Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 68


__ADS_3

S2 Bab 68


Bab ini mengandung unsur 18+, mohon pembaca yang di bawah umur bijak dan meng-skip bab ini. Terima kasih untuk perhatiannya.


Dini hari keduanya sudah bangun dan bersiap untuk pergi ke bandara. Rendra dan Riana juga sudah siap untuk mengantarkan sepasang pengantin baru.


“Semua barang-barang sudah siap, Bang? Cek lagi! Biar enggak ada yang ketinggalan,” ucap Riana mengingatkan anaknya.


“Sudah siap semua, Bun.” mereka pun masuk ke mobil, bersiap berangkat ke bandara.


Perjalanan ke bandara cukup jauh, membuat kedua pengantin baru itu kembali terlelap tidur di bahu pasangan masing-masing sambil berpegangan tangan.


“Yah, kayanya mereka sangat capek ya? Bunda sangat bahagia kalau melihat mereka seperti ini,” ucap Riana sambil menoleh kebelakang memperhatikan keduanya sambil tersenyum bahagia.


“Iya pasti, Bun.”


Sampai di bandara, mereka pun menurunkan barang dan langsung pamit pada Riana dan Rendra, karena sebentar lagi pesawat mereka akan berangkat. Perjalanan yang cukup macet di pagi hari membuat mereka banyak memakan waktu untuk sampai di bandara.


“Jagain Ana ya, Bang!” ucap Riana.


“Pasti Bunda. Kalau begitu kita pamit ya. Ayah sama Bunda juga hati-hati di jalan,” keduanya hanya mengangguk tersenyum sambil melambaikan tangan.


Ana dan Alaric pun berlari masuk ke dalam untuk melakukan cek in dan berbagai macam ketentuan yang ada. Setelah semuanya selesai, tidak menunggu lama Alaric beserta istrinya pun naik ke pesawat.


“Sayang, tidurlah!” ucap Alaric sambil mengusap rambut Ana. Dia hanya menggelengkan kepalanya.


“Udah enggak ngantuk, tadi di jalan udah tidur juga.” keduanya pun memutuskan untuk memutar film selama menunggu pejalanan yang kurang lebih dua jam untuk sampai ke pulau Bali.


Tidak terasa pesawat pun landing. Waktu begitu cepat, akhirnya keduanya pun sampai di pulau Bali. Alaric mengambil barang-barang dan setelah itu memesan taxi lalu pergi ke villa yang sudah dipesannya untuk bulan madu mereka. Tidak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai di villa yang terlihat super romantis.



Saat memasuki Villa, keduanya disuguhkan pemandangan romantis dari sepasang angsa yang saling berciuman dan juga rangkaian kelopak mawar yang menghiasi kolam renang. Ana yang melihatnya kagum dan tersenyum merasa sangat senang.

__ADS_1


Setelah meletakkan barang-barang, Alaric menghampiri istrinya yang masih berdiri memandang kolam renang yang begitu indah. Dia memeluk tubuh istrinya dari belakang dan mencium lehernya yang jenjang.


“Sayang, kamu suka?” Ana mengangguk tersenyum.


“Apa ini semua kamu yang memesannya?” Alaric membalikkan badannya dan tersenyum mengangguk menjawab pertanyaan istrinya.


Alaric menarik pinggang Ana sehingga tubuh mungil itu menepel dengan tubuhnya. Sejak kemarin Alaric hanya mengecup bibir manis Ana yang selama ini ingin sekali dinikmatinya. Perlahan dia mendekatkan wajahnya dan mencium lembut bibir Ana. Awal yang lembut berubah menjadi ciuman yang ganas. Ana terus membalas setiap gerakan bibir Alaric, saliva dari keduanya pun saling tertukar.


Alaric terus mencium istrinya sampai dia mendorong tubuh Ana jatuh ke atas kasur. Alaric mencoba membuka kancing pada baju istrinya dan seketika itu Ana menahan tangannya dan membuat Alaric menghentikan aksinya.


Alaric menatap Ana yang berada di bawah dengan wajah yang memelas.


“Aku siap-siap dulu,” lirih Ana malu dengan wajah yang memerah.


“Apa harus ya?” Ana mengangguk, “Karena wanita butuh banyak persiapan,” lanjutnya.


“Tidak perlu, Sayang. Aku sudah tidak kuat menahannya sejak semalam. Kalau bukan karena capek, mungkin aku sudah habisi kamu dari semalam. Dan hari ini siapkan tubuhmu untuk aku habisi,” ucap Alaric langsung mencium leher istrinya. Ana tertawa karena merasa geli saat Alaric mencoba menggelitik tubuhnya.


