Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 39


__ADS_3

S2 Bab 39


Alaric memegangi kepalanya saat bangun di dini hari. Kepalanya pusing luar biasa mbiat dirinya mebarik rambutnya berulang kali. Hal terbodoh yang dia lakukan karena seorang wanita untuk pertama kalinya itu sangat ia sesali. Alaric sangat tidak menyangka dirinya menjadi seperti sekarang.


Dadanya masih terasa sangat sesak. Bayang-bayang Ana yang memeluk lelaki tua itu selalu menghantui pikirannya. Rasa cinta yang besar pada wanita yang masih menjadi kekasihnya itu membuat kekecewaan yang teramat dalam. Cinta yang sangat dalam untuk perlahan Ana terkikis oleh rasa kebencian saat bayang-bayangnya kembali melintas dalam otaknya.


Alaric berusaha bangun dari tempat tidur, sambik menegang kepalanya yang masih sangat pusing. 'Argh ... bodohnya kamu, Al.' Alaric mengutuk dirinya sendiri. Perlahan dia jalan keluar kamar, dan betapa kagetnya dia saat melihat kedua sepupunya yang sedang tidur di sofa apartemennya.


'Sejak kapan mereka ada di sini?' Batin Alaric bertanya-tanya. Dia tidak menyadari apa yang terjadi tadi malam. Alaric mengambik segelas air putih terlebih dahulu karena tenggorokan dia yang terasa sangat kering. 'Apa ini efek dari minuman?' gumannya, pasalnya ini pertama kalinya dia merasakan haus yang teramat luar biasa.


Setelah meminum beberapa gelas, Alaric langsung mendekati kedua sepupunya itu.


“Woy ... bangun!” ucapnya sambil melemparkan bantal kecil pada keduanya.


“Emmm ... rese lo! Gue masih ngantuk banget.” Gibran mengambil bantal kecil itu, memeluknya dan kembali tidur.


“Dalam hitungan tiga tidak bangun, siap-siap satu ember air mendarat di wajah kalian,” ucap Alaric sambil cengegesan.


“Sumpah Bang, lo rese kalau lagi patah hati,” ucap Krisna bangun dari tidurnya. Alaric yang melihat keduanya tertawa puas.


“Bang, lo ga ada rasa terimakasihnya sama kita ya. Cih ... semalam aja kaya orang stress, sekarang lo malah kaya orang gila,” kesal Gibran yang melihat Alaric masih saja tertawa.


“Dih ... emang kenapa gue semalem? Perasaan gue biasa aja.” Dengan bangganya dia berkata seperti itu, dan langsung duduk di sebelah Krisna. Kedua saudaranya yang sangat kesal melihat wajah Alaric yang masa bodo, melempar dua buah bantal kecil pada Alaric.


“Nyesel Bang, gue ga rekam tadi malem. Lo kaya orang bodoh, bahkan lebih bodoh lagi dari seekor keledai,” kesal Gibran. Alaric hanya tertunduk diam. Dia memeganggi kening dan mencubitnya. Ingin dia menyembunyikan yang terjadi dan pura-pura tidak ada masalah ternyata gagal.


Krisna dan Gibran saling memandang. Keduanya pun pindah tempat duduk ke tempat Alaric. Krisna merangkul dan menepuk pundak abangnya itu. Setidaknya itu akan memberikan sedikit rasa ketenangan, bahwa ada yang peduli dengan masalah yang dia hadapi.


“Bang, lo jangan mudah percaya dengan gosip murahan seperti itu. Kenapa lo ga ketemu dulu sama Ana dan meminta penjelasan darinya? Dan selesaikam semua dengan kepala dingin,” ucap Gibran.


“Itu bukan gosip.” sambil berbisik Alaric tidak kuat menahan rasa sakitnya. Tanpa disadari Alaric meneteskan air matanya. Rasa sakit hatinya membuat dia tidak bisa berpikir jernih sama sekali. Krisna dan Gibran juga tampak sangat kanget dengan apa yang dilihatnya. Karena ini pertama kalinya mereka melihat Alari meneteskan air matanya. Dan keduanya bisa pastikan kalau Alaric sudah benar-benar sangat kecewa.


“Maksud Abang bukan gosip, apa?” Tanya Krisna penasaran.

__ADS_1


“Gue sudah melihat semuanya di depan mata kepala gue sendiri. Dia memeluknya, dan ....” Alaric menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Air matanya tidak bisa dihentikan. Gibran dan Krisna pun memilih diam dan hanya bisa menepuk pundaknya untuk memberikan sedikit ketenangan.


