Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 87


__ADS_3

S2 Bab 87


Sampai di rumah sakit, Ana tampak binggung.


“Sayang, siapa yang sakit?” tanyanya heran. Alaric hanya tersenyum dan menggenggam tangan Ana masuk ke dalam rumah sakit.


Saat berhenti di tempat pendaftaran, barulah Ana sadar kalau mereka akan bertemu dengan dokter kandungan. Dia langsung tersenyum dan terlihat tampak bahagia di depan Alaric. Tapi tidak dengan hatinya, Ana takut apabila nanti diperiksa dia tidak bisa memiliki seorang anak.


Setelah mendapatkan nomor antrian, keduanya duduk di depan ruangan. Alaric pun melihat wajah cemas istrinya.


“Kamu kenapa? Apa kamu tidak bahagia? Aku kira kamu sangat ingin mempunyai seorang anak, makanya aku mencarikan dokter kandungan terbaik di jakarta. Kalau kamu merasa sedih, kita batalkan saja semuanya.” Ana menahan tangan Alaric saat dia hendak akan berdiri.


”Aku senang, Sayang. Cuma aku sedikit khawatir saja. Aku takut kalau aku tidak bisa mempunyai seorang anak.”


“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Apapun akan aku lakukan demi kamu agar kamu bahagia.” mendengar itu membuat kecemasan Ana menghilang. Dia memeluk tubuh Alaric, “Makasih ya, Sayang. Aku sangat mencintaimu.”


“Apalagi aku. Aku benar-benar mencintaimu.” ucapnya sambil mengecup kening istrinya.


Beberapa orang yang berada di sana berbisik sambil tersenyum melihat kemesraan pengantin baru itu. Tidak lama akhirnya keduanya masuk ke dalam ruangan. Jantung Ana berdetak dengan kencang. Dia berjalan sambil memegangi tangan Alaric dengan erat.


“Selamat malam, Pak, Bu. Silakan duduk!” titah dokter cantik itu. Keduanya tersenyum dan langsung duduk di kursi yang sudah disediakan.


Setelah melakukan konsultasi, kini giliran Ana yang diperiksa. Dia pun naik ke atas kasur dan merebahkan tubuhnya. Dokter yang dibantu oleh asistennya mulai mengunakan alat USG untuk mengetahui kondisi dari janin Ana.


“Rahim Ibu Ana tampak terlihat sangat baik dan subur,” ucap dokter dan kembali ke bangkunya. Ana dibantu oleh asisten dan suaminya turun dari tempat tidur.


“... sebenarnya usia pernikahan kalian masih wajar kalau belum memiliki momongan. Tapi, kalau Ibu sama Bapak ingin segera memiliki anak, saya akan membuatkan resep penyubur untuk Ibu Ana.”


“Berarti saya bisa mempunyai anak, Dok?” tanya Ana sumringah.


“Tentu saja, Bu. Rahim Ibu sehat dan tampak subur. Mungkin ini belum rezeki saja, Bu. Tinggal menunggu waktu Tuhan memberikan keturunan buat kalian.” Hati Ana kini merasa sangat tenang. Dia tidak merasa sedih lagi, karena sudah mengetahui rahimnya yang sehat. Kini tinggal menunggu hasil dari suaminya. Dan semoga hasilnya pun sama seperti dirinya.


Setelah mengambil sempel dari Alaric, mereka pun pamit. Alaric tinggal menunggu hasilnya besok.


“Sayang, semoga kamu juga baik-baik saja sepertiku ya,” ucap Ana tersenyum sambil terus menerus mengucap perut ratanya. Alaric yang melihat istrinya tersenyum ikut bahagia.


Kejutan untuk istrinya tidak sampai di sini saja. Alaric masih mempunyai kejutan yang lainnya untuk Ana. Wajah Ana tampak kebingungan saat melihat mobil yang dikemudikan Alaric berlawanan arah dengam kediaman mereka.

__ADS_1


“Yank, ini mau kemana?” Apa kita akan makan malam di luar?”


“Nanti juga kamu tahu, Sayang,” ucap Alaric sambil mengusap kepala Ana.


Alaric membelokkan mobilnya masuk ke kawasan komplek yang elit. Ana semakin heran pada Alaric. 'Dia akan bertemu dengan siapa di sini?' gumamnya.


Mobil itu pun berhenti di depan rumah yang terlihat sangt elegan dan mewah. Alaric membunyikan klakson mobilnya dan kemudian pagar pun terbuka secar otomatis. Seorang satpam menyambut keduanya sambil memasang tubuh hormat pada Alaric. Melihat itu Ana semakin tidak mengerti.


