Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
Bab 39


__ADS_3

Riana sangat merasa lelah, kepalanya seakan berputar-putar. Dia membaringkan tubuhnya sambil memegang keningnya. Riana merasa sangat aneh dengan tubuhnya yang memang akhir-akhir ini cepat merasakan lelah.


Setelah menyuapi anaknya, Rendra menyerahkan Salsa pada pengasuhnya dan menyusul istrinya ke kamar. Sejak tadi Rendra merasa sangat khawatir dengan keadaan istrinya. Saat masuk ke dalam kamar, Rendra menghampirinya dan langsung memeluk tubuhnya dari belakang.


“Sayang, kamu kenapa? Lebih baik kita ke rumah sakit aja yuk!” Riana menggelengkan kepalanya.


“Aku cuma kelelahan Mas, mungkin ditidurkan akan sembuh. Kamu jangan khawatir ya!” Riana mengecup bibirnya dan kembali memejamkan matanya.


Disisi lain Didit masih bersama dengan Desi. Selesai menyantap makan malam, mereka masih berdiam diri di dalam mobil di depan kost-an Desi. Banyak hal yang dia tanyakan pada Didit tentang keluarganya. Desi menundukkan kepalanya sambil menangis saat mendengar kisah Ayahnya.


Tidak banyak yang diceritakan Didit padanya, tapi itu berhasil membuat Desi merasa menyesal dan menangis. Didit menepuk bahunya sedikitnya membantu menenangkan dirinya. Didit juga memohon pada Desi agar mau menemui adiknya dan bicara baik-baik dengannya. Dia juga menceritakan tentang pernikahan Rendra dengan adiknya. Yang bikin dia kaget saat mengetahui kalau Salsa adalah anak kandungnya.


Tangisnya semakin pecah. Dia benar-benar merasa bersalah pada adiknya. Selama ini Desi memang tidak mempedulikan anak yang telah dilahirkannya. Tapi, dalam hati kecilnya dia juga sangat merindukannya. Desi tidak menyangka gadis kecil yang tadi adalah anaknya. Tapi, dia mendadak merasa tidak pantas untuk anaknya.


Hari sudah larut, Desi pun pamit pada Didit dan tidak lupa dia berterimakasih pada mantan kekasihnya. Desi langsung masuk ke dalam tanpa melirik kebelakang. Tangis Desi kembali pecah saat dirinya sampai di kamarnya. Dadanya terasa sesak setelah mendengar cerita dari Didit.


Dek, Maafin Kakak ....


Desi merasa tidak pantas untuk bertemu lagi dengan adiknya. Tapi, dia tidak bisa terus-terusan menjauh dari adiknya. Desi berniat besok akan menemui adiknya dan meminta maaf padanya.


**♥️♥️**


Riana merasa sangat lemas. Jangankan untuk membuat sarapan untuk bangun dari tidur pun dia tidak sanggup. Kepalanya terasa sangat berat dan wajahnya terlihat sangat pucat. Rendra yang baru bangun tidurnya kaget saat melihat sang istri. Dengan cepat dia menelepon Dokter keluarga Wicaksono.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama, akhirnya Dokter pun datang. Riana masih lemas di atas kasur. Dia tidak menyadari Dokter datang untuk memeriksa dirinya.


“Gimana, Dok?” tanya Rendra dengan penuh kecemasan.


“Untuk keseluruhannya dia baik-baik saja Pak. Biasanya kalau seperti ini bawaan dari janin Pak. Apakah Bu Riana sedang mengandung?” Rendra cukup kaget saat mendengar apa yang dikatakan Dokter, begitupun dengan Riana. Dia yang sudah menyadari ada seorang Dokter di dalam kamarnya kaget mendengar yang dikatakan Dokter tersebut.


“Maksud Dokter, istri saya hamil Dok?” dengan wajah yang tersenyum penuh kebahagiaan dia menanyakannya.


“Bisa jadi Pak, lebih baik anda bawa istri anda periksa ke Dokter kandungan. Tidak ada resep yang saya berikan, saya menyarankan agar lebih cepat lebih baik,” Rendra tersenyum mengangguk. Dia pun mengantarkan Dokter itu sampai depan pintu rumahnya, kemudian dia berlari masuk ke dalam kamarnya lagi.


