Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
Bab 46


__ADS_3

Desi menjanjikan hari minggu ini akan pergi berkencan dengan Didit. Seperti rencana awalnya, seorang temannya akan menggantikan dirinya nanti. Desi mengirim pesan lokasi tempat mereka akan bertemu. Didit merasa senang akhirnya Desi mau menerima ajakan dirinya untuk pergi berkencan.


Sinta, teman perempuan Desi cantik, tinggi dan baik hati. Desi sengaja memperkenalkan Sinta pada Didit, karena menurutnya Sinta lah yang pantas untuk menjadi pendamping Didit. Sinta sudah berada di sebuah cafe lumayan besar yang berada di pusat jakarta. Didit sendiri sedang berada di jalan menuju ke sana.


Selama perjalanan senyumannya terus terpancar. Betapa bahagianya dia hari ini akan berkencan dengan wanita pujaan hatinya. Didit sama sekali tidak tahu tentang rencana Desi. Walaupun Sinta menggantikannya, Desi tetap berada di cafe itu. Dia menyamar dengan wajah di tutup masker dan menggunakan topi. Desi sendiri duduk di pojok kanan tidak jauh dari tempat duduk mereka.


Sampai di cafe, sebelum turun Didit terlebih dulu merapihkan rambutnya di spion dan melihat penampilan wajahnya. Didit tersenyum, sambil mengedipkan matanya mengambarkan betapa bahagianya dia. Dia pun turun dari mobil, sambil tersenyum dia memasuki cafe itu.


Dilihatnya sekeliling bangku yang ada di cafe itu dan dia belum menemukan sosok Desi di sana. Sampai seorang wanita cantik melambaikan tangan padanya. Didit melihat kiri dan kanan untuk mengetahui pada siapa wanita itu melambaikan tangan. Sampai Sinta memanggil namanya dan Didit pun menghampirinya dengan sejuta pertanyaan yang ada di dalam otaknya.


“Duduklah!” titah Sinta padanya. Didit yang merasa masih binggung pun mengikuti titahnya.


“Kenalin aku Sinta,” ucapnya sambil mengulurkan tangannya. Didit pun menyambutnya hanya dengan tersenyum.


“Maaf, kenapa anda mengenal saya? Apa kita sebelumnya pernah ada janji?” wanita itu tersenyum dan dia meminum minuman yang ada di depannya sebelum menjawab pertanyaan dari Didit.


“Aku Sinta teman dari Desi. Desi menyuruh aku untuk berkenalan dan kencan sama kamu.”deg ... hati Didit merasa sangat sakit mendengar itu. Dia tidak menyangka kalau Desi tega melakukan ini padanya.


Didit meminta izin sebentar untuk ke kamar mandi. Sampai di sana Didit meraih ponsel yang ada di saku celananya. Sebelum dia ingin menelepon Desi, dia membuka pesan masuk terlebih dahulu darinya.


Desi : “Dit, maafin aku ya! Aku melakukan ini hanya untuk kebaikan kamu. Aku mau kamu mendapatkan wanita yang pantas buatmu. Aku bukan wanita yang baik-baik seperti yang kamu pikirkan. Sinta wanita cerdas, baik dan tentunya cantik. Aku mohon untuk kamu membuka hati dan mengenal dia lebih jauh. Maafkan aku, aku berharap semoga kamu bahagia ....”


“Shiiiiiiiiit ....” Didit melempar ponselnya ke lantai sampai ponsel itu retak di bagian layarnya. Beruntungnya di sana tidak ada orang.


Apakah kamu tidak mengerti Chi? harus bagaimana lagi aku membuktikan kalau aku benar-benar cinta sama kamu, Didit meremas kepalanya. Ingin rasanya dia berteriak untuk menumpahkan kekesalannya. Tapi, dia sadar kalau di sana sangat ramai dan dia tidak mau menjadi pusat perhatian.

__ADS_1


Dengan terpaksa Didit mengikuti rencana Desi. Dia ingin tahu sejauh mana Desi merencanakan ini semua. Saat keluar dari kamar mandi, Desi menyadari Didit yang berjalan di sampingnya langsung menundukkan kepalanya. Didit pun kembali duduk di tempat semula.


Mereka pun saling berbagi cerita. Sesekali keduanya tertawa dan itu membuat Desi merasa bersyukur, walaupun hatinya sakit melihatnya.


