
Setelah berdebat dengan sahabatnya, akhirnya Ana mempercayai kalau Aulia yang sedang tidak enak badan. Selesai kelas benar saja, Alaric sudah menunggunya tidak jauh dari kelasnya.
“Tuh bang Al udah nunggu. Gue langsung balik ya! ga enak badan,”
“Mau dianterin dulu ga?” tanya Ana yang merasa khawatir dengan sahabatnya. Ternyata akting Aulia berhasil membuat sahabatnya percaya kalau dirinya sedang tidak enak badan.
“Ga usah, gue naik taxi aja. Udah sana! Bang Al nungguin tuh.”
“Beneran ga apa-apa?” Aulia mengangguk tersenyum. Dengan berat hati Ana melangkahkan kakinya perlahan sambil sesekali melirik ke arah sahabatnya.
“Maaf Bang lama,” ucap Ana sambil tertunduk malu.
“Iya ga apa-apa kok. Jalan sekarang yuk, keburu sore.” Ana mengangguk dan keduanya pun berjalan menuju parkiran mobil.
Selama perjalanan Ana hanya diam sambil sesekali memainkan ponselnya. Sejak tadi Alaric mencoba melirik ke arahnya, dan ingin sekali membuka pembicaraan untuk mencairkan suasana.
“Kamu, ga kerja hari ini?” Dia pun memberanikan dirinya untuk mengeluarkan suaranya.
“Ga Bang, hari ini aku off,” jawabnya singkat.
“Oia ... kemaren gue ga sengaja liat lo pulang kerja. Dan lo dijemput sama pacar lo ya?” rasa penasaran sejak semalam akhirnya diutarakan juga. Entah kenapa hati dan pikiran Alaric ingin sekali mengutarakan itu pada Ana.
“Maksud Abang?”
“Kemaren gu, eh aku lihat cowok jemput kamu. Tapi, sudahlah lupakan saja,” ucap Alaric dengan mengubah panggilannya menjadi formal dan kembali konsentrasi mengemudi.
“Oh ... itu Satria. Dia teman aku di panti asuhan dan sudah aku anggap kakakku sendiri. Sejak kecil kita hidup bersama di sana.” mendengar perkataan itu entah kenapa membuat hati Alaric merasa sangat senang.
“Oh ... aku kira itu pacar kamu.”
“Bukan Bang, lagi pula untuk sekarang aku ga memikirkan untuk pacaran.” perkataan Ana membuat hati Alaric sedikit sakit.
Tiba di mall, keduanya langsung menuju toko buku. Ana mulai mencari buku yang ditugaskan oleh dosennya. Mata Alaric sejak tadi melihat Ana yang sedang mencari buku, dan Ana pun menyadari itu, sehingga membuatnya salah tingkah dan wajahnya yang memerah.
Bang Alaric kenapa lihatin gue mulu sih? kalau kaya gini kapan gue dapet bukunya coba, batin Ana.
Akhirnya buku yang dicari Ana sudah ketemu dan dia segera membayarnya ke kasir. Saat hendak akan membayar buku, Alaric langsung menyodorkan benda kotak pipih pada kasirnya.
“Loh Bang, ga usah! biar aku yang bayar,” ucap Ana yang sedikit kaget.
“Ini yang satu buku Aulia 'kan? ya udah biar abang bayar dua-duanya.”
__ADS_1
“Tapi Bang ....”
“Udah, anggap aja ini hadiah karena kamu sudah jadi anak yang baik,” candanya.
“Cih ... emang Ana anak kecil,” ucapnya pelan dan membuat Alaric tertawa. Itu menjadi pertama kalinya Ana melihat tawa dan senyuman di bibir Alaric. Dan itu berhasil membuat jantungnya berdetak dengan sangat cepat.
Astaga!! Ada apa dengan jantung ini?? batinnya yang kaget.
“Nih ....” Alaric memberikan paper bag yang berisi dua buah buku yang tadi dibayarnya.
“Makasih ya, Bang.” Alaric mengangguk tersenyum.
Setelah keluar dari toko buku, keduanya binggung harus kemana. Disisi lain Alaric masih ingin bersama dengan gadis yang mulai memikat hatinya.
“Laper ga?” tanyanya pada Ana. Ana hanya mengangguk pelan sambil tersenyum. Memang tidak bisa dipungkiri kalau sejak tadi cacing dalam perutnya sudah meronta-ronta meminta makanan. Keduanya pun berjalan ke lantai tiga untuk mencari makanan di foodcourt.
**♥️♥️**
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.15, dengan cepat Salsa membereskan kerjaannya dan langsung bergegas untuk pulang. Dia tidak mau bertemu dengan Fauzi. Sayangnya niat dia menghindar pada Fauzi, gagal sudah. Keduanya bertemu di depan lift kantor. Salsa tampak kaget, dia langsung membalikkan badannya dengan niat menghindari Fauzi, tapi dengan cepat laki-laki tampan itu menarik tangannya masuk ke tempat tangga darurat. Beruntungnya keadaan sepi karena banyak kariyawan yang lembur kerjanya.
