Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 81


__ADS_3

S2 Bab 81


Waktu terus berjalan dan semakin lama Ana bisa melupakan perlahan kisah sedihnya. Dia banyak menghabiskan waktu dengan bekerja. Mungkin dengan bekerja dia bisa kembali seperti dulu, pikirnya kala itu. Alaric sendiri sebenarnya ingin sekali istrinya hanya diam di rumah dan menunggu dirinya pulang, karena dia sanggup untuk membiayai Ana. Tapi permintaan Alaric untuk sementara ini ditolak olehnya.


Setelah empat bulan pernikahan Ana dan Alaric, keduanya belum juga dikaruniai seorang anak. Apa karena Ana terlalu capek dengan pekerjaannya? pikir Alaric. Dia merencanakan untuk bulan madu kedua dan berharap bulan madu kali ini bakal membuahkan hasil.


Melihat anak dari Salsa dan juga Gibran membuat Alaric semakin ingin mempunyai keturunan. Dia memang sangat menyukai anak kecil, oleh karena itu dia sangat ingin cepat-cepat mendapatkannya. Ana sangat tahu keinginan suaminya itu, tapi mau bagaimana lagi kalau memang belum waktunya.


“Sayang, bulan depan bagaimana kalau kita ke Lombok?” Alaric membuka percakapan usai menjemput istrinya di kantor.


“Bulan depan 'kan Aulia dan bang Kris nikah, Yank. Masa mereka menikah kita ke Lombok. Lagi pula ada apa di sana? Apa kamu ada kerjaan?” tanya Ana. Alaric lupa kalau sepupunya itu nikah di bulan depan. Dia membuang nafas kasar dan itu berhasil membuat Ana merasa heran.


“... Sayang, ada apa? Apa kamu memiliki masalah di kantor?” Alaric menggelengkan kepalanya dan hanya diam tidak menjawab.


Sampai di rumah, Alaric langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ana semakin merasa aneh dengan sikap Alaric akhir-akhir ini. Dia tampak kehilangan semangatnya.


Tok ... tok ... tok ...


“Sayang, aku masuk ya!” tanpa mendengar jawaban suaminya, Ana langsung masuk ke kamar mandi yang memang sengaja tidak ada kunci, karena hanya mereka berdualah yang memakainya.


Ana memeluk tubuh Alaric dari belakang saat Alaric sedang membersihkan giginya.


“Loh ... Yank, kapan kamu masuk?” tanya Alaric kaget.


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Ana dengan suara yang memelas. Alaric membalikkan badannya, setelah dia selesai membersihkan mulutnya.


Alaric tersenyum, membelai rambut panjang istrinya dan memeluknya.


“Aku enggak kenapa-kenapa, Sayang. Kenapa kamu menanyakan hal itu?” Ana menyambut pelukan suaminya dan memeluknya dengan erat.


“Kamu seperti ada masalah. Aku merasa tidak berguna jadi istri kalau kamu tampak murung seperti ini.” mendengar itu Alaric kanget dan melepaskan pelukannya. Dia mencium kening istrinya dan berkata, “Kenapa bicara seperti itu sih?! Aku enggak kenapa-kenapa Sayangku. Hanya saja aku merasa kita semakin tidak mempunyai waktu untuk bersama. Kamu terlalu sibuk dan aku pun juga.”


“Sayang, apa kamu sangat menginginkan aku diam di rumah?” tanya Ana menatap tajam wajah suaminya.

__ADS_1


“Suami mana yang tega melihat istrinya bekerja? Sayang, aku mampu membiayai semua kebutuhan kamu, apapun yang kamu inginkan akan kupenuhi. Tapi aku juga tidak mau memaksa kamu untuk mengikuti apa yang aku inginkan.” Ana tersenyum dan mengecup bibir manis suaminya.


“Aku bekerja bukan karena materi, Sayang. Tapi aku hanya ingin melupakan semua yang telah terjadi.”


“Apa tidak cukup waktu tiga bulan ini untuk melupakan semuanya?” tanya Alaric dengan wajah yang memelas. Ana tersenyum, dia merasa gemas dengan suaminya seperti anak kecil. Orang lain tidak akan menyangka kalau sikap Alaric terhadapnya seperti ini.


“Sayang, sebenarnya ada keperluan apa kamu mengajakku ke Lombok?”


