Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 17


__ADS_3

Semalaman Alaric tidak henti-hentinya menelepon Ana. Sampai-sampai keduanya tertidur dengan posisi ponsel yang masih tersambung. Aulia yang melihatnya pun hanya menggelengkan kepalanya.


Dasar kalian bucin, batin Aulia saat bangun dari tidurnya, karena memang hari sudah menjelang pagi. Dia langsung mematikan ponsel Ana yang masih tersambung dengan Alaric. Menyadari sahabatnya yang bangun, dengan pelan Ana membuka matanya. Mengingat semalam dia masih menerima telepon dari Alaric, Ana langsung mencari ponselnya dan melihat daftar panggilannya.


“What ...???” Ana menutup mulutnya saking kagetnya dia, melihat telepon mati baru beberapa menit yang lalu.


“Lo kenapa? Bangun tidur heboh amat?” tanya Aulia yang baru saja keluar dari kamar mandinya.


“Aul, gue ... gue ....” sambil menunjuk ponselnya Ana tidak sanggup menceritakan dirinya yang semalaman teleponan dengan Alaric.


“Gue yang matiin. Habisnya ada ya bucin kaya kalian, tidur aja masih telponan,” ucapnya dengan nada yang lempeng.


“Serius lo yang matiin? Gue lupa, semalam apa gue yang ketiduran duluan ya? Kalau iya, kenapa bang Al ga matiin teleponnya?” sejuta pertanyaan yang ada dipikiran Ana. Dia berusaha mengingat-ingat kejadian semalam.


“Udah sana, ga usah dipikirin lagi. Bentar lagi kita berangkat ke rumah bang Al loh.” Aulia mendorong tubuh sahabatnya masuk ke dalam kamar mandi.


**♥️♥️**


“Abang, bangun! Semua orang udah siap-siap loh.” Riana berusaha membangunkan anaknya. Dia menggelengkan kepalanya saat melihat ponsel yang masih menempel di telinga anaknya itu.


“Bang, semaleman kamu teleponan sama siapa? Ampe ni ponsel panas banget?”


“Emmm ... temen Bun,” jawabnya sambil berusaha mengumpulkan tenaga untuk bangun tidur.


“Temen apa temen? Ya udah cepetan bangun, Mami Sonia sudah menuju ke sini loh.” mendengar perkataan bundanya, dengan cepat Alaric bangun dan berlari menuju kamar mandinya. Riana yang melihat kelakuan anaknya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


“Abang-abang, segitu sukanya kah kamu sama Tasyana?” ucap Riana sambil berjalan keluar kamar anaknya.


Liburan kali ini fyur liburan keluarga tanpa mengajak asisten rumah tangga. Riana sudah menyiapkan aneka sarapan untuk menyambut Keluarga Didit dan Desi juga keluarga Eki dan Sonia. Barang-barang bawaan pun sudah siap di masing-masing mobil Alaric dan Rendra.


Setelah membersihkan diri, Alaric merapihkan rambutnya serapih mungkin, dan menyemprotkan parfum yang lumayan banyak pada tubuhnya. Dia benar-benar ingin terlihat perfect di depan wanita pujaan hatinya. Suara mobil terdengar, Alaric tersenyum dan bergegas keluar dari kamarnya.


“Waduh Bang, kamu pake parfum sebanyak apa? Wangi bener,” goda Rendra pada anaknya. Didit dan keluarganya yang baru saja datang pun ikut tertawa melihat Rendra yang sedang menggoda anaknya.

__ADS_1


Bukan rahasia umum lagi tentang Alaric yang menyukai seorang gadis. Mereka semua sudah tahu gadis yang disukai Alaric akan ikut liburan kali ini. Para orang tua sangat penasaran sekali dengan wanita yang bisa membuat hati dingin Alaric menjadi sejuk dan hangat.


Melihat yang datang bukanlah rombongan sepupunya, membuat Alaric sedikit cemberut dan langsung duduk di meja makan. Dia tidak menghiraukan godaan sang ayah padanya dan juga orang-orang yang menertawainya.


“Bang, jangan cemberut gitu. Nanti hilang loh cakepnya,” Goda Didit pada ponakannya itu.


“Ayah Didit jangan ikut-ikutan Ayah dong!” kesalnya.


Tidak lama terdengar suara mobil di depan rumahnya. Terlebih suara Aulia yang cempreng berteriak, “Spadaaaaaaa.” membuat senyum di wajahnya terukir. Dengan cepat Alaric berlari ke depan rumah dan menghampiri mereka.


