
Sejak tadi Ana hanya diam dan menatap keluar jendela. Alaric yang melihatnya pun merasa aneh. Dia memutuskan untuk berhenti disalah satu tempat peristirahatan yang dipinggiran kebun teh.
“Ana, kamu kenapa?”tanya Alaric sambil menarik perlahan wajahnya hingga menghadap padanya.
“Aku kesel! Kenapa tadi abang menolah Aulia dan bang Krisna ikut? Kalau pergi rame-rame kan lebih menyenangkan bang,” jelasnya sambil menunduk. Alaric menarik nafas dalam sambil terus menatap kekasihnya.
Kamu polos banget sih, Ana. Masa ga tahu kalau aku hanya ingin berduaan bersama kamu, ucapnya dalam hati.
“Kenapa ngeliatin aku kaya gitu, Bang?” heran Ana, karena Alaric hanya diam dan terus menatapnya.
“Ga kenapa-kenapa kok. Mau balik lagi ke villa?” Ana hanya menggelengkan kepalanya. Melihat itu Alaric tersenyum dengan lebar.
“Dih Abang, kayanya seneng banget deh.”
“Jelas seneng dong, Sayang. Aku mau hari ini kita habiskan waktu berdua aja,” ucap Alaric yang membuat wajah mungil Ana menjadi merah merona.
Keduanya menikmati jagung bakar sambil menikmati pemandangan indah yang ada di depan mereka. Perlahan Alaric mendekatkan tangannya di sebelah tangan Ana yang berada di atas meja. Dengan pelan dia menyentuh dan menggenggam tangannya dan itu membuat Ana cukup kaget dan secara tidak sadar menarik tangannya.
“Eh ....,” ucap Ana yang terlihat salah tingkah. Melihat pacarnya seperti itu, Alaric tidak tidak kuat lihat reaksinya dan dia pun tertawa dengan puasnya. Hal itu membuat Ana menjadi kesal dan meninggalkan Alaric berjalan keluar dari sana.
Setelah membayar makanan yang sudah dipesan, Alaric berlari mengejar Ana dan langsung menarik tangannya, membuat Ana menghentikan langkahnya seketika.
“Sayang, gitu aja ngambek,” goda Alaric.
“Tau ah ....”Ana kembali berjalan kearah kebun teh yang ada di depannya. Sambil menggenggam tangan kecil Ana, Alaric mengikuti langkah kekasihnya.
“Bang, Aku rindu mereka, yang entah seperti apa wajah mereka, tapi aku rindu.” seketika Ana menghentikan langkahnya menatap kosong kearah hamparan kebun teh. Alaric menatap kekasihnya dengan haru. Dia pun memeluk Ana dari belakang, berusaha menenangkan pikiran kekasihnya.
“Siapapun mereka, pasti mereka juga rindu padamu, Sayang. Aku yakin, suatu saat nanti kamu bakal bertemu dengan mereka.” perkataan Alaric membuat Ana tertunduk dan meneteskan air matanya.
Rencana Alaric yang ingin membuat suasana romantis berdua pun gagal. Tapi, dia tidak merasa berkecil hati. Dia tetap bahagia mempunyai waktu berdua dengan kekasihnya.
**♥️♥️**
Dengan langkah yang sangat cepat, Aulia melangkahkan kakinya keluar dari villa. Krisna yang mengikuti dirinya dari belakang hanya tertawa melihat kelakuan dari sepupu jauhnya itu.
“De, cepet amat jalannya. Tungguin napa!” ucap Krisna, tapi sama sekali tidak dihiraukan Ana.
Keduanya pun sampai di sungai kecil yang sangat jernih.
“Keren,” ucap Aulia kagum melihat pemandangan alam yang indah. Udara dinginnya yang kas membuat suasana yang adem.
__ADS_1
“Bang, di Jakarta kita ga akan nemu yang kaya gini,” ucap Aulia sambil mengambil ponselnya. Dia mengabadikan pemandangan yang luar biasa indah itu.
“Cantik ya, Bang.”
“Iya ... seperti kamu.” kata-kata Krisna membuat Aulia bergetar. Aulia mengalihkan salah tingkah dia dengan terus memotret pemandangan sekitar.
Krisna tersenyum, dia mengusap kepala Aulia dan sedikit mengacak-acak rambutnya.
“Abang ih!!! Rese banget sih jadi orang,” kesal Aulia sambil merapihkan kembali rambutnya.
“De!”
“Iyaa ....”
“Menurut kamu, segala sesuatu itu bisa saja terjadi 'kan?”
“Nothing is impossible, bang. Kenapa?”
