
S2 Bab 100 End
Waktu terus berjalan. Kehidupan Ana dan Alaric semakin bahagia dengan hadirnya buah hati kembar mereka. Tinggal menunggu hari lagi Ana melahirkan putra dan putrinya. Ana terpaksa memajukan hari kelahiran buah hatinya dari HPL. Dia melahirkan dijadwalkan dengan operasi Caesar, karena kedua bayinya yang sudah cukup besar.
Berbeda dengan Ana, Aulia masih menanti detik-detik kelahiran anaknya dengan jalur normal. Karena memang dia mengiginkan untuk melahirkan secara normal dan sesuai dengan anjuran dokter kalau dirinya akan lebih baik melahirkam secara normal.
Keduanya berharap akan melahirkan secara bersamaan walaupun dengan cara yang berbeda. Memang Aulia sudah merasakan perutnya yang mulai sedikit-sedikit mules. Dia sudah mengkonsultasikan pada dokternya dan itu wajar terjadi di detik-detik akan melahirkan.
Malam ini semua keluarga sedang berkumpul di rumah Ana dan Alaric. Mereka semua ingin mengantarkan Ana ke rumah sakit, karena operasi akan dilakukan besok pagi. Ana merasa sangat gugup, banyak ketakutan yang dia pikirkan di otaknya. Melihat dari internet kalau perjuangan seorang ibu yang melahirkan anak itu tidak mudah. Antara hidup dan mati demi mengeluarkan nyawa kecil yang ada di perut mereka.
Riana menghampiri Ana yang sedang duduk di kamarnya.
“Sayang, bunda boleh masuk?” tanya Riana dan Ana menjawab dengan anggukan.
“... kamu kenapa, Nak? Pasti kamu merasa sangat gugup ya?”
Ana memeluk tubuh ibu mertuanya, “Bunda, aku takut. Aku takut kalau aku ....”
“Hus ... jangan dilanjutkan! Kamu harus percaya kalau kamu dan kedua buah hati kamu akan baik-baik saja. Kalian bertiga pasti akan sehat.” Riana mencoba menenangkan pikiran Ana, karena dia sangat tahu betul bagaimana rasanya di posisi Ana saat ini.
“Iya, Bun. Ana terlalu banyak melihat internet, jadi ya gini, banyak ketakutan-ketakutan yang muncul.”
“Pokoknya kamu harus tenang. Kami semua selalu ada di dekat kamu, Nak. ” Ana tersenyum. Dia bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayangi dirinya.
Jam sudah menunjukkan pukul 20.00 dan itu artinya mereka harus segera berangkat ke rumah sakit. Karena hari sudah malam, yang mengantarkan Ana ke rumah sakit hanya suami dan kedua ibundanya. Selama perjalanan Ana terus mengusap perut besarnya dan mengajak kedua buah hatinya di dalam perut untuk sama-sama berjuang. Alaric yang melihat istrinya pun langsung menggenggam tangannya dan menciumnya.
“Kamu kuat dan kamu pasti bisa, Yank,” ucap Alaric yang membuat Ana semakin bersemangat.
__ADS_1
Sampai di rumah sakit, Ana langsung ke kamarnya yang memang sudah dipersiapkan terlebih dahulu. Sejak satu jam yang lalu Ana sudah tidak boleh mengonsumsi berbagai makanan atas petunjuk dokter. Setidaknya delapan jam sebelum operasi caesar dilakukan, hindari mengonsumsi makanan, ini dilakukan untuk menghindari risiko komplikasi paru atau muntah.
“Sayang, tidurlah! Ini sudah malam. Kamu harus istirahat yang cukup agar besok fit saat melakukan operasi,” ucap Alaric yang tidak lepas dari sampingnya.
“Iya Sayang. Kamu juga harus istirahat. Aku enggak apa-apa kok, kamu tidak perlu berjaga semalaman.” Alaric tersenyum mengangguk sambil mengusap rambutnya.
Di sisi lain di malam yang bersamaan, Aulia mulai merasakan sesuatu yang aneh yang keluar dari daerah intimnya. Malam itu Krisna dan juga mami, papinya sudah tertidur pulas. Aulia memang sengaja tinggal sementara di rumah mereka, karena menjelang persalinan. Dia turun perlahan dari kasur dan berjalan ke kamar mandi.
Aulia kaget saat melihat bercak darah di celananya. Tapi dia berusaha tenang dan dengan pelan membangunkan suaminya.
“Sayang ... Yank, bangun!” Krisna pun perlahan membuka matanya.
“Ada apa, Sayang? Apa kamu lapar lagi?” tanya Krisna, karena memang Aulia selalu membangunkan suaminya dikala dia sangat menginginkan makanan.
