Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 57


__ADS_3

S2 Bab 57


Ana mengirimkan pesan singkat pada kedua sahabatnya. Dia mengatakan kalau dirinya akan jujur pada Alaric semua tentang rencana mereka. Dan Ana menyuruh kedua sahabatnya untuk bertemu di rumahnya. Mendapatkan pesan itu, Erna dan juga Satria langsung bersiap sesuai yang diperintahkan oleh sahabat kesayangan mereka.


Selesai menyantap makanan, keduanya pun keluar dari Resto. Tangan Alaric menggenggam tangan Ana, dan kini sudah tidak ada penolakan darinya. Bahkan Ana juga ikut menggengam tangan Alaric. Mendapat balasan dari genggaman Ana, membuat Alaric tersenyum layaknya orang yang sedang kasmaran.


Sampai di parkiran, Alaric membukakan pintu untuk Ana. “Terima kasih!” ucapnya sambil melemparkan senyum manisnya. Alaric membelai lembut kepalanya dan membalas senyuman Ana.


“Sekarang mau kemana?” tanya Alaric.


“Emmm ... langsung pulang ke rumah aku aja, enggak apa-apa 'kan?”


“Tentu saja.” Alaric merasa bahagia, akhirnya dia bisa tahu rumah Ana yang sebenarnya.


Selama perjalanan menuju rumah Ana, Alaric terus menggenggam tangan juga sesekali menciumnya dan itu tidak mendapat perlawanan dari pujaan hatinya. Alaric merasa dia berhasil memenangkan kembali hati Ana.


Satria dan Erna juga sudah stay di rumah Ana menunggu kedatangan keduanya. Mereka juga merasa senang akhirnya Ana mau mengakui hubungan yang sebenarnya. Tidak lupa Erna juga memberitahukan pada Riana tentang rencana Ana, dan saat mendengar itu Riana merasa sangat senang. Menurutnya cukup selama tiga hari ini membuat anaknya gelisah kerena Ana. Kerena yang dia lihat di rumah, Alaric selalu murung dan tidak semangat.


Semenjak kepulangan Ana ke Indonesia, Alaric banyak menghabiskan waktunya di rumah. Bahkan dia sekarang tidak terlalu mementingkan pekerjaan seperti kemarin-kemarin. Riana yang melihat perubahan dari anaknya merasa sangat bahagia, akhirnya Alaric bisa mempedulikan tubuhnya yang selama ini pakai bekerja yang berlebihan.


Sampai di rumah Ana, Keduanya langsung turun. Melihat kendaraan yang terparkir di halaman rumah Ana tak asing membuat Alaric berpikir 'Apa Satria ada di sini?' Seketika pikiran itu membuat perasaannya down.


“Abang! Abang! Ayo masuk!” Berulang kali Ana memanggil Alaric yang tiba-tiba terdiam saat melihat mobil Satria.


“Ah ... i-iya,” jawabnya terbata karena kaget dengan panggilan Ana.


Alaric menarik tangan Ana membuat wanita cantik itu menghentikan langkahnya. Dia menatap Alaric meminta penjelasan apa maksud dia menarik tangannya, karena Alaric hanya terdiam setelah menarik tangan Ana.


“Bang? Ada apa? Kenapa enggak mau masuk?” tanya Ana kembali.


“Di dalam ada tunangan kamu ya? Aku mau pamit pulang aja, An. Maaf! Mungkin lain kali aku mampir. Kamu istirahat ya!” Alaric membelai lembut rambut Ana, melemparkan senyumannya dan berbalik badan.


Entah kenapa hati Ana merasakan sakit dan dia tahu rasa sakitnya juga sama dirasakan oleh Alaric. Ana langsung memeluk tubuh Alaric dari belakang, dan itu sontak membuat Alaric merasa kaget. Dia seketika menghentikan langkahnya dan menyentuh tangan Ana yang melingkar di perutnya.


“Ana, ada apa?”


“Abang, aku rindu sangat rindu.” Alaric tersenyum kecil. Dia membalikkan badannya dan langsung memeluk tubuh kecil Ana.


“Abang juga. Ya udah besok kita jalan yuk! Nanti abang jemput ya! Kamu masuk dulu sana, kasian Satria nungguin kamu di dalam. Aku pulang dulu ya!” mendengar itu hati Ana merasa semakin sakit. Dan tidak terasa air matanya mengalir dan itu membuat Alaric kaget kebinggungan.


“Hey ... kamu kenapa? Apa kamu ada masalah dengannya?” tatapan Ana terus menatap wajah Alaric dengan penuh kekesalan. Dia merasa kesal dengan sikap Alaric yang hanya pasrah dengan dirinya saat Ana akan bertemu Satria.


