Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
Bab 49


__ADS_3

Desi duduk berjauhan dengan mantan suaminya. Ferdi langsung berlutut didepan istrinya dan meminta maaf padanya.


“Fer, kamu tidak perlu seperti ini!” ucap Desi yang sedikit ketakutan. Karena, sampai sekarang memang Desi masih trauma bertemu dengannya. Dia masih mengingat dengan jelas apa yang dilakukan suaminya dulu padanya.


“Maafin aku, Des! aku benar-benar menyesal meninggalkan kamu dengan anak kita. Sejak dulu aku ingin bertemu denganmu, tapi aku malu. Keberanian aku muncul saat tadi melihat kamu. Des, aku mohon maafkan aku!” Ferdi masih berlutut memohon maaf pada mantan istrinya.


Air mata Desi mengalir dengan sendirinya. Dia mencoba menahannya untuk tidak keluar, tapi itu gagal.


“Sudahlah Fer, aku sudah melupakan semuanya. Sekarang kita sudah tidak ada apa-apa. Bangunlah!” Ferdi pun duduk berhadapan dengan Desi. Dia terus menatap wajah cantik Desi, sedangkan Desi hanya tertunduk.


“Apa anak yang tadi adalah anak kita?” Desi hanya mengangguk.


“... Siapa namanya?”


“Salsa,” jawabnya singkat.


“Apa aku boleh bertemu dengannya?” Desi langsung mengangkat wajahnya kaget.


“... Kamu tenang aja, aku hanya ingin bertemu dengannya,” dengan terpaksa Desi mengangguk pelan. Walau bagaimanapun juga Salsa itu adalah anak dia. Dan Salsa juga berhak untuk bertemu dengannya.


Karena menurutnya sudah tidak ada lagi yang harus dibicarakan, Desi berdiri untuk keluar. Ferdi langsung menarik tangannya membuat Desi menghentikan langkahnya.


“Aku berharap kamu bisa bahagia dengannya.” satu kalimat terakhir yang menjadi penutup pertemuan mereka. Tanpa membalikan badannya, Desi pun keluar menghampiri kekasihnya.


**♥️♥️**


Pagi hari Desi sudah membantu bibi memasak sarapan di dapur. Riana yang melihatnya langsung bergabung bersama mereka.


“Udah, kamu duduk aja! nanti kamu capek dan Rendra marah kalau kamu ikutan masak,” ucap Desi pada Adiknya.


“Kakak, sama Mas Rendra sama aja. Aku ga apa-apa kok, cuma masak aja ga bikin aku capek.” Desi mendorong tubuh Riana dan menyuruhnya untuk duduk di meja makan.


“Jangan bawel! kamu duduk disini tunggu masakan mateng ya.” Riana tersenyum, dia pasrah menuruti perkataan kakaknya.


Hari ini rencananya mereka akan mempertemukan Salsa dengan ayahnya, sesuai yang di bicarakan mereka kemarin. Sebelum itu Desi akan mengurus surat perceraian dirinya di pengadilan. Beruntungnya Didit sudah menghubungi temannya yang bekerja disana. Jadi, mereka tinggal datang dan menandatangani surat cerainya tanpa harus melalui prosedur perceraian.


Didit sudah datang sebelum mereka memulai sarapan. Dia langsung menghampiri kekasihnya yang sedang memasak di dapur.


“Pagi, sayang,” sapanya sambil mencium keningnya.


“Dit, malu tau. Disini ada Bibi dan Riana,” bisiknya


“Ga apa-apa donk, 'kan kamu calon istri aku,”


“Cih ... PD banget sih.” ucapnya sambil berjalan membawa makan ke meja makan. Didit mengkerutkan kening dengan ucapan Desi.

__ADS_1


“Yank, maksudnya apa? kamu ga mau nikah sama aku?” Desi hanya tersenyum. Riana yang melihat keduanya tertawa kecil.


“Waah ... udah rame aja. Ada apa nih? lo kenapa Dit?”


Rendra yang baru keluar dari kamar langsung menghampiri Istrinya di meja makan dan mengecup keningnya.


“Tau nih kakak ipar, lo. Selalu aja maenin perasaan gue,”


“Bukan mempermainkan kali, tapi lo nya aja kurang usaha,” ucap Rendra mengundang tawa.


“Lo sama sahabat sendiri belain napa?”


“Udah jangan kaya anak kecil, makan yu!” Desi menarik tangannya untuk duduk di meja makan.


“Yank, lo mau 'kan nikah sama aku?” Desi hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban dan itu membuat rasa penasaran Didit semakin besar. Rendra dan Riana yang melihat keduanya hanya menggelengkan kepalanya.


Suasana seketika menjadi hening saat mereka menyantap makanannya. Rendra seperti biasa menyuapi Salsa, karena gadis kecil itu hanya mau disuapi oleh ayahnya.


