Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 5


__ADS_3

Alaric merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia menutup mata dengan lengannya. Pikiran dia masih terbayang-bayang Ana yang dijemput oleh seorang lelaki yang dia pikir mungkin itu adalah pacarnya. Tidak mungkin wanita secantik dia tidak mempunyai pasangan, itulah yang dipikirkan Alaric saat ini. Dia berusaha menutup kedua matanya tapi otaknya menyuruh untuk terus membukanya. Alaric merasa aneh dengan perasaan yang dia rasakan saat ini.


06.00


Sejak malam Alaric tidak bisa tidur dengan nyenyak, karena pikirannya selalu terbayang-bayang senyuman Ana pada lelaki yang menjemputnya di cafe. Dia segera beranjak dari tidurnya dan langsung bersiap masuk ke kamar mandi.


“Bang,” panggil Riana sambil membuka pintu kamarnya.


“Loh! tumben banget dia udah bangun. Biasanya juga susah dibangunin.” ucapnya sambil membuka jendela kamar anaknya, setelah itu keluar.


“Tumben Bun, udah keluar lagi dari kamar abang. Biasanya lama kalau udah masuk ke kandang singa,” ucap Rendra yang merasa heran sambil membaca koran yang baru saja dikirim oleh kurir pengantar koran.


“Tahu tuh, anak ayah tumben udah bangun. Mungkin dia udah sadar kali, Yah.” ucap Riana sambil tertawa pelan.


Selagi Riana menyiapkan aneka makanan untuk keluarganya, satu-persatu anaknya datang dan duduk bergabung di meja makan bersama dengan ayah mereka.


“Pagi Bunda, Ayah.” sapa Arez dan Salsa. Kedua orang tua mereka pun menjawabnya.


“Bun, Yah, hari ini kakak nginep di ibu ya! dari kemaren ibu telepon, kakak disuruh ke sana,”


“Ya udah sayang ga apa-apa, lagi pula 'kan kamu udah lama ga maen kesana,” ucap Rendra pada anaknya.


**♥️♥️**


Sampai di kampus entah kenapa mata Alaric ingin sekali mencari sosok Ana. Senyumannya langsung terukir ketika melihat gadis yang dicarinya sedang asik duduk di taman bersama dengan sepupunya.


“De, Gibran mana?” tanya Alaric hanya sebagai alasan untuk bisa bertatap mata dengan Ana.


“Tumben banget Bang Al nanyain bang Gibran sama aku. Mana ade tau Bang, dia langsung ngilang gitu aja pas nyampe kampus,” jawab Aulia. Tatapan mata Alaric terus menatap Ana, dan membuat Aulia tahu maksud pertanyaan basa-basi abangnya. Karena memang sebelumnya Alaric tidak pernah menghampiri dia hanya untuk menanyakan dimana abangnya.


“Oia Bang, nanti siang bisa anterin Ana ga, ke toko buku?” Ana kanget dengan apa yang diucapkan sahabatnya.


“Loh, kok lo ngomong gitu. Tadi 'kan lo bilang bisa nganter gue,” ucapnya spontan karena kaget.


“Gue mendadak ga enak badan An, gimana Bang bisa ga?”


“Abang sih bisa aja, soalnya lagi free, tapi kayanya temen kamu ga mau deh dianter abang,” jawabnya, karena melihat reaksi Ana tadi yang sangat kaget ketika Aulia meminta sepupunya untuk mengantarkan dia.


“Mau kok, emang kamu ga mau, An?” tanya Aulia balik pada sahabatnya.


“Bukan ga mau, cuma ga enak aja, takutnya Abang ada urusan dan harus terpaksa anterin gue,”

__ADS_1


“Gue ga bilang gitu. Kok lo berpikiran seperti itu?”


“Oke ... fix ya, nanti beres kelas Abang bisa ya. Duh ... kenapa badan gue mendadak ga enak gini sih,” ucap Aulia langsung berdiri sambil memegangi lehernya meninggalkan keduanya.


“Aul ... mau kemana?” teriak Ana, dan hendak ingin menyusul sahabatnya.


“... Oh iya Bang, gu-gu eh aku nyusul dulu Aulia ya. Sampai nanti siang.” ucapnya gugup dan mengubah panggilannya pada Alaric. Dengan cepat Ana berlari menyusul Aulia sambil tertunduk, karena wajahnya yang memerah. Alaric tersenyum bahagia melihat kelakuan Ana. Dia semakin gemas dan penasaran dengan sikapnya.


**♥️♥️**


Sejak tadi Fauzi terus menatap Salsa sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya. Salsa yang sedang konsentrasi mengerjakan kerjaan merasa risih dengan sikap Fauzi akhir-akhir ini. Entah perasaannya saja atau memang begitu, kalau Fauzi lebih agresif padanya. Itulah yang dipikirkan Salsa.


“Zi, lama-lama gue colok juga mata lo,” ucapnya sambil menatap sinis ke arah Fauzi.


“Dih, galak banget sih jadi cewek. Pantes laki-laki pada kabur,” canda Fauzi dan berhasil memancing kemarahan dari gadis pujaan hatinya. Dia mengepalkan jarinya, dan Fauzi langsung sadar kalau Salsa marah padanya.