Bukannya menjawab pertanyaan Alaric, Ana malah memukul dada Alaric menumpahkan kekesalannya. Alaric merasa heran dan menahan tangan Ana lalu menarik dirinya masuk dalam pelukan.


“Kamu kenapa? Apa aku ada salah? Maafkan aku!”


“Abang Salah, banyak salahnya,” jawabnya masih dalam tangisan. Alaric menarik bahu Ana dan menatap tajam padanya. Dia tersenyum dan mengusap air mata yang ada di pipi Ana.

__ADS_1


“Kalau seperti itu, maafkan Abang ya!” ucapnya sambil tersenyum. Bukan malah merasa senang, tapi kekesalan Ana semakin memuncak.


“Tahu ah gelap.” Ana berbalik badan dan masuk meninggalkan Alaric. Alaric menarik nafas dalam dan mengikuti langkah Ana menarik tangannya.


“Kenapa? Jelasin aku salah di mana? Biar aku bisa memperbaiki itu buat kamu. Jangan seperti ini dong, Ana!” Ana hanya membuang nafas kasar, manarik tangannya dan melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah. Alaric pasrah dan terpaksa mengikuti langkah Ana masuk ke dalam.


Ana tersenyum ketika tahu Alaric mengikuti langkahnya. Saat masuk ke dalam, terlihat Erna dan juga Satria yang sedang asik becanda berdua sambil tertawa. Alaric kaget melihat kedekatan keduanya di depan Ana. Ingin rasanya dia memaki Satria agar dia tidak bersikap seperti itu terutama di depan Ana.


“Hai Bang! Silakan duduk!” titah Satria sambil tersenyum. Alaric pun duduk bergabung bersama dengan mereka. Ana memilih pergi ke dapur dan menyiapkan minum untuk teman-temannya.


“Kalian berdua sudah lama?” tanya Alaric membuka pembicaraan.


“Lumayan lama, Bang. Tumben jam segini abang sudah pulang kantor, kata bunda biasanya Abang selalu pulang malam,” ucap Erna.


“Kebetulan lagi ga ada kerjaan, jadi langsung pulang.”


Ana pun datang dengan empat gelas orange juice di tangannya. Melihat Ana yang kerepotan Satria langsung membantunya dan menyimpan minuman itu di meja. Melihat Satria yang romantis dan juga perhatian pada Ana membuat hati Alaric terasa panas.


'Cih ... sengaja banget bikin gue cemburu,' gumannya saat melihat perlakuan Satria.


Ana memilih duduk di samping Alaric, dan itu berhasil membuat Alaric merasa kaget.


“Jadi bagaimana persiapan pernikahan kalian?” tanya Ana pada kedua sahabatnya. Alaric yang mendengarnya seketika melirik Ana heran.


“Tunggu-tunggu, maksud kamu apa, Ana? Pernikahan? Di sini memangnya siapa yang mau menikah?” ketiganya saling pandang dan tersenyum mendengar pertanyaan Alaric.


“Aku sama Satria,” jawab Erna singkat. Semakin tidak mengerti dengan keadaan, Alaric berdiri dan memutuskan untuk pergi.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


👍Like


💬 Komen


🌺 Vote yaaaa


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Puisi by : Kenziki Kyozaki


...Semesta Rasa...


...Aku merindukanmu tanpa batas...


...Walaupun rasamu hilang tak berbekas...


...Bayangmu masih terpampang jelas...


...Terus bertahta dan menari bebas...


...Dulu, aku bukan siapa-siapa...


...Hingga kau temukan aku di ruang hampa...


...Kekosongan hati ini kau taburi bunga...


...Hingga kusadari kamu bagiku adalah dunia...


...Namamu masih tersimpan dalam galaksi hati ini...


...Walau kau hanya dapat ku miliki dalam mimpi...


...Biarpun aku akan selamanya tersesat dalam ilusi...


...Mungkin benar bahwa cinta tak selalu harus memiliki...


...Kurindu akan tatapan matamu yang sayup...


...Kurindu akan tutur katamu yang lembut...


...Perasaan ini tak pernah berujung...


...Bahkan saat hati kita tak lagi saling terhubung...


...Ceritaku masih terus tentangmu...


...Bidadari dalam khayalanku...


...Tersusun rapi rindu untukmu...


...Wahai bidadari yang tak bisa kurengkuh...


...Aku tak mampu menghapus kenangan tentangmu...


...Saat rindu untukmu telah menjadi separuh nafasku...

__ADS_1


...Terus mengalir tiada henti tanpa bisa ku akhiri...


...Hanya mampu memelukmu dari ujung dimensi hati....


__ADS_2