“Emmm ... ga kok. Btw, Jangan pernah hubungin Reza lagi ya! Diluar waktu kuliah. Abang ga suka!” mendengar perkataan Krisna, Aulia hanya tersenyum tipis.
“Ogah, siapa abang yang ngelarang aku,” ucap Aulia sambil menjulurkan lidahnya dan berjalan meninggalkan Krisna. Dia tampak sangat kesal dan menyusul Aulia kemudian mengambil kembali ponsel yang ada ditangannya.
“Handphone ini disita selama kita berada disini,” ucap Krisna kesal dan melangkah cepat.
**♥️♥️**
Semua orang sudah berkumpul di Villa, sambil menikmati aneka cemilan yang tadi beli oleh para orang tua.
“Jadi bagaimana tentang pernikahan anak kita?” tanya Rendra dan membuat semua orang terdiam.
“Ayah, ga harus dibahas sekarang juga 'kan , Yah,” timpal Salsa.
“Ya, namanya juga niat baik jangan di tunda-tunda dong, Kak. Umur kamu sudah cukup untuk membangun rumah tangga. Lagi pula kita semua juga sudah sangat mengharapkan cucu dari kamu.” perkataan Rendra membuat Salsa tertunduk malu dengan wajah yang memerah. Semua yang melihatnya hanya tersenyum menggoda.
“Iya Om, kalau Salsa mau secepatnya saya dan keluarga akan datang bertemu dengan semuanya,” kata Fauzi. Salsa yang mendengarnya seketika mengangkat wajahnya dan menatap sinis ke arah kekasihnya itu.
“Tuh Kak, Fauzi aja langsung mau kok,” goda Didit pada anak tirinya itu.
“Tapi 'kan, Ayah, Papa, Salsa masih mau berkarier dulu. Lagi pula 'kan Salsa belum tua-tua banget,” kesalnya.
“Jadi, kamu menolak yank?” Tanya Fauzi dan membuat Salsa seketika diam salah tingkah.
__ADS_1
“Jawab dong, Kak.” Rendra menggoda anak angkatnya itu, karena dia tahu kalau anaknya itu keras kepala dengan segala sesuatu.
“Iiiih ... pada rese nih,” kesal Salsa dan langsung pergi masuk ke kamar. Semua orang hanya tertawa melihat kelakuan Salsa.
“Ayah, jangan gitu dong ke Salsa. Biarkan dia mengambil keputusannya sendiri,” ucap Riana pada suaminya.
“Ga apa-apa, Bun. Dia kalau ga digituin ga akan pernah ambil keputusan. 'Kan kasian Fauzi yang nunggunya. Iya ga, Zi?” Fauzi hanya tersenyum malu. Dia bersyukur calon mertuanya sangat mendukung dirinya. Karena dia tahu kalau Salsa ga akan pernah mau untuk diajak serius olehnya.
“Zi, susul sana! Tapi inget pintunya dibuka dan jangan macam-macam!” titah Rendra. Fauzi mengangguk tersenyum dan pergi menyusul Salsa ke kamarnya.
“Kamu itu ya, Terlalu mencampuri urusan mereka, Yah,” ucap Riana sedikit kesal.
“Kalau ga gitu, Salsa ga akan pernah mau, Bun. Iya ga Dit?”
“Iya bener, setuju,” jawab Didit dan membuat semua orang tertawa.
Salsa yang hidup besar bersama Riana dan Rendra, membuat keduanya memegang penuh atas hak asuh anaknya. Dan itu tidak membuat Desi merasa iri atau apapun. Dia sudah pasrah menyerahkan anaknya pada adiknya itu. Maka dari itu, apapun keputusan yang menyangkut Salsa adalah tanggung jawab penuh dari Rendra.
Mereka pun kembali bercengkrama dan membahas tentang pernikahan Salsa kedepannya. Padahal, yang bersangkutan sama sekali belum setuju dengan rencana para orang tua mereka. Anak-anak yang lain hanya menggelengkan kepala dengan kelakuan orang tua mereka dan hanya ikut menyetujui keputusannya.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Hai guyysssss....
Hehehe, maafkan Author kalian yang malas ini. Gigit aja dia biar ga malas lagi hahahaha...
Ditunggu jempol kalian buat like dan komen yaaa...
Author sangat mencintai kalian semua ♥️♥️ karena sudah setia membaca dan menunggu karya Author UP.
Sekali lagi, maafkan author yang sangat malas ini 🤧🤧🤧🤧🙏...
__ADS_1
AKU PADAMU SEMUANYA ♥️♥️♥️♥️