Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 78


__ADS_3

S2 Bab 78


Setelah Ana merasa tenang, semuanya bersiap untuk lanjut ke pemakaman yang sudah disiapkan. Walaupun cuma tiga hari dia bertemu dengan ibu kandungnya, Ana benar-benar sangat terpukul. Bahagia yang dia rasa hanya sesaat membuat semua moment kebersamaannya dengan sang ibu menjadi sangat berharga.


Semua orang sudah siap mengantarkan jenazah di peristirahatan terakhirnya. Ana memang menginginkan ibunya segera di kebumikan, karena memang sebaiknya seorang yang sudah meninggal harus segera dikuburkan. Saat itu matahari sudah tidak nampak sinarnya. Para warga membantu mengangkat jenazah untuk dinaikkan ke atas ambulans.


Dengan cepat mobil ambulans itu membawa jenazah ke pemakaman yang tidak jauh dari yayasan, karena hari akan semakin gelap. Ana tidak menyangka banyak yang mengantarkan ibunya, dia berpikir kalau ibunya memang orang yang sangat baik.


Banyak pikiran Ana yang terlintas. Andaikan dia bertemu dengan ibunya saat ibunya dalam keadaan sehat, dia pasti sekarang akan membuat ibunya bahagia, menghabiskan waktu hanya berdua dan menikmati indahnya dunia bersama. Sayangnya itu hanya pikiran yang terlintas dan tidak bisa terlaksana.


Perlahan jenazah mulai dikeluarkan dari keranda. Air mata yang sejak tadi sudah surut kini mengalir kembali. Hatinya terasa sangat sesak dikala tubuh ibunya mulai memasuki liang lahat. Aulia merangkul tubuh Ana dan berusaha menenangkannya. Sedangkan Alaric turun ke dalam kuburan untuk ikut mengambil jenazah mertuanya bersama dua orang lainnya.


Semua orang menangis seperti halnya Ana. Bukan cuma Ana yang merasa kehilangan tapi juga orang-orang yang selama ini selalu berada di dekat almarhum. Buliran-buliran tanah sedikit demi sedikit menutupi tubuh ibunya. Melihat itu Ana seketika langsung berteriak dan membuat semua orang membantu menenangkan dirinya.


“Ibu ... Ibu jangan tinggalkan Ana lagi, Bu! Ibu ....” tubuh Ana seketika jatuh dan duduk di atas tanah. Alaric langsung mendekati istrinya dan menenangkannya.


“Sayang, sabar Yank. Sayang lihat aku! Aku ada di sini untukmu. Ibu sudah tenang, dia sudah tidak merasakan sakit lagi. Kamu harus mengikhlaskan semuanya. Aku mohon kamu jangan seperti ini, karena aku juga terluka melihatmu seperti ini.” ucap Alaric sambil memeluk tubuh Ana yang masih menangis.


Tina dan Riana turut menenangkan Ana. Dan akhirnya Ana menyadari kalau dia tidak sendiri. Dia mempunya dua orang wanita hebat yang ada di sisi dia saat ini. Kini tubuh ibunya sudah tak terlihat lagi, hanya ada papan nama yang tertancap di atas kuburannya.


Sambil menyirami air doa pada kuburan ibunya, Ana mengusap nisan sang ibu. Kali ini dia lebih tenang, dia tersenyum dan mencium papan nama ibunya.


“Ibu, yang tenang ya! Kamu orang baik, dan pasti kamu akan merasakan indahnya surga Tuhan. Ibu, tunggu aku di sana, sampai nanti Tuhan mempertemukan kita kembali,” lirihnya dan kembali mencium nisan ibunya.


Hari sudah semakin gelap, dan mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Sejak pulang dari pemakaman, Ana belum mengucapkan sepatah kata pun pada semua orang, termasuk suaminya sendiri. Alaric merasa sangat khawatir, tapi bunda menenangkan anaknya agar tidak terlalu panik. Karena Riana tahu betul bagaimana perasaan Ana saat ini.


Seketika Riana mengingat kembali saat kepergian sang ayah yang sama halnya seperti Ana. Disaat pernikahan masih seumur jagung, dia harus merasakan kepedihan ditinggal ayah tercinta. Antara kebahagiaan dan juga kesedihan dan itu sangat sulit untuk di ekspresikan.


“Bun, Ana masih belum mau makan. Aku merasa khawatir,” keluh Alaric.


