
S2 Bab 32
Sesuai dengan perintah papa angkatnya, Ana mulai berhenti bekerja. Setidaknya dia mengabulkan salah satu permintaan darinya. Minggu ini adalah minggu dimana detik-detiknya terakhir bekerja. Cukup sedih, karena teman- teman di tempatnya dia bekerja sudah seperti saudara sendiri untuknya. Oleh karena itu, dia habiskan waktu terakhirnya dengan bekerja lebih lama dibandingkan biasanya.
Rencana Ana untuk memperkenalkan keluarga angkatnya pada Alaric dia urungkan, karena menurutnya belum saatnya Alaric tahu tentang dirinya. Bukannya tidak mau menceritakan, cuma Ana hanya ingin semuanya diceritakan di waktu yang tepat.
Hubungan Ana dan Alarric pun semakin hari semakin dekat. Dan itu membuat para wanita yang berada di kampus iri padanya. Bagaimana tidak? Alaric adalah salah satu pujaan dari wanita-wanita yang ada di kampus. Walaupun dirinya sudah lulus dari sana, tapi mereka tetap mengidolakan sosok lelaki tampan dan setia seperti dirinya. Terlebih sekarang Alaric selalu menyempatkan untuk menjemput kekasihnya setiap hari. Setiap kali Ana dijemput oleh kekasihnya, banyak mata sinis yang tertuju pada dirinya. Tapi Ana sama sekali mengabaikan mereka.
“Sayang, siapa yang ingin kamu kenalkan padaku?” tanya Alaric ketika keduanya sedang menikmati makan malam di pinggir jalan sepulang Ana bekerja.
“Hanya teman kok. Abang mau nambah?” Ana mengalihkan pembicaraannya, agar Alaric melupakan pertanyaan dirinya. Alaric hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.
Selesai keduanya menyantap makanan, Alaric langsung mengantarkan kekasihnya pulang, karena memang hari sudah sangat larut. Sesampainya di depan kosan, keduanya masih berada di dalam mobil. Alaric menahan Ana untuk tetap berada di dalam dengan menggenggam tangannya. Dia menatap dalam wajah kekasihnya dan itu berhasil membuat Ana menjadi kebinggungan.
“Ada yang aneh ya Bang di wajahku?” tanya Ana sambil menyentuh wajahnya. Alaric menggelengkan kepala tersenyum. Dia kemudian membelai lembut Ana dan tetap menatapnya dengan tajam. Ana mengerutkan dahinya semakin tidak mengerti dengan arti tatapan dari Alaric.
“Sayang, jangan pernah meninggalkan aku ya! Tetap selalu berada di sisiku. Dan jangan pernah melirik lelaki lain selain diriku. Aku ingin memiliki dirimu seutuhnya karena aku sangat mencintai dirimu,” ucapnya sambil sesekali mencium kedua tangannya. Jantung Ana berdebar mendengan perkataan dari kekasihnya, dia hanya tersenyum mengangguk.
“Kamu juga ya, Bang! Terimakasih sudah mencintai aku setulus hatimu. Keduanya saling bertatapan dan melempar senyuman. Alaric perlahan mendekati wajahnya ke arah wajah Ana. Jantung Ana pun seketika berdetak tidak beraturan.
'Apa dia akan menciumku?' batin Ana bertanya-tanya. Ana hanya bisa diam saat wajah Alaric semakin dekat dekat dengan wajahnya.
Dret ... Dret 'Suara getaran diiringi nada telepon'
Keduanya kaget. Seketika Alaric menjauhkan wajahnya dan memalingkannya ke arah luar jendela. Keduanya salah tingkah, Ana pun sibuk mencari ponselnya yang terus saja berbunyi.
“Emmm ... Bang! Aku angkat telepon dulu ya!” ucap Ana, Alaric hanya mengangguk. Ana pun turun dari mobilnya dan dengan cepat mengangkat telepon dari papa angkatnya.
Bimo :“Kamu di mana? Papa ada di depan tempat kerjamu.”
Ana :“Aku sudah sampai di kostan, Ngapain Papa ke sana?”
Bimo :“Menjemputmu. Kapan terakhir kamu bekerja?”
Ana :“Minggu ini, Pa.”
Bimo :“Oke ... Selama itu papa akan menjemputmu tiap hari.”
Ana :“Tapi ....” belum selesai Ana bicara, Bimo langsung memotong pembicaraannya.
Bimo :“Ga ada tapi-tapian. Papa cuma ingin tahu, apa kamu benar-benar berhenti atau tidak. Ya sudah, ini sudah malam, segeralah beristirahat. Papa tutup teleponnya ya!” Ana pun menjawab iya dan teleponnya pun di matikan.
