
S2 Bab 77
Alaric sudah berulang kali memohon pada istrinya agar dia memikirkan kembali niatnya untuk melakukan transplantasi ginjal. Tapi semua hasil sia-sia, karena Ana sudah membulatkan tekadnya untuk menyelamatkan sang ibu. Alaric hanya bisa pasrah dan berharap apa yang dipikirkan olehnya tidak akan terjadi.
Kondisi Gina semakin memburuk dan itu membuat Ana semakin panik. Dia meminta tim medis untuk segera melakukan operasi, karena dia takut akan kehilangan satu-satunya keluarga yang masih ada dalam kehidupannya. Dokter tidak berani mengambil resiko kecuali Ana menandatangani surat pernyataan dari pihak rumah sakit.
Pihak rumah sakit tidak bertanggung jawab apapun yang terjadi, karena operasi yang akan dilaksanakan atas kehendak dari keluarga pasien. Ana pun menyetujuinya dan menandatangani surat pernyataan itu. Menurutnya usaha dulu, untuk hasil doa serahkan pada Tuhan.
Bukan hanya Alaric yang melarang Ana, tapi seluruh keluarganya pun ikut melarang niat baik Ana. Bukan karena melarang dia untuk menolong ibunya, tapi lebih ke dampak yang akan terjadi ke depannya. Dokter sudah menjelaskan apa saja resiko setelah melakukan transplantasi ginjal.
Ana harus siap setidaknya selama dua tahun tidak memiliki anak. Ini dilakukan untuk melihat dampak pasca operasi. Dan ini juga harus diawasi penuh selama itu oleh tim medis. Adapun masalah kehamilan yang paling mungkin dialami pendonor adalah preeklampsia, yang merupakan jenis tekanan darah tinggi yang terjadi selama kehamilan.
Menurut sebuah penelitian menunjukkan bahwa donor hidup yang hamil juga memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena diabetes gestasional dan hipertensi gestasional. Wanita yang hanya memiliki satu ginjal karena nephrectomy perlu berkonsultasi mengenai risiko pengembangan pielonefritis, preeklampsia, dan komplikasi kehamilan lainnya sebelum mencoba hamil.
Pasien-pasien dengan kondisi ini, menurut peneliti, memerlukan pemantauan ketat selama periode antenatal dan postpartum untuk menghindari kerusakan fungsi ginjal. Diperlukan pula pendekatan multidipsiplin untuk mendapatkan kehamilan yang sehat pada pasien dengan kasus semacam ini. Dokter yang menangani Ibu Gina menjelaskan secara rinci semua dampak-dampak setelah transplantasi, tapi Ana sama sekali tidak takut.
Kegigihan Ana membuat suami dan keluarga tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya pasrah dan berdoa.
“Kamu harus kuat ya Sayang,” ucap Alaric sambil mencium keningnya. Untuk pertama kalinya Alaric meneteskan air matanya dihadapan semua orang. Hatinya masih belum ikhlas merelakan istrinya melakukan transplantasi dan harus menunda keinginan dia mempunyai buah hati.
Sebelum Ana memasuki ruang operasi, Ana ingin terlebih dahulu bertemu dengan ibunya. Dia ingin menyemangati sang ibu agar sama-sama berjuang di meja operasi nanti. Tapi anehnya saat Ana melihat keadaan sang ibu, tubuhnya dingin tidak seperti suhu normal manusia.
Dengan cepat Ana memanggil dokter dan membuat semua orang ikut panik melihat Ana. Tim dokter langsung memeriksa keadaan Ibu Gina dan membuat mereka tidak bisa melakukan operasi pada saat itu. Tekanan darahnya sangat menurun.
Sambil memeluk suaminya Ana menangis dan berharap kalau ibunya tidak apa-apa.
“Sayang, tenang ya! Ibu akan baik-baik saja,” ucap Alaric sambil mengusap pundaknya.
__ADS_1
Setelah berbagai macam usaha yang dilakukan oleh tim dokter, Ibu Gina menghembuskan napas terakhirnya. Dokter keluar dari ruangan d3ngam wajah yang terlihat sangat menyesal. Ana dengan cepat menghampiri dokter itu dan menanyakan kabar ibunya.
Dokter itu hanya meminta maaf dan mengumumkan kalau Ibu Gina tidak bisa diselamatkan. Mendengar itu membuat Ana seketika tidak sadarkan dirinya. Semua orang panik, Ana pun dibawa ke ruang UGD sementara pihak yayasan mengurus jenazah dari Ibu Gina.