'Pasti sangat menyakitkan ya, Bang?' gumam Gibran sambil menatap haru sepupunya. Karena tangisan Alaric yang begitu dalam sampai tidak mengeluarkam suara menggambarkan hatinya yang betul-betul kecewa. Dia tahu betul kalau sepupunya itu jatuh cinta untuk pertama kalinya. Jadi wajar kalau ini akan menjadi sangat sakit. Gibran juga tidak menyangka kalau Ana seperti itu. Ingin rasanya dia tidak mempercayai semuanya, tapi mendengar dan melihat Alaric seperti ini, Gibran ragu dengan keyakinan dia kalau semua ini hanya kesalahpahaman.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ana sejak pagi sudah siap untuk berangkat. Semalam Gibran mengabari dirinya kalau Alaric berada di apartemennya. Ana pun berencana untuk bertemu dan menjelaskan pada Alaric tentang semua yang terjadi sebenarnya. Dia pun mengambil tas kecil kesayangannya, jugan tak lupa membawa ponsel Alaric yang kemaren jatuh.


Pukul 06.30, masih sangat pagi memang,tapi Ana sengaja, karena dia tidak ingin lama-lama terjadi kesalahpahaman. Ana pun menunggu driver online yang tadi sudah dipesannya. Tidak butuh waktu lama, kendaraan yang dipesannya datang.


Perjalanan dari kost-an Ana sampai ke apartemen Alaric hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Ana sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan kekasihnya dan menjelaskan apa yang terjadi. Sampai di depan Apartemen Ana pun bergegas masuk. Keringat dingin sudah membasahi keningnya. Dia benar-benar gugup, dia takut kalau Alaric menolak untuk bertemu dengannya.


Setelah sampai di lantai lima, Ana perlahan melangkah ke arah pintu yang sudah terlihat dari depan lift. Dia melangkahkan kakinya pelan dengan rasa yang was-was. 'Bagaimana kalau abang tidak mempercayaiku?' Ketakutan itu yang sejak tadi muncul dalam pikirannya.


Sampai di depan pintu, Ana menarik nafas panjang. Dengan rasa percaya diri Ana menekan bel yang ada di pintu.


Ting ... tong ... ting ... tong


Betapa kagetnya Gibran saat melihat Ana yang berdiri di depan pintu, “Ana!” Ana hanya melempar senyumam padanya. Gibran melirik ke dalam melihat sepupunya dan kemudian kembali menapa Ana.


“Bang Gibran, Apakah aku bisa bertemu dengan Bang Al?” tanya Ana dengan suara pelan sambil tertunduk memainkam jari jemarinya.


“Tunggu sebentar disini ya!” Titah Gibran dan Ana hanya mengangguk terdiam.


Gibran menutup pintunya dulu, dan kembali masuk ke dalam. Dia melihat Alaric masih tertunduk dengan menutup wajahnya dengan kedua relapak tangannya. Gibran pun menhampiri Krisna dan menepuk pundaknya. Dia memberi tanda lirikan mata pada Krisna, agar Krisna mengikui dirinya keluar.


Krisna mengangguk, dia langsung mengerti dengan maksud dari Gibran. Perlahan Krisna berdiri dari tempat duduknya. Alaric tidak menyadari kalau kedua saudaranya sudah tidak ada di sisinya.


“Ada apa?" bisik Krisna.


“Ana ada di luar, sebaiknya kita berikan waktu untuk mereka berdua,” jawab Gibran dengan nada yang pelan.


“Apa?!”

__ADS_1


“Stttt ... jangan lebay deh ah! Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka,” jelas Gibran sambil menutup mulutnya.


“Lo yakin?” Gibran hanya mengangguk.


Karena keyakinan Gibran, Krisna pun ikut menyetujuinya. Keduanya pun keluar, dengan perlahan Gibran membuka pintu agar Alaric tidak menyadarinya.


“Masuklah! Kita berdua menunggu di luar,” titah Gibran. Ana tersenyum mengangguk, “Makasih ya, Bang!” Gibran hanya membalasnya dengan anggukan.


Ana pun masuk ke dalam. Perlahan dia melangkahkan kakinya. Berapa sakit hatinya saat melihat pujaan hatinya duduk sambil merunduk. Dia tahu kalau Alaric sedang menangis, karena dilihat dari pundaknya yang turun naik. Ana pun berhenti tepat dibelakang pria yang masih menjadi kekasihnya itu.


“Abang!” serunya dengan pelan.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Jeng ... jeng ... jeng ...


Apakah yang akan terjadi?????


yuks komentar di kolom komentar, dan jangan lupa juga like yaaa...


Terimakasih semuanya


AKU PADAMU ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2