Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 21


__ADS_3

Salsa menyenderkan tubuhnya di belakang pintu sambil memegangi dadanya. Jantungnya yang berdebar kencang membuat dia tidak bisa mengatur nafasnya. Salsa benar-benar speechless dengan apa yang terjadi hari ini. Dia sama sekali tidak mengetahui kalau keluarganya merencanakan semuanya.


Kenapa gue lari dan masuk kamar? Sial ... kalau kaya gini gue malu untuk jawabnya, kesal Salsa yang entah kenapa dia harus masuk ke dalam kamar.


Disisi lain, para anak muda menenangkan Fauzi yang tampak kecewa duduk sambil merunduk menyesal.


“Gue salah, Salsa belum siap ini. Tapi, apa yang gue lakukan? Gua malah bikin dia jauh dari gue,” ucap Fauzi. Alaric yang berada di belakangnya, menepuk bahu dia untuk menenangkan Calon kakak iparnya itu.


“Lo ga salah Bang, Kak Salsa butuh waktu untuk menjawab lamaran Lo,” ucap Alaric.


Selagi para anak muda yang sedang menenangkan Fauzi, Riana dan Desi selaku ibu dari Salsa pun menghampiri gadis cantik yang dari tadi mengurung diri di dalam kamar. Keduanya mengetok pintu kamar Salsa.


“Nak, boleh bunda masuk?” tanya Riana sabari membuka pintu yang memang tidak terkunci.


Salsa Berada pojok jendela kamar sambil menatap keluar jendela. Dia tidak berani melirik ke arah kedua wanita yang dia datangi, karena wajahnya yang sembab. Kedua wanita cantik itu menghampiri Salsa.


“Bunda, Ibu,” panggil Salsa dan memeluk kedua wanita yang ada di depannya.


“Kamu kenapa, Sayang? Kenapa kamu langsung meninggalkan Fauzi tanpa menjawab pertanyaannya?” tanya Desi.


“Aku kaget, dan aku juga ga tahu kenapa aku harus menghindar. Bun, Bu! Apa Fauzi marah padaku?” Riana dan Desi saling bertatapan, keduanya dengan spontan langsung tertawa dan itu berhasil membuat Salsa kebingungan. Dia mengusap air matanya sambil melihat kedua ibunya yang masih menertawakan dirinya.


“ ... kok pada ketawa sih? Kakak serius loh!” ucapnya dengan nada yang kesal. Riana merangkulnya dan menepuk pelan bahunya.


“Kamu lucu, Sayang. Tahu ga? Fauzi diluar sedang down, dia menyalahkan dirinya sendiri karena sudah melamar kamu. Eh ... disini malah kamu merasa Fauzi marah. Sayang, kalian berdua salin mencintai, ga baik juga kamu lama-lama pacaran. Umur kamu sudah cukup untuk menikah. Bunda, ibu sama Ayah merestui kalian. So, buka hati kamu untuknya.” Salsa mengangguk perlahan.


“Ya udah Kak, tunggu apa lagi? Fauzi sama yang lain lagi di halaman belakang tuh. Udah sana!” titah Desi. Salsa mengangguk tersenyum.


Ketiganya keluar dari kamar, dan semua mata tertuju pada Salsa. Memang suasana saat itu sangat tegang, dan saat melihat Salsa keluar dari kamar, para orang tua langsung tersenyum lega. Dengan langkah yang masih ragu-ragu Salsa pun menghampiri sekumpulan anak muda yang ada dihalaman belakang villa.


“Gimana, Bun?” tanya Rendra yang penasaran apa yang terjadi dengan anak sulungnya.


“Biasa Yah, dia hanya sedikit shock aja kok.”


“Biarkan anak muda menyelesaikan masalah mereka. Sekarang sudah malam, bagaimana kalau kita istirahat? Besok 'kan kita mau keliling kota Bandung,” ucap Didit dan semuanya pun menyetujuinya.


Salsa masih berdiri dibalik dinding pintu menuju halaman villa. Dia ragu, dan takut kalau Fauzi akan marah padanya. Tidak sengatan Ana melihat Salsa dan langsung menghampirinya.


“Kak Salsa!” panggil Ana pelan, tapi itu berhasil membuat Salsa cukup kaget. Salsa langsung menarik tangan Ana dan keduanya berdiri di belakang pintu.

__ADS_1


“Sttt ... aku takut ketahuan,” bisik Salsa.


”Kenapa Kak? Bang Fauzi benar-benar berharap kak Salsa sekarang. Kakak ga perlu takut,” bujuk Ana.


“An, gue jahat ga sih?” tanyanya dengan nada yang terdengar sangat menyesal.


“Kalau Kak Salsa ga keluar sekarang, Kakak orang yang jahat.” mendengar itu batin Salsa semakin merasa bersalah. Salsa menarik tangan Ana, “An, temani gue ya!” Ana tersenyum mengangguk.


Keduanya pun berjalan ke arah mereka. Gibran, Alaric dan Intan yang menyadari kedatangan Salsa tersenyum lega.


“Bang, kita tinggal ya. Udah malem, Abang mau masuk juga ga?” tanya Alaric.


“Kalian duluan aja. Gue masih mau disini sebentar,” jawabnya tanpa menyadari Salsa yang sudah berada di belakangnya.


