Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
Bab 48


__ADS_3

Didit membawa Desi untuk berkeliling taman sebentar sebelum dia mengantarkannya pulang ke rumah. Setelah berkeliling, dia mengajak kekasihnya untuk duduk di bangku yang ada di taman itu. Sejak tadi pandangan Desi kosong. Sebenarnya Didit ingin sekali menanyakan apa yang terjadi pada dirinya, tapi dia lebih memilih Desi sendiri yang cerita padanya.


“Sayang,”


“Emm ....” jawab Desi


“Nikah yu!” seketika Desi langsung melirik ke arah Didit. Wajahnya tampak sangat kaget dengan apa yang dikatakan Didit padanya.


“Dit, jangan bercanda! aku ga suka!” Didit menarik tangan Desi yang hendak berdiri.


“Siapa yang bercanda sih sayang? aku serius. Memangnya kamu kita aku berhubungan sama kamu cuma mau pacaran seperti ini terus? kita udah sama-sama dewasa sayang, aku ingin menjadi orang yang terpenting dalam hidup kamu.” Didit mencium tangan Desi yang digenggamnya.


“Maafin aku Dit, bisakah kamu menunggu sebentar saja. Aku belum siap, aku masih trauma dengan pernikahanku yang dulu,” Didit menarik Desi masuk kedalam pelukannya.


“Sembilan tahun aja aku sanggup menunggu sayang, apalagi cuma sebentar.” Desi tertawa mendengar yang diucapkan Didit.


Karena hari sudah mulai larut, Didit memutuskan untuk mengantarkan kekasihnya pulang. Selama perjalanan Desi terus tersenyum saat menceritakan kelakuan anaknya hari ini. Didit merasa bahagia, karena Desi melupakan hal yang membuat dirinya bersedih hari ini.


Seperti biasa, Didit memarkirkan mobilnya di depan minimart dekat gang rumah Desi. Sambil mengandeng tangan keduanya berjalan menyusuri jalanan gang yang sempit. Sambil berjalan Didit kembali menceritakan kisah mereka dulu saat SMA. Desi yang mendengarnya tertawa mengingat saat-saat mereka masih polos dulu.


Tawa Desi seketika musnah saat mereka sampai di depan rumah. Pria tinggi yang berdiri di sana membuat Desi langsung bersembunyi dibelakang kekasihnya. Didit merasa binggung, dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi saat itu.


“Si, kita perlu bicara!” ucap lelaki itu sambil menarik tangan Desi. Tapi, dengan cepat Didit menepis tangannya dari tangan kekasihnya.


“Maaf, ada siapa?” tanyanya dengan sedikit emosi.


“Saya Suaminya! Anda siapa?” Deg ... mendengar itu jantung Didit berdegup dengan sangat kencang. Dia melirik kebelakang untuk meminta penjelasan pada kekasihnya.


Oh ... jadi ini alasan kamu menangis tadi? sekarang aku mengerti kenapa kamu menjadi sedih, gumam Didit.


“Aku bukan istri kamu lagi!! Kita sudah lama berpisah,” Teriak Desi dengan tangisnya.


“Tapi, secara hukum kita masih suami istri,” teriaknya terlihat emosi.

__ADS_1


“Tunggu dulu, Mas! Anda tidak bisa seenaknya datang dan pergi sesuka hati. Menurut hukum selama empat bulan tidak memenuhi hak istri lahir dan batin, istri berhak mengajukan cerai secara sepihak. Dan Desi sudah melakukan itu. Anda tidak ada berhak lagi atas Desi dan anaknya.” Jelas Didit yang membuat laki-laki yang bernama Ferdi itu mati kutu. Walaupun pada faktanya Desi belum memperbaharui statusnya di pengadilan. Beruntungnya Didit lulusan Hukum, jadi dia tau persisi tentang hukum pemerintah.


“Sebenarnya aku kesini hanya ingin melihat anakku. Si, maafin aku yang dulu meninggalkan kalian berdua. Aku sangat menyesal.” Desi masih menangis di dalam pelukan Didit.


“Kalian bicaralah! aku akan menunggu disini,” bisik Didit pada kekasihnya. Awalnya Desi menolak, karena dia memang sudah tidak mau melihat mantan suaminya. Tapi, Didit memohon agar dia secepatnya menyelesaikan masalah dengannya. Dan akhirnya Desi pun setuju. Keduanya pun masuk ke dalam rumah.