'Aku harus bagaimana?' batin Ana. Dia merasa khawatir, karena pasti Alaric akan menjemput dirinya setiap hari juga.
__ADS_1
“Siapa, Sayang?” tanya Alaric yang turun dari mobil menghampiri kekasihnya.
“Ah ... Ini dari bu Sarah.” Ana berbohong pada Alaric. Karena kalau jujur akan panjang ceritanya dan hari itu sudah sangat larut. Ana berniat ingin menceritakan tentang dirinya diwaktu yang pas dan keduanya sendang santai.
“Oh ... Sayang, sudah malam, masuklah!” Ana tersenyum mengangguk.
“Makasih ya, Sayang. Kamu hati-hati pulang ke rumah.”
Alaric seketika ingat ada hal yang ingin disampaikan pada Ana, dengan cepat Alaric menarik tangannya, “Ada apa, Bang?” tanya Ana dan membalikkan badannya.
“Aku sampai lupa. Selama kurang lebih tiga hari kedepan, aku ada pekerjaan di luar kota. Jadi sementara aku tidak bisa menjemputmu,” ucapnya dengan wajah yang terlihat menyesal.
“Iya, Sayang, ga apa-apa. Kenapa mukanya gitu sih?” tanya Ana saat melihat wajah Alaric yang tampak masam dan terlihat sangat khawatir.
“Aku tidak bisa menjemputmu,” ucapnya dengan nada yang lesu.
Ana tersenyum dan mencubit kecil pipi Alaric, “Jangan merasa khawatir, Sayang! Aku bisa kok pulang sendiri.” Ada rasa lega saat Alaric mengatakan itu. karena papanya disaat yang tepat akan menjemput dirinya setiap hari.
“Beneran kamu ga apa-apa?” kembali Alaric menanyakan karena rasa khawatirnya yang sangat besar.
“Iya ga apa-apa kok. Ya sudah, ini udah malam. Kamu pasti capek. Pulanglah!” titah Ana. Alaric terus menatap Ana yang tersenyum manis padanya.
“Aku akan sangat merindukan dirimu, Sayang. Ingat! Aku tidak mau kamu dijemput oleh lelaki manapun. Setiap pulang pakai taxi biar lebih aman. Tapi tetep matanya harus dijaga. Dan ....” dengan cepat Ana menutup bibir Alaric dengan telunjuknya untuk menyuruh Alaric berhenti dari bicaranya.
“I Love You. Langsung istirahat ya!”
“Love you too. Iya ... Kamu juga, Sayang. Hati-hati di jalan. Kabari aku kalau sudah sampai di rumah.” Alaric tersenyum mengangguk. Sambil berjalan mundur ke arah mobil, dia melambaikan tangannya dan terus menatap Ana. Berat untuk tidak bertemu dengan kekasihnya selama tiga hari kedepan. Tapi, dia tidak bisa meninggalkan kerjaan yang menantinya di luar kota.
‘Aku ingin kamu menjadi milikku seutuhnya, Ana' gumam Alaric sambil terus menatap Ana yang terus melambaikan tangan padanya. Dengan berat hati, Alaric pun perlahan melajukan mobilnya.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Terimakasih masih setia menunggu novel ini UP. Jangan bosan-bosan untuk like dan komen yaa... ditunggu juga kritik dan saran dari kalian biar Author bisa memperbaiki tulisan Author. Buat kalian yang tidak merasa keberatan Author minta votenya yaaa...
__ADS_1
Sekali lagi terimakasih ❤️❤️❤️❤️
AKU PADAMU 😘😘😘
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Puisi by : Kenziki Kyozaki
...Sinar mentari terganti senja...
...Bersama datangnya sang bayu menyapa...
...membawa cerita lama...
...Terukir senyum dalam khayalan...
...Terpatri semu dalam bayangan...
...Di ujung senja saat sinar menggelora...
...Pesona jingga tercemar kelabu hitam...
...Terekam kenangan masa silam...
...Lamunan hati menapaki mimpi semu...
...Menunggu mendesah rindu...
...Terhuyung, termangu lamunanku masih tentangmu...
...Merekat erat...
...Berharap, namun hanya ilusi bayangmu yang dapat kudekap....
...Mengambang, terbang melayang...
...Terbawa angin terhempas bimbang....
...Terasa lelah...
...Melangkah tak tentu arah...
...Samar-samar jejakmu menghilang diantara rembulan dan bintang...
__ADS_1
...Meninggalkan ragaku yang berjuang menunggu jiwamu pulang...