Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 76


__ADS_3

S2 Bab 76


Risma dan juga Alaric mengikuti dokter ke ruangannya. Entah apa yang akan diberitahukan dokter pada mereka. Setelah sampai diruangan, dokter mulai menjelaskan bagaimana kondisi dari ibunya Ana.


“Melihat kondisi dari Ibu Gina tidak memungkinkan untuk kita terus melakukan pencucian darah atau Hemodialisa. Sedangkan saat ini gagal ginjal yang di derita Ibu Gina sudah masuk stadium lima, dimana ini adalah stadium akhir yang mengharuskan Ibu Gina cuci darah dilakukan setidaknya tiga kali dalam seminggu dan memerlukan waktu sekitar empat jam. Itulah yang membuat kami tim dokter tidak berani melakukan pencucian darah, karena kondisi Ibu Gina yang sering drop. Satu-satunya yang bisa kita lakukan untuk saat ini adalah transplantasi ginjal. Transplantasi ginjal sendiri masih cukup jarang dilakukan di Indonesia, dimana untuk mendapatkan donor ginjal yang cocok juga memerlukan usaha yang lebih, karena ada risiko penerima menolak organ tersebut.” penjelasan dokter membuat mereka cukup kaget.


“Dok, saya bersedia mendonorkan ginjal saya untuk mertua saya, asalkan dia bisa selamat. Anda bisa memeriksa ginjal saya cocok atau tidak,” ucap Alaric. Dia tidak ingin kebahagiaan yang baru saja istrinya dapatkan akan pergi dengan cepat. Mendengar itu, Risma sangat salut dan bangga pada Alaric. Dokter pun menyetujui dan melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada Alaric.


Selagi Alaric melakukan pemeriksaan, Risma kembali ke ruangan. Dia tersenyum ketika melihat Ana dan Ibunya sedang berbincang-bincang. Dia pun menghampiri mereka.


“Bu, gimana kabarmu?” tanya Risma. Ibu Gina hanya mengangguk tersenyum, menandakan kalau dia sudah baik-baik saja.


Setelah bercerita berbagai hal dan menjalin kedekatan pada ibunya, Ana baru sadar kalau suaminya sejak tadi tidak terlihat. Dia pun menanyakan keberadaan Alaric pada Ibu Risma. Dan setelah mendengar cerita dari Ibu Risma, dengan cepat Ana langsung menghampiri Alaric di ruang pemeriksaan.


'Apa yang kamu lakukan, sayang. Seharusnya aku yang melakukan semua ini, bukan kamu.' Ana merasa sangat bersalah kalau memang ginjal Alaric cocok untuk ibunya.


Setelah melakukan pemeriksaan, Alaric tinggal menunggu hasil tes, apakah ginjal dia cocok atau tidak dengan mertuanya. Saat melihat Alaric yang sedang bersalaman dengan dokter, Ana berlari dan menghampiri mereka.


“Dok, saya anak kandung Ibu Gina. Apakah saya juga ikut mendonorkan ginjal saya? Dan mohon batalkan pemeriksaan untuk suami saya.” ucap Ana dengan nafas yang ngos-ngosan. Alaric menatap tajam ke arah istrinya dan berkata, “Sayang, biar aku saja. Kalau cocok aku enggak apa-apa kok. Ini demi keselamatan ibu, Yank.” Ana bersikeras menolak bantuan dari suaminya. Menurutnya yang berhak membantu ibunya hanya dia. Ana tidak mau membuat suaminya tersiksa.


Setelah mendengar kondisi ibu Gina yang memang butuh segera pendonor, akhirnya Ana pasrah dengan niat Alaric yang ingin menolong ibunya. Sekarang mereka tinggal menunggu hasil, apakah Alaric atau Ana yang bisa mendonorkan ginjal mereka.


Di luar ruangan, Alaric mencoba menenangkan Ana yang sangat khawatir dengan kondisi ibunya. Dia tidak ingin kehilangan ibu yang selama ini dia cari dengan waktu yang sangat cepat.

__ADS_1


“Kamu tenang aja ya, Sayang. Ibu pasti akan baik-baik saja.” Ana mengangguk tersenyum.


