
S2 Bab 79
Satu minggu berlalu, tapi suasana hati Ana masih bersedih setelah kepergian ibu kandungnya. Kini dia benar-benar seorang anak yatim piatu. Entah kenapa dia sangat kecewa dengan status itu sekarang. Dia sudah tidak memiliki siapapun yang sedarah, pikiran itu terus menghantuinya dan kadang dia melupakan orang-orang yang selalu berada di sisinya saat ini. Mungkin itu karena rasa kecewa dia yang hanya bertemu sesaat dengan keluarga aslinya terlebih itu adalah ibu kandungnya sendiri.
Selama satu minggu Ana lebih banyak berdiam diri di rumah. Kerjaan kantornya pun terbengkalai dan Bimo ayah angkatnya memaklumi itu. Teringat akan niat Ana sebelumnya, dia ingin menghampiri kedua orang tua yang turut berjasa dalam kehidupannya. Dan Ana memutuskan akhir pekan untuk mengunjungi mereka.
Ana sudah mendapatkan alamat lengkap sepasang pemulung itu. Saat akhir pekan tiba, mereka pun pergi ke rumah pertama dalam kehidupan Ana. Sampai di sana Ana langsung meneteskan air mata. Karena menuutnya rumah itu sudah tidak layak untuk dihuni.
“Sayang, apa kamu kuat untuk bertemu dengan mereka sekarang?” tanya Alaric pada Ana yang berada dalam pelukannya. Ana mengangguk, mereka pun memutuskan untuk masuk ke dalam.
“Permisi ... permisi,” teriak Alaric.
Betul saja seperti yang di katakan Bu Risma, kalau kedua ornag tua yang membantu almarhum ibunya dulu sudah sangat tua. Untuk usia yang rentan seperti mereka, tidaklah pantas mereka tinggal di rumah yang terlihat sudah tidak layak huni.
“Maaf, anda mau mencari siapa?” kata seorang wanita yang sudah paruh baya, sambil sedikit takut-takut membuka pintu rumahnya.
“Kenalkan Bu, saya Alaric dan ini istri saya Ana. Apa kami bisa minta waktu ibu dan suami ibu sebentar,” lanjut Alaric.
Terlihat wajah ibu itu tampak takut dan panik. Dia takut kalau kedatangan Ana sama Alaric untuk menagih hutang keluarga mereka pada renternir yang terkenal di sana. Melihat kepanikannya Alaric dengan cepat menahan pintu rumahnya yang hendak akan ditutup kembali.
“Bu, sebentar! Kami berdua hanya ingin bertemu dengan orang tua yang mengasuh Angel dulu.” mendengar apa yang dikatakan Alaric, Ibu itu langsung terdiam dan tidak melanjutkan menutup pintu rumahnya.
“Apa kalian juga dari yayasan?” tanyanya.
“Emmm ... apa kami bisa meminta waktu ibu dan bapak sebentar?” lanjut Ana. Tatapan mata wanita itu berbeda setelah menatap wajah Ana. Dia mendekat lalu memegang wajah Ana sambil mengatakan, “Kamu cantik, Nak. Entah kenapa wajahmu sangat tidak asing buat ibu.” Ana tersenyum dan menyentuh tangannya.
“Tangan Ibu juga aku rasa tidak asing untukku.” ucap Ana.
Keduanya pun duduk di bangku luar dengan kursi kayu yang sudah tidak layak pakai. Ana menanyakan di mana keberadaan suaminya, karena sejak tadi dia tidak melihat keberadaannya. Wanita tua itu menjawab kalau suaminya sekarang sedang mencari rongsokan.
Ana dan Alaric berniat untuk menunggu kedatangan suaminya. Saat mereka sedang menunggu, suara tangisan anak kecil dari dalam rumah membuat keduanya merasa Aneh.
__ADS_1
“Bu, sepertinya ada anak yang sedang menangis,” ucap Ana.
“Itu adalah cucu saya. Dia sejak bayi sudah dititipkan di sini. Anak malang itu ditinggal oleh ibu kandungnya, sedangkan anak saya yang laki-laki adalah seorang TKI ---Tenaga Kerja Indonesia---.” mendengar itu membuat Ana mengingat akan dirinya dulu.
“... sebentar ya! ibu akan memberikannya susu.”
“Ibu, apakah saya boleh masuk untuk melihatnya?”