Saat mobil berhenti, Ana langsung menatap tajam ke Alaric untuk meminta penjelasan. Alaric tersenyum dan mencium keningnya sambil membuka sabuk pengamannya. Lalu dia turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Ana.


“Bang, ini rumah siapa?” tanya Ana serius. Tidak menjawab apa yang dikatakan Ana, Alaric langsung menarik tangannya dan melangkah masuk ke dalam rumah.


Seketika langkah Ana terhenti dan membuat Alaric juga ikut menghentikan langkahnya.


“Kenapa, Yank?” tanya Alaric.


“Jawab dulu! Ini rumah siapa?” tanya Ana kesal. Alaric pun membalikkan badannya dan langsung memeluk tubuh mungil istrinya.


“Kita masuk dulu yuk, Sayang!” Alaric kembali menarik tangan Ana. Dia pun pasrah dan mengikuti langkah suaminya.


Sampai di dalam rumah, Ana bwgitu terpana melihat isi dari rumah itu. Semua tertata rapih dam hampir semuanya adalah sesuai dengan keinginannya. Ana melihat sekeliling rumah, tapi tidak ada satu pun penghuni di dalamnya.


“Kenapa harus minta ijin? Orang tua rumahnya 'kan kamu, Yank.” mendengar itu Ana langsung fokus melihat Alaric.


“Maksud kamu rumah ini ....?” Alaric tersenyum mengangguk.


“Yank ... apa tidak terlalu besar? Aku sebenarnya menginginkan rumah yang sederhananya, ini terlalu mewah, Sayang.” mendengar apa yang dikatakan istrinya membuat Alaric tertunduk dan duduk di sofa ruang tamu. Wajahnya tampak sedih dan berhasil membuat Ana merasa bersalah atas omongannya. Dia pun menghampiri Alaric dan duduk di samping suaminya.


Ana merangkul pinggang Alaric dan menggoda suaminya. “Sayang ... Yank ... jangan cemberut dong! Maafin aku, Yank!” Alaric masih tertunduk dengan wajah masamnya.


“... Sayang, aku sangat menyukainya. Udah dong jangan ngambekan gitu ah! Beneran, aku sangat menyukainya.” Alaric mengangkat wajahnya dan menatap Ana dengan memasang wajah memelas.


“... kapan kamu membelinya?” lanjut Ana.


“Satu bulan yang lalu. Kamu ingat enggak aku sering menanyakam rumah impian kamu seperti apa? Terus aku juga suka nanya kamu mau interior rumah kaya gimana, nah ... pada saat itu aku sudah membelinya.” Ana memikirkan apa yang diucapkan suaminya. Dia tidak sadar kalau suaminya dulu pernah menanyakan itu padanya.


“... sudahlah lupakan! Aku yakin kamu enggak akan ingat. Tapi, gimana? Suka?” kembali Alaric menanyakan pada Ana dan jawabannya tersenyum mengangguk.

__ADS_1


Keduanya pun melanjutkan berkeliling rumah untuk melihat-lihat sekeliling rumah. Benar saja, semua yang diinginkan oleh Ana tercapai. Tapi Ana tidak bisa mengingat semua yang ditanyakan Alaric tentang keinginan dia memiliki rumah.


“Karena sebentar lagi Arez akan pulang ke Indonesia, makanya aku mempersiapkan ini untuk kamu. Rumah ini pun sudah dilihat oleh Bunda, dan Bunda juga menyukainya.”


“Kok Bunda udah tahu, aku baru tahu sekarang?”


“Bukan kejutan namanya kalau aku kasih tahu dari dulu.”


“Oh ... iya. Sayang, aku berharap pada saat kita pindah ke sini, aku sudah mengandung buah hati kita ya.” Alaric tersenyum. Dia menghampiri Ana dan memeluknya dari belakang.


“Sayang, mau nyoba bikin di kamar baru kita enggak? Siapa tahu anak kita pengennya di bikin di rumah ini,” bisik Alaric menggoda Ana. Ana langsung melepaskan pelukan Alaric dan dengan cepat berjalan keluar.


“... Yank ... Sayang! Kok malah ditinggal sih! Mau enggak nih?” teriak Alaric.


“Ogah!!” jawab Ana membuat Alaric terkekeh geli.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Jangan lupa


👍Like


💬Komen


🌺Vote


Buat kalian yang belum follor IG Author, yuk Follow! Di sana kalian bisa tahu novel Author yang ter-update.

__ADS_1


HAPPY READING GUYS ❤️❤️❤️


__ADS_2