“Sayang, tapi aku ingin ....” Alaric kembali mencium bibir manis Ana, sebelum ia menyelesaikan perkataannya. Ana terlihat pasrah, ia memejamkan kedua matanya menikmati setiap sapuan indah di bibir tipisnya.


“Sayang ....” Ana menahan kepala suaminya tersebut tatkala ia ingin membenamkan wajah pada bagian tubuh terpekanya.


“Ada apa? Jangan khawatir,” ucap Alaric tersenyum sembari memegang tangan Ana. Dia tersentak, ketika Alaric berhasil membenamkan wajah dengan sedikit gerakan lidah diujungnya. Lenguhan mendayu tercipta dari bibir mungil Ana saat suaminya semakin menikmati permainannya.


Perlahan Alaric membuka pakaiannya yang tersisa, gerakannya yang halus membuat Ana tersenyum, tindihan lembut Alaric membuat Ana mendongak bahagia. Saat dia menemukan belahan sempit yang bersemak rimbun, ujung pembuluh kenikmatannya terdongak jantan. Suasana yang begitu indah, rasa nyaman menggelayuti keduanya.


Ana terbuai sentuhan tangan Alaric pada gundukan yang mengembang, hingga sebuah sentakan halus membuatnya melenguh tertahan.


“Sa ... sayang ... sa-kit,” ucap Ana mencubit punggung Alaric, tapi dia menikmatinya.


Alaric tidak menyerah setelah gagal pada percobaan untuk membobol dinding pertahanan istrinya. Dia kemudian mengulang putaran pergolakan darah kenikmatan Ana. Kembali Alaric melumaat bibir mungil Ana, sebelah tangannya mencumbu syahdu buah daging suci yang belum terjamah siapapun, yang kini menjadi tempat permainan ujung jemari Alaric.


Gerakannya yang begitu lembut, perlahan tapi pasti dan akhirnya Alaric berhasil merobohkan dinding pertahanan Ana. Dan itu berhasil membuat Ana merintih pelan, tapi dia begitu menikmatinya. Kini Alaric sudah berada dipuncak kenikmatannya, dia semakin mempercepat pergerakannya sampai membuat dada semakin bergetar.

__ADS_1


Suara lembut sendu Ana membuat Alaric semakin terus mempercepat pergerakan tubuhnya hingga keduanya tidak bisa menahan dan akhirnya mencapai kenikmatan bersama. Bulir keringat yang ada di kening Alaric menggambarkan bahwa begitu nikmat yang sudah mereka lakukan.


Keduanya masih polos tanpa sehelai benang pun dibawah selimut putih tebal. Alaric terus mencium kening istrinya yang sedang memeluk tubuhnya.


“Sayang, sudah waktunya jam makan siang. Apa kamu tidak lapar?” tanya Ana.


“Emmm ... saat ini aku hanya ingin memakan dirimu. Kamu lapar?” Ana menggelengkan kepalanya. Hatinya berdebar saat mendengar Alaric mengatakan itu padanya.


“... kalau begitu, bagaimana kalau kita melanjutkannya kembali?” Ana hanya tersenyum malu.


Alaric membalas senyumnya dan kembali menikmati bibir manis istrinya. Rasa sakit yang dirasakan Ana tidak sebanding dengan sentuhan lembut Alaric yang membuat perasaan Ana bergejolak meminta lebih dari sekedar itu.


Seperti anak kecil yang mempunyai mainan baru, begitulah gambar Alaric pada istrinya. Dia tidak mau melewatkan waktunya untuk menikmati mainan barunya. Memilih untuk menahan lapar hanya untuk terus memainkan permainannya.


Sudah tidak ada rasa malu-malu lagi bagi keduanya. Mereka sama-sama menikmati dan tidak ingin menyudahi permainan yang sudah dimulai. Ana Pasrah saat suaminya meminta jatahnya terus menerus. Memang dasar pengantin baru, keduanya masih ingin terus bersama dan mengabaikan cacing-cacing di dalam perut yang sejak tadi berbunyi untuk meminta jatah makanan.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


👍Like


💬 Komen


🌺 Vote

__ADS_1


Jangan lupa follow IG @SUNYIBIRU. Di sana kalian bisa tahu update-an terbaru novel-novel Author.


Terima kasih buat kalian yang sudah mengikut karya Author.


__ADS_2