Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 63


__ADS_3

S2 Bab 63


Dengan dibantu pihak dari hotel, akhirnya persiapan untuk kejutan lamaran buat Ana beres. Semua tampak perfect sesuai keinginan Alaric. Pemandangan pucak gunung yang disuguhi kebun teh dengan hawa dingin yang sejuk membuat nuasa semakin romantis.


“Bang, semua sudah beres?” tanya Aulia.


“Sudah. Oia De, nanti jangan lupa kamu siapkan baju buat Ana ya. Semua abang sudah letakkan di kamar.” Aulia tersenyum mengangguk mengangkat kedua jempolnya.


Ana dan keluarganya berangkat pada dini hari. Bimo sengaja membawa seluruh keluarganya dengan alasan sekalian mereka liburan mengenang masa kecil Ana dan adiknya. Itu tidak membuat Ana merasa bahagia dengan bernostalgia semasa kecilnya. Pikiran dia sejak tadi terus saja memikirkan Alaric.


Seharian sudah Alaric sama sekali tidak menghubungi dirinya. Bagaimana tidak cemas, karena biasanya setiap hari Alaric selalu lebih dulu menghubungi dirinya, walau hanya sekedar mengingatkan untuk makan. Bimo sadar kalau anaknya sedang merasa khawatir, dilihat dari wajahnya sejak tadi Ana terus muram sambil menatap ponselnya.


“Kak, papa lihat-lihat kamu sejak kemaren diam terus. Apa ada masalah?” tanya Bimo.


Ana menggelengkan kepalanya, “Bang Al, Pa. Dari kemarin enggak ada kabar sama sekali. Aku merasa sangat khawatir,” jawabnya dengan nada yang lemas. Mendengar itu Bimo, Tina dan Ira menahan senyuman mereka. Rencana Alaric benar-benar berhasil mengerjai Ana.


“Mungkin dia sedang sibuk. Kamu tenang aja jangan terlalu dipikirkan.” Ana mengangguk lemas.


Setelah semua persiapan beres, keluarga Alaric yang juga sudah sampai di Bogor siap-siap untuk menyambut keluarga Ana. Tina dan Riana sejak tadi saling berhubungan untuk mengabari posisi Tina dan juga sejauh mana persiapan Alaric. Tidak terasa akhirnya Ana dan keluarga pun sampai di hotel. Mereka memesan kamar terlebih dahulu untuk istirahat sebentar.


Setelah memastikan Ana memasuki kamarnya, Tina langsung bergegas ke lantai atas untuk menemu keluarga Alaric. Riana yang melihat calon besannya dengan tersenyum menyambut hangat kedatangannya. Keduanya saling mencium pipi, kemudian Riana mengajak Tina untuk melihat semua persiapannya.


Terlihat dari mimik wajah Tina kalau dia sangat terpana melihat pemandangan yang indah.


“Ana pasti sangat menyukainya,” ucap Tina.


“Syukurlah,” lanjut Riana. Setelah melihat berbagai persiapan, Aulia yang ditugaskan menyiapkan gaun untuk Ana, menyerahkannya pada Tina agar dia memberikan pada anaknya.


Acara lamaran Alaric akan dimulai pada saat jam 16.00 dimana matahari mulai turun dan udara sejuk dari perkebunan teh terasa sejuk. Itu artinya tinggal beberapa jam lagi menuju acara. Alaric tampak terlihat sangat gugup. Dia takut melakukan kesalahan pada saat melamar kekasihnya. Alaric juga sudah menyiapkan puisi khusus untuk Ana saat lamaran nanti.


...----------------...


Ana duduk dibalkon kamarnya sambil terus menatap layar ponselnya. Ingin rasanya marah dan teriak pada kekasihnya. Rasa khawatir Ana yang begitu besar membuat amarahnya tidak terkikis perlahan. Pikirannya sudah melayang-layang memikirkan yang terjadi pada kekasihnya.


“Aaaaaaaargh ....” Teriaknya sambil menutupi wajahnya. Mendengar teriakan itu Ira dengan cepat menghampiri kakaknya.

__ADS_1


“Ada apa, Kak? Kakak sakit?” tanyanya cemas.


Ana melirik ke arahnya tersenyum menggelengkan kepala. Ira yang melihatnya membuang nafas kasar, menggelengkan kepala dan kembali masuk ke dalam kamar.


Tok ... tok ... tok ....


“Ira, Kakak buka, Nak! Ini mama,” teriak Tina di balik pintu kamar. Dengan cepat Ira membuka pintunya.


“Kakak mana?”


