
S2 Bab 90
Alaric dan Ana bergegas ke klinik yang tidak jauh dari rumah mereka. Sampai di sana Ana langsung diperiksa oleh dokter yang sedang berjaga malam itu.
Alaric perlahan membantu istrinya turun dari kasur. Keduanya berjalan menghampiri dokter yang sudah duduk di mejanya.
“Bagaimana, Dok?” tanya Alaric saat dokter usai memeriksa Ana. Dokter pun mulai menjelaskan kondisi istrinya.
“Asam lambung dari Bu Ana sedang meningkat. Biasanya pengaruh besar dari pikiran. Selain itu tekanan darah Bu Ana juga sangat rendah, itu yang mengakibatkan pandangan menjadi gelap sementara. Saya akan buatkan resep penambah darah juga multivitamin ya. Saran saya jangan terlalu banyak pikiran dan iatirahat yang cukup.” medengar itu Alaric langsung melirik ke arah Ana dan menggelengkan kepalanya.
“Terima kasih ya, Dok!” ucap Alaric saat selesai melakukan konsultasi.
Setelah menebus obat, keduanya pun mencari tempat makan karena mereka memang belum makan malam. Selama perjalanan Alaric terus saja diam membuat Ana merasa heran. Dia juga tidak berani membuka pembicaraan, karena melihat wajah Alaric yang sangat serius tidak seperti biasanya.
Sampai di tempat makanan mereka Alaric dengan cepat langsung turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk istrinya. Dia menggenggam tangan Ana, membantunya turun dari mobil.
“Sayang, aku enggak sakit parah kok. Kamu tidak perlu seperti ini,” ucap Ana, tapi Alaric hanya diam saja.
Setelah memesan makanan, Alaric masih belum sama sekali mengeluarkan suaranya. Semua makanan sudah tersusun rapih di atas meja. Saat Ana ingin mengalaskan makanan untuk suaminya, Alaric langsung mengambil piring yang ada di tangan istrinya dan mengalaskan makanan untuk dia.
“Makanlah yang banyak. Lihat badanmu sekarang, tampak sangat kurus,” ucap Alaric dan dia pun menyantap makanan.
Ana sama sekali tidak berani mengeluarkan suaranya. Dia memilih untuk diam, dan akan menanyakan kenapa suaminya menjadi berbeda saat situasinua lebih baik. Suasana hening ketika keduanya menyantap makanan. Ana sesekali melirik ke arah Alaric, tapi suaminya hanya tertunduk dan konsentrasi dengan makanannya.
'Yank, kamu kenapa sih? Aku salah apa sampai kamu bersikap dingin seperti ini?' gumam Ana yang merasa heran dengan kelakuan suaminya.
__ADS_1
Selesai menyantap makanan, Alaric segera berdiri dan membayar tagihan. Ana pun mengikuti langkah suaminya yang kini sudah berjalan ke luar.
Ana berlari menyusul suaminya yang sudah berada di parkiran mobil dan memeluk tubuhnya dari belakang.
“Sayang, aku enggak kuat. Benar-benar enggak kuat kalau kamu seperti ini. Apa aku melakukan kesalahan? Please, Sayang! Beritahu aku salah di mana,” keluh Ana.
Mendengar itu membuat hati Alaric merasa terenyuh. Dia merasa kasihan pada istrinya sejak tadi, tapi dia juga merasa kesal dan entah ekspresi apa yang harus dia tunjukan pada istrinya di saat kedua rasa itu datang bersamaan.
Alaric membalikkan badannya dan memeluk tubuy Ana.
“Maafin aku ya, Sayang! Aku sangat mencintaimu,” ucapnya langsung melepaskan pelukannya dan berjalan kembali ke arah mobilnya.
Sebelum masuk ke dalam mobil, seperti biasa Alaric menunggu kedatangan Ana dan membukakan pintu mobil untuknya. Ana masih belum menemukan jawabannya dari Alaric atas pertanyaannya. Dia sangat penasaran tentang perubahan sikap suaminya.
Selama perjalanan menuju rumah, Ana terus melihat ke arah Alaric dan itu berhasil membuat wajah Alaric tampak merah.
“Tidak kenapa-kenapa. Aku hanya merindukan sikap hangat dari suamiku.” sekerika Alaric memakirkan mobilnya di tepi jalan. Kemudian dia menggenggam tangan Ana sambil menatap wajahnya dengan serius.
“Sayang, aku benar-benar sangat mencintaimu. Kamu tahu 'kan?” Ana mengangguk.
“... melihat kamu merasa kesakitan membuat aku merasa tidak becus menjadi suami. Maafkan aku yang selalu menuntut seorang anak darimu, sehingga kamu merasa depresi.”
“Sayang, semua ....” belum selesai Ana bicara Alaric menempelkan telunjuknya di atas bibir istrinya.
“Aku belum selesai ngomong, Sayang. Dengerin dulu ya! Mulai sekarang, jangan pernah kebanyakan berpikir lagi tentang anak atau apapun itu. Percayalah, Sayang, kalau Tuhan pasti akan memberikan kita anak kelak. Sayang, aku mohon, hempaskan semua pikiran-pikiran kamu. Lihat di depan kamu sekarang ada siapa? Aku! Aku orang yang selalu ada buat kamu. Tidak peduli apapum itu, aku akan tetap di sisi kamu.” mata Ana berkaca-kaca saat mendengar perkataan dari suaminya.
__ADS_1
Ana menarik tubu Alaric dan dia pun memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat.
“Terima kasih, Sayang. Dan maafkan aku yang sudah membuat kamu sangat khawatir. Aku janji Sayang, tidak akan seperti ini lagi. Sekali lagi, terima kasih ya Sayang.”
“Iya, Sayang, aku sudah memaafkan kamu. Pokoknya untuk masalah anak sudah jangan terlalu dipikirkan ya! Yakin kalau suatu saat nanti kita akan menjadi seorang orang tua. Sekarang kita langsung pulang aja ya, Sayang!” Ana tersenyum mengangguk dan melepaskan pelukannya. Alaric menatap wajah Ana sambil tersenyum dan perlahan mengecup bibirnya.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Jangan Lupa
👍 Like
💬 Komem
🌺 vote sebanyak-banyaknya..
__ADS_1
Happy reading 🌺🌺🌺
Aku padamu semuanya ❤️❤️❤️❤️