Aku bahagia kalau kalian bisa bersama. Desi bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke kasir untuk membayar pesanannya. Dia pun pergi dan meninggalkan keduanya. Entah kenapa air matanya mengalir setelah keluar dari cafe itu. Desi melangkahkan kakinya perlahan di trotoar. Entah kemana kakinya akan melangkah. Dia menyusuri pertokoan yang berjajar di sisi jalan.


Bug ....


Seseorang memeluknya dari belakang dan itu berhasil membuat dirinya kaget. Saat ingin berteriak, orang yang memeluknya langsung berbisik padanya dan itu membuatnya diam seribu bahasa.


“Jangan teriak, ini aku.” bisik Didit padanya. Desi tidak menyangka kenapa Didit bisa tahu itu dirinya. Bagaimana dengan Sinta? batinnya bertanya-tanya.


Didit menarik tangan Desi menuju mobilnya yang terparkir di sisi jalan. Dengan terpaksa.Desi mengikuti langkahnya. Jantungnya berdebar, dia tahu kalau Didit akan marah besar padanya. Saat di dalam mobil, Didit sama sekali tidak mengeluarkan suaranya. Matanya lurus menatap ke depan tanpa meliriknya sama sekali. Desi pun tidak berani mengeluarkan suaranya, karena dia sudah merasa takut saat melihat wajah Didit yang serius.


Desi sangat kaget saat Didit memukul setir mobilnya sampai jari-jarinya lecet berdarah. Desi langsung mengambil tisu untuk menutupi lukanya yang berdarah, tapi Didit menghempaskan tangannya.


“Dit, kamu kenapa seperti ini?” tanya Desi sedikit teriak.


“Kamu masih nanya aku kenapa? Chi, apa kurang bukti cinta aku sama kamu? sudah sembilan tahun Chi aku menunggu kamu, aku sama sekali tidak pernah membuka hati ini untuk wanita manapun. Dan sekarang apa yang kamu lakukan membuatku marah. Kamu sama sekali tidak pernah menghargai perasaan aku.” Desi tertunduk. Dia meneteskan air matanya, karena rasa bersalah.


Didit menarik Desi masuk ke dalam pelukannya. Tangis Desi semakin menjadi saat Didit memeluk dirinya.


“Aku sayang kamu, aku tidak peduli dengan masa lalu kamu. Aku hanya ingin bersama denganmu. Sudah cukup sembilan tahun kamu menghukum aku dan aku mohon tetaplah bersama denganku. Hanya kamu wanita yang pantas buatku, di mataku kamu wanita yang sangat sempurna. Jadi, aku mohon untuk selalu ada di sisiku selamanya.” tidak ada jawaban dari Desi. Dia masih menangis dan Didit mengusap rambutnya sambil menepuk punggungnya agar dirinya sedikit merasakan tenang.


“Maafin aku, Dit!” ucapnya pelan. Didit melepaskan pelukannya dan menatap Desi yang masih tertunduk di depannya.

__ADS_1


“Kamu ga salah, aku yang salah karena selalu memaksakan kehendaku.” Desi menggelengkan kepalanya.


“Aku ....”


Cup ... Didit mencium bibirnya dan itu berhasil membuat Desi kaget. Didit tersenyum, dia menarik tangan Desi dan mencium tangannya.


“Aku cinta banget sama kamu dan sampai kapanpun aku tetap akan mencintaimu,” Desi menatap tajam wajah Didit. Ada senyum kecil di bibirnya. Dia sudah tidak bisa menyembunyikan lagi perasaannya.


“Aku juga.” jawabnya tersenyum. Didit yang mendengarnya sangat merasakan bahagia. Dia tersenyum dan tak henti-hentinya mencium kedua tangan Desi.


“Sakit ga?” Desi mengelap darah yang ada di jari-jari Didit. Didit hanya menggelengkan kepalanya. Dia terus menatap wajah wanita yang kini sudah resmi menjadi kekasihnya. Melihat itu, Desi tertunduk malu. Didit mengangkat wajahnya dan melayangkan ciuman lembut di bibir manisnya. Desi pun menyambutnya dengan senang hati. Akhirnya keduanya bisa bersatu kembali seperti dulu.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Jangan lupa like, komen dan Vote sebanyak-banyaknya....

__ADS_1


__ADS_2