Didit menunggu di luar, sambil berjaga-jaga apabila Ferdi melakukan sesuatu yang buruk pada kekasihnya. Hanya butuh waktu sedikit untuk keduanya berdiskusi. Desi langsung keluar dan menghampiri kekasihnya.


“Bro, thanks ya ... jaga Desi baik-baik! Si, sekali lagi maafin aku ya! izinkan aku bertemu dengan anak kita pertama dan terakhir kalinya. Aku janji tidak akan menganggu kehidupan kalian lagi.” Desi hanya mengangguk. Ferdi pun pamit pada keduanya.


Desi langsung memeluk tubuh kekasihnya. Dia menumpahkan tangisnya. Seperti luka yang sudah lama sembuh kembali lagi berdarah. Desi menangis mengingat apa yang terjadi dimasa lampau pada dirinya. Didit menyambut pelukannya dan mencium keningnya.


“Sudahlah sayang, yang lalu biarlah berlalu. Sekarang kamu buka lembaran kehidupan baru kamu. Karena kamu berhak untuk bahagia.” Desi mengangguk.


Dia tersenyum bahagia dan sangat bersyukur Tuhan mempertemukan dirinya kembali dengan Didit. Desi memeluk erat tubuh Didit, dia merasakan kehangatan dalam tubuhnya.


“Btw ... apa kamu sudah mengurus surat-surat perceraian kamu?” Desi menggelengkan kepalanya.


“... Ya udah, besok aku anter kamu untuk mengurus semuanya.” Desi mengangguk.


“Kenapa?”


“Aku, takut,”


“Terus kamu maunya gimana? aku nginep disini?”


“Bukan gitu, aku mau menginap di rumah Riana. Antarkan aku kesana,”


“Oke sayang.” keduanya pun langsung menuju kembali ke rumah Rendra dan Riana.


**♥️♥️**


Riana merasa sangat senang mendapat kabar bahwa kakaknya akan menginap di rumahnya. Dia menyuruh assisten rumah untuk segera membereskan kamar tamu untuk kakaknya. Riana belum mengetahui apa yang terjadi sebenarnya, karena memang Desi belum menyeritakan semuanya.

__ADS_1


Saat sampai di rumah adiknya, Desi langsung masuk ke dalam rumah. Dia menceritakan semua yang terjadi hari ini. Mendengar itu membuat Riana merasa cemas. Dia takut kalau Salsa akan diambil oleh ayah kandungnya.


Melihat kecemasan sang adik, Desi berusaha menenangkannya. Dia pastikan kalau Salsa akan baik-baik saja saat bertemu dengan ayahnya nanti. Awalnya Riana tidak mengizinkan, kalau Salsa bertemu dengan ayah kandungnya. Tapi dengan bujukan dari suami dan kakaknya akhirnya dia menyetujuinya, tapi dengan satu syarat kalau dia juga ikut pada saat mereka bertemu.


**Kamar**


Riana sejak tadi masih merasa gelisah saat mendengar cerita dari kakaknya. Karena dia tahu benar bagaimana mantan kakak iparnya itu. Rendra pun berusaha menenangkan istrinya.


“Sayang, kamu tenang aja! ga akan terjadi apa-apa, percaya sama aku!” ucapnya sambil memeluk sang istri.


“Mas, Salsa akan tetap sama kita kan?”


“Tentu sayang, sesuai dengan hukum dia adalah anak kita. Tapi, Salsa 'kan harus tahu orang tua dia yang sebenarnya, karena biar bagaimanapun juga hubungan mereka tidak akan pernah putus sampai kapanpun juga.” Riana meneteskan air matanya.


“Aku egois ya, Mas?”


“Ga kok sayang, sikap kamu wajar, karena kamu yang sudah membesarkan Salsa. Tapi kita harus ingat kalau Salsa juga berhak tau yang sebenarnya,”


“Maafin aku, Mas!”


“Kamu ga salah sayang. Udah jangan menangis, kasian anak kita didalam perut ikut sedih.” Rendra mengusap air mata yang ada di pipi istrinya. Riana tersenyum menatap suaminya dan kembali memeluk tubuhnya.


.


.


.


.


.


~Bersambung~

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen dan Vote sebanyak-banyaknya yaaaa.....


__ADS_2