
S2 Bab 62
Pertemuan yang di rencanakan Alaric akhirnya terlaksana juga. Tanpa sepengetahuan Ana mereka melakukan pertemuan pada saat jam makan siang kantor. Alaric memesan private lunch di salah satu restoran ternama di Jakarta. Kedua orang tua Alaric sudah berada di tempat menunggu kedatangan kedua orang tua Ana.
“Selamat siang. Maaf kami sedikit terlambat!” ucap Bimo yanh datang bersama istrinya. Rendra dan Riana segera berdiri dan mengulurkan tanggan. Mereka pun saling berkenalan terlebih dahulu, walaupun sebenarnya masing-masing sudah mengetahui.
“Tidak apa-apa, Pak. Ayo silakan duduk!” titah Rendra.
Sebelum memulai pembicaraan yang serius, mereka terlebih dahulu menyantap makan siang yang sudah tersedia di atas meja. Suasana tampak hening, karena mereka menikmati makanannya. Setelah makan siang, kini Rendra mulai mengutarakan niat baik dari anaknya.
Sebelumnya, Rendra pun memohon maaf atas kejadian tiga tahun yang lalu. Atas nama anaknya di minta maaf sebesar-besarnya yang sudah terjadi selama ini. Bimo dan Tina tidak mempermasalahkan masa lalu. Karena menurut mereka yang lalu biarlah berlalu. Dan sekarang kita mulai menata kehidupan yang lebih baik untuk masa depan, ucap Bimo.
Mendengar perkataan bijak dari calon besannya membuat Riana merasa tenang. Dia mendapat bonus mendapatkan keluarga yang ramah dari Ana. Tidak menyangka kalau keluarga Ana begitu sangat baik dan menerima Alaric dengan sepenuh hati.
Kedua keluarga itu pun mulai menyusun tanggal pernikahan. Alaric sejak tadi hanya diam mengangguk mengikuti apa yang dikatakan keempat orang tuanya. Apapun keputusannya, itu adalah hal yang terbaik untuk dia.
Setelah merencanakan hari pernikahan yang akan dilangsungkan bulan depan, kedua pasang suami istri itu pamit. Untuk masalah lamaran, mereka menyerahkan sepenuhnya pada Alaric dan juga adik-adiknya. Tapi, berbeda dengan pernikahan. Riana dan Tina ingin mereka berdua yang mengurusnya. Karena sesuai pengalaman, apabila diurus oleh kedua mempelai akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Contohnya pasti saja bakal ada perdebatan.
Di sisi lain, Ana terus menatap ponselnya. Wajahnya tampak kesal dan marah karena seharian ini Alaric tidak sedikitpun menghubungi dirinya. Aulia yang melihat kekesalan Ana hanya tersenyum. Pasalnya semua ini bagian dari rencana Alaric. Tapi untuk menjalankan rencana yang sempurna, Aulia pun ikut sandiwara di depan sahabatnya.
“Lo kenapa sih? Sepet amat tu muka,” canda Aulia sambil menikmati segelas cappucino dingin. Keduanya memang sedang berada di salah satu mall terdekat dari kantor mereka. Memang tempat bekerja Aulia tidak jauh dari perusahaan keluarga Ana, makanya mereka selalu janjian pada saat jam istirahat tiba.
“Aul, bang Al kemana ya? Dari tadi pagi sama sekali tidak menghubungi gue. Terus giliran gue hubungi tidak ada tanggapan sama sekali,” keluh Ana yang masih saja menatap ponselnya.
“Emmm ... tadi sih denger dari papi kalau di kantor lagi ada masalah. Terus abang harus keluar kota. Tapi enggak tahu juga lanjutnya gimana.” Ana seketika mengangkat wajahnya menatap serius ke arah Aulia.
“Sumpah! Tapi, kok dia enggak kasih kabar ke gue?Bang Al baik-baik saja 'kan? Gue kok jadi khawatir gini ya. Atau sebaiknya gue ke kantornya?” mendengar itu dengan cepat Aulia mengalihkan niatan Ana.
“Kata gue mending enggak usah deh. Nanti juga bang Al hubungin lo. Sabar, gue tahu abang gue enggak pernah menghilang tanpa kabar, ga kaya lo,” sindir Aulia sambil bercanda.
“Cih ... sumpah ga lucu. Aul, gue beneran khawatir banget. Semoga saja dia enggak apa-apa ya.”
__ADS_1
“Iya pasti kok. Udah siang, balik kantor yuk!” Ana hanya mengangguk dan keduanya pun memutuskan balik ke kantor. Aulia pun mengantarkan sahabatnya sebelum dia kembali ke kantor. Setelah melambaikan tangan pada Aulia, Ana langsung masuk ke dalam kantornya.
