Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 36


__ADS_3

S2 Bab 36


Setelah membersihkan dirinya, Ana langsung mengganti pakaian kerja yang sembelumnya Ana ambil di lokernya. Sebenarnya dia masih ingin menangis, hatinya masih terasa sangat sesak. Otaknya terus memikirkan sahabatnya.


Mata sembab membuat rekan kerjanya menyadari kalau Ana habis menangis. Tapi mereka tidak menanyakan apa yang terjadi, karena itu adalah privasi dari Ana. Mereka lebih menyuruh Ana untuk diam, dan duduk manis di meja kasir. Merek tidak ingin mood Ana semakin jelek, terlebih dia harus melayani customer yang datang.


Tatapan Ana kosong menatap mesin kasir yang ada di depannya. Pikirannya kacau dan itu membuat dirinya tidak bisa konsentrasi. Melihat Ana seperti itu, rekan kerjany tahu kalau dia sedang ada masalah. Dia pun menyuruh Ana untu istirahat, lagi pula ini adalah hari dirinya terakhir bekerja, tidak masalah kalau hari ini Ana tidak melakukan tugasnya.


Awalnya Ana menolak, tapi temannta tetap saja menyuruhnya untuk istrahat dan tidak perlu untuk melakukan pekerjaan. Akhirnya Ana pun mengikuti saran dari temannya. Ana pun duduk di ruang istirahat, tempat loker karyawan. Hal pertama yang dia lakukan adalah mengambil ponsel dan menghubungi kekasihnya.


Hasilnya nihil! Alaric sama sekali tidak bisa dihubungi sejak tadi pagi. Ana pun memberanikan diri untuk menghubungi sahabatnya. Walaupun sebenarnya dia takut untuk memulai pembicaraan. Berulang kali nada sambung terhubung, tapi sama sekali tidak ada tanggapan juga dari Aulia.


Kini air matanya mengalir. Dia tidak bisa menahan kesedihan yang dirasakannya. Sambil duduk, Ana menenggelamkan wajahnya, membungkuk masuk kedalam lututnya. Dia menangis sejadi-jadinya.


...'Kenapa jadi seperti ini?' gumamnta sambil mengeluarkan tangisnya....


Ada rasa menyesal dalam hidupnya. Kenapa dia tidak menceritakan tentang keluarganya? Kini nasi telah menjadi bubur. Satu-satunya harapan Ana ada pada kekasihnya. Dia berharap kekasihnya bisa menolong dirinya untuk menjelaskan pasa semua orang terutama pada Aulia tentang yang sebenarnya.


Tidak terasa hari sudah mulai gelap. Ana masih saja tertunduk dan menangis. Alaric masih saja belum bisa dihubungi membuat dia khawatir kalau kekasihnya sudah termakan gosip muraham di kampus. Rekan kerja Ana membawakan satu porsi nasi goreng untuk dirinya, karena memang sejak tadi Ana belum masuk makanan sedikit pun.


“Makanlah! Sebesar apapun masalah lo, jangan biarkan perut lo kosong! Gue tidak tahu masalah lo apa, tapi gue harap lo perhatikan kesehatan lo ya!” ucapnya menepuk bahu Ana sambil meletakan bungkus nasi goreng itu di depannya.


“Makasih,” ucap Ana pelan.


Dia mengangkat wajahnya dan hanya menatap bungkus nasi di depannya. Bagaimana dirinya bisa makan saat ini kalau semua orang menjauhi dan salah paham atas dirinya. Saat-saat seperti ini Ana langsung mengingat saudara seperjuangan dia di panti asuhan.


Ana langsung mengambil ponselnya dan menelepon Satria. Lelaki 22 tahun itu pun langsung mengangkat telepon saat melihat nama Ana pada layar ponselnya.


Satria :“Hai Ana. Apa kabar? Sudah lama sekali kamu ga telepon aku. Ada apa?” Bukan jawaban yang didengar Satria, melainkan suara tangisan dan itu berhasil membuat Satria kaget dan langsung berdiri dari duduknya.

__ADS_1


Satria :“Ada apa? kamu kenapa? Sekarang kamu dimana?” Satria langsung berlari ke arah motor yang di parkirnya dan pamit pada teman-teman dirinya yang sedang nongkrong bareng dengannya.


Ana :“Kerja.” Hanya jawaban singkat itu, dan membuat Satria langsung mengerti dan menancapkan gas menuju tempat kerja Ana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah menelepon Ana, Alaric langsung masuk ke kamr mandi untuk membersihkan dirinya. Alaric benar-benar tidak melihat semua pesan yang masuk ke ponselnya. Dia hanya fokus pada Ana untuk meluapkan rasa rindu pada kekasihnya itu.


