Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 19


__ADS_3

Mendapat perintah dari sang ibunda membuat Alaric merasa sangat senang. Mungkin ini kesempatan dia untuk mengutarakan isi hatinya. Selama perjalanan keduanya hanya diam. Ana sangat asik menikmati udara segar dari perkebunan teh..


“Seneng banget keliatannya.” Ana tersenyum mengangguk dan kembali melihat ke arah jendela. Alaric pun memarkirkan mobilnya disisi dekat perkebunan teh.


“Loh, kok berhenti, Bang?”


“Kita masuk ke kebun teh yuk!” Ana tersenyum mengangguk, mereka pun turun dari mobil. Hari sudah siang, tapi suasana masih terasa sangat sejuk. Matahari yang masih malu-malu untuk menampakkan dirinya membuat cuaca sangat mendukung untuk berjalan di tengah kebun teh.


“Aku udah lama banget ga main ke kebun teh,” ucap Ana sambil berjalan menyusuri jalan setapak yang berada di tengah-tengah pohon teh.


“Kamu emang dulu suka ke sini?” Ana lupa kalau Alaric tidak mengetahui tentang keluarga angkatnya. Karena memang dulu setiap liburan sekolah, ayah angkatnya selalu membawanya liburan ke Puncak atau ke Bandung, untuk sekedar membuang rasa penat.


“Ah ... dulu bu Sarah sering mengajak anak-anak panti ke Puncak. Kita semua selalu menantikan liburan sekolah tiba, karena pasti bu Sarah akan membawa kita menikmati udara di perkebunan teh di bogor,” Jelasnya berbohong.


Keduanya kini berada di tengah-tengah perkebunan. Alaric lansung mengambil ponselnya, dan memotret Ana diam-diam, pada saat gadis cantik itu nampak tersenyum menikmati udara segar.


“Ana, kamu dingin ga? Kalau iya mending kita masuk ke mobil aja.“ Ana menggelengkan kepalanya.


“Ga kok, Bang. Ana suka.”


“Oh ... abang juga suka kamu,” ucap Alaric tiba-tiba, terus menatap Ana sambil tersenyum. Ana yang mendengar perkataan Alaric lansung menolehkan kebelakang dengan wajah yang sangat kaget.


“Mak-sudnya?” tanyanya dengan terbata.


Alaric melangkahkan kakinya, sampai dirinya berdiri di hadapan Ana dengan jarak yang sangat dekat. Jantung Ana saat itu benar-benar berdetak dengan kencang. Ana menundukkan kepalanya karena merasa malu wajahnya yang sudah memerah.


Alaric tersenyum, dia menggenggam tangan Ana, dan mengangkat wajahnya agar menatap dirinya.


“Ana, entah sejak kapan perasaan ini muncul, yang jelas saat ini aku sangat menyukai dirimu. Ingin selalu berada di samping dirimu. Ana, maukah kamu menjadi kekasih aku? Bukan hanya sekedar hubungan pacaran biasa, tapi aku ingin benar-benar serius sama kamu,” ucap Alaric dengan wajah yang sangat serius. Terlihat jelas buliran keringat yang ada di keningnya menandakan dirinya yang terlihat gugup saat mengatakan perasaannya.


“Bang, abang serius?” tanyanya dengan terbata.


”Kamu ga lihat kalau abang sekarang serius.”


”Aku hanya anak yatim-piatu, dan juga aku bukan orang yang berada seperti keluarga Abang. Aku ga tahu aku harus menjawab apa.” mendengar perkataan dari Ana membuat Alaric sedikit emosi. Dia melepaskan genggaman tangannya dan menatap Ana dengan tatapan yang penuh kemarahan.

__ADS_1


“Ke ... kenapa, Bang? Apa aku salah?” tanya Ana yang mulai takut dengan tatapan Alaric.


“Aku ga suka kamu bicara dan berpikiran seperti itu. Aku ga peduli status kamu apa, dan juga keluargaku tidak pernah menilai seseorang dari tingkat sosialnya. Aku mencintai kamu tulus tanpa memandang kamu siapa dan dari mana. Di mataku kamu gadis baik juga cantik, dan itu sudah cukup buatku,” jelas Alaric membuat Ana meneteskan air matanya.


Melihat tetesan air mata Ana, dengan sigap Alaric memeluk tubuh Ana. Dia menepuk pundak Ana menenangkan dirinya.


“Makasih ya, Bang. Tapi maaf ....” Mendengar itu Alaric langsung melepaskan pelukannya.


“Maksud kamu?”


“Maaf, Bang! Aku merasa tidak pantas untuk menjadi kekasih kamu. Aku ....” Alaric mengangkat wajahnya agar menatap dirinya.