“Tentu saja. Tapi keadaan rumah saya tidak bagus.”
“Tidak masalah, Bu,” ucapnya sambil tersenyum.
Alaric mengangguk saat Ana meminta izin padanya untuk mengikuti wanita itu masuk ke dalam rumah. Betapa sakit batin Ana saat melihat kondisi rumah yang memang benar-benar sudah tidak pantas dihuni.
Lantai yang sudah seperti tanah, dinding bilik yang sudah semakin rapuh dan lampu yang redup membuat hati Ana sakit melihatnya.
'Ya Tuhan ... aku tidak sanggup melihat mereka,' batin Ana dikala melihat kedua anak kecil yang sedang duduk.
Ana menghampiri kedua anak kecil itu dan memberikan masing-masing satu buah buah permen lollipop yang memang selalu ada di dalam tasnya. Tagis batita itu seketika berhenti dan dia langsung tersenyum mendapatkan permen dari Ana. Melihat senyuman manis dari kedua anak itu mambuat hati Ana terasa damai.
Tidak lama suami dari wanita itu pulang dengan baju yang lusuh sambil membawa dua karung yang berisikan barang-barang rongsokan. Sama halnya seperti istrinya, pak tua itu menyangka kalau kedatangan Alaric untuk menagih hutang yang mereka pinjam untuk kepergian anak mereka ke luar negeri sebagai TKW. Melihat kepanikan di wajahnya, Alaric segera memperkenalkan diri padanya.
Sikap Alaric yang ramah membuat pak tua itu tersenyum dan bisa dipastikan kalau Alaric bukan seseorang yang akan menagih hutang.
“Anda siapa?” tanyanya.
“Kenalkan saya Alaric, suami dari Angel.” mendengar itu membuat dia kaget.
“Angel? Angel bayi mungil itu?” Alaric tersenyum mengangguk.
“Di mana dia sekarang?” tanya pak tua itu.
__ADS_1
“Dia ....” belum Alaric melanjutkan ucapannya, Ana keluar sambil mengendong gadis kecil cantik yang tadi sedang menangis.
Pak tua itu menatap wajah Ana tanpa mengedipkan matanya. Terlihat dia sangat kagum melihat anak yang dulu diasuhnya tumbuh menjadi anak yang sangat cantik.
“Angel, apa benar itu kamu, Nak?” Ana mengangguk tersenyum. Dia ikut meneteskan air matanya. dikala kedua orang tua itu menangis haru seperti menggambarkan kebahagiaan. Walaupun Ana tidak sama sekali mengenali mereka, tapi Ana bisa merasakan bagaimana tulusnya mereka mengasuh dirinya dulu saat masih bayi. Ana sangat yakin, kalau saat itu mereka tidak memiliki masalah ekonomi, mungkin Ana akan terus hidup bersama dengan mereka.
Kedua orang tua itu mempersilakan Alaric dan Ana untuk masuk ke dalam rumah mereka. Banyak yang ingin mereka ceritakan pada anak yang pernah mereka asuh dahulu. Bukan hanya Ana yang merasa teriris melihat kondisi rumah mereka, tapi Alaric pun merasakan hal yang sama. Dari mereka Alaric mendapat banyak pelajaran yang berharga. Walaupun mereka hidup dengan ekonomi yang bisa dibilang sulit, tapi mereka tidak pernah mengeluh dan juga bersedih hati.
Dari tampang wajah mereka tidak terlihat kalau mereka sedang kesusahan. Senyum yang terpancar menggambarkan betapa bahagianya hidup mereka. Alaric hanya diam dan memperhatikan saja, saat kedua orang tua itu menceritakan bagaimana awalnya mereka mengasuh Ana dan akhirnya memutuskan untuk menyerahkan Ana di panti asuhan.
Mendengar semua cerita dari ibu angkat pertamanya, membuat Ana terharu. Ingin rasanya dia menahan air matanya, tapi tetap saja tidak bisa. Ana benar-benar merasa sangat beruntung bisa kembali bertemu dengan mereka dan mengetahui bagaimana kisah hidupnya dulu sewaktu sebelum dia diserahkan pada panti asuhan.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Jangan lupa
👍Like
💬Komen
❤️vote sebanyak-banyaknya...
__ADS_1
terima kasih All ❤️❤️❤️❤️