Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 34


__ADS_3

S2 Bab 34


Sesampai Alaric di kota tujuan, dia dengan cepat mengaktifkan ponselnya dan menekan nomer kekasihnya. Berharap kali ini tersambung, tapi nyatanya msih ada di luar jangkauan.


...'Kamu kemana sih? Bikin orang khawatir aja deh' gumam Alaric sambil terus menelepon Ana.......


“Bang! Abang! Abang!” Berulang Rendra memanggil anak sulungnya, dan setelah panggilang ketiga kalinya Alaric baru sadar kalau dirinya sejak tadi dipanggil oleh ayahnya.


Rendra yang berada lima langkah di depannya, menggerakkan matanya memberi tanda pada anak sulungnya untuk ikut maju mengikuti langkahnya. Alaric yang baru sadar dengan cepat melangkahkan kakinya.


Di kampus Ana meminjam kembali ponsel Aulia, dan mengirimi pesan pada kekasihnya kalau ponselnya hilang. Mendapat pesan dari orang yang seja tadi ditunggunya, Alaric dengan cepa menelepon ang pujaan hatinya.


Alaric :“Halo, Sayang. Kamu kemana aja?” dengan nada khwatir dan sedkit kesal.


Ana :“Iya Sayang. Maaf! Aku juga tidak tahu di mana ponselku. mungkin tertinggal ditempat kerja. Nanti aku akan segera menghubungi abang kalau ponselku sudah ketemu.”


Alaric :“Ya udah, Sayang. Abang langsung may ke hotel, pokoknya kamu kabari abang ya! Jaga hatimu untuk abang.” Ana yang mendengarnya tersenyum manis.


Ana :“Iya Abang sayang. Hati-hati di sana ya! Jaga matanya juga!” Ana pun menutup teleponnya dan mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya.


“Makasih ya cantik.”


“Ehemmm ... semakin mesra aja nih. Gue jadi iri sama lo,” ucap Aulia.


“Iri kenapa? kita ga kalah mesra kok,” timpal Krisna yang baru datang dan langsung bergabung dengan kedua gadis cantik itu.


“Dih ... mesra apaan, tiap hari aku cuma liatin abang sibuk ngerjain tugas. Mesra dari mananya,” kesal Aulia sambil menatap sinis kekasihnya. Ana yang melihat sepasanf kekasih ini hanya tertawa geli. Karena mereka memang pasangan yang sangat kaku dan tidak peka satu sama lainnya.


“Abang 'kan lagi siap-siap nyusun, Sayang. Masa gitu aja ga paham.”


“Bang Al nyusun ga kaya abang tuh. Dia masih sempet ngajak Ana jalan. Lah abang apa? Cuma ngajak aku maen ke taman, itu pun taman belakang rumah aku.” Krisna dan Ana tertawa dengan sikap manja Aulia. Krisna pun merangkul kekasihnya dan mengacak-acak rambutnya.


“Oke deh ... hari ini kamu mau kemana? Abang turutin.”


“Seriuuus!” dengan wajah yang senang Auki menatap kekasihnya. Krisna membalasnya dengan tersenyum mengangguk. Saking senangnya Aulia, dia meloncat-loncat kegirangan. Ana dan Krisan yang melihatnya hanya tertawa menggelengkan kepalanga.


Memang sejak satu bulan yang lalu mereka resmi berpacaran, Krisna sama sekali tidak pernah mengajaknya keluar untuk sekedar kencan. Dia mulai sibuk menyusun skripsinya. Krisna sengaja fokus untuk segera lulus, karena dia ingin cepat-cepat menikah dengan kekasihnya. Karena memang cita-citanya sejak dulu ingin menikah mudah seperti mamanya.


“An, ikut yuk!” Ajak Aulia pada sahabatnya.

__ADS_1


“Emmm ... aku harus kerja. Walaupun tinggal dua hari lagi, tapi tetap akan bertanggung jawab. Kalian bersenang-senanglah. Lagi pula kalau aku ikut, bukan kencan namanya,” goda Ana.


“Dih ... kencan dari mana. Cuma jalan doang kok. Ya udah, kamu hati-hati ya!” Ana mengangguk. Sambil berjalan dia melambaikan tangan pada kedua sahabatnya.


Ingin rasanya Ana cepat sampai di tempat kerjanya. Karena jaraknya dekat dengan kampus, Ana hanya membutuhkan 15 menit dengan berjalan kaki. Langkah kakinya di perlebar agar segera sampai di tempat tujuan.


Sesampai di bakery, Ana langsung menuju loker dirinya, tapi sayangnya barang yang dia cari tidak ada di sana. Dengan wajah yang tampak kecewa Ana membereskan barang-barangnya masuk ke dalam loker.


“Lo, cari ini?” ucapsalah satu teman kerja Ana sambil memperlihatkannya ponselnya. Ana langsung tersenyum lebar, dia dengan cepat mengambil ponselnya.


“Lo dapet dari mana? Stres gue nyariin ini.”


“Dih ... lo sendiri yang tinggalin tubponsel di meja kasir. Dari kemaren bunyi terus, gue matiin deh tu telepon. Berisik!” candanya.


“Ga apa-apa. Thanks ya!”


Benar saja, setelah Ana mengaktifkan ponselnya, banyak pesan dan panggilan yang tak terjawab, terutama dari Alaric. Ana tersenyum melihat kelakuam dari kekasihnya itu.