“Bagaimana perasaan kamu?” belum selesai Ana mengemukakan perasaannya, Alaric langsung melemparkan pertanyaan yang membuat Ana kembali binggung.


“A ... aku, aku juga menyukai abang. Aku sayang sama Abang, tapi ....” dengan senyumnya yang bahagia, Alaric menarik tubuh Ana masuk ke dalam pelukannya.


“Aku tidak mau mendengar kata tapi. Ucapan kamu sudah mewakili jawaban kamu atas pertanyaan aku. Pokoknya, kamu di mata aku adalah wanita yang sangat sempurna. Jangan pernah berpikir kamu tidak pantas untuk aku. Oke!” Alaric melepaskan pelukannya dan menatap wajah Ana. Dia hanya melemparkan senyuman manisnya.


“Kita foto yuk! Pemandangannya bagus banget,” ajak Alaric, dan Ana kembali mengangguk.


Keduanya pun mengabadikan beberapa foto untuk menjadi kenangan dan cerita kelak, kalau mereka mengikat tali kasih di tengah-tengah perkebunan teh. Setelah mengambil beberapa gambar, keduanya pun kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan mereka membeli pesanan Riana.


Semua orang sedang sibuk berkumpul sesuai dengan umur dan gender masing-masing. Para istri dan Salsa menyiapkan aneka perbekalan makanan yang mereka bawa untuk konsumsi mereka tiga hari ke depan, para suami dan Fauzi sibuk bermain kartu domino sedangkan para anak-anak sibuk dengan pasangan mereka masing-masing, kecuali Arez yang asik dengan dunia game-nya.


Di depan villa, terdapat taman dan tempat permainan anak. Melihat Aulia sedang bermain ayunan sambil memegang ponselnya, membuat Krisna menghampiri dirinya.


“Woy ....” tegur Krisna membuat Aulia sedikit kaget.


“Abang!! Kaget tau,” kesalnya.


“Serius amat sih, lagi apa?”


“Chat,” jawabnya singkat. Mendengar itu seketika hati Krisna merasa panas.


“Sama siapa?!” tanyanya dengan suara yang tegas.

__ADS_1


“Reza,” jawabnya yang masih asik menatap ponselnya. Mendengar nama itu, kini Krisna benar-benar sudah tidak bisa menahan emosinya. Dengan sigap dia mengambil ponsel Ana dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya.


“Ih ... abang rese!! Balikin ponsel gue.” Saat tangannya hendak meraih ponselnya, Krisna menggenggam tangannya dan menatap Aulia dengan penuh amarah.


“Sepenting itukah dia untuk kamu?” Kini Aulia semakin sadar kalau Krisna saat ini sedang cemburu padanya. Dengan saling menatap, Aulia perlahan menggelengkan kepalanya.


“Bagus!! Ponsel kamu abang sita. Awas aja chat lagi sama dia.” ucap Krisna dan berjalan meninggalkan Aulia yang masih berdiri mematung di taman bermain.


Selesai membantu merapihkan aneka bahan-bahan makanan, Salsa menghampiri kekasihnya yang sedang asik bermain kartu dengan ketiga lelaki yang sangat disayanginya. Salsa duduk di sebelah kekasihnya sambil menyodorkan teh manis hangat untuknya.


“Cuma Fauzi aja yang dibuatin teh nih? Jadi sekarang ayah terlupakan?” sindir Rendra pada anak sulungnya.


“Cih ... ayah mulai deeh. Tuh, bunda udah siapin kok buat ayah,” ucap Salsa sambil merangkul lengan Fauzi.


“Emmm ... gini nih, punya anak perawan satu-satunya tapi sudah mulai melupakan ayahnya, dan sakitnya tuh di sini.” Rendra sambil menyentuh dadanya, membuat semua orang tertawa melihat kelakuannya.


“Bunda, ayah mulai nih,” ucap Salsa pada Riana.


“Kalian itu udah gede, kelewat gede malah, masih aja kaya anak kecil,” ucap Riana sambil menyodorkan teh manis pada suaminya. Disusul para istri yg lain yang juga menyerahkan teh manis hangat pada masing-masing suami mereka. Suasana tawa pecah, melihat kelakuan ayah dan anak yang masih saja belom berhenti untuk saling berdebat.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Guys, Vote, Vote, Vote yaaa...


posisi novel ini terus naik dan mudah-mudahan akan terus naik dengan vote dari kalian semua.

__ADS_1


Jangan lupa Like dan Vote yaaaaaaa.....


I love you All ♥️♥️♥️


__ADS_2