
S2 Bab 54
Mendapat cerita dari Alaric Aulia dengan sigap langsung mencari tahu tempat tinggal. Sebenarnya Alaric memaksa Erna untuk memberitahu nomer ponsel dan tempat tinggal Ana. Awalnya Erna terus menolak tapi akhirnya dia memberitahukan semuanya.
Alaric sendiri belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia ingin terus berusaha mendapatkan kembali hati mantan kekasihnya tanpa tahu yang sebenarnya. Mendapatkan alamat Ana, Aulia bergegas ke kediamannya. Selama perjalanan ke rumah Ana, Aulia tidak henti-hentinya mengeluarkan air mata kebahagiaan. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sahabatnya. Diantar oleh Krisna, akhirnya gadis cantik itu pun sampai di sana.
Ting ... tong ---Suara bel rumah---
“Maaf mau cari siapa?” tanya Ira yang membukakan pintu untuk keduanya.
“Maaf apa saya bisa bertemu dengan Ana?” Ira mengerutkan keningnya. Dia cukup kaget ada yang mencari kakaknya, pasalnya orang yang tahu keberadaan dia di Indonesia hanya Satria dan juga Erna.
“Oh ... kalian salah alamat, maaf ya!” Ira menutup pintunya dan dengan cepat Aulia menahan pintu itu.
“Please! Izinkan aku bertemu dengan Ana, sebentar saja.” Sambil meneteskan air matanya, Aulia memohon pada Ira, tapi Ira tetap saja menolaknya. Krisna pun membujuk Aulia agar menyerah, karena walau bagaimanapun juga, tidak baik kalau kita memaksa untuk bertemu dengan Ana.
“De, siapa?” suara khas Ana membuat Aulia percaya dengan keyakinannya kalau kediaman itu benar-benar rumah Ana.
“Ana! Ana! Ini gue, An. Please, Ana! Gue mau bicara sama lo sebentar saja.” Ana kaget dengan kedatangan sahabatnya. Tidak bisa dipungkiri kalau dia juga sangat merindukan sahabatnya itu. Walaupun Ana sudah sangat kecewa dengan Aulia, tapi dia tidak benar-benar membenci dia. Sahabat akan tetap menjadi sahabat apapun yang terjadi, itulah prinsip dalam hidup Ana.
Ana pun bergegas berjalan ke arah pintu.
“Kak, dia ....” ucap Ira terhenti saat Ana tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Dia sahabat kakak. Biarkan dia masuk! Tidak sopan kita mengusir tamu yang sudah jauh-jauh datang ke sini,” ucap Ana membuat Ira akhirnya membukakan pintu untuk Aulia dan juga Krisna.
Saat pintu terbuka, Ana melemparkan senyuman manis pada sahabatnya. Aulia yang melihat Ana langsung memeluknya dengan erat. Dia menangis tersedu-sedu, sedangkan Ana hanya tersenyum dan menepuk bahunya.
Tak henti-hentinya Aulia mengucap kata maaf dalam tangisnya. Dan berulang kali juga Ana mengucapkan dia sudah memaafkan Aulia.
“Gue ... gue enggak tahu harus bagaimana untuk menebus semua kesalahan gue ke lo, An.”
“Kita masuk dulu yuk! Biar enak ngobrolnya. Bang Krisna apa kabar?” tanya Ana sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
“Baik, Ana.” Krisna pun menyambut uluran tangan Ana. Mereka pun masuk dan duduk di ruang tamu.
Sejak tadi Aulia terus saja menggenggam tangan Ana, sambil terus menatap kecantikan Ana.
“Lo semakin cantik, Ana,” ucap Aulia dengan penuh kekaguman.
“Lo juga Aul. Kecantikan kamu sejak dulu memang tidak diragukan lagi,” canda Ana dan mereka tertawa.
Keduanya pun banyak menceritakan kisah mereka. Terutama Aulia yang menceritakan sejuta penyesalannya terhadap Ana. Kadang Aulia meneteskan kembali air matanya saat dia menceritakan betapa dia terluka dengan kepergian Ana. Dan kadang keduanya tertawa saat mengingat semua yang sudah mereka lewati berdua.
Krisna yang melihatnya pun ikut merasa kebahagiaan yang luar biasa. Pasalnya dia sudah lama tidak melihat senyuman manis itu di bibir kekasihnya. Senyuman yang selama ini tenggelam dengan rasa bersalahnya.
