Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 16


__ADS_3

Sehari sebelum berangkat, Aulia mengajak Ana untuk menginap di rumahnya. Keluarga Aulia langsung menyukai gadis cantik itu. Ini untuk pertama kalinya Ana datang dan langsung menginap di rumahnya. Sonia sudah mengetahui cerita tentang Alaric yang menyukai Ana dari anak gadisnya. Saat pandangan pertama Sonia pada Ana, dia benar-benar langsung menyukainya.


Ana pun berpamitan dan langsung masuk ke kamar Aulia bersama si empunya kamar. Melihat keduanya sudah masuk ke kamar, Sonia bergegas mengambil ponselnya dan menelepon Riana untuk memberitahukan sosok wanita yang sangat di idolakan anaknya. Karena memang sebelumnya Sonia sudah bercerita apa yang diceritakan Aulia padanya.


Sonia : “Halo Mba, siang,”


Riana : “Halo, siang. Gimana dia sudah datang?”


Sonia : “Mba, dia cantik banget, sopan dan kelihatanya dia anak baik, aku pun langsung menyukainya. Sonia yakin Mba juga akan langsung menyukainya,”


Riana : “Sebenarnya aku sudah mempunyai gadis yang aku suka, Sonia. Tapi semua tergantung abang Al, kalau dia suka sama ... eh siapa namanya?”


Sonia : “Tasyana,”


Riana : “Ya, sama Tasyana, aku ga bisa maksa. Kalau dia wanita seperti yang kamu bilang, aku pasti juga akan menyukainya. Aku sudah tidak sabar ingin berjumpa dengannya,”


Sonia : “Aku yakin Mba pasti sangat menyukainya, Mba udah dulu ya, bang Eki pulang. Sampai ketemu besok,”


Riana : “Iya sayang, makasih yaa. Oke aku tunggu di rumah.” keduanya pun menutup ponsel mereka.


Karena besok akan berangkat, Eki sengaja pulang lebih awal untuk membantu persiapan istrinya.


“Mi, gimana persiapannya sudah beres?” tanya Eki sambil mencium kening istrinya.


“Sudah Pi, tinggal angkut aja. Oia Pi, calonnya bang Al ada di kamar ade loh. Dia cantik dan keliatannya anaknya baik dan ramah. Andaikan dia kekasih Bang Gibran, Mami langsung setuju 100% deh,”


“Kamu ini, ada-ada aja. Bukannya bang Gibran suka sama Intan? Dia juga anaknya baik dan cantik,” ucap Eki sambil meminum air teh hangat yang baru saja diberikan oleh istrinya.


“Intan juga anak yang baik, mami suka. Cuma entah kenapa mami lebih menyukai Tasyana dibanding Intan. Kesan pertamanya itu beda gitu loh, Pi,”


“Perasaan Mami aja kali,” ucap Eki sambil tersenyum menggelengkan kepalanya.


Disisi lain Gibran masih sibuk menemani Intan belanja untuk keperluan besok liburan.


“Tan, mami juga udah siapin banyak makanan loh buat kita, kamu ga perlu beli sebanyak ini,” ucap Gibran. Intan masih saja sibuk mengambil beberapa cemilan.


“Ga apa-apa dong Gib, 'kan biar banyak,”


“Sayang aja kalau bawa banyak ga kemakan, nanti kalau kurang kita beli di Bandung aja,”


“Iya-iya deh. Ya udah beli segitu aja, udah tanggung masuk keranjang,” ucap Intan melempar senyumannya dan langsung berjalan menuju kasir. Gibran hanya tersenyum dan mengikuti langkah gadis pujaan hatinya.

__ADS_1


“Gib, Ana jadi ikut?” tanya Intan saat keduanya berjalan ke parkiran mobil.


“Emm ... kata mami dia udah ada di rumah. Emang kenapa? Kamu cemburu sama dia?” dengan sedikit rasa kesal Gibran menanyakan hal itu pada Intan.


“Biasa aja,” jawabnya dengan lempengnya dan masuk ke dalam mobil. Entah kenapa jawaban Intan membuat Gibran sedikit merasa senang. Menurut Gibran, berarti itu artinya dia sudah tidak memiliki perasaan pada Alaric.


Memang semenjak Alaric dekat dengan Ana, mereka jarang berkumpul lagi seperti dulu. Intan sendiri banyak menghabiskan waktu berdua bersama Gibran, selain mereka memang sahabat dari semenjak SMA mereka juga kuliah di jurusan dan angkatan yang sama. Itu yang membuat mereka selalu bersama.


Akhir-akhir Gibran memang lebih memperlihatkan rasa suka dan sayangnya pada Intan. Dan itu membuat gadis keturunan Indonesia-Malaysia itu sedikit membuka hatinya untuk sahabatnya. Intan menyadari perasaannya terhadap Gibran semenjak dia tidak ada rasa cemburu lagi saat melihat Ana dan Alaric bersama. Tidak seperti awal mula melihatnya, hatinya terasa terbakar dan ingin sekali marah. Tapi, sekarang dia merasa biasa saja, malah sekarang dia kesal saat melihat Gibran dikerumuni oleh wanita-wanita yang ada di kelasnya.


