar seperti pernah melihatnya - namun dimana, ia juga tidak ingat.
Tetapi Mawar yakin jika ada sesuatu yang disembunyikan wanita itu sampai berakhir di kontrakan ini.
Sabar, mungkin wanita itu belum sepenuhnya mempercayai Mawar untuk menceritakan hidupnya untuk saat ini. Mawar yakin suatu saat, wanita yang bernama Cherry itu akan lebih terbuka terhadapnya dan menceritakan semuanya.
"Ada apa?"
Suara lembut Cherry membuyarkan lamunannya, Mawar tersentak dan mengalihkan tatapannya. Dengan gelagapan Mawar menggelengkan kepalanya, "Gak apa-apa mbak, hehe" Sahutnya gugup.
Cherry menggeleng tidak percaya, pasti ada yang sedang Mawar pikirkan tentangnya.
"Apa yang sedang ingin kamu tahu tentang mbak?"
DEG!
Merasa ketahuan, Mawar menunduk. Apakah ini waktu yang pas untuk menanyakan semua rasa penasarannya?
"Katakan saja. Mbak akan menjawab jika mbak bisa"
Menghembuskan nafasnya perlahan, Mawar menegakan wajahnya untuk menatap Cherry yang entah sejak kapan sudah duduk dihadapannya sambil memangku Juna yang sepertinya sudah mengantuk.
"A-aku boleh tanya sesuatu gak, mbak?"
Sambil menyusui Juna, Cherry mengangguk.
"M-Maaf kalau aku lancang dan mungkin menyinggung perasaan mbak, tapi sumpah aku cuma khawatir karena mbak sendirian mengurus Juna-" Mawar menggigit bibirnya takut, "S-Suami mbak kemana? Selama mbak tinggal disini, a-aku belum pernah melihat sosok ayahnya Juna."
Jauh dari ekspektasi Mawar jika Cherry akan tersinggung dengan pertanyaan nya. Wanita itu malah tersenyum sangat teduh namun meskipun begitu, Mawar dapat melihat kesakitan dalam sorot matanya saat menatap Juna yang mulai memejamkan matanya.
Mawar tidak buta, meskipun wanita itu tersenyum namun ia merasa dibalik senyuman itu, dia menyimpan berjuta luka yang saking banyaknya sangat sulit ia ungkapkan.
"Kamu ingin tau?"
Mawar mengangguk yakin sedangkan Cherry - dia meraup udara lebih dalam, menahan rasa sesak dalam hatinya.
"Apakah setelah kamu tahu, kamu akan membenci mbak dan tidak menyayangi Juna lagi?"
Mawar menggeleng ribut lalu menggenggam tangan Cherry, "Kenapa mbak berpikir seperti itu. Mbak sudah seperti kakak bagi aku-"
"Kamu pasti akan terkejut mendengarnya, Mawar" Cherry menjeda sedikit kalimatnya untuk menetralkan suaranya yang mulai bergetar, "Tetapi intinya, mereka tidak menginginkan kita - mbak dan juga Juna. Semoga kamu mengerti apa maksud mbak, Mawar"
Bersamaan dengan kalimat yang terlontar dari mulut Cherry, airmata mawar menetes tanpa ia duga. Ia merasakan hatinya sangat sakit oleh kenyataan hidup wanita yang baru ia kenal beberapa bulan lalu.
Bagaimana wanita itu menjalani hidupnya seorang diri? Mawar tidak bisa membayangkan sesakit apa hari yang dijalani wanita itu.
Tanpa berkata apapun, Mawar memeluk Cherry yang sedang berusaha tegar. Mengusap pundak sempit nan rapuh itu penuh kasih, "Ada aku, mbak. Mawar akan selalu bersama mbak dan Juna. Ada kak Darendra yang tulus menyayangi mbak dan juga Juna, mbak jangan merasa sendirian disini"
Dalam pelukan Mawar Cherry mengangguk, tidak seharusnya ia berpikiran bahwa semua orang akan meninggalkannya. Nyatanya ia selalu dipertemukan dengan orang-orang baik sepeti Mawar dan Darendra dan juga keluarganya yang senantiasa menerimanya.