“Oke, cukup sekian hari ini, gue lanjut kerja. Semangat ya sayang kerjanya,” ucapnya langsung berdiri sambil menyentuh dagu Salsa.


“Fauzi!!!” tanpa sadar Salsa berteriak, dan berhasil membuat semua orang melirik padanya. Fauzi hanya tertawa dan menempelkan telunjuknya di atas bibirnya, lalu pergi Kembali ke meja kerjanya. Salsa benar-benar kesal dengannya dan ingin rasanya dia menjambak rambut laki-laki yang selalu saja memancing emosinya.


Jam istirahat tiba, semua karyawan mulai mengosongkan ruangan untuk mencari makanan. Salsa tetap di meja kerjanya karena kerjaan yang masih menumpuk. Walaupun dia anak dari pemilik perusahaan, tapi Salsa tidak mau diistimewakan. Dia tetap menjadi karyawan biasa dan sampai sekarang tidak ada yang mengetahui status dia sebenarnya selain Fauzi sahabatnya.


Brak .... Fauzi menyimpan makanan cepat saji di atas meja Salsa. Dan berhasil membuat gadis cantik itu kaget. Fauzi pun mengambil semua berkas-berkas yang ada di tangan Salsa dan menyimpannya di meja sebelah.


“Zi, gue masih banyak kerjaan,” tidak peduli dengan perkataan Salsa, Fauzi tetap menata makanan di depan gadis pujaan hatinya.


“Yu Makan! Kasian cacing di dalam perut kamu minta makan. Abaikan dulu kerjaannya, Ayah juga ga akan marahin kamu kalau kamu telat ngasihnya. Yang ada Ayah nanti marahin kamu kalau kamu sampai lupa ga makan.” Salsa mengkerut keningnya mendengar perkataan sahabatnya. Dia merasa aneh dengan cara bicara Fauzi yang mendadak berubah padanya.


“Kok bengong? ayo makan!” Salsa hanya mengangguk dan melahap makanan yang ada di depannya. Tidak bisa di pungkiri kalau memang dirinya sangat lapar saat itu.


“Pelan-pelan dong makannya,” ucap Fauzi sambil mengambil remehan nasi yang ada di dekat bibirnya dan memasukkan ke dalam mulutnya. Salsa benar-benar kaget dan tidak menyangka Fauzi bersikap manis seperti itu padanya.


“Kenapa? kok liat aku kaya gitu?”


“Sumpah Zi, gue merinding kalau lo seperti ini.” Fauzi menggenggam tangan Salsa.


“Mau sampai kapan kamu pura-pura ga tahu sama perasaan aku, Sa? selama ini aku berusaha untuk menjadi yang kamu inginkan. Tapi kali ini aku ga bisa. Kita udah dewasa, dan umur kita ga muda lagi. Tidak bisakah kamu menerima perasaan aku?” Salsa menatap Fauzi tajam.


“Zi, please jangan seperti ini. Hal yang paling menakutkan di dunia ini adalah kehilangan lo. Dan gue ga mau kehilangan sahabat seperti lo.” Salsa berdiri dan hendak meninggalkan Fauzi, tapi langkah dia terhenti saat Fauzi memeluk tubuhnya dari belakang.


“Aku janji, persahabatan kita tidak akan pernah berubah, Sa. Dan juga aku janji kalau hubungan kita akan lebih baik lagi kedepannya,"

__ADS_1


“Maaf, Zi!” ucap Salsa melepaskan pelukan Fauzi dan berjalan keluar ruangan. Fauzi duduk dengan lemas dan hanya bisa menatap punggung Salsa pergi.


Sebenarnya Salsa juga sangat menyukai Fauzi, tapi dia tidak mau kehilangan seorang sahabat sebaik dia. Karena rasa traumanya pada ibu dan ayahnya. Dia tidak mau mengalami hal yang sama seperti ibunya.


.


.


.


.


~Bersambung~


Terimakasih semuanya yang sudah setia menunggu UP-nya novel ini. Jangan lupa Like, Komen dan Vote sebanyak-banyaknya yaaa, biar Author tambah semangat lanjutin ceritanya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Aku mau kasih Rekomendasi novel keren buat kalian nih.


'Cinta Dan Benci'


karya Author Tiya Corlyningrum


Kisah cinta dan peliknya kehidupan Nadia Mark Wijaya. Menjadi anak 'brokend home' bukanlah bagian mimpinya.


Saat suami menghianati istrinya..


Papa yang melukai anaknya..


Dan, kekasih yang mematahkan kepercayaan atas cinta!


Hidup Nadia benar-benar berantakan, mulai dari perceraian kedua orang tuanya karena perselingkuhan papanya. Ditambah kenyataan sang kekasih bermain api dengan kakak tirinya.


Berbagai pengkhianatan dari orang-orang terdekatnya membuat Nadia tidak lagi mempercayai cinta. Hanya kebencian yang kini menyelimuti hati wanita itu.


"Aku tidak percaya dengan cinta. Kamu bilang kamu mencintaiku, tapi kamu bermain api dengan saudara tiriku!" -Nadia Mark Wijaya-


"Cinta itu rumit, serumit kisah cintaku padamu," -Fernando Pirthflyoza


Happy reading guys....

__ADS_1


__ADS_2