
Pernikahan Desi dan Didit berjalan dengan lancar. Setelah acara, keduanya bersiap untuk pergi ke bandara, karena keduanya merencanakan bulan madu mereka ke Lombok. Sebelum berangkat, terlebih dahulu mereka pamit pada keluarga Wicaksono dan berterimakasih kepada mereka, karena mereka telah membantu keduanya untuk melangsungkan acara pernikahan.
“Dit, titip kakak ipar gue, jangan sampe dia kenapa-kenapa,” ucap Rendra sambil menepuk bahunya.
“Serahin sama gue, kalau bisa gue masukin ke dalam koper biar ga lecet,” canda Didit mengundang tawa semuanya. Sedangkan Desi sendiri hanya tertunduk malu, karena perkataan suaminya.
Sebelum berangkat, terlebih dahulu Desi menghampiri anaknya, memeluk dan menciumnya. Salsa yang masih belum mengerti menerima pelukan dari mama kandungnya dengan sangat bahagia.
Jujur, semenjak dekat dengan Salsa hati Desi selalu bahagia dan ingin selalu bersamanya. Setelah pamit pada semuanya, sepasang pengantin baru itu pergi menggunakan mobil mereka menuju bandara. Semua keluarga mengantarkan keduanya sampai depan pintu. Mereka melambaikan tangan ketika mobil Didit melaju.
“Kenapa sedih?” tanya Didit pada istrinya, karena wajahnya terlihat sangat muram.
“Entah Dit, aku sekarang tidak bisa jauh dari Salsa. Dan ingin rasanya aku bilang padanya kalau aku adalah ibunya.” Didit membelai rambut istrinya.
“Sabar ya sayang. Pasti ada waktunya Salsa harus tahu kalau sebenarnya kamu adalah ibu kandungnya. Sekarang dia masih terlalu kecil untuk menerima kenyataan.” Desi tertunduk mengangguk.
Tidak terasa akhirnya keduanya sampai ke bandara. Didit mengurus bagasi dan tiket, sedangkan Desi duduk di ruang tunggu menunggu suaminya. Butuh sedikit waktu lama, karena pengecekan barang dan segalanya. Setelah semuanya beres, Didit menghampiri istrinya dan mengajaknya untuk segera menuju pesawat mereka, karena pesawat akan lepas landas lima belas menit lagi.
Ini pertama kalinya Desi memakai pesawat terbang, terlebih mereka berada dikelas bisnis. Ada rasa takut di hati Desi, tapi Didit menenangkannya memegang tangannya. Dia tau kalau Desi sejak dulu takut akan ketinggian.
“Jangan takut! ada aku disini sama kamu, sayang.” Desi tersenyum mengangguk.
Butuh kurang lebih dua jam perjalanan untuk sampai ke pulau Lombok. Keduanya kini sudah menginjakan kaki di sana. Setelah mengurus bagasi, mereka langsung menuju ke hotel tempat keduanya akan menginap. Saat sampai di hotel, Desi terlihat kagum saat membuka pintu kamarnya. Ada taburan kelopak mawar merah dan dua angsa yang sedang berciuman di tengah kasur. Benar-benar sangat terasa romansa bulan madu.
“Sayang, kamu suka?” tanya Didit sambil memeluk tubuhnya dari belakang.
Hati Desi seketika berdebar, saat merasakan hembusan angin dari mulut Didit ke telinganya. Didit mulai mencium leher jenjangnya dan itu berhasil membuat Desi merinding. Seketika dia melepaskan pelukan suaminya dan berlari masuk ke dalam kamar mandi sambil menarik kopernya masuk ke dalam. Benar ini bukan yang pertama buatnya, tapi entah kenapa Desi pertama kali merasakan hatinya yang berdebar tidak karuan seperti yang dialaminya saat ini.
Desi menyenderkan tubuhnya di belakang pintu kamar mandi sambil memegangi dadanya. Jantungnya berdetak sangat kencang sekali. Bagi dia ini menjadi pertama kalinya, untuk Desi melakukannya bersama orang yang sangat dicintainya. Disisi lain Didit tertawa gemas melihat kelakuan istrinya. Dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Tok ... tok ... tok, “Sayang, buka!” tidak ada suara dari dalam kamar mandi dan itu membuat Didit semakin penasaran.
“Aku dobrak, atau dibuka sama kamu?”
“Tunggu lima belas menit yank, aku mau siap-siap dulu,” ucap Desi dari balik pintu. Didit yang mendengarnya tersenyum nakal.
“Oke, i waiting you, beib.”