Ana sudah benar-benar melupakan kejadian yang menimpanya tiga tahun yang lalu. Mengingat kejadian buruk itu akan membuatnya semakin terpuruk, maka dari itu selama di Singapura Ana melupakan semuanya. Dia benar-benar membuka lembaran baru.
Tidak terasa waktu terus berjalan dan matahari pun mulai tenggelam. Kedua orang tua Ana pun pulang, dan melihat Aulia yang masih berada di sana. Keduanya kaget saat melihat ada teman Ana yang sudah mengetahui keberadaan dirinya di Indonesia.
“Ana, mereka siapa?” tanya Bimo.
“Papa, Mama kenalin ini sahabat Ana Aulia dan Krisna.” Keduanya bergegas langsung mencium pundak tangan Bimo dan Tina.
“Pa, itu 'kan teman-teman Ana yang sudah menyakiti dia. Kenapa Ana masih mau bertemu dengan mereka sih?” lirih Tina saat keduanya sudah berada di dalam kamar.
“Baguslah. Anak kita benar-benar sudah memaafkan mereka. Karena memaafkan itu lebih baik dari pada kita terus saja menyimpan dendam pada seseorang. Bukan menenangkan hati, malah membuat hati semakin resah. Dengan memaafkan dan melupakan yang telah terjadi, maka hati kita akan semakin tenang. Tuhan saja maha pemaaf kenapa manusia yang diciptakannya tidak bisa?” Awalnya Tina merasa kesal dengan kebaikan Ana yang lansung memaafkan temannya itu, tapi mendengar perkataan suaminya akhirnya kekesalan Tina pudar.
Sesuai permintaan Bimo, Krisna dan juga Aulia makan malam bersama. Keluarga angkat Ana benar-benar memperlakukan keduanya dengan sangat baik, membuat Aulia berpikir kalau hati lembut Ana karena lingkungan keluarganya yang penuh dengan kelembutan.
Selesai menyantap makan malam, keduanya pun pamit, karena memang hari sudah sangat larut. Rasanya ingin sekali Aulia menghabiskan waktu bersama dengan Ana seharian, bahkan seharian pun tidak cukup untuk mengobati kerinduan dirinya selama tiga tahun.
“Ana, gue dengar lo dan Satria sudah bertunangan ya? Selamat ya atas pertunangan kalian. Sebenarnya sejak tadi gue ingin sekali menceritakan bang Al selama tiga tahun ini. Tapi gue takut kalau gue bisa menghancurkan hubungan lo sama Satria. Pokoknya siapa pun yang menjadi pendaping lo, gue pasti dukung.” Ana hanya tersenyum mendengar apa yang diucapkan Aulia padanya.
“Gue pamit ya! Kita masih bisa bertemu 'kan?”
“Tentu saja. Gue masih nganggur kok. Kapan pun lo mau ketemuan, gue siap.” keduanya saling melempar senyuman.
__ADS_1
Sebenarnya Ana ingin sekali mendengar apa yang dikatakan Aulia padanya tadi. Dia sangat ingin mengetahui keadaan Alaric selama tiga tahun ini. Menderita kah? Atau bahagia? Pertanyaan itu yang terus menerus ada dibenak Ana.
Selama perjalanan Aulia terus saja tersenyum. Dia sangat bahagia akhirnya persahabatan dia dan Ana masih terus berlanjut. Aulia mengira kalau Ana akan menolak kedatangan dirinya, tapi ternyata pikiran Aulia salah. Ana menerima dengan baik permintaan maafnya.
'Sampai sekarang pun, gue tidak mengenali lo, An. Lo bagaikan malaikat tak bersayap buat gue,' gumam Aulia sambil tersenyum menatap jendela.
“Yank! Sayang!” panggil Krisna memudarkan lamunannya.
“Ah ... Iya, Bang. Ada apa?” tanya Aulia.
“Aku masih memegang janji kamu loh. Mulai sekarang jangan pura-pura lupa ya!” Aulia mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan ucapan kekasihnya.
“Maksud, Abang?” tanyanya heran. Krisna hanya tersenyum tidak menjawab pertanyaan kekasihnya.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Terimakasih...
Like
Komen
Vote
__ADS_1
Okeeeeee!😘😘😘😘