
"Sayang. Bisa diem gak sih?"
Bayu baru saja keluar dari ruang kerjanya bertolak pinggang memperhatikan sang istri yang sedang bolak-balik mengambil.bahan untuk adonan kue nya. Pria itu sedikit meringis memandangi perut super besar istrinya, pasti sangat berat pikirnya. Apalagi bayi nya ada dua.
Apakah istrinya itu tidak merasa berat? Bayu saja yang melihatnya merasa sesak dan pasti akan sangat sulit berjalan. Tapi lihatlah gadis hamil itu, berjalan seperti tanpa ada beban didepan perutnya.
Grizelle menoleh sejenak, menatap malas pada suaminya yang sangat cerewet. "Kenapa lagi sih mas sayang datang-datang ngomel terus, gak bosen, hm?" Ucap Grizelle santai. Lalu mengalihkan kembali pandangannya pada tepung yang sudah siap ia tuangkan lada adonan kue di hadapannya.
Sebenarnya Bayu bukan mengomel seperti yang Grizelle tuduhkan, ia hanya merasa khawatir melihat pergerakan istrinya, apalagi dengan perut besar seperti itu. Bayu takut Grizelle hanya kelelahan saja. Apalagi usia kehamilan Grizelle sudah memasuki bulan ke 8 dan itu artinya tinggal menunggu beberapa Minggu lagi, kedua bayi berjenis kelamin laki-laki itu akan hadir di tengah-tengah mereka. Bayu hanya takut terjadi apa-apa dengan istri dan juga anaknya.
"Mas linu liat kamu. Udah deh diem santai aja sana. Baca novel kek, nonton drakor kek atau nonton suami online kamu tuh si Jeffrey a.k.a Jeong Jaehyun."
Grizelle terkekeh ketika mendengar suaminya berkata seperti itu. Ia tidak perduli dan melanjutkan membuat kue nya.
"Sayang~" Panggil Bayu gemas karena Grizelle tidak menggubrisnya. Pria itu berjalan menghampiri Grizelle dan memeluknya dari belakang. "Hey 2 jagoan, bilangin mommy nya suruh diem ya, omongan Daddy gak didenger sama mommy." Adu nya sambil mengelus perut Grizelle yang sangat besar. "Kalian cepet lahir ya, biar bisa maen sama si Simba."
Simba adalah singa peliharaan Bayu yang di adopsi nya beberapa bulan lalu karena keinginan Grizelle sendiri. Katanya, "Biar jadi mainan Kenzo sama kenzi kalau sudah lahir." Karena Grizelle ingin membuat kedua putra nya nanti menjadi pemberani. Mengingat banyak sekali musuh Bayu yang ingin mencelakai keluarganya. Terlebih lagi Grizelle juga ingin rumahnya aman dari penyusup. Meskipun keamanan disana sangat ketat, yang namanya penyusup siapa yang tahu.
Saat Bayu sedang mengusap-usap perut bulat Grizelle, tiba-tiba sebuah tendangan dari dalam sana membuat Bayu terkejut. Begitupun dengan Grizelle yang meringis menahan linu pada perutnya.
"Sayang, mereka kalau gerak sebrutal itu?" Tanya Bayu khawatir melihat Grizelle meringis menahan ngilu.
"Iya mas. Sampai aku linu, AW!" Lagi-lagi Grizelle meringis, menahan rasa ngilu pada perutnya ketika kedua bayinya kembali menendang. Mungkin mereka sedang merespon ucapan Daddy nya, atau menyapa nya. Makanya mereka seagresif ini.
Bayu senang mengetahui kedua anaknya sangat aktif namun ia merasa kasihan juga dengan Grizelle karena sekarang perutnya terus bergerak karena kedua bayinya mungkin sedang bertanding bola, pikirnya. Akhirnya Bayu menyuruh Grizelle untuk duduk sejenak sebelum melanjutkan membuat cookies nya lagi.
"Hey anak-anak Daddy yang tampan. Stop ya, jangan berkelahi, kasihan mommy kalian kesakitan." Sambil mengelus dan memberikan beberapa kecupan, akhirnya kedua bayi itu diam, membuat Grizelle tersenyum. "Kalau mau gerak, jangan kenceng-kenceng ya jagoan, pelan-pelan aja."
"Wow, kalian langsung diam jika Daddy yang bicara." Berdecak kagum karena kedua bayi nya langsung diam, Grizelle mengecup bibir Bayu sekilas sebelum akhirnya melanjutkan kembali membuat kue nya.
"Sayang, besok udah ambil cuti kuliah kan?" Bayu bertanya.
"Belum mas, aku baru ngajuin Minggu depan."
Bayu mengangguk, lantas ia bangkit untuk pergi ke ruang kerjanya.
"Ya udah. Mas mau ke ruang kerja dulu ya, Arjuna mau kesini katanya."
"Iya mas"
🌻
"Gimana, udah ketemu?"