Dan disela-sela Cherry menyelesaikan orderannya, mereka saling bercerita kehidupan masing-masing. Sekarang Mawar lega telah mendengar semua kisah hidup Cherry, takdirnya yang menyedihkan. Ditinggalkan oleh ayah saat masih kecil tanpa penjelasan apapun, dibenci karena profesi nya sebagai seorang model majalah dewasa dan tidak mendapat restu dari orangtua kekasihnya.
Kuat dan hebat. Ya, kata yang terlontar dalam hati mawar untuk wanita yang bernama Cherry.
__ADS_1
🌻
Mawar menggigit bibirnya lalu meletakan ponselnya di atas meja. Ia melirik Cherry yang telah kembali setelah meletakan Juna ke dalam kamar. Dalam hati Mawar bertanya, apakah Cherry akan mengijinkan Mawar membawa Juna pergi, tanpanya?
Ya, tadi saat mereka telah selesai bercerita, tiba-tiba saja bos nya mengirimi pesan, mengajak Mawar keluar. Namun yang menjadi masalah, bos nya ingin mengajak Juna. Bukan Mawar tidak mau, tapi ia takut tidak mendapatkan ijin dari Cherry.
"Apalagi yang kamu pikirkan, Mawar?" Tanya Cherry tiba-tiba sudah ada duduk dihadapannya, membuat Mawar yang gelisah tersentak kecil.
"Eh?"
"Kenapa lagi, apa masih ada pertanyaan untuk mbak?"
Cherry mendudukkan dirinya dihadapan Mawar, ia melirik jam dinding yang tertempel pada dinding sudah menunjukan pukul sebelas malam. Rasa kantuk pun ada, namun melihat sepertinya Mawar masih ada pertanyaan untuknya, Cherry mencoba menahannya.
"Aduh bagaimana ya?" Cherry masih diam, menunggu Mawar melanjutkan kalimatnya yang membuat penasaran. "Besok aku akan mengajak Juna ke taman binatang mbak, apakah boleh?" Imbuhnya.
"Berdua? Kamu dengan Juna saja?"
Mawar menggelengkan kepalanya pelan, "Sama bos aku, mbak" Cicitnya dengan pipi yang sudah merona malu.
Cherry tidak tahan untuk menggoda, tangan mungilnya dengan jahil mencolek dagu perempuan itu yang sedang tertunduk malu. "Mau kencan ko bawa bayi, nanti mengganggu keromantisan kalian bagaimana?" Godanya.
Mencebikkan bibirnya lucu, Mawar menjadi salah tingkah dibuatnya. "Ih mbak, siapa juga yang akan berkencan!" Sangkal nya pelan. Tapi itu juga sih yang Mawar pikirkan, kenapa tiba-tiba bos nya mengajaknya keluar? Apakah mengajak Juna hanya alasan pria itu untuk mengajaknya 'Berkencan?' Ah tidak! Jangan berharap Mawar. "Lagian si bos nya yang meminta aku mengajak Juna" Imbuhnya.
DEG!
"Ko begitu?"
"Mungkin si bos rindu kepada Juna"
Cherry mengangguk saja setelah itu ia memberikan ijin Mawar untuk membawa putranya berlibur. Lumayan juga kan, besok Cherry bisa berjualan dengan tenang.
🌻
Baru saja Arjuna keluar dari dalam mobilnya, Juna yang berada dalam gendongan Mawar terus meronta dengan tangan yang menjulur meminta diraih.
Melihat respon bayi kecil itu, tentu Arjuna merasa rindunya terbalaskan, dengan senang hati Arjuna langsung menggendong bayi tampan itu dan memberikan sebuah kecupan lembut pada pipi gembul nya.
Suara tawa terdengar begitu renyah. Sungguh Mawar tidak bisa menahannya. Mana ada menculik meminta ijin terlebih dahulu, dasar!