“Bu, tadi ada pesan dari Pak Bimo kalau Ibu disuruh ke ruangannya sekarang,” ucap sekertaris Bimo.
“Oh iya ... terima kasih.” Ana pun bergegas ke ruangan papanya.
Bukan hanya Alaric dan sepupunya yang bersandiwara, Bimo pun ikut sandiwara depan anaknya. “Kak, besok bisa ikut papa ke Bogor? Ada seseorang yang harus papa temui di sana. Sekalian kamu belajar bagaimana sistem kerja perusahaan.” Mendengar itu membuat Ana semakin cemas. Pastinya dia tidak akan bertemu dengan Alaric selama beberapa hari, dan itu membuat Ana tersiksa.
“... Kak!” panggil Bimo membuyarkan lamunan anaknya.
“Hah ... i-iya, Pa. Bisa kok.” terpaksa Ana menyetujuinya. Karena memang mau tidak mau Ana harus ikut pergi bersama dengan papanya.
Ana kembali ke ruangannya sambil terus menghubungi Alaric. Dia mengirimkan pesan singkat pada Alaric menceritakan tentang rencananya pergi keluar kota besok. Ana terus menyalakan ponselnya disaat ponsel itu meredupkan cahayanya. Berharap Alaric akan membalas pesannya. Tapi hal yang dia tunggu-tunggu sia-sia. Alaric sama sekali tidak mengabarinya sampai dirinya pulang ke rumah.
Karena kekesalannya sudah memuncak, akhirnya Ana memberanikan diri menelepon calon mertuanya. Dan kini giliran Riana yang harus bersandiwara menghadapi menantunya.
“Halo, Ana. Bagaimana kabarmu, Sayang?” tanya Riana saat menerima telepon darinya.
“Sangat baik. Emmm ... tumben Sayang kamu telepon sore-sore begini. Ada apa? Apa ada masalah?” ucap Riana sambil tersenyum geli.
“Bun, Ana mau tanya bang Al. Apa bang Al ada di rumah?”
“Loh, abang ga cerita sama kamu? Tadi pagi dia keluar kota mendadak, Sayang. Katanya ada sedikit masalah sama anak perusahaan. Bunda kira dia sudah mengabari kamu.”
“Sama sekali tidak, Bun. Tapi tadi dia baik-baik aja 'kan, Bun?”
“Baik-baik saja kok Ana. Kamu tenang saja, mungkin tadi keadaannya lagi gawat, jadi dia lupa mengabari kamu. Tunggu saja, nanti pasti dia menghubungi kamu. Jangan khawatir ya, Sayang!” ada sedikit rasa kasian Riana pada menantunya. Riana tahu kalau Ana sekarang sangat khawatir pada Alaric. Awalnya memang Riana tidak setuju rencana seperti ini, tapi Alaric meyakinkan bundanya kalau ini hanya sebagian dari surprise yang dia rencanakan. Akhirnya Riana pun menyetujuinya.
“Oke, Bun. Terima kasih ya! Kalau gitu Ana pamit, mau membersihkan diri dulu.”
Setelah menutup telepon, Ana merebahkan tubuhnya sambil memandang layar ponselnya. Entah sudah berapa puluh pesan yang dikirimkan Ana pada Alaric tapi tidak satupun di balas bahkan dibaca.
__ADS_1
'Abang kamu kemana sih?' ucapnya kesal sambil melempar ponselnya ke kasur.
Di sisi lain Alaric yang baru tiba di bogor langsung melihat ponselnya. Dia tersenyum saat melihat puluhan pesan dan panggilan tak terjawab dari calon istrinya. Ya ... setelah makan siang, Alaric tidak kembali ke kantor. Tapi dia langsung pergi ke Bogor untuk mempersiapkan semuanya. Bukan hanya Alaric, tapi Aulia dan Krisna juga sudah berada di sana.
'Sayang, Maafkan aku! Aku hari ini harus mengabaikanmu. Tapi, tunggu besok! Aku akan membuat hari yang bahagia untukmu,' gumam Alaric.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Don't Forget
👍 Like
💬 Komen
🌺 Vote sebanyak-banyaknya
Oia Author lupa mengucapkan selamat tahun baru untuk kalian semua. Semoga tahun ini lebih baik dari tahun kemarin, dan semoga apa yang kalian impikan akam terwujud di tahun ini. Aamiin yaa Rabbala'lamin...
Aku padamu semuanya 😘😘😘😘
__ADS_1