Arjuna menghembuskan nafasnya lelah, kepalanya menggeleng lemah. "Belum. Gue gak tau harus nyari dia kemana lagi"
Setelah mereka selesai membahas proyek yang berada di Bandung, Bayu merasa khawatir dengan keadaan Arjuna. Ia tahu permasalahan nya adalah tentang perempuan yang Bayu sendiripun tahu saat Leon mengenalkannya sebagai kekasihnya. Bayu tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi hingga perempuan yang Bayu tahu itu adalah kekasih Leon bisa mengandung anaknya dan sekarang Leon malah sudah menikah dengan Naomi - kekasihnya beberapa bulan lalu.
Sebenarnya Bayu sangat penasaran dengan jalan cerita diantara kakak sepupu istrinya, Arjuna dan juga perempuan yang bernama Cherry. Namun, Bayu tidak terlalu berani karena bagaimanapun itu adalah urusan pribadi mereka. Tetapi jika Arjuna meminta Bayu untuk membantunya, maka dengan senang hati, Bayu sebagai sahabat akan membantunya.
"Udah loe cari ke rumah maid yang pernah kerja di rumahnya?"
Ya, itu adalah usul Bayu ketika beberapa bulan lalu saat kunjungan mereka ke Bandung. Arjuna sempat bertemu dengan maid yang pernah bekerja di rumah Cherry dan berniat menanyakan dimana dia berada. Namun hasilnya tetap sama, maid tersebut pun tidak tahu dimana keberadaan majikannya itu.
"Udah dan hasilnya nihil."
"Gue yakin sih maid itu tau. Mau gue bantu?" Tawaran Bayu membuat Arjuna menoleh, menatap wajah Bayu yang sangat serius. "Sesama sahabat harus saling membantu, bukan? Gue gak tega liat lor murung kayak gini terus. Gue sama Hendry bisa lacak sampai dapet."
__ADS_1
Arjuna menepuk pundak Bayu, ia menggeleng pelan karena percuma saja jika Bayu mencarinya. Bahkan Arjuna sudah menyuruh seorang pelacak internasional namun mereka juga tidak bisa menemukannya.
"Gak perlu repot bay, gue mau stop aja."
Ya, mungkin ini adalah akhir dari perjuangan cintanya. Semakin ia mencari, semakin jauh perempuan itu pergi - Arjuna harus mengerti dan perlahan harus belajar melepaskannya.
"Loe nyerah? Gimana nasib anak loe kalau ternyata mereka masih hidup?"
Anak?
Apakah benar anaknya masih hidup sama seperti yang dikatakan perempuan itu dalam mimpinya? Tidak mungkin! Bahkan perempuan itu menyetujui saat Rahardian menyuruhnya untuk menggugurkan kandungannya.
"Entahlah, gue cape sendiri. Percuma gue berjuang tapi dia malah semakin ngejauh."
"Dan loe tahu alasan dia ngelakuin itu karena siapa." Jelas Bayu jika Arjuna lupa.
Ya, Arjuna sangat paham apa maksud Bayu. Namun, jika perempuan itu percaya kepadanya, seharusnya ia tidak perlu lari tanpa sepengetahuannya dan mau berjuang bersama untuk mendapatkan restu orangtuanya.
"Jangan sampai menyesal, Arjuna."
Belum sempat Arjuna menanggapi, ponsel nya menyala cukup nyaring dalam saku celana nya. Ia merogoh benda pipih tersebut dan melihat nama 'Mawar' tertera disana.
"Ada apa, mawar?"
"Wakil direktur Choi sudah sampai, tuan. Mereka menunggu-"
"Baiklah, saya ke kantor sekarang."
"Baik tuan"
Setelah sambungan telpon terputus, Arjuna beranjak dan membereskan tasnya, membuat Bayu bertanya, "Mau kemana?"
"Iya. Besok jangan lupa, kita kumpul ditempat biasa. Mumpung si Darendra ada di Jakarta juga."
"Oke"
🌻
Menatap sendu pada jejeran foto-foto yang selama ini masih ia simpan dibalik ruangan berwarna merah itu. Senyuman seorang gadis begitu manis yang mampu membuat hatinya yang beku mendadak mencair dengan mata coklatnya.
Foto-foto itu dirinya ambil secara diam-diam tentunya. Katakanlah jika dirinya sangat pengecut karena tidak berani mengungkapkan perasaannya dan lebih memilih bersembunyi - mengagumi dibalik jepretan kameranya. Dan rasa pengecutnya itulah yang mengantarkannya pada sebuah penyesalan yang begitu dalam.
Ck, ia menyesal sekarang. Namun apa boleh buat, memangnya sebuah cinta bisa dikendalikan untuk siapa ia harus berlabuh? Tidak!
Rasa itu murni dari hati, bukan keinginan.
Huh!