"Mbak Cherry bilang iya tidak apa-apa tuan, dia tadi buru-buru pergi karena akan mengantarkan kue pesanan ibu-ibu kompleks depan yang sedang arisan."
Arjuna hanya mengangguk saja, berjalan menuju mobil. Ia tidak begitu mendengar jelas Mawar bicara karena semua atensinya kini hanya tertuju pada bayi tampan dalam gendongannya. Sedangkan Mawar, perempuan itu hanya menggeleng lucu ketika melihat tingkah bosnya yang berubah lembut.
"Ayo kita berlibur bayi tampan, banyak sekali pengetahuan yang harus kamu lihat sekarang" Seru Arjuna seraya menyerahkan Juna kepada Mawar. Bayi itu sedikit menolak, namun setelah Mawar memberinya mainan karet favoritenya, Juna berubah anteng.
Sebenarnya tempat wisata itu tidak terlalu jauh, namun karena jalanan ibukota yang selalu macet di jam apapun, mereka baru sampai setelah satu jam menerobos kemacetan.
Arjuna langsung mengambil alih Juna, menggendongnya menggunakan gendongan kanguru. Banyak orang yang menatap mereka takjub, mungkin bagi mereka Arjuna dan Mawar seperti sepasang suami istri muda yang baru dikaruniai seorang anak tampan. Sangat cocok sekali.
"Kau lapar?"
"Tidak tuan-"
Arjuna menahan tawa ketika mendengar suara perut Mawar yang berbunyi. "Perutmu tidak bisa diajak kompromi oleh bibirmu ternyata" Ucap Arjuna dengan kekehan yang sudah tidak bisa ditahan. Ugh, menyebalkan! Malu juga tentunya. "Ayo kita makan siang dahulu, ada kedai langganan saya didekat sini"
Mawar mengangguk malu, mengikuti langkah lebar Arjuna dibelakangnya. Mereka berjalan bersama, mengacuhkan pandangan takjub dari sebagian pengunjung.
"Makanlah"
"Tuan?"
"Jangan memanggil saya dengan embel-embel tuan seperti itu ketika diluar jam kerja, Mawar" Sela Arjuna. Ia sedikit kurang nyaman dipanggil seperti itu.
"Tapi-"
"Panggil saya senyaman kamu, umur kita hanya berbeda dua tahun saja, kan?"
"I-iya"
__ADS_1
Arjuna tersenyum, membiarkan Mawar terlebih dahulu untuk makan. Sementara itu, ia mengajak Juna berkeliling kedai yang kebetulan terdapat kolam ikan yang lumayan besar. Bayi itu memekik senang dengan tawanya ketika Arjuna beberapa kali mencelupkan kaki mungilnya pada air dingin.
"Kau mengingatkan uncle pada seseorang boy. Tapi dia pasti akan langsung mengamuk kalau uncle jahil menciprat-kan air. Tapi dia lucu, seperti kamu"
"Tuan, saya sudah selesai makan"
"Nah, kau dengan aunty cantik itu dulu ya? Uncle mau makan dahulu"
Apa?
Mawar merasa seluruh wajahnya terbakar ketika mendengar sang bos mengatakan dirinya cantik. Ya ampun, apakah wajahnya sangat merah sekarang? Sambil mengambil alih Juna, Mawar menundukan kepalanya malu. Sedangkan Arjuna, pria itu hanya tersenyum dan sesekali tertawa renyah karena berhasil menjahili Juna.
Karena terlalu asyik memperlihatkan macam-macam binatang, tidak terasa ternyata hari sudah mulai senja. Juna sendiri sudah tidur satu jam yang lalu dalam gendongan koala Arjuna.
"Lucunya, pasti dia kelelahan karena terlalu banyak tertawa" Ucap Mawar saat mereka sudah berada didalam mobil untuk pulang.