“Ya udah, kita semua pamit ya Bang. Semangat!” sambil menepuk bahunya, Alaric dan semuanya melangkah masuk ke dalam villa. Salsa yang memasang wajah marah, karena tidak ingin ditinggalkan oleh mereka, sama sekali tidak dihiraukan. Keenamnya pun meninggalkan Salsa sendiri sambil menertawainya.


Kesal? Pastinya Salsa sangat kesal. Dia tidak tahu harus berbuat apa dihadapan Fauzi. Salsa dengan ragu melangkahkan kakinya dan berdiri dihadapan kekasihnya.


“Cih ... Kak Salsa, gitu aja kok malu-malu,” ucap Intan dibalik jendela bersama dengan kelima temannya.


“Penonton diem aja deh,” sahut Gibran dan mereka hanya tertawa kecil.


“Sa! Kamu ....?” Fauzi membuang nafas kasar dan kembali duduk. Dia tidak bisa mengungkapkan kekesalannya pada kekasihnya.


“Zi, maafin aku!” ucap Salsa pelan. Dia masih berdiri dihadapan Fauzi dengan merunduk sambil memainkan jari jemarinya. Fauzi tersenyum dan menarik Salsa untuk duduk disebelahnya. Fauzi menggenggam tangannya dan menciumnya dengan lembut.


“Ga Sayang, aku yang minta maaf. Maafin aku karena tidak pernah meminta izin darimu untuk melamar kamu. Maafkan keegoisan aku ini ya!” mendengar itu batin Salsa sangat sakit, dia tidak bisa menahan air matanya.


Ya Tuhan, aku bodoh. Benar-benar bodoh. Ada lelaki sebaik ini tapi aku sama sekali tidak pernah peduli, Salsa mengutuk dirinya sendiri karena sudah bersikap sangat bodoh.


“Sayang, kamu kenapa nangis? Maafin aku, Sayang!” Fauzi menggenggam kedua tangan Salsa dan terus menatap wajah Salsa dengan penuh rasa bersalah.


“Zi, aku bodoh! Aku salah!” ucap Salsa dalam tangisnya. Fauzi menarik tubuh Salsa masuk ke dalam pelukannya.


“Ga sayang, kamu ga bodoh dan kamu juga ga salah. Disini aku yang salah. Jadi, Please! jangan menyalahkan dirimu.”


“Aku mau kita menikah secepatnya, Zi!” bisik Salsa yang membuat Fauzi benar-benar kaget. Dia seketika melepas pelukannya dan menatap wajah Salsa seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan kekasihnya.


“Yank, kamu lagi ga nge-prank aku 'kan?” Salsa seketika langsung tertawa. Dia mencubit kedua pipi Fauzi dan itu membuat Fauzi semakin aneh dengan kelakuan kekasihnya.

__ADS_1


“Aku serius!” ucap Salsa sambil tersenyum. Fauzi langsung berdiri dan membelakangi Salsa. Dia menarik rambutnya karena menahan rasa kesalnya pada Salsa. Salsa hanya tersenyum, dia berdiri dan memeluk tubuh Fauzi dari belakang.


“Maafin aku ya!” ingin rasanya Fauzi mengumpat dan menumpahkan rasa kekesalannya pada Salsa. Tapi semua itu luntur dengan sikap manis Salsa padanya. Fauzi membalikkan badannya dan memeluk tubuh Salsa dengan sangat erat.


“Kamu berhasil, Sayang.” Salsa binggung dengan apa yang diucapkan Fauzi.


“Maksudnya?” Fauzi melepaskan pelukannya dan menatap tajam pada Salsa.


“Kamu berhasil membuat aku kesal sekaligus sangat bahagia,” ucap Fauzi dan langsung mencium lembut bibir manis kekasihnya. Salsa tersenyum dan menyambut ciuman hangat Fauzi. Keduanya benar-benar sedang dimabuk asmara.


“Ya Ampun, cobaan apa ini? Dah Ah gue tidur!” ucap Krisna sambil melangkah pergi diikuti Intan, Gibran, dan Aulia.


“Bang, aku masuk juga ya!” ucap pelan Ana. Saat hendak melangkahkan kakinya, Alaric menarik tangannya.


“Sayang, ga ada hadiah selamat malam buat aku?” goda Alaric. Wajah Ana memerah, dan langsung berlari masuk ke dalam kamar. Alaric yang melihatnya tertawa dan sangat gemas dengan kekasih barunya itu.


Kamu lucu sayang, ucapnya dan mengikuti langkah teman-temannya masuk ke dalam kamar


.


.


.


.


.


~Bersambung~


😭😭😭😭😭😭 Maafkan aku semuanya....


Satu bulan sudah hiatus 😭😭😭😭😭😭😭


buat kalian yang sudah lupa ceritanya, aku mohon baca lagi dari awal yaaa.... 🙏🙏🙏 Dan terimakasih untuk setia menunggu aku 🤧🤧🤧


Jangan tinggalkan aku sendiri 😭😭😭😭😭


Ditunggu Like dan Komen kalian semuaaaaa

__ADS_1


Aku sayang kalian semuaaa ♥️♥️♥️😘😘😘😘😘😘


__ADS_2