Sudah setahun kejadian itu terjadi, namun kalimat tentang sebuah fakta besar yang menghancurkan seluruh dunianya masih begitu nyata terdengar oleh telinganya. Terkadang, ia tidak percaya, apakah semua ini nyata? Apakah benar? Meskipun sudah mendengarnya dengan nyata, kadang perasaannya tetap menyangkal jika itu tidak benar.
Meskipun begitu, tetapi ia tetap menjauh bahkan ketika gadis itu memohon untuk bertemu pun, ia tidak sanggup untuk bertemu.
Namun tuhan mempermainkan perasaan nya begitu lucu, sejauh manapun ia menghindar, kehendak Tuhan tidak bisa di elakkan. Ia yang sedang mengurus sidang skripsi tidak sengaja bertatap muka dengan gadis yang mati-matian ia hindari. Dan ketika itu juga, rasanya, hatinya kembali terluka begitu melihat perut gadis itu kembali membuncit, bahkan sangat besar.
Andai ia mencaritahu terlebih dahulu tentang gadis itu, mungkin perasaannya tidak akan jatuh terlalu dalam pada sosok gadis cantik bermata coklat itu. Dan mungkin, hatinya tidak akan terlalu sakit setelah mengetahui jika gadis itu telah bersuami dan - mengandung kembali.
"Kak Rey"
__ADS_1
Selain pengecut, Rey begitu pintar menyembunyikan rasa luka nya.
"Hai Griz"
Hari ini Grizelle sengaja pergi ke kampus untuk mengajukan surat cuti untuk melahirkan. Seharusnya ia tidak perlu repot-repot ke kampus karena kampus tersebut adalah milik mertuanya. Namun Grizelle bukalah orang yang suka memanfaatkan statusnya untuk semena-mena terhadap peraturan kampus, ia tetaplah mahasiswa disini dan sudah seharusnya mengikuti peraturan yang ada.
Dan setelah Grizelle keluar dari kantor dekan, tidak sengaja ia bertemu dengan Rey. Pria yang dulu pernah menyelamatkan nya dari penculikan mengerikan setahun yang lalu.
Karena pertemuan tidak sengaja antara mereka, Rey tidak bisa lagi menghindar. Pria itu mengangguk saat Grizelle memohon untuk mengobrol sebentar sebelum dirinya cuti.
"Apa aku ada salah kak?" Grizelle bertanya pelan, " Kenapa kakak ngehindar terus? Padahal aku cuma mau bilang terima kasih karena kakak udah nyelamatin aku waktu itu, ya meskipun akhirnya aku engga selamat."
Rey menunduk, ia merasa bersalah setelah kejadian itu ia mendadak menghilang ditelan rasa sakit. Seharusnya ia tidak bersikap seperti itu karena masalah cinta terlarang nya. Lagipula ini adalah kesalahannya sendiri, bukan Grizelle. Dan tidak sepantasnya Grizelle mendapatkan rasa acuh dari nya.
"Maaf" Cicit Rey. "Maaf karena aku gak bisa ngendaliin ini semua, Griz"
Grizelle tersenyum, menatap pria disebelahnya. Ia cukup paham dengan kalimat tersebut karena ya - Grizelle pun sudah mengetahui tentang perasaan pria itu untuknya.
"Bukan salah siapa-siapa kak. Semua orang berhak mencintai selama kakak enggak berniat egois aja, itu tidak apa-apa."
Egois?
Tidak, sedikitpun Rey tidak berniat untuk egois. Apalagi berencana untuk merebut Grizelle dari pria itu. Bagi Rey, melihat Grizelle bahagia saja itu sudah cukup meskipun akan selalu ada hati yang terluka karenanya, itu tidak masalah.
Hening.
Suasana taman itu begitu sejuk bersama dengan air semilir yang membuat daun rapuh berjatuhan dari tempatnya.
"Griz-"
"Hm?"
"Selamat atas kehamilan kamu."
"Terima kasih uncle." Sahut Grizelle dengan menirukan suara anak kecil yang mana membuat Rey terkekeh lucu. "Kak- Maaf aku angkat telpon dulu ya."
Rey mengangguk, menatap punggung Grizelle yang sedang membekalinya untuk mengangkat telpon. Entah dari siapa, namun suara gadis itu begitu lembut menyapa.
"Iya mas, tunggu sebentar."
"Me too."
Grizelle menoleh setelah sambungan telponnya terputus. Ia kembali duduk untuk merapikan tas yang dibawanya tadi.
"Maaf kak, aku harus cepat pulang."
"Iya"
Grizelle tersenyum tipis. Ia bangkit dari duduknya, "Ya udah, maaf kalau aku ganggu waktu kakak. Sekali lagi terima kasih."
Namun ketika Grizelle akan berbalik pergi, tangannya tiba-tiba di tahan oleh Rey.
"Kak-"
🌻
...Sorry kalau ada typo, males baca ulang soalnya. ...
__ADS_1
...Jangan lupa like nya ;)...