Pelan Arjuna menyerahkan Juna kedalam pangkuan Mawar, sehingga tidak menyadari Mawar yang telah duduk pada kursi penumpang dan Arjuna dengan membungkuk, wajah mereka begitu dekat sehingga keduanya bisa saling merasakan hembusan nafas hangat menerpa ujung hidungnya.
Keduanya terpaku seakan mata mereka terkunci pada satu titik. Dalam jarak dekat seperti ini Arjuna dapat melihat wajah cantik sekretarisnya yang baru satu tahun ini menemaninya kemanapun. Ternyata Mawar sangat cantik. Matanya yang kecil, hidung mancung serta bibir tipis - Arjuna menelan ludahnya kelat.
Entah dorongan apa yang membuat Arjuna mengikis jarak, ia tersenyum ketika melihat Mawar seolah memberinya ijin untuk melakukanya. Dan dalam mobil yang masih terparkir di area parkiran sore itu, kedua belah bibir manusia itu bertubrukan pelan. Mereka seolah lupa kalau ada bayi diantara keduanya.
Awalnya hanya saling menempel, namun semakin lama ciuman itu semakin menuntut. Entah sejak kapan Arjuna sudah duduk disebelah Mawar, tangan kekarnya meraih tengkuk Mawar untuk memperdalam ciumannya.
Arjuna mengigit kecil bibir Mawar sehingga bibir yang terkatup rapat sedaritadi perlahan terbuka dengan sebuah leguhan mengiringinya. Arjuna yang berhasil membuka bibir Mawar tersenyum dan menerobos kan lidahnya untuk masuk mengabsen setiap inci rongga mulutnya.
Ciuman itu terasa kaku, bahkan baru untuk Mawar. Ia hanya mengikuti alur si pria yang memimpinnya.
Lumayan lama mereka saling menyesap sampai bibir tipis itu terlihat membengkak, perlahan Arjuna melepaskan tautan bibirnya. Keduanya ter-engah kehabisan oksigen dengan kedua kening saling menempel, Arjuna mengangkat tangannya, mengusap sudut bibir Mawar yang basah karena ulahnya.
"Kita pulang" Ucap Arjuna pelan disebelah telinga Mawar yang masih terdiam.
Tidak seperti saat berangkat mereka banyak mengobrol hal aneh, mobil itu terasa sangat sunyi setelah kejadian tadi. Mawar masih tidak mengerti kenapa dirinya diam saja saat sang bos menciumnya.
Drrrt~
Arjuna merogoh ponselnya yang ia simpan dalam saku celana, menggeser tombol hijau lalu menempelkannya benda pipih berlogo setengah apel tergigit itu ke sebelah telinga kirinya.
"Yes mom?"
"Tapi Arjuna mau mengantarkan-"
"Iya-iya, cerewet sekali!"
"Hm"
🌻
Mawar sedikit ragu ketika Arjuna mengajaknya ke rumah orangtuanya. Beberapa kali perempuan itu menolak namun Arjuna yang tidak perduli tetap melajukan mobilnya menuju rumahnya.
"Tuan, saya dengan Juna menunggu di mobil saja ya?"
"Tidak! Mommy sudah menunggu kita"
Mawar cemberut, membuat Arjuna tersenyum gemas. Ditariknya tangan Mawar lalu membawanya masuk kedalam. Di sana sudah ada Diana dan juga Rahardian yang sedang bersantai.
"Jun-"
DEG!
Diana terpaku melihat kedatangan seorang perempuan cantik bersama putranya. Mawar sendiri terus menundukan wajahnya, memeluk tubuh mungil Juna yang masih tertidur pulas tanpa rasa terganggu.
"Siapa mereka?" Tunjuk Diana.
"Dia sekretaris aku mom, Mawar. Dan itu keponakannya, Juna"
Diana tersenyum hangat saat Mawar mengangkat wajahnya untuk menyapa. Tangan lembut itu menyentuh kepalanya pelan, mengusapnya perlahan.
"Cantik sekali"
__ADS_1
"T-terima kasih nyonya"
🌻