“Kenapa kamu menghindari aku?” tanya Fauzi serius menatapnya sambil menggenggam tangan Salsa. Dia hanya diam tertunduk dan sekuat tenaga menarik tangannya tapi genggaman Fauzi terlalu kuat sehingga dia menyerah.
“... jawab dong?! Apa karena tadi?” Fauzi mengangkat wajahnya sehingga keduanya saling bertatapan.
Entah kenapa hati Salsa merasa sakit mendengar semua yang dikatakan Fauzi padanya, dan tidak terasa air matanya jatuh.
Sial!! Kenapa gue nangis? batinnya.
Salsa mengelap air matanya, dan ingin menyusul Fauzi. Dia tahu sekarang bagaimana perasaannya pada Fauzi. Dan langkah Salsa terhenti ketika melihat Fauzi yang sedang asik mengobrol dengan seorang wanita dari divisinya sambil tersenyum. Melihat itu hatinya kembali sakit, dia tidak rela Fauzi memberikan senyuman itu untuk perempuan lain. Tapi, siapa dia yang harus cemburu pada sahabatnya. Salsa berjalan dengan cepat melewati keduanya, tanpa menyapa mereka.
“Oke, besok gue tunggu kerjaannya di meja ya! Gue duluan ya,” pamit Fauzi pada wanita itu, dan berlari menyusul Salsa.
“Cih ... baru juga bilang lo suka sama gue, terus dengan cepatnya lo tebar pesona sama perempuan lain? Dasar laki-laki buaya!!!” bisik Salsa kesal, sambil mencari kunci mobil yang ada di tasnya.
“Jadi sekarang di mata kamu, aku buaya?” bisik Fauzi dari belakangnya, dan itu membuat Salsa merasa kaget.
“Astaga!! Lo ngapain sih? Ga lucu Zi, gue kaget tahu,” ucap Salsa.
Dia malu Fauzi mendengar perkataannya, dengan cepat dia membuka pintu mobil dan saat hendak masuk, Fauzi menarik tangannya, berjalan ke arah penumpang dan membukakan pintu mobil menyuruh Salsa untuk masuk ke dalam. Salsa binggung dan menuruti perintah Fauzi. Dia mengambil kunci mobil yang ada di tangan Salsa dan segera masuk ke dalam mobil. Fauzi menyalakan mobilnya, bukannya jalan dia langsung duduk menghadap Salsa.
“Ngapain lihatin gue?” tanya Salsa salah tingkah. Fauzi terus menatap Salsa sambil tersenyum nakal.
__ADS_1
“... ga lucu, Zi. Dah ah gue mau pulang.” Fauzi menarik tangan Salsa saat wanita cantik itu hendak membuka pintu mobilnya.
“Jadi, aku boleh ga cari wanita lain?” pertanyaan yang seketika membuat dada Salsa merasa sesak.
“Kenapa nanya ke gue? Ya ... kalau mau cari, cari aja sono ga usah laporan sama gue,” jawab Salsa sambil memalingkan wajahnya, karena saat ini wajahnya tampak sangat kesal.
“Oh gitu ... aku anggap boleh ya. Menurut kamu, cewek tadi gimana?” Fauzi sengaja menggoda Salsa sampai wanita cantik itu mau mengakui perasaan dia.
“Kok lo nanya ke gue? Ya ... tanya ke hati lo dong,” jawabnya dengan nada kesal. Ingin rasanya Fauzi tertawa melihat tingkah laku Salsa yang terlihat cemburu padanya, tapi sebisa mungkin dia menahannya.
“Wajar dong, seorang sahabat minta pendapat sama sahabatnya,” Salsa melirik sinis pada Fauzi dan itu membuatnya merasa heran.
“... kenapa? Ada yang salah dengan omongan aku?”
“Gue mau pulang!!”
“Oke-oke cantik, jangan marah dong! mau aku anterin aja?”
“Ga usah!!” jawabnya sambil membuka pintu mobilnya dan berjalan ke arah setir.
“... keluar!!”
“Yakin ga mau dianter?” tanya Fauzi sambil keluar dari mobilnya.
“Gue udah biasa sendiri, terimakasih!” ucap Salsa dan langsung melaju pergi.
Sa ... Salsa, kenapa sih lo masih gengsi mengakui kalau lo juga suka sama gue? Kita lihat aja, sampai kapan lo bertahan seperti ini, batin Fauzi sambil terus melihat mobil Salsa yang melaju semakin jauh dari pandangannya.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Jangan lupa Like, Komen dan vote sebanyak-banyaknya ya... Semakin banyak Vote Author akan semakin rajin up-nya...
__ADS_1
Aku padamu semuanya ♥️♥️♥️♥️♥️🌹