Sambil menunggu istrinya, Didit duduk santai sambil menyenderkan tubuhnya di kasur. Didit mengabari keluarga besarnya kalau mereka sudah tiba di Lombok dengan selamat. Hari sudah malam, dan Didit merasakan tubuhnya yang sudah meronta untuk meminta direbahkan di atas kasur. Lima belas menit sudah berlalu, tapi Desi tak kunjung keluar dari kamar mandi. Didit mencoba untuk menyusulnya tapi langkahnya tiba-tiba berhenti, saat melihat Desi yang sudah berdiri depan pintu.
Desi berdiri sambil tertunduk malu. Dia mengenakan mini dress berwarna putih. Desi terlihat sexy dan cantik dan membuat Didit yang melihatnya semakin menganga. Dia menghampiri istrinya dan mencium keningnya. Didit menarik tangan istrinya ke sofa dan menyuruhnya untuk duduk disana. Dia pun berlutut di depannya sambil menggenggam tangannya, membuat Desi heran melihat apa yang di lakukan Didit.
Kau hadir..
Saat kuberkubang dalam rindu yang menikam
Saat kuterpuruk dalam lumpur kesendirian..
Saat hati dihunjam lelah karena pencarian..
Saat semua pintu tertutup..
__ADS_1
Kau hadir
Penawar dahaga dalam hati yang gersang
Percik dian dalam pekat gulita
Sayap-sayap malaikatmu menerbangkan ke puncak surgawi
Oase di tengah Sahara
Ku melambung
Mengarungi bahtera bersamamu
Dalam samudra berbadai
Dalam gejolak ombak hitam penuh aral
Dalam kobaran angkara yang tak usai
Wahai bidadari
Menualah bersamaku
Menapaki jalan berliku
Dalam istana keabadian
(puisi by Jo Whylant**)
Setelah membacakan puisi untuk istrinya, Didit mencium kedua tangannya. Desi merasa terharu bahagia, dia tidak bisa menggambarkan betapa bahagianya dirinya saat ini. Keduanya saling menatap dan tersenyum, Didit menggendong tubuh istrinya naik ke atas ranjang.
“Sayang, mungkin ini bukan yang pertama untukmu, tapi aku akan berusaha ini menjadi yang pertama membuatmu merasa bahagia.” bisik Didit yang membuat bulu kuduk Desi berdiri.
Perlahan Didit mencium lembut bibirnya, dan Desi menikmati ciuman hangat dari suaminya. Tangannya menyentuh seluruh anggota tubuh Desi. Nafas yang tidak beraturan seolah menjadi irama keheningan malam. Buliran air sudah memenuhi kening keduanya, Didit pun mulai melakukan adegan utama pada malam itu. Desahan suara Desi menjadi semangat Didit untuk terus memuaskan istrinya.
Ini seakan menjadi pertama kalinya Desi merasakan kenikmatan yang luar biasa. Didit benar-benar memuaskannya malam itu, sampai keduanya capai kenikmatan bersama. Didit memeluk tubuh polos istrinya dibawah selimut tebal. Dia menciumi aroma khas tubuh istrinya.
“Sayang, terimakasih kamu sudah mau menjadi istriku. Tidak sia-sia aku menunggumu sembilan tahun untuk hari ini. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Terus berada disampingku untuk menjadi ibu dari anak-anakku ya!” Desi mengangguk tersenyum.
“Apa kamu puas?” tanya Didit yang membuat Desi malu.
“Sangat.” jawabnya pelan karena malu. Didit tersenyum, dia kembali mencium bibir tipis istrinya.
Terimakasih Tuhan ... sungguh ini hadiah yang sangat indah dalam hidupku. Terimakasih Kau telah mempertemukan kembali aku dengannya. Aku harap kebahagiaan ini kekal sampai nanti maut memisahkan kita berdua, gumam Desi sambil tersenyum menatap suaminya.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
~Next season 2~
oke guys season satu beres yaa..
aku bakal lanjutin season 2 di novel yang sama, nanti insyaAllah awal bulan...
tetap tunggu kelanjutannya yaaa...
Jangan lupa komen, like dan vote sebanyak-banyaknya yaaa.....😘😘😘
Seperti biasa aku mau ngasih tau novel Recommended banget nih... Pokoknya kalian ga akan nyesel deh.
Judul \= When You kiss me!
Pena \= Motifasi_senja
Judul \= Legenda Sang Monster
Pena \= Adhy Artha
Judul \= Cinta Sejati
Pena \= Evey Rachmawathy
Judul \= Dunia Abimanyu
Pena \= Jo Whylant
Judul\= Pujaku Mayang
Pena\= Azis beck
Judul \= Tragedi Mengubah Hidupku
Pena \= Asep Gunawan
Judul \= Radio Kampus Oren
Pena \= SoFiyanFerry
Judul \= Upaya Menyembunyikan Hati
Pena \= Irun inearun
Happy Reading guys
__ADS_1