Hati Ana berdebar dengan kencang saat melihat sosok pria yang disukainya berdiri di ambang pintu rumah sambil tersenyum padanya. Aulia yang melihat tatapan kedua insan yang sedang di mabuk asmara hanya menggelengkan kepalanya dan duluan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


“Hai, Bang,” sapa Ana tersenyum menunduk.


“Hai. Kamu cantik.” Ana hanya tersenyum.


“Abang, bawa masuk dong tamunya,” teriak Rendra menggoda sang anak. Semua orang yang ada di dalam rumah tertawa melihat kejailan ayah pada anaknya.


Keduanya pun berjalan masuk ke dalam. Semua mata tertuju pada Ana. Ana yang merasa menjadi pusat perhatian pun hanya tertunduk malu.


“Ana!” teriak Riana dengan wajah yang cukup kaget. Bukan cuma Riana saja, Ana dan semua orang yang ada di sana pun ikut kaget. Keduanya menjadi pusat perhatian semuanya. Suasana seketika menjadi sangat hening.


Riana berjalan menghampiri Ana dengan senyuman bahagia di wajahnya. Dia langsung memeluk tubuh mungil Ana. Pelukan yang mengartikan betapa sangat beruntungnya dia bisa bertemu Ana saat itu. Ana pun menyambut pelukan Riana dengan senyuman yang hangat di wajahnya. Melihat keduanya saling berpelukan, semua orang merasa heran dan saling menatap satu dengan yang lainnya.


“Ana, kamu apa kabar?” tanya Riana sambil melepaskan pelukannya.


“Baik, Bu. Ibu sendiri bagaimana?”


“Luar biasa sangat baik, Nak. Ibu benar-benar sangat bahagia ternyata orangnya itu adalah kamu, nak.” mendengar perkataan Riana, membuat Ana mengerutkan keningnya tidak mengerti.


“Maksudnya?”


“Oh iya, kita belum kenalan di sini. Kenalin, Ibu adalah Bunda dari Alaric.” wajah Ana sangat kaget. Dia lansung menatap Alaric, dan Alaric yang masih binggung dengan apa yang terjadi hanya melemparkan senyuman padanya.

__ADS_1


“Waah ... kok jadi pada tegang gini sih, ayo mending kita sarapan dulu. Biar ga terlalu siang ke Bandungnya. Jalanan macet kalau hari libur gini. Oia ... Ana, kenalin, om adalah Ayah dari bang Al,” ucap Rendra lalu langsung memperkenalkan diri pada calon mantunya. Ana mencium tangan Rendra untuk memperlihatkan rasa hormat dirinya pada Rendra.


Rendra bisa membaca situasi yang terjadi. Dia ikut bersyukur, wanita yang disukai anaknya adalah wanita yang selama ini selalu diidam-idamkan oleh istrinya. Melihat senyuman bahagia pada wajah istrinya membuat Rendra merasakan kebahagiaan yang luar biasa.


Riana pun menggandeng tangan Ana dan memperkenalkan satu-persatu orang-orang yang ada disana sebelum mengajaknya untuk menikmati sarapan. Alaric hanya terdiam mematung melihat semua orang yang menyambut Ana, sedangkan dia sama sekali tidak ada yang menghiraukan.


Setelah berkenalan dengan semuanya, mereka semua menikmati makanan yang sudah tersedia diatas meja. Tatapan Riana tidak pernah lepas pada gadis cantik yang telah mencuri hatinya. Dia benar-benar sangat bersyukur dengan apa yang terjadi hari ini.


Tuhan, terimakasih kau telah memberikan kebahagiaan lagi dalam hidupku. Entah kenapa melihat wajahnya membuat hati ini selalu tentram dan damai. Tuhan, izinkan dia menjadi bagian dari keluargaku. Menjadi pelengkap kebahagiaan dalam hidupku. Dan Sekali terimakasih, Tuhan, batin Riana tidak henti-hentinya mengucap syukur.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Hai Readers-ku tersayang...


Terimakasih atas apresiasi kalian terhadap novel Author. Sebenarnya Author sempet down karena melihat pembaca yang tiap hari selalu turun. Author sempet punya pikiran untuk tidak melanjutkan cerita ini, tapi melihat kalian Vote yang sangat banyak membuat Author kembali bersemangat untuk terus berkarya.


So, terus dukung Author dengan cara vote sebanyak-banyaknya yaaa...


Alhamdulillah posisi novelnya hampir mendekati 20 besar.


Jangan lupa untuk like dan komen yaa..


Aku padamu semuanya ♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2