
S2 Bab 51
Pagi hari Riana dan Salsa sudah sibuk menyiapkan makanan untuk sarapan keluarnya mereka. Hal yang sudah lama Riana impikan, karena memang Salsa tidak pernah sama sekali memasuki dapur. Tapi kini Salsa sudah sangat lihai memasak, bahkan Riana sendiri sering berguru pada anaknya itu.
Semua makanan satu persatu di sajikan di meja makan. Wangi makanan yang sangat menggoda membuat seisi uah bergegas menuju meja makan. Kini semua sudah berkumpul di meja makan menunggu Riana dan Salsa.
“Kak, yakin lo ini lo yang masak?” tanya Alaric ragu. Karena memang setau Alaric dia sama sekali tidak bisa memasak.
“Menurut lo?? Ya gue lah. Jangan bandingkan sama gue yg dulu kali. Sekarang memasak jangam ditanya, gue ahlinya.” dengan bangganya Salsa memamerkan dirinya.
“Cih ... iya-iya deh, gue akuin masakannya enak,” ucap Alaric dan kembali menyantap makanannya.
Selesai menyantap makanan, asisten rumah tangga mulai membereskan makanan yang ada di meja, sedangkan mereka tetap berada di sana untuk ngobrol-ngobrol melepas rindu.
“Bang, jangan lupa nanti siang ya!” ucap Riana mengingatkan kembali tentang pertemuan dia dengan anak dari temannya. Alaric cuma mengangguk sambil tersenyum. Dia pasrah dengan semua yang sudah direncanakan bundanya.
“Siapa lagi sih, Bun?” tanya Rendra yang tidak tahu dengan rencana istrinya.
“Itu loh, Yah, anak dari bu Anto, yang baru pulang dari Singapura. Ya ... Bbunda hanya ingin abang berkenalan dulu, suka atau enggaknya 'kan gimana nanti. Menambah teman 'kan baik. Iya enggak, Kak?” Salsa hanya tersenyum mengangguk, sedangkan Rendra menggelengkan kepala.
Sebenarnya dia ingin Alaric memutuskan sendiri jodohnya, karena dia merasakan dijodohkan itu tidak enak, walau sebenarnya sampai sekarang dia sangat mencintai istri pilihan ibunya. Rendra hanya bisa diam dan pasrah, karena untuk masalah anak-anak semua kehendak penuh sang istri.
Setelah berbincang-bincang dan main dengan Fasya, Alaric bersiap untuk memenuhi permintaan bunda kesayangannya. Dia pun membersihkan dirinya. Alaric memilih menggunakan pakaian yang casual biar terkesan lebih santai. Tempat pertemuan pun sudah dikirimkan oleh Erna, gadis cantik yang akan berjumpa dengannya.
“Bun, abang pergi ya!” pamit Alaric sambil mencium kedua pipi Riana.
“Jangan malu-maluin bunda ya, Sayang!”
“Iya Bunda, Sayang. Ayah sama yang lainnya kemana?”
__ADS_1
“Mereka sedang main di taman. Ya sudah sana! Semoga kamu suka ya!” Riana tersenyum melambaikan tangannya saat Alaric melangkah kekuar rumah.
'Ngebet banget sih, Bun. Emang apa bagusnya Erna sih, sampai Bunda berharap banget aku ketemu sama dia,' gumam Alaric.
Tempat janjian berada di pusat kota. Alaric pun sampai di rumah makan yang bernuansa klasik itu. Seorang pelayan pun menghampiri dirinya, dan Alaric pun memberitahukan nama Erna sebagai nama booking tempat. Pelayan itu oun menuntun Alaric menuju tempat yang sudah dipesan oleh Erna.
Tempat yang berada di samping jendela yang menghadap langsung ke pusat kota. Alaric pemandangan kendaraan yang berlalu-lalang sambil menunggu Erna. Waktu terus berjalan, Alaric terus melihat jam yang ada di tangannya. Sudah hampir 20 menit di menunggu tapi Erna tak kunjung datang juga.
Dia sudah mencoba menghubungi nomor Erna tapi tidak ada tanggapan sama sekali.
'Apa dia mengerjai aku?' gumam Alaric yang sudah mulai kesal.
Alaric memang tipikal orang yang tidak suka telat dengan janji. Dia selalu on time apabila mempunyai janji dengan seseorang. Kalau ini adalah bagian dari kerjaan, maka Alaric akan langsung membatalkan kersamanya. Waktu aja tidk dihargai apalagi kerjaan? Itulah prinsip dalam hidupnya.
“Permisi, apa kamu Alaric?” tanya seorang wanita cantik, bertubuh tinggi dan berkulit putih. Alaric langsung melirik ke arahnya. Untuk pandangan pertama, Alaric sangat kagum dengan wanita yang ada di depannya. Wanita itu tersenyum dan mengulurkan tangannya, “Hai ... aku Erna,” ucapnya.
“Al ....” jawabnya singkat dan menyambut uluran tangannya. Erna pun duduk berhadapan dengan Alaric.
'Cih ... alasan!! Tahu kota Jakarta itu macet, bukannya berangkat lebih awal.' gumamnya kesal.
“Oh ... iya ga apa-apa,” jawab singkat Alaric.
Keduanya pun memesan makanan. Alaric memilih makanan ringan, dia masih sangat kenyang kerena tadi pagi dia makan terlalu banyak saking menikmati masakan Salsa yang sangat enak.
“Sudah berapa lama di Indonesia?” tanya Alari membuka pembicaraan.
“Baru satu bulan. Oia ... saya lebih enak manggil Abang aja ya. Soalnya kalau dilihat dari umur kamu diatas saya.”
“Terserah kamu saja.” Keduanya pun berbincang-bincang sambil mengenal lebih jauh lagi.
__ADS_1
Erna terus saja melihat jam yang ada di tangannya membuat Alaric merasa heran.
“Apa kamu ada janji?” tanya Alaric.
“Emm ... iya, Bang. Hari ini temen aku yang di Singapura datang. Dan aku menyuruh dia dan tunangannya untuk bergabung bersama kita. Oia ... maaf sebelumnya aku ga kasih tahu Abang. Enggak apa-apa 'kan kalau mereka ikut gabung?”
“Tentu saja tidak masalah.” jawab Alaric cuek dan dia pun kembali menyantap makanan yang ada di depannya.
Telepon Erna berbunyidan dengan cepat dia mengangkatnya. “Bang, sebentar ya! Kayanya mereka sudah di depan. Aku samperin dulu.” Alaric mengangguk, dan Erna pun segera berjalan keluar.
Tidak lama, Erna pun datang dengan kedua temannya.
“Bang, kenalin ini sahabat aku di Singapura dan tunangannya.” Alaric pun melirik ke arah mereka. Bagai disambar petir, Alaric terdiam kaget saat melihat orang yang ada di hadapannya.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Apakah yang akan terjadi????
Ikuti terus yaaaaa...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen dan Vote sebanyak-banyaknya biar aku semangat UP ceritanya...
AKU PADAMU ❤️❤️