Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 83


__ADS_3

S2 Bab 83


Persiapan pernikahan Aulia sudah sangat sempurna. Tinggal menunggu waktu semua impian Krisna dan Aulia menjadi kenyataan. Terutama Aulia, dia sudah tidak sabar untuk menjadi nyonya Krisna. Ingin seperti Ana, Aulia selepas menikah akan berhenti dari kerjaannya dan fokus menjadi ibu rumah tangga. Hal itu pun mendapat persetujuan dari calon suaminya.


Aulia ingin menjadi seorang ibu yang mengurus full anak-anaknya tanpa bantuan asisten. Dia sudah membayangkan semuanya dan dalam bayangannya akan terasa indah kalau dia benar-benar sudah memiliki buah hati.


Seperti biasa, kedua pasang calon pengantin ini sudah memasuki masa pingitan sama halnya yang pernah dialami kakak-kakak Aulia sebelumnya. Rasa rindu yang semakin mencekam membuat Aulia tidak sabar untuk segera melaksanakan pernikahannya. Bukan hanya Aulia saja yang merasakan itu, Tapi Krisna pun juga merasakan hal yang sama.


'Apa cuma aku yang merasakan seperti ini? Ehmm ... kadang sampe sekarang aku enggak bisa baca pikiran dia apa tentang aku,' pikirnya sambil duduk menyender di kasurnya menatap foto yg di ambil dua tahun yang lalu.


Aulia berpikir seperti ini karena Krisna sulit ditebak apa yang dia pikirkan. Entah itu Aulia yang tidak pernah mengerti atau Krisna yang memang orangnya sangat tertutup. Hal ini yang membuat Alia kadang ragu dengan perasan calon suaminya.


'Akankah aku bahagia?' itulah yang selalu dia pikirkan saat memikirkan prilaku cuek Krisna selama berpacaran dengannya.


Sebenarnya Krisna bukan tidak peduli atau cuek, tapi memang dia tipikal orang yang tidak bisa menggambarkan perasaannya. Menurut dia romantis, tapi tidak menurut Aulia. Inilah yang selalu bertentangan saat keduanya bertemu. Tidak pernah sepemikiran, terlebih Aulia yang masih dengan sikap egoisnya selalu emosi sesaat.


Satu hari sebelum hari H, Ana meminta ijin pada suaminya untuk bermalam di rumah calon pengantin. Awalnya Alaric tidak menyetujuinya, karena dia sudah tidak bisa lagi tidur tanpa Ana di sampingnya. Tubuhnya bagaikan candu buat Alaric.


Tentu saja Ana tidak menyerah, dia tetap merengek seperti anak kecil agar mendapat persetujuan dari sang suami. Akhirnya setelah berbagai macam cara, Alaric mengijinkan istrinya untuk tidur di rumah Aulia, tapi dengan syarat harus selalu saling menghubungi. Terlalu lebai sih menurut Ana, tapi dari pada tidak mendapatkan ijin, akhirnya Ana menyetujuinya.


Baru satu langkah Ana masuk ke pekarangan rumah Aulia, ponselnya sudah berdering. Benar saja, baru selesai menurunkan Ana di rumah Aulia, Alaric langsung menelpon dirinya.


Ana : “Halo Sayang. Ada apa sih? Belum lima menit loh, Yank,” ucap Ana sambil menahan emosinya.


Alaric :“Ya ga apa-apa dong. Temenin aku hingga aku sampai di kantor.” Ana menarik napas kasar dan melanjutkan berjalan masuk ke dalam rumah.


“Anaaaaaaaaa ....” teriak Aulia kegirangan dan langsung memeluk tubuh sahabatnya.


“... lo lagi telepon siapa?” tanya Aulia heran melihat ponselnya menempel terus di telinganya.

__ADS_1


“Orang nyebelin,” jawab Ana dan langsung merebahkan tubuhnya saat mereka sampai di kamar Aulia.


Aulia tidak habis pikir dengan sikap sepupunya itu. Dia tidak menyangka kalau sebenarnya Alaric seposesif itu. Tapi dia juga merasa sangat iri. Ingin rasanya Krisna yang seperti itu mungkin dia akan merasa sangat senang.


“Muka lo kenapa sepet amat sih? Besok mau nikah, tapi ni muka cemberut aja,” ucap Ana menghampiri Aulia yang sedang duduk di sofa kamarnya, usai menutup telepon dari sang suami.


Aulia menarik napas kasar dan langsung menyenderkan kepalanya di bahu Ana saat dia duduk disampingnya.