“Aku ingin bulan madu lagi dan menghabiskan waktu berdua bersamamu. Aku ....” Ana langsung mencium bibir alaric sampai mendorong tubuh suaminya ke dinding kamar mandi. Mendapat serangan mendadak dari sang istri tentu saja dia tidak menolak. Alaric menyambutnya dengan senang hati.


Keduanya terus larut dalam indahnya napas yang saling beradu. Sampai Alaric sudah tidak bisa menahan lagi napsunya. Dia menggendong tubuh Ana keluar kamar mandi dan melanjutkan peperangan yang baru saja dimulai. Sudah lama mereka tidak melakukan yang hot seperti malam ini. Keduanya menikmati setiap pergerakan sampai buliran keringat memenuhi tubuh mereka.


“Yank, malam ini kamu luar biasa,” bisik Alaric. Ana yang yang mendengar perkataan suaminya cukup membuat hatinya berdebar.


“Kamu juga,” lanjut Ana. Keduanya saling menatap dan tersenyum. Alaric mendekatkan wajahnya dan mencium keningnya cukup lama dan itu membuktikan bahwa betapa sayang dan cintanya dia pada Ana.


“... Yank, aku bakalan berikan satu hadiah untukmu. Dan hadiahnya, aku akan mengabulkan apapun yang kamu inginkan,” ucap Ana yang membuat Alaric kebingungan.


“Aku hanya ingin mendengar permintaan kamu padaku. Sejak awal kita menikah, aku tidak pernah melihat kamu meminta sesuatu padaku. Maka dari itu, aku ingin sekali mendengar permintaan kamu padaku. Apapun itu aku janji akan mengabulkan permintaanmu.”


Ini kesempatan yang baik untuk Alaric, karena dengan begini Alaric dapat menyuruhnya untuk tetap tinggal di rumah dan menjadi ibu rumah tangga.


“Apapun?” tanya Alaric meyakinkan. Ana hanya mengangguk tersenyum.


“Aku ingin kamu diam di rumah dan tidak usah bekerja lagi. Aku ingin kamu fokus padaku dan calon anak kita nanti.” Alaric melihat ujung bibir Ana yang naik, seketika kembali ke tempat semula. Dan melihat itu membuat Alaric pasrah dengan penolakan istrinya.


“Oke!" jawab Ana singkat. Alaric membulatkan matanya dengan lebar. Dia tidak menyangka kalau Ana akan secepat itu menjawab permintaanya.


“Sayang, kamu serius?” Alaric menanyakan sekali lagi, karena dia takut kalau apa yang didengarnya itu tidak salah. Ana tersenyum mengangguk.


Betapa senangnya Alaric akhirnya apa yang dia inginkan akan segera tercapai. Dia menarik tubuh mungil Ana agar masuk ke dalam pelukannya.


“Terima kasih, Sayang,” ucapnya sambil mencium kening istrinya.

__ADS_1


“Kenapa harus berterima kasih sih, Yank? Aku yang harusnya minta maaf, karena selama ini tidak mau mengerti apa yang kamu inginkan. Maafin aku ya, Sayang! Aku janji mulai hari ini akan menjadi istri yang baik untukmu.”


“Sayang, bagaimana kalau nanti kita ikut bulan madu bersama Aulia dan Kris? Kalau di pikir-pikir bakal ramai juga tuh,” ucap Alaric sambil tersenyum membayangkannya. Ana menggelengkan kepalanya lalu melepaskan pelukan Alaric dan membalikan tubuhnya hingga membelakangi dia.


“... gimana Yank? Kamu mau enggak?” tanya Alaric yang tidak mau menyerah untuk mengajak Ana berbulan madu. Dia mendekatkan tubuhnya dan memeluk tubuh Ana dari belakang.


“Terserah Abang aja deh. Perasaan kita bisa melakukannya di rumah setiap hari tanpa harus pergi keluar kota. Terlebih harus mengikuti pengantin baru bulan madu. Masa iya kita jadi penganggu,” lirih Ana kesal. berbeda dengan Alaric, dia yang mendengarnya merasa sangat senang.


“Setiap hari? Bener ya, Yank! Yes ... setiap hari ....” Ana tidak menyangka kalau perkataan dia membuat suaminya semakin semangat.


' Astaga sepertinya aku salah ngomong,' gumamnya.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Jangan lupa


👍Like


💬Komen


🌺Vote


Aku padamu semuanya ❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2