Hanya tiga hari Tuhan mempertemukan Ana dengan ibu kandungnya. Walaupun waktu itu terlihat sangat singkat, tapi Ana cukup bahagia akhirnya dia bisa melihat dan bertemu dengan ibunya. Alaric terus menemani sang istri yang belum saja sadarkan diri. Dia terus mencium tangan istrinya dan berharap dia segera bangun dari pingsannya.
“Bang ... Ibu mana?” tanya Ana dengan suara yang berat. Alaric yang melihat istrinya sadar langsung berdiri dan mencium kening istrinya.
“Sayang, Ibu ....” Ana tersenyum mengangguk. Dia tidak terlihat sedih seperti yang dipikirkan Alaric sejak tadi. Dia memikirkan kalau saat istrinya bangun pasti tangisnya akan pecah, tapi pemikiran Alaric sangat bertolak belakang dengan kenyataannya.
Ana tersenyum, dia meminta pada suaminya untuk kembali ke ruangan Alm.Ibunya. Alaric pun mengambil kursi roda dan mendorong Ana sampai ke ruangan. Tampak semua keluarga dan beberapa pegawai dari yayasan berkumpul di depan ruangan. Mereka sedang membicarakan untuk membawa jenazah kemana.
Setelah melakukan kesepakatan akhirnya jenazah akan dibawa pulang ke yayasan. Karena di sana banyak orang-orang yang sudah menunggu kabar dari Almarhum. Setelah mendapat kabar suka para penghuni yayasan histeris. Pasalnya mereka harus kehilangan orang yang penuh kasih seperti Ibu Gina.
Semenjak kesadarannya memulih, Gina memang memutuskan membantu Risma di yayasan yang dia dirikan. Sebagai rasa terimakasih Gina pada Risma, karena selama ini sudah dengan sabar mengurus dia sampai ia benar-benar seperti orang normal pada umumnya.
Alaric juga ikut bersama istrinya di dalam mobil Ambulance. Mata Ana terus menatap tubuh kaku yang ada di depannya.
“Sayang, semua ini adalah takdir dari Tuhan. Kita sebagai umatnya hanya bisa pasrah dan menerima semua yang sudah diatur oleh-Nya,” ucap Alaric menarik tubuh Ana masuk dalam pelukannya.
“... Yank, menangislah! Aku tahu sejak tadi kamu hanya menahan kesedihan kamu. Jangan ditahan, Sayang! Keluarkanlah!”
Benar kata Alaric, sejak tadi Ana hanya menahan air matanya. Dia tidak ingin membuat semua orang ikut bersedih padanya dan juga merasa kasihan dengan apa yang terjadi padanya. Ana menengelamkan wajahnya di atas dada bidang Alaric dan menangis sekencang-kencangnya.
“Ada aku, Sayang. Kamu tidak perlu merasa sendiri, ada aku di sini.” Alaric menepuk punggungnya.
“Kenapa Tuhan mempertemukan aku dengan ibu? Tapi malah mengambilnya kembali. Kenapa aku harus merasakan kebahagiaan yang sesaat ini? Apa salahku, Bang?” ucapnya sambil menangis terisak.
__ADS_1
Alaric hanya diam dan terus menepuk punggung istrinya. Dia tahu apa yang dirasa Ana saat ini. Selamat perjalanan dan akhirnya sampai ke yayasan Ana masih saja menangis. Saat jenazah diturunkan dari dalam mobil, tubuh Ana kembali lemas dan hampir saja terjatuh, beruntuk suami dan juga sahabatnya Aulia menahan tubuhnya yang sudah tidak bertenaga.
Ana dibawa terlebih dahulu ke kantor yayasan sedangkan jenazah ibunya dibawa sementara di aula untuk terakhir kalinya para penghuni yayasan melihatnya. Ruangan aula bergema dengan suara isak tangis para penghuni yayasan. Gina memang terkenal orang yang sangat ramah dan juga baik hati. Dia tidak pernah membedakan mana orang yang normal dan mana orang terganggu jiwanya. Semua dimatanya itu sama, maka dari itu banyak yang kehilangan sosok baik dari Gina.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Jangan lupa
👍Like
💬Komen
🌺 Vote sebanyak-banyaknya
Maaf ya teman-teman baru UP, karena Author sedang tidak enak badan, semoga kalian memaafkan 🙏🙏
Happy reading guys ... ❤️❤️❤️
__ADS_1