Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 8


__ADS_3

Salsa membuka pintu rumah dan,


“Fauzi!!” ucap Salsa kaget. Fauzi tersenyum lebar menatap Salsa.


“Ngapain ke sini?” tanya Salsa dengan nada sedikit jutek.


“Jemput kamulah, apa lagi?” Salsa heran mengerutkan keningnya.


“... kenapa cantik? Jidatnya ga usah kerut gini, cepet tua loh,” tanya Fauzi sambil memegang keningnya agar tidak kerut.


“Salsa, kok lama siapa, Nak?” tanya Desi menghampiri anaknya. Desi kaget saat melihat Fauzi yang berdiri di depan pintu. Dia pun menyuruh sahabat dari anaknya itu masuk dan bergabung di meja makan.


Keluarga Salsa memang sudah mengenal Fauzi sangat dekat. Pada saat kuliah dulu, Fauzi sering sekali main ke rumah ibunda Salsa saat dirinya sedang menginap di sana. Entah kenapa dia lebih nyaman berkunjung di kediaman orang tua Salsa dibanding keluarga Wicaksono.


“Ehem ... tumben kalian diam aja? Biasanya juga debat terus,” sindir Eki pada Salsa dan Fauzi. Salsa hanya diam sambil melirik sinis ke arah Fauzi, karena dia tidak suka kalau Fauzi datang menjemputnya hari ini.


“Ga tau nih, Yah. Kayanya Salsa lagi puasa ngomong,” jawab Fauzi. Dia memanggil sebutan ayah pada Didit kalau mereka sedang tidak ada di kantor, karena kalau di kantor Didit adalah atasan keduanya.


Cih ... pinter banget sih cari perhatian orang, kesal Salsa.


Selesai menyantap makanan, Salsa langsung pamit pada kedua orang tuanya dan berjalan keluar meninggalkan Fauzi yang belum beres menyantap sarapannya.


“Bu, Yah, aku berangkat dulu ya, tuan putri kayanya ngambek,” ucap Fauzi pamit tidak menyelesaikan makanannya. Semua yang ada di sana hanya menggelengkan kepalanya, karena ini sering sekali terjadi.


Dengan langkah cepat Fauzi melangkahkan kakinya, dan menghampiri Salsa yang sudah berdiri di depan mobilnya. Fauzi tersenyum dan membuka pintu mobil untuk dirinya, dan setelah itu dia masuk ke dalam mobil. Selama perjalanan Salsa hanya diam, memalingkan wajahnya sambil memandang ke luar jendela. Sesekali Fauzi melirik gadis pujaan hatinya, berharap Salsa tidak memalingkan wajahnya.


“Sa ....”


“Emmm ....”


“Kok liat ke sana mulu sih? Liat sini dong! Kamu masih marah?” bujuk Fauzi tapi Salsa hanya diam tidak menghiraukannya. Melihat Salsa yang terus-menerus tidak mempedulikan dirinya, Fauzi membanting setirnya dan parkir di depan taman tidak jauh dari rumah Salsa.


“Kenapa berhenti?” tanya Salsa yang kini melirik ke arahnya. Fauzi mengubah duduknya dan menghadap ke arah Salsa, membuat Salsa menjadi sedikit salah tingkah.


“... kenapa liatin gue kaya gitu?” ucapnya sedikit emosi.


“Mau sampai kapan?” tanya Fauzi yang membuat Salsa mengerutkan keningnya tidak mengerti.


“Maksudnya?”


“Sampai kapan kamu mau menyembunyikan perasaan kamu? Atau mungkin kamu ga ada sedikitpun perasaan buat aku?” Salsa hanya diam menunduk sambil memainkan jari jemarinya.

__ADS_1


“... oke aku mengerti. Jangan salahkan aku kalau aku melupakan cintaku padamu dan mencari yang lain,” ucap Fauzi sedikit menggertak Salsa. Saat hendak menyalakan mobil kembali, Salsa memegang lengannya dan membuat Fauzi tidak memajukan mobilnya.


“Jangan!!!”


“Apa yang jangan?” Fauzi sengaja sejak tadi bersikap serius, karena dia ingin kalau Salsa bisa terbuka padanya.


“Pokoknya jangan aja,” jawabnya pelan.


“Aku ga ngerti, ya udah percuma ngomong kaya gini terus, kita jalan sekarang ya!” Fauzi melepaskan pegangan Salsa pada lengannya. Tapi, Salsa malah menggenggam tangannya sambil tertunduk. Fauzi berusaha menahan senyumannya, ingin rasanya dia meluapkan kebahagiaan dirinya saat ini.


“Jangan pernah memberikan hati kamu pada siapapun. Karena hati itu milik aku,” ucap Salsa pelan dan masih tertunduk malu. Kali ini Fauzi tidak bisa menahan lagi senyuman kebahagiaan dirinya. Dia mengangkat wajah Salsa dan keduanya saling memandang. Fauzi membalas genggaman tangan Salsa dan mencium tangannya.