“Tuh di balkon. Udah kaya orang stress dia, Mah,” canda Ira membuat keduanya tertawa. Sambil membawa gaun Tina masuk ke dalam dan menghampiri Ana.


“Kak, ini baju kamu ya. Siap-siap sebentar lagi kita mau ketemu tamu penting.”


Mendengar suara mamanya, Ana masuk ke dalam kamar. Melihat gaun yang dibawa Tina membuat Ana merasa heran. 'Kenapa harus memakai gaun?' gumamnya.


“Kak, jangan lupa dandan yang cantik,” ucap Tina sambil melangkah keluar.


“Ma, tunggu! Kenapa harus pakai ini sih? Aku bawa baju sendiri, enggak perlu gaun ini.” Tina kembali membalikkan badannya menghampiri Ana.


“Tamu kita sangat spesial, Sayang. Dia suka dengan pakaian yang formal. Bukan hanya kamu yang memakai gaun, mama juga sama. Sudah sore, sekarang kamu siap-siap yaaa. Dan jangan lupa dandan yang cantik ya,” ucap Tina sambil menyentuh hidung Ana dengan telunjuknya.


Setelah membersihkan diri, Ana mulai memainkan koas untuk merias wajahnya. Ana memilih untuk dandan natural agar terkesan elegan. Dan dia memilih rambut panjangnya tergerai. Waktu sudah menunjukan pukul 15.30 dan itu artinya setengah jam lagi rencana Alaric akan dilaksanakan.


Alaric dan keluarga sudah siap berada di lokasi. Dia menunggu kedatangan kekasihnya. Gibran tersenyum saat melihat Alaric yang terus menerus melihat jam yang ada di tangannya.


“Santai aja, Bro. Ini baru lamaran belom nikahan,” canda Gibran.


“Lamaran itu lebih menegangkan, Bro. Gue takut Ana enggak suka dan menolak lamaran gue.” Gibran yang mendengarnya langsung tertawa.


“Enggak akan mungkin. Dia pasti terima lo, gue bisa jamin itu. Udah sekarang lo tenang aja ya, jangan gugup!” Ucap Gibran menyemangati sepupunya. Alaric hanya tersenyum mengangguk.


Tina pun menghampiri anaknya ke kamarnya, untuk memastikan apakah Ana sudah siap atau belum. Saat melihat Ana, Tina dan Bimo terpana dengan kecantikan anak mereka.“Kak, kamu cantik sekali,” ucap Tina menghampirinya dan membelai rambutnya.


“Makasih, Ma. Pa, kenapa kita harus dandan seperti ini sih? Sejujurnya aku tidak nyaman kalau menggunakan gaun seperti ini,” keluh Ana.

__ADS_1


“Orang yang akan menemui kita hari ini, suka melihat dari penampilan. Dia senang kalau orang yang dijumpainya memakai pakaian yang rapih. Udah sore, bagaimana kita langsung aja yuk!”


Perasaan Ana semakin tidak karuan. Kalau Alaric tahu dia berpenampilan seperti ini untuk orang lain, pasti dia akan marah. Karena memang Alaric pernah berpesan kalau Ana hanya boleh merias wajahnya untuk dirinya. Mereka pun menaiki lift ke lantai paling atas. Selama perjalanan Ana hanya memainkan ponselnya. Sampai lift terbuka dia tidak menyadari kalau dirinya sudah sampai.


Bimo dan Tina berjalan cepat menhampiri kedua besannya, meninggalkan Ana yang berjalan perlahan sambil menunduk ke arah ponsel.


“Ana ....” mendengar suara yang tidak asing baginya, Ana langsung mengangkat wajahnya, menatap ke depan. Bertapa kagetnya dia melihat Alaric berdiri di seberangnya memegang seikat bunga mawar merah. Tanpa di sadari Ana menjatuhkan ponselnya. Dia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.


Melihat sekeliling, semua orang berdiri tersenyum mengadap dirinya. “Kalian?” ucap Ana meneteskan air matanya. Dia tidak menyangka kalau semua ini hanya rencana kekasih dan keluarganya. Alaric pun melangkahkan kakinya menghampiri Ana yang masih terdiam mematung di depannya.


.


.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Don't Forget


👍 Like


💬 Komen


🌺 Vote sebanyak-banyaknya


Yang belum follow IG aku, ditunggu Follownya yaa @PENULISMICIN untuk dapatkan info terbaru tentang karya-karya aku...

__ADS_1


terima kasih semua...


Aku Padamu Semuanya ❤️❤️


__ADS_2