Bukan hanya pesan grup , tapi pesan pribadi pun banyak yang masuk ke dalam ponselnya. Entah apa reaksi Alaric setelah melihat apa yang telah dikirimkan oleh teman-temannya. Sambil bersenandung dan menggosok rambutnya, dua berjalan santai keluar dari kamar mandi.


Alaric menyadari sejak tadi ponselnya yang terus berbunyi. Tapi, dia menghiraukannya dan memilih memakai pakaian terlebih dahulu. Hari ini adalah hari pentinh buat Alaric, karena ini adalah pertama kalinya Rendra akan mengenalkan dirinya sebagai penerus perusahaan pada kolega-kolega bisnis perusahaan.


Alaric merapihkam dasi yang digunakannya. Sambil tersenyum dan masih bersenandung, Alaric merapihkan rambutnya di depan kaca. Tidak ada yang bisa merasakan kebahagiaan dia saat itu. Ponsel yang sejak tadi bergetar mempuat Alaric penasaran. Dia pun melangkahkan kakinya menuju tempat ponselnya berada.


Cukup kaget, saat Alaric melihat ratusan chat yang masuk pada dirinya. Dia pertama-tama melihat siapa saja yang mengirimi pesan padanya. Ternyata teman-teman kampus, sahabat dan saudaranya mengirimi banyak pesan untuknya.


Terlebih dahulu Alaric membuka pesan dari Gibran, karena dia adalah sepupu sekaligus sahabat yang paling dekat dengannya.


Satu pesan tapi mempunyai arti sangat dalam. Penasaran? Ya ... Alaric penasaran apa yang terjadi sebenarnya. Alaric memilih mengikuti sarah sepupunya itu. Dimasukkannya ponsel ke dalam saku jasnya dan dia langsung menuju ruang meeting yang ada di hotel itu, karena semua orang sedang menunggu dirinya.


Lima jam meeting membuat semuanya merasa lapar. Alaric juga yang lainnya langsung menuju restoran. Karena kesibukan dirinya, Alaric sama sekali tidak melihat ponselnya. Bahkan ponselnya di-nonaktifkan sesuai dengan saran sepupunya.


Selesai menyantap makanan, Alaric meminta izin pada ayahnya untuk terlebih dahulu balik ke kamar hotelnya. Rendra pun mengangguk dn kembali berbincang-bincang dengan kolega bisnisnya. Bukannya tidak peduli, tapi sejak rapat tadi Alaric sangat penasaran dengan pesan yang masuk dan juga maksud dari Gibran untuk menyuruh dirinua mengabaikan semuanya.


Langkah kaki Alaric semakin cepat karena dia sudah tidak sabar untuk membaca pesan apa saja yanh masuk ke dalam ponselnya. Setelah sampai ke kamar, Alaric melepaskan jasnya dan duduk menyenderkan tubuhnya di sofa yang ada di dalam kamarnya.


Saat Alaric menyalakan ponselnya, kembali banyak pesan yang masuk. Rasa penasaran Alaric semakin besar. Dia langsung membuka pesan grup yang kini sudah ribuan yang masuk. Tubuh Alaric seketika lemas saat melihat foto yang mirip dengan kekasihnya. Rasa penasaran dan ingin tahu Alaric semakin besar, dia membaca semua pesan yang ada di ponselnya.


Seolah-olah sesuatu yang sangat besar dan berat menimpa tubuhnya. Kini yang di rasakan Alaric sakit dan lemas. Dia tidak percaya dengan apa yang telah dilihatnya. Ingin rasanya dia mengabaikan semuanya, tapi vidio dan foto yang masuk sudah jelas membuktikan kalau Ana bukan wanita baik-baik.

__ADS_1


Hampir satu tahun dia mengenal kekasihnya, tapi Ana tidak pernah menceritakan tentang dirinya. Yang Alaric tahu adalah Ana hanya seorang yatim piatu. Alaric ingin memastikan kejadian yang sebenarnya. Dia langsung mengambil tas kecilnya dan berlari keluar hotel.


Tanpa pamit pada ayahnya, Alaric mencegat taxi dan langsung menuju bandara. Tidak peduli dengan semuanya, yang Alaric pedulikan saat ini adalah kebenaran tentang kekasihnya.


.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Hai All...


Bagaimana kalian penasaran sama kisah lanjutnya 'kan?


Terus ikuti novel Istri Pilihan Ibu 2 yaaaa..


Jangan lupa Like, komen dan vote biar Author lebih semangat nulis ceritanya.


Oiya ... Jangan lupa follow IG Author yaitu @Septriani_wukan15 biar kalian bisa liat update novel-novel terbaru Author.


Karena saat ini Author lagi persiapan 3 novel baru yang akan rilis...

__ADS_1


Sekali lagi makasih semua yang sudah setia dengan karya-karya Author.


Aku padamu All ❤️❤️❤️


__ADS_2