“Sampai kapan pun aku ga akan bisa sayang. Hati aku sejak dulu sudah dicuri olehmu. Bagaimana bisa aku memberikan hatiku yang sudah dicuri?” Salsa tersenyum malu. Saat hendak menarik tangannya, Fauzi menahannya dan kembali menciumnya.


“Jadi sekarang ....?” tanya Fauzi untuk memastikan perasaannya.


“Sekarang apa?”


“Kamu pacar aku, calon istri dan ibu dari anak-anakku kelak,” ucap Fauzi yang seketika membuat Salsa kaget dan menarik tangannya.


“Dih ... yang bilang mau menikah siapa?”


“Oh ... jadi kamu maunya kita kaya anak-anak bocah yang hanya cinta-cintaan monyet, gitu? Atau kita sama sekali ga ada hubungan? Kalau gitu mending aku nyari wanita yang benar-benar siap mau jadi ibu dari anak-anakku,” ucap Fauzi memalingkan wajahnya ke arah depan.


“Terus? Aku harus gimana?” tanya Fauzi. Sebenarnya dia tahu apa yang ada di hati Salsa, tapi dia sengaja melakukan akting seolah-olah tidak mengetahuinya.


“Ya ... kamu harus tetap ada di sisi aku sampai kapan pun itu. Ga boleh ada satu pun wanita yang mengantikan posisi aku.” Fauzi tersenyum dan menarik tangannya masuk kedalam pelukan Fauzi.


“Aku menunggu saat-saat seperti ini sejak lama, sayang. Kamu tenang aja, hati ini selalu untuk kamu dan tidak ada yang bisa mengisinya lagi.” ucapnya. Fauzi melepaskan pelukannya, menatap wajah cantik Salsa sambil membelai rambutnya. Keduanya saling melempar senyumannya.


“Kita jalan sekarang ya, sayang,” ucap Fauzi. Mendengar penggilan itu, membuat hati Salsa berdebar. Dia sangat senang walaupun masih ada sedikit ketakutan untuk menjalani hubungan ini.


“Zi ....”


“Ada apa, sayang?”


“Emmm ... hubungan kita, boleh ga kita rahasiakan dulu sama semua orang?” Fauzi mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan permintaan kekasihnya.


“Kenapa? Kamu malu punya pacar seperti aku?”


“Bukan begitu, cuma aku ga mau jadi pusat perhatian. Aku belum siap aja.” Fauzi tersenyum dan kembali membelai rambutnya.

__ADS_1


“Tenang aja sayang, apapun yang kamu inginkan akan aku lakukan. Asal itu bukan keinginan untuk berpisah dengan aku. Pokoknya mulai sekarang kamu adalah milikku, selamanya.” Salsa tersenyum mengangguk. Fauzi pun langsung melajukan kembali mobilnya menuju ke kantor.


Sesuai dengan permintaan Salsa padanya. Sampai di kantor keduanya langsung saling berpisah dan berjalan menuju mereka ruangan divisi masing-masing.


**♥️♥️**


Alaric sudah berada di meja makan dengan rapih dan wangi. Arez dan kedua orang tuanya saling memandang satu sama lain, karena melihat keanehan dari pria gunung es ini. Bagaimana tidak merasa Aneh? Alaric tidak pernah bangun sendiri dan seceria ini sebelumnya.


“Bang, kamu baik-baik aja 'kan?” tanya Rendra pada anak sulungnya.


“Luar biasa baik, Yah. Emang kenapa nanyain abang kaya gitu?”


“Syukurlah. Ayah merasa aneh aja sama kamu akhir-akhir ini.”


“Bang, bawa wanita itu ke rumah ya. Bunda mau kenalan sama calon mantu bunda,” ucap Riana yang membuat Alaric tersedak makanannya sendiri.


Uhuk ... Uhuk ....


“Pelan-pelan dong, Bang makannya!” ucap Riana sambil memberikan segelas air putih untuk anaknya. Alaric langsung meminum segelas penuh air hanya dalam beberapa tegukan saja.


“Ih ... Bunda apaan sih, orang abang belom punya kekasih,” ucapnya setelah meminum air minumnya.


“Pokoknya bunda sama ayah tunggu!” ucap Riana.


“Bunda ngaco nih ahh. Ya udah Bun, Yah, Rez, abang berangkat duluan ya,” pamitnya dan setelah mencium tangan kedua orang tuanya.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Maaf baru bisa up. Author banyak kerjaan RL yang harus segara selesaikan. Tapi Author berusaha up untuk kalian. dimohon dimengerti ya!


Jangan lupa like, komen dan Vote sebanyak-banyaknya ya

__ADS_1


aku padamu semuanya ♥️♥️♥️♥️


__ADS_2