“An, gue kenapa jadi ragu gini ya?” Ana mengerutkan keningnya tidak mengerti, “Maksud lo apa?” tanyanya sambil merubah posisinya menghadap Aulia dan melihat wajahnya. Aulia masih tertunduk Terlihat wajahnya sedih dan Ana langsung menggenggam kedua tangannya.


“... lo kenapa sih? Apa ada masalah?” tanya Ana sambil mengangkat wajah Aulia agar menatap dirinya.


“Gue ragu ....” lirih Aulia.


“Iya ragu kenapa? Jangan bilang lo ragu sama pernikahan lo?! Aulia jangan main-main ya! Pernikahan lo besok dan lo baru ngomong ragu sekarang? Mau dikemanakan wajah kedua orang tua lo? Terlebih nanti hubungan keluarga akan semakin rengang. Kenapa lo baru ngomong sekarang? Percuma nanti lo nikah kalau lo ga bahagia. Pernikahan itu prosesi yang sakral dan seumur hidup. Bukan sebuah permainan yang kalau sudah bosan ya ditinggalkan dan ....” Ana terus bicara tanpa jeda dan membuat Aulia semakin pusing. Dia langsung menutup mulut Ana dengan tangannya agar sahabatnya itu tidak melanjutkan ucapannya.


“Bukan itu maksud gue Ana.”


“Maksud gue, gue ragu ga bakal bahagia.”


“Loh ... lo kok ngomongnya gitu sih? Kenapa bisa lo berpikiran seperti itu? Lo pacaran sama Krisna sudah tiga tahun dan selama itu lo terlihat bahagia dan baik-baik saja. Terus kenapa lo berpikir seperti itu sekarang? Apa bahagia lo selama ini hanya kepalsuan?”


“Bisa enggak sih lo enggak usah bawel? Gue 'kan belum beres ngomong,” kesal Aulia dan membuat Ana tersenyum dan diam.


“Ya udah gue dengerin deh, lo ragu kenapa?”


Aulia menceritakan keraguan dia tentang sikap cuek Krisna. Dia takut setelah menikah, rumah tangganya berjalan membosankan. Karena selama dia pacaran dengan Krisna, Aulialah yang selalu memulai segalanya. Mulai dari pembicaraan yang santai sampai pembicaraan yang serius. Dan setelah dipikir-pikir dia lelah kalau harus terus seperti itu.


Aulia juga menceritakan kalau dirinya sempat iri dengan hubungan Ana dan Alaric. Dia juga ingin diperhatikan, ingin dimanja tanpa harus diminta. Selama ini Aulia selalu saja meminta pada Krisna kalau dirinya ingin diperlakukan seperti orang-orang. Dimanja, disayang, diperhatikan lebih. Setelah Aulia bicara seperti itu sikap Krisna akan sangat manis, tapi sayangnya itu tidak bertahan lama.

__ADS_1


Mendengar kisah Aulia, Ana tertawa dan membuatnya merasa heran. ”Lo kok ketawa sih? Emang yang gue katakan lucu?” kesalnya.


“Aulia sayang, semua orang mempunya sifat yang berbeda-beda. Kita tidak bisa memaksakan orang berubah kalau pada dasarnya dia sudah seperti itu. Tipikal orang seperti Bang Kris itu dia tidak bisa mengungkapkan apa yang dia rasa. Kamu lihat 'kan gimana dia menyiapkan lamaran buat kamu? Dia cemas, dia uring-uringan sama Bang Al meminta saran bagaimana menciptakan suasana yang romantis. Dia itu care sama lo, cuma lo nya saja yang selalu tidak pernah menganggap usaha dia. Coba deh ingat-ingat lagi apa yang dia usahain buat lo bahagia selama ini. Dan lo inget, punya cowok yang seperti lo mau itu menyebalkan dan terkadang merasa terkekang.” seketika ponsel Ana kembali berbunyi.


“Gue contohnya,” ucap Ana ambil memperlihatkan layar ponselnya. Ana pamit pada Aulia untuk mengangkat telepon dari sang suami.


'Benar kata Ana. Aku terlalu memikirkan ingin seperti orang lain tanpa melihat apa yang sudah dilakukan Krisna selama ini. Maafin aku, Sayang!' gumamnya dan merasa menyesal sudah meragukan calon suaminya.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Jangam lupa


👍Like


💬Komen


🌺 Vote sebanyak-banyaknya


Maaf dua hari kemarin ga UP. Author sibuk di dunia nyata mencari wangsit hahahaha... sebagai gantinya Author bakal UP lebih hari ini.

__ADS_1


Aku Padamu ❤️❤️❤️


__ADS_2