...'Ya ampun, abang. segitu khawatirkah kamu sama aku?' gumamnya sambil masih terus tersenyum....


Ana pun melanjutkan kerjaannya. Hari ini adalah detik-detik dimana dia bekerja. Ana menyusuri setiap sudut sambil merapihkan roti. Hampir satu tahun dia bekerja di sini. Banyak kenangan indah selama dia bekerja disana. Salah satunya di bakery ini Ana bisa mengenal perempuan hebat yang cantik, yang sekarang menjadi calon mertuanya. Sambil tersenyum, Ana melihat tempat dimana pertama kali dia berkenalan dengan Riana. Ana ridak menyangka kalau sekarang wanita yang dia kagumi sangat dekat dengannya.


Tidak terasa waktu menunjukkan pukul delapan malam. Ana bersiap untuk pulang ke rumah. Setelah berpamitan dengan rekan kerjanya, Ana segera melangkahkan kaki untuk mengejar angkutam umum ke arah rumahnya. Sesuai pesan Alaric dia tidak boleh dijemput atau diantar oleh siapapun. Maka dari itu Ana menolak tawaran temannya untuk mengantarkannya pulang ke rumah.


“Papa!” tegur Ana sambil mengetok jedela mobilnya. Bimo yang sedang memejamkan mata karena lelahnya bekerja dan langsung menjemput anaknya seketika bangun. Dia oun keluar dari mobilnya sambil tersenyum.


“Benar dugaan papa. Kamu pasti pulang sendiri,” ucap Bimo sambil mengelus rambut Ana.


“Papa kok ke sini?”


“Feeling seorang papa kuat, dia tahu anaknya pulang sendiri malam-malam.” Mendengar itu Ana tersenyum. Dia langsung memeluk sang papa.


“Makasih, Pa.” Bimo hanya mengangguk sambil menepuk punggung anaknya.


“Sudah malam, sebaiknya kita pulang ya!” Ana tersenyum mengangguk. Keduanya pun masuk ke dalam mobil.


“Kenapa kamu pulang sendiri? Kemana kekasihmu?” tanya Bimo membuka pembicaraan saat berada di dalam mobil.


“Dia sedang bekerja di luar kota, Pa.”

__ADS_1


“Oh begitu. Oia ... sekarang terakhir kamu kerja 'kan? Setelah berhenti kerja, kamu langsung pindah kembali ke rumah ya.”


“Besok, Pa. Pa, apa sebaiknya aku tinggal nge-kost aja? Lagipula jarak kost-an lebih deket ke kampus.”


“Kenapa? Apa kamu sudah tidak sayang papa, mama dan adikmu lagi? Kami semua mengharapkan kamu kembali. Tidakkah kamu bisa melihat ketulusan dari kami semua?”


“Maafkan aku, Pa! Maaf! Iya, Ana mau kok.” Ana tertunduk diam. Dia tahu kalau tadi papanya emosi saat dia mengatakan ingin tetap tinggal sendiri.


Setelah perkataan itu suasana mobil menjadi hening. Ana pun tidak berani untuk memulai percakapan. Sampai di depan kost-an keduanya pun turun dari mobil.


“Besok papa akan jemput kamu.” Ana hanya mengangguk tersenyum. Ana pun mencium tangannya dan melambaikan tangan, kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam.


.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


15/11/19


Hari di mana aku mulai memberanikan diri untuk meluapkan bayang-bayang drama korea ke dalam sebuah tulisan 😅...


Sebenarnya aku sejak SMA sangat suka menulis walaupun bukam sebuah novel. Sejak dulu suka banget nulis cerpen. Oia sedikit cerita tentang aku. Aku itu empat bersaudara dan aku anak ketiga. Dari ketiga saudara aku, aku berbeda. Lebih senang menyendiri dan senang dengan dunia sendiri.


Awal mulanya nulis mama sampai bilang, kenapa aku sibuk di dunia hayalan 😅😅😅😅 ... Sampai akhirnya aku membuktikan kalau dengan menulis aku bisa menghasilkan. Itu juga tidak lepas dari doa mama dan papa yang sangat luar biasa. Walaupun awalnya mama kurang setuju, tapi akhirnya mama dukung penuh hobby aku ini.


Menulis adalah bagian dari perasaan aku yang aku ungkapkan. Entah kenapa saat mulai menulis perasaan bahagia itu muncul. Tersenyum sendiri bahkan sampai menangis. Kalau orang lihat bagaimana aku sedang menulis pasti mereka nyangkanya aku sedikit tidak waras 😅😅😅😅...


Aku senang berada di dunia ini. Dunia yang memperkenalkan aku kehidupan dunia walaupun hanya sekeda Googling 😅😅... Karena demi mendapatkan cerita yang sempurna kita harus riset benar-benar tempat yang akan kita jadikan sebuah cerita.


Sudah tidak bisa diungkapkan lagi bagaimana kebahagiaan aku saat menulis. Yang jelas, menulis adalah bagian dari kehidupan aku.

__ADS_1


Terimakasih buat keluarga, teman-teman dan juga buat readers aku yang setia. Tanpa dukungan dari kalian aku bukanlah apa-apa. Terus dukung aku dengan doa kalian yaa...


Aku padamu semuanya ❤️


__ADS_2