“Bukan, Yank. Sepertinya aku akan melahirkan.” mendengar itu seketika Krisna langsung bangun dari tidurnya.
“Kamu mules? Aku siap-siapin semuanya ya. Pokoknya kamu tenang jangan panik ya! Biar aku yang menyiapkan semuanya.” Aulia hanya tersenyum menggelengkan kepalanya. Dia melihat suaminya dengan gesit menyiapkan keperluan dirinya yang memang sudah disiapkan jauh-jauh hari.
Aulia memang sudah siap lahir batin untuk melahirkan secara normal. Kini dia mulai merasakan perutnya yang perlahan sakit, tapi dia tersenyum menikmatinya sambil mengatur napasnya. Dengan cepat Krisna melajukan mobilnya di rumah sakit tempat Ana akan menjalankan operasinya.
Impian kedua sahabat ini akhirnya tercapai. Mereka sangat mengiginkan agar anak-anak mereka lahir dihari yang sama. Sampai di rumah sakit, Krisna turun dan memanggil tim medis untuk membantu istrinya. Kini Aulia sudah mulai merasakan perutnya yang luar biasa sakit. Tapi dia tidak mengeluh. Dia hanya bisa memejamkan matanya dan mengatur napasnya.
Krisna membantu Aulia mengusap pinggangnya yang terasa sangat sakit. Sambil mengusap, Krisna menggengam tangan Aulia dan meneteskan air matanya. Ini pertama kalinya Aulia melihat Krisna menangis. Tetesan air mata suaminya menjadi penyemangat untuk dia mengeluarkan buah hati mereka.
Waktu sudah menunjukan dini hari dan Aulia masih merasakan perutnya yang sakit. Berkali-kali Krisna memanggil tim dokter untuk mengecek keadaan istrinya, tapi mereka mengatakan kalau proses lahiran masih lama dan itu membuat Krisna tampak emosi.
“Mereka enggak ngerti apa kalau istri gue sudah kesakitan,” keluh Krisna. Aulia hanya tertawa dan menyuruh suaminya untuk duduk di sampingnya.
__ADS_1
“Sayang, melahirkan itu butuh proses. Sekarang aku merasakan sakit, tapi belum tentu bayinya mau keluar sekarang juga. Aku merasakan sakit karena bayi kita sedang mencari jalan untuk keluar. Kamu harus tenang ya! Aku kuat kok, Yank.” bukan Aulia yang mendapat semangat malah dia yang memberikan semangat untuk suaminya.
Mendengar kabar Aulia akan segera melahirkan membuat Ana merasa sangat senang. Entah kenapa hatinya menjadi merasa tenang saat cairan bius sudah masuk ke tubuhnya. Ya ... kini giliran Ana memperjuangan hidup dan matinya. Tubuhnya pun mulai memasuki ruang operasi.
Kedua wanita ini harus berjuang diwaktu yang sama. Aulia yang sudah lengkap pembukaannya dan mulai mengeluarkan anaknya dan pisau sudah mulai menyayat perut Ana. Sama-sama perjuangan antara hidup dan mati walaupun proses yang berbeda.
Dibantu semangat Krisna akhirnya Aulia mengeluarkan bayi cantik anak pertamanya. Dia benar-benar sangat bahagia. Proses lahiran normal yang sangat mudah dan lancar menurutnya. Krisna meneteskan air matanya dan terus mengatakan rasa terima kasinya pada Aulia.
Disisi lain, Ana terus berdoa dibalik kain, menunggu tim dokter mengeluarkan kedua anaknya. Ana pertama keluar dengan jenis kelamin laki-laki. Tagisnya pecah kala itu dan membuat Ana menangis tidak percaya akhirnya bisa mendengar suara tangis anaknya. Dan selang lima menit suara tangisan kedua muncul dan berjenis kelamin perempuan. Lengkap sudah kebahagiaan keluarga Wicaksono hari itu.
“Terima kasih, Sayang, kamu sudah memberikan aku dua malaikat kecil ini. Terimakasih Tuhan untuk anugrah yang Engkau berikan buat keluarga kecilku,” bisik Alaric di telinga istrinya sambil meneteskan air mata kebahagiaan.
*Foto diambil dari google.
Foto dari kedua anak Ana dan Alaric.
Kama Putra Wicaksono dan Kalila Putri Wicaksono. Kedua nama mereka mempunyai arti yang sama yaitu sangat dicintai.
*Foto diambil dari google.
Foto anak dari aulia.
__ADS_1
Elina Fradella yang berarti wanita cerdas dan pembawa kedamaian.
...The End...