**♥️♥️**


“Abang ....” teriak Sonia di dalam kamar mandi. Eki yang mendengar teriakan sang istri, langsung turun dari kasur dan berlari ke kamar mandi.


“Sayang, ada apa?” dengan wajah yang kaget, Eki masuk ke dalam. Tapi, yang dia lihat istrinya baik- baik saja dan hanya tersenyum tanpa dosa.


Sonia menarik tubuh suaminya dan memeluknya. Eki tidak mengerti dengan tingkah istrinya. Dia mendorong pelan tubuh Sonia dan menatap wajahnya.


“Dek, kamu kenapa? jangan buat abang penasaran deh!”


Sonia tersenyum, dia memperlihatkan pada Eki benda pipih panjang padanya. Eki mengambil benda itu. Awalnya dia tidak mengerti apa maksud istrinya, tapi setelah dia melihat garis dua merah yang ada di benda itu Eki langsung menatap wajah istrinya kaget.


“Dek, kamu hamil?” Sonia tersenyum mengangguk.


Senyuman Eki melebar mengambarkan dia sangat bahagia. Eki langsung menggendong istrinya keluar sambil sesekali berputar.


“Abang, berhenti! aku pusing.” Eki menatap wajah istrinya tersenyum. Dia terus mengecup bibir manis Istrinya. Eki merasa bahagia dengan kehadiran sang buah hati. Dia tidak menyangka kalau istrinya akan secepat ini mengandung anaknya.


“Sayang, terimakasih ya. Abang benar-benar sangat bahagia. Terimakasih sayang, terimakasih.” tidak henti-hentinya dia mengucapkan kata terimakasih pada istrinya dan ucap syukur pada Tuhan.


Keduanya sudah tidak sabar untuk memberitahukan berita bahagia ini pada kedua orang tua masing-masing. Keduanya masih tinggal di rumah orang tua Sonia, karena permintaan langsung dari sang ibu, Ratih. Awalnya mereka setelah menikah akan langsung pindah di rumah Eki yang sudah dia siapkan untuk istrinya. Tapi, karena permintaan Ratih mereka akhirnya mengalah dan tinggal bersama dengan mereka.


Ratih dan Prabu sedang asik duduk di ruang TV sambil menonton acara yang keduanya sukai. Eki dan Sonia menghampiri keduanya sambil tersenyum. Mereka merasa aneh dengan kelakuan anak mereka.


“Kalian kenapa berdiri terus disana? ayo sini duduk!” ucap Ratih pada kedua anaknya.


“Bu, Yah, Eki mau minta maaf,” mendengar itu membuat keduanya heran dengan menantunya.

__ADS_1


“Maaf? memangnya kamu melakukan kesalahan apa?” tanya Prabu.


“Sepertinya Sonia akan berhenti kuliah untuk sementara,”


“Loh kenapa? kalian mau pergi kemana?”tanya Prabu heran. Eki dan Sonia saling memandang dan tersenyum, membuat kedua orang tua mereka semakin tidak mengerti.


Keduanya berlutut didepan Ratih dan Prabu sambil menyerahkan alat pipih itu kepada mereka.


“Terimakasih Bu, sudah membesarkan Sonia sebesar ini. Hanya ini yang bisa Sonia berikan untuk Ayah dan Ibu.”


Ratih langsung mengangkat bahu Sonia untuk berdiri dan memeluk tubuhnya. Rasa haru campur bahagia menghangatkan suasana. Tidak terasa air mata Ratih mengalir sambil memeluk tubuh anaknya. Tidak ada yang paling membahagiakan di dunia ini selain mempunyai seorang cucu dari anak perempuannya.


“Makasih sayang, ini adalah hadiah yang paling berharga dalam hidup ibu,” ucapnya melepaskan pelukannya sambil memegang perut anaknya yang rata. Keduanya saling melempar senyuman. Sonia kembali memeluk tubuh ibunya.


“Jago juga kamu langsung bikin anak ayah tekdung,” canda Prabu sambil menepuk dan merangkul bahu menantunya.


“Iya dong Yah, 'kan Eki belajar dari Ayah.” mereka semua pun tertawa.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Jangan lupa Like, Komen dan Vote sebanyak-banyaknya...


-------------------------+++++++++----+++++++++-----------------


~MARHABAN YA RAMADHAN~


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya...


Selama Ramadhan Author berusaha akan Up. Tapi, Author ga janji setiap hari... maaf yaaa🙏🙏 tapi jangan khawatir, Author tetap akan up kalau ada waktu...


Ayo ... kita sama-sama mengejar Ridho Allah di bulan Ramadhan...


Sehat-sehat ya semuanya...


Semoga Ramadhan kali ini kita menjalaninya dengan penuh kedamaian... Aamiin🤲

__ADS_1


__ADS_2