Memang tidak bisa dipungkiri kalau Gibran salah satu idola kampus terlebih di jurusannya. Tapi, Intan baru menyadarinya semenjak dia mempunyai perasaan terhadap sahabatnya itu.


“Tan, aku boleh nanya?” tanya Gibran sambil memegang kemudi.


“emmm ....” jawabnya yang sibuk memainkan ponselnya.


“Kamu masih punya perasaan sama bang Al?”


“Emmm ... mungkin.” dengan cepat Gibran mengambil ponselnya dan menyimpannya di atas dashboard mobilnya.


“ ... Gibran!! Kamu kenapa?” ucapnya sedikit kesal.


“Aku dari tadi dicuekin deh. Kamu tuh kalau udah megang ponsel lupa segalanya. Aku serius nanya, jawabannya malah kaya gitu,” kesalnya.


“Dih ... pake nanya? Ya salah lah! Mana ada perasaan mungkin.”


“Ya emang mungkin. Aku juga ga tahu sama perasaan aku sendiri. Soalnya ada seseorang yang akhir-akhir ini buat aku kepikiran.” Mendengar itu membuat Gibran dengan tiba-tiba membanting setirnya ke kiri dan berhenti.


“Ya ampun, kamu kenapa, Gib?” sambil memegang dadanya, Intan melirik sinis pada Gibran.


“Siapa dia?” dengan tatapan tajam Gibran menanyakan orang yang membuat gadis yang disukai dia terus memikirkan orang itu.


“Dia? Dia siapa? Kamu aneh deh ah,”


“Cowok yang buat kamu kepikiran, Intan!” kini suara Gibran mulai meninggi karena emosi. Intan yang mendengar perkataan Gibran malah tertawa membuatnya semakin heran dengan reaksi Intan.


Melihat Gibran yang semakin marah dengan tatapan tajamnya, membuat Intan menghentikan tawanya, dan mencubit kedua pipi Gibran karena merasa sangat gemas.


“Kamu kalau kaya gini semakin lucu.” Saat hendak menarik tangannya, dengan cepat Gibran menggenggam tangan Intan dan membuatnya merasa sangat kaget.


“Aku serius, siapa dia?”

__ADS_1


“Dih, kepo!” Intan memalingkan wajahnya karena malu, dan dengan cepat pula Gibran membalikkan wajahnya kembali agar tetap menatap dirinya.


“Gib, kamu kenapa?”


“Siapa dia?!” masih dengan serius dan nada yang terdengar marah dan kesal.


“Apa pentingnya buat kamu tahu orangnya siapa?”


“Ya penting dong, aku harus tahu siapa dia?”


“Kenapa penting?!” kini Intan juga mengeluarkan suara lantangnya, dia sengaja agar Gibran memberinya alasan. Sebenarnya Intan tahu kalau selama ini Gibran menyukainya, tapi dia sama sekali tidak pernah mau mengungkapkannya dan itu membuat Intan semakin kesal terhadap sahabatnya itu.


“Masih nanya kenapa? Aku sayang sama kamu, suka sama kamu, emang selama ini kamu ga pernah sadar?” Intan berusaha menahan senyumannya dan bersikap seolah-olah cuek.


“Gak!” jawabnya singkat sambil memalingkan wajahnya.


Dia sudah tidak bisa menyembunyikan senyuman bahagianya. Disisi lain Gibran semakin kesal. Dia melepaskan genggaman tangan Intan dan kembali melajukan mobilnya. Intan terus menggodanya, tapi Gibran tetap cuek tidak menghiraukan dirinya, membuat Intan semakin gemas padanya.


Tiba-tiba Intan mencium pipi kiri Gibran dan membuat lelaki ganteng itu menghentikan mobilnya tiba-tiba. Beruntungnya keadaan jalanan komplek menuju rumah Intan sepi, jadi tidak membuat kendaraan lain terganggu.


“Maksud kamu apa?” tanya Gibran yang masih kaget dengan perlakuan Intan padanya.


“Orang itu kamu,” jawab intan sambil melemparkan senyuman manisnya.


“Maksud kamu, kamu juga suka sama aku?” tanyanya sambil melemparkan senyuman bahagianya. Intan hanya mengangguk tersenyum. Gibran yang merasa sangat bahagia langsung berteriak kegirangan. Dia mencium kening Intan dan berkata, “Terimakasih, sayang.” kembali Intan hanya tersenyum mengangguk.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Guys ayo dong Vote sebanyak-banyaknya lagi, biar aku bisa semangat UP tiap hari. Alhamdulillah kemaren sudah masuk 30 besar tapi sekarang turun lagi 😭😭😭😭. Vote lagi yaaaaaa, kalau semakin naik aku janji UP tiap hari...


Jangan lupa juga like dan komennya....

__ADS_1


Semakin banyak kalian Vote, semakin naik peringkatnya dan aku akan semakin rajin UPnya..


Aku padamu semuanya ♥️♥️♥️♥️


__ADS_2