Riana masih tidak percaya apa yang dikatakan Dokter tadi tentang dirinya. Dia mengelus perut ratanya sambil mengeluarkan air matanya. Rendra yang baru saja masuk ke dalam kamar, langsung memeluk tubuh istrinya. Tidak henti-hentinya dia mengecup wajah istrinya dan mengucapkan terimakasih pada istrinya, karena telah mengandung buah hatinya.


Rendra pun membantu istrinya untuk membersihkan diri, karena mereka akan langsung pergi memeriksakan kandungan Riana. Setelah semuanya siap, Rendra menuntun istrinya masuk ke dalam mobil. Tidak lupa dia menelepon keluarganya memberitahukan kabar gembira yang sudah lama di tunggu oleh keluarganya. Sonia pun langsung menuju rumah kakaknya untuk menjaga keponakannya.


Cukup lebay memang, tapi Rendra tidak mau kalau istrinya kenapa-kenapa. Awalnya Riana merasa malu, tapi Rendra terus saja memaksanya untuk duduk disana. Sambil berjalan ke poli kandungan Riana menutup wajahnya dengan telapak tangannya karena merasa sangat malu.


Terlebih dahulu Rendra mendaftarkan istrinya dan setelah itu Rendra mencari tempat duduk untuk menunggu panggilan. Banyak pasangan muda yang berada disana. Mereka pun sesekali memperhatikan keduanya, karena tingkah Rendra yang menarik perhatian semua orang.


Rendra terus mengelus perut istrinya dan berulang kali mencium perut ratanya. Riana yang mendapatkan perlakuan suaminya merasa malu. Bagaimana tidak? Semua orang menatap mereka sambil tertawa kecil melihat kelakuan suaminya. Riana sendiri tidak menyangka bisa mendapat perlakuan seperti itu dari Rendra.


Akhirnya setelah 30 menit mereka menunggu, giliran keduanya untuk masuk ke dalam ruangan. Rendra perlahan menuntun istrinya. Riana memang masih merasa sangat lemas dan pusing yang sangat luar biasa. Dia bersyukur mempunyai suami siaga seperti Rendra.


Dokter yang ada di dalam ruangan tersenyum dan menyapa keduanya saat masuk kedalam ruangan. Terlebih dahulu Dokter menanyakan kapan terakhir kali Riana menstruasi. Setelah menanyakan keluhan dan apa yang dirasakan, Dokter menyuruh Riana naik ke atas kasur untuk melihat perkembangan janinnya.

__ADS_1


Jel biru pun di oleskan di atas perut rata Riana. Dokter perlahan menggerakkan alat USG di atas perutnya. Benar saja apa yang dikatakan Dokter pribadi Rendra, kalau saat ini Riana sedang mengandung. Usia kandungannya masih sangat muda yaitu masih berusia enam minggu. Bukan hanya Riana yang meneteskan air matanya. Rendra pun tertunduk meneteskan air matanya, walaupun tidak sebanyak Riana.


Riana kaget saat melihat air jatuh dari wajah suaminya. Baru kali ini Riana melihat Rendra meneteskan air matanya.


Mas, apa sebahagia itukah kamu?


Setelah memeriksa janin Riana, Rendra memalingkan wajahnya, mengelap air matanya dan membantu istrinya turun dari kasur. Dokter menjelaskan kalau kandungan Riana masih sangat lemah dan harus banyak istirahat. Riana juga tidak boleh banyak pikiran karena itu akan mempengaruhi janinnya. Rendra banyak menanyakan hal-hal apa saja yang membahayakan istrinya. Riana beberapakali memberi tanda pada suaminya agar menyudahi konsultasinya, tapi Rendra tidak menghiraukan dirinya dan terus saja bicara.


Setelah 30 menit lebih mereka di dalam akhirnya mereka keluar. Banyak pasangan mata yang menatap keduanya, mungkin karena merasa kesal menunggu keduanya keluar dari ruangan. Riana merasa tidak enak menundukkan kepalanya sedangkan suaminya tidak merasa ada yang salah dengan lempengnya jalan didepan orang yang sejak tadi menunggu antrian.


Sebelum pulang Rendra menebus obat terlebih dahulu untuk istrinya. Dia pun membeli berbagai macam susu kehamilan dan meminta tambahan vitamin untuk istrinya. Riana hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan suaminya, tapi disisi lain dia sangat bersyukur mempunyai suami yang benar-benar memperhatikan dirinya.


.


.


.


.


.


~Bersambung~

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan Vote sebanyak-banyaknya yaaaa....


__ADS_2