“Ya sudah, kamu di sini dulu, biar bunda yang menyuruh Ana makan.” Riana mengambil piring berisi nasi dan lauk pauknya yang ada di tangan Alaric dan menghampiri Ana di kamar.

__ADS_1


Tok ... tok ... tok ---Suara ketukan pintu---


Karena tak ada jawaban, Riana pun masuk dan menghampiri Ana yang sedang duduk di balkon sambil memandangi bulan malam itu.


“Bunda boleh duduk?” mendengar suara mertuanya Ana menoleh. Dia mengangguk sambil tersenyum, mempersilakan mertuanya untuk duduk di sampingnya.


“... Sayang seharian ini kamu belum makan. Bunda enggak mau kamu sakit, Nak. Makan ya!” Riana menyodorkan piring yang dibawanya.


“Bun, aku enggak lapar.” akhirnya Ana mengeluarkan suaranya lagi.


“Bunda pernah mengalami hal menyedihkan seperti kamu, Nak.” Riana mulai menceritakan semua yang dialaminya dulu.


Ana dengan serius mendengarkan kisah hidup mertuanya dari awal dia harus kehilangan ibunya sampai dia juga harus kehilangan sang ayah. Mendengar itu Ana kembali meneteskan air matanya. Dia tidak percaya nasibnya hampir sama dengan mertua kesayangannya.


Melihat Ana menangis, Riana menyimpan piring ke meja dan memeluk tubuh menantunya. Dia memberikan semangat dan mengatakan, “Kepergian seseorang dari dunia bukanlah akhir dari segalanya. Suatu saat juga kita akan pergi dari dunia ini dan akan bertemu kembali dengan orang-orang yang sudah lebih dulu dipanggil. Kita semua hidup di dunia hanya menunggu panggilan sambil mengerjakan amal kebaikan. Jangan sia-siakan hidup kita selagi hidup. Yang sudah tiada biarlah dia dengan alamnya untuk bertemu dengan Tuhan, kita yang di sini harus bertahan hidup juga, karena masih banyak orang yang sayang dan peduli sama kita,” jelas Riana membuat Ana menyadari kalau apa yang dia lakukan salah.


Dia juga merasa bersalah karena tadi mengabaikan suaminya yang terus menerus memohon untuk menyuruhnya makan.


“Sekarang kamu makan ya! Bunda panggilkan Bang Al buat nemenin kamu makan.” Ana mengangguk tersenyum.


Riana melangkahkan kakinya keluar dan langung menceritakan pada Alaric tentang istrinya. Mendengar itu membuat Alaric merasa senang.


“Bunda memang is the best,” ucapnya sambil mengacungkan kedua jempolnya. Dia pun langsung berlari menuju kamar menghampiri istrinya.


“Sayang ....” tegur Alaric dan langsung duduk di sampingnya.


“Yank ... maafin aku!” lirih Ana sambil menatap Alaric dengan wajah yang memelas.


“Kenapa harus minta maaf, Sayang? Enggak ada yang salah jadi kamu enggak usah minta maaf ya. Sekarang kamu makan ya! Sudah malam dan sejak tadi siang cacing dalam perut kamu udah kelaparan, kasian mereka.” seketika Ana tersenyum mendengar perkataan suaminya.


“Emmm ... suapin,” ucapnya manja.

__ADS_1


“Kamu ya ....” Alaric mencubit kedua pipi Ana pelan dan menyuapinya perlahan.


“Bang ... boleh enggak aku meminta satu permintaan?” Alaric mengerutkan keningnya, karena Ana tidak biasanya meminta sesuatu darinya.


“Apapun Sayang, kalau aku mampu aku akan mengabulkan permintaan kamu.”


“Aku ingin bertemu dengan orang tua asuhku semasa aku bayi. Aku dengar mereka seorang pemulung dan kehidupannya sangat pas-pasan. Aku ingin membantu dalam finansial mereka. Apakah boleh, Yank?” ucap Ana dengan wajah memohon.


Alaric tersenyum, dia bangga pada istrinya yang mempunyai hati yang baik. Dia pun mengangguk tersenyum dan membuat Ana merasa sangat senang. Dia menghampiri Alaric, duduk di atas pangkuannya dan mencium lembut bibir suaminya.


“Makasih, Sayang ....” lirihnya.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Jangan lupa untuk


👍Like


💬 Komen


🌺 Vote sebanyak-banyaknya, biar Author lebih semnagat lagi nulisnya.

__ADS_1


AKU PADAMU ALL ❤️❤️😘😘😘😘


__ADS_2