Aulia, Krisna, dan Gibran yang mendengar kondisi ibu kandung Ana juga mendaftarkan diri untuk melakukan tes ginjal. Mereka rela mendonorkan ginjal mereka apabila hasil tesnya positif cocok. Awalnya Ana menolak, karena mereka sudah terlalu baik untuknya. Tapi, mereka meyakinkan Ana, kalau apa yang mereka lakukan demi kebaikan ibunya. Akhirnya Ana pasrah dan sangat berterima kasih kepada sepupu-sepupunya.


Sambil menunggu hasil tes keluar, mereka pun berniat mencari makan, sedangkan Ana memilih untuk menunggu ibunya di ruangan. Dia ingin selalu berada di sisi ibunya, karena dia tidak tahu berapa lama lagi dia bisa berada di sisinya.


Tatapan Ana terus menatap tubuh lemas yang terbaring di atas kasur. Tulang yang tinggal dilapisi kulit membuat hati Ana semakin teriris melihatnya.


'Ibu pasti kuat, Bu.' gumam Ana sambil membelai rambutnya.


Hari sudah mulai larut, dan rencananya hasil tes akan keluar besok pagi. Ketiga sepupunya pamit dan akan kembali besok, sedangkan Ana dan Alaric memutuskan untuk menginap malam itu di rumah sakit. Melihat istrinya yang terus menerus menatap ibunya. Alaric menghampiri istrinya dan merangkul dia.


“Sayang, tidur yuk! Sudah malam, kamu butuh istirahat.” Ana menggelengkan kepala, ia ingin terus menungguh ibunya.


“... kamu harus jaga kesehatan kamu, Yank. Kita 'kan enggak tahu besok yang positif untuk mendonorkan siapa. Jadi kalau memang kamu yang paling cocok, kamu harus istirahat yang cukup.” mendengar itu Ana semangat untuk segera istirahat.


Keesokan harinya, kondisi Gina semakin drop dan ini mengharuskan dia untuk melakukan transplantasi ginjal secepatnya. Kalau cuci darah dipaksakan maka kondisinya bukan membaik malah akan memperburuk. Ana sudah tidak sabar untuk mendengar hasil dari dokter tentang siapa yang cocok mendonorkan darah untuk ibunya.


Pagi itu semua orang berkumpul, bahkan kedua mertua Ana dan orang tua angkatnya berada di sana. Mereka semua menunggu kabar dari pihak rumah sakit. Tim dokter datang dan membuat mereka yang sedang duduk di depan ruangan seketika berdiri semuanya. Dokter membawa selembar kertas dan mengumumkan yang cocok untuk mendonorkan ginjal adalah anak kandung Ny. Gina yang tidak lain adalah Ana.


Mendengar itu membuat Ana merasa bahagia, tapi tidak buat Alaric. Rasa cemasnya membuat perasaan dia tidak karuan. Dia takut setelah operasi nanti, akan terjadi sesuatu bahkan Ana tidak bisa bangun lagi. Berbagai macam pikiran negatif memenuhi kepalanya.


Melihat Alaric yang khawatir, Ana memastikan pada suaminya kalau dia akan baik-baik saja. Sambil menunggu keadaan pasien kembali normal, tim dokter menyiapkan segala persiapan untuk operasi, karena memang operasi harus segera dilakukan. Semua orang merasa sangat khawatir terlebih pada Ana. Diusia mudahnya dia harus merelakan satu ginjalnya untuk orang yang terkasihi.

__ADS_1


“Bu, sebentar lagi Ibu akan sehat dan akan kembali berkumpul bersamaku. Aku janji, aku bakal membiat Ibu bahagia, membayar semua waktu-waktu kebersamaan kita yang hilang. Ibu harus kuat ya, aku juga akan kuat untuk menjalani operasi ini. Ayo Bu, semangat!” bisik Ana pada telinga ibunya.


Mendengar perkataan Ana, seketika air mata mengalir di sudut mata ibunya, dan itu membuat Ana heran.


“Ibu kenapa menangis? Apa ibu bahagia kita akan bersama?” ucap Ana sambil tersenyum dan mencium keningnya.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


👍Like


💬Komen


🌺Vote

__ADS_1


Jangan lupa untuk follow IG author @PENULISMICIN untuk mengetahui karya baru author yang berjudul YOU ARE MINE ...


TERIMA KASIH SEMUANYA ❤️❤️


__ADS_2