Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 91


__ADS_3

S2 Bab 91


Satu bulan sudah berlalu, kini Ana sudah tidak memikirkan buah hati lagi. Dia lebih memasrahkan semuanya pada Tuhan dan intinya dia selalu berusaha dan berdoa.


Hari ini Ana berencana untuk bertemu dengan Intan dan juga aulia di mall, tempat biasa mereka kunjungi. Keduanya sudah menunggu Ana di salah satu tempat makan khas negara Korea. Aulia melambaikan tangannya, saat melihat kedatangan Ana yang melirik sekitar tampak kebinggungan.


Mata Ana sudah tertuju pada sahabatnya dan langsung menghampiri mereka.


“Sorry, lama. Seperti biasa kalau gue keluar rumah harus rayu laki biar dapet izin.” mendengar itu membuat keduanya tertawa.


“Sumpah deh, sampai sekarang gue masih belum percaya kalau Bang Al seposesif itu. Dia lebih-lebih dari Gibran bucinnya,” ucap intan dan mereka semua kembali tertawa.


Mereka pun lanjut memesan makanan sebelum mereka melanjutkan untuk berdiskusi. Selesai menyantap makanan, Ana terlebih dahulu menggedong baby piw yang baru saja bangun dari tidurnya.


“Oh iya Aulia, gimana laki lo sekarang? Apa masih bersikap cuek seperti dulu?” tanya Intan. Aulia memasang wajah yang seketika menjadi badmood. Dan itu berhasil membuat Intan juga Ana saling memandang dan kemudian meminta penjelasan dari Aulia.


“Ada apa?” tanya Ana penasaran.


“Dia selalu dan selalu saja sibuk. Dari awal nikah dia lebih mementingkan pekerjaannya. Janji untuk bulan madu pun lewat. Tapi anehnya, saat dia pulang ke rumah, aku sama sekali enggak mau dekat-dekat dengannya. Melihatnya pun ogah. Tapi aku kangen dan ingin sekali memeluk tubuhnya.” mendengar itu Intan langsung tersenyum.


“De, terakhir datang bulan kapan?” saat Intan menanyakan ini, sontak kedua wanita cantik itu langsung menatap ke arahnya dengan wajah yang kaget.


“Maksud kak Intan?” tanya Aulia dan Intan hanya tersenyum. Dia pun berpikir kapan dirinya datang bulan, “Aku lupa kak. Kalau enggak salah, bulan kemaren aku sama sekali tidak datang bulan. Kak ... jangan-jangan ....” Aulia baru sadar apa yang dimaksud kakak iparnya itu. Dia menutup mulutnya dan menatap kedua wanita yang sangat dia sayangi.


Mendengar itu membuat Ana dan Intan juga tersenyum. Dia yakin kalau Aulia sekarang sedang mengandung. Ketiganya pun segera mencari tempat menjual tes kehamilan yang ada di mall. Setelah mendapatkan alat pipih itu, Aulia segera menuju toilet.


“Lo enggak apa-apa 'kan, Ana?” tanya Intan. Ana tersenyum menggelengkan kepalanya, “Kagaklah. Gue seneng malah. Gue sih yakin Tuhan punya rencana lebih indah buat gue.” Intan ikut tersenyum dan langsung merangkul lengan sepupunya itu.


Rasa tidak karuan dengan jantung yang berdetak sangat keras, saat Aulia memasuki toilet yang sangat ngantri. Dia mengeluarkan benda pipih itu dari tasnya dan menatap terlebih dahulu benda itu.


'Tuhan, semoga ini benar-benar kado istimewa buatku,' gumamnya.


Selesai melakukan tes pack, Aulia langsung bergegas keluar dari toilet. Kedua saudaranya langsung berdiri dari duduk dan tidak sabar ingin melihat hasilnya. Tapi, terlihat dari wajah Aulia sangat muram dan itu artinya kalau hasilnya pasti negatif, pikir mereka.


“Udah sabar, baru juga menikah sebulan,” ucap Intan langsung merangkul tubuh adik iparnya itu.

__ADS_1


“Iya ... gue aja jalan enam bulan enjoy aja kok,” lanjut Ana.


Aulia hanya diam, dan mengeluarkan benda itu dari dalam tasnya. Terlihat sangat jelas dua garis merah di sana dan itu berhasil membuat ketiganya teriak histeris. Ketiganya menjadi pusat perhatian semua orang, terlebih anak kecil yang ada di gendongan Ana langsung menangis karena kaget.


“Auliaaa ... selamat ya, Sayang,” ucap Ana langsung memeluk sahabat yang kini jadi sepupunya. Intan pun ikut bergabung memeluk tubuh adik iparnya.


Sejak tadi ponsel Ana tidak henti-hentinya berdering. Alaric sudah hampir 30 menit menunggu istrinya di parkiran depan mall. Memang waktu sudah sore dan janji Ana dia hanya akan main sampai sore hari setelah Alaric pulang dari kerjanya.


”Ampun deh Bang Al, enggak bisa saja lihat istrinya seneng,” kesel Aulia.


“Jangan kesel-kesel sama abang lo, nanti dia bisa mirip sama anak lo nanti,” canda Intan.


“Dih ... jangan dong. Walaupun gantengan Bang Al dibandingkan Bang Kris, tapi gue masih tetap pengen anak gue mirip bapaknya,” canda Aulia dan semua tertawa.


“Guys ... bentar ya! Gue angkat telepon dulu.” Ana pun menyerahkan Pitter ke ibunya dan langsung mengangkat telepon dari suaminya yang baru dia sadari kalau ponselnya sejak tadi berbunyi.


Alaric :“Sayang, kamu kemana saja sih? Aku teleponin dari tadi kamu baru angkat!


Ana :“Maaf Sayang, sama sekali enggak kedengeran. Ada apa, Yank?”


Ana :“Ya ampun, kok Abang enggak bilang mau jemput. Ya udah, aku ke sana sekarang ya!”


“Bang Al jemput?” tanya Aulia. Ana mengangguk, “Dia sudah ada di parkiran mobil, kayanya kita sampai di sini deh. Aul, jaga kandungan lo yah. Jangan benci-benci lo sama Bang Kris, kasihan tahu!” mereka tertawa.


“Itu sih tergantung orangnya, nyebelin apa enggak dan tergantung bayi ini, mau apa enggak sama bapaknya,” lanjut Aulia sambil memegang perut yang masih rata itu. Mereka pun tertawa mendengar ucapan Aulia.


Akhirnya ketiga wanita itu saling berpamitan. Aulia dan Intan naik mobil yang sama sedangkan Ana langsung bergegas menuju parkiran. Tidak lupa Ana mencium habis wajah si kecil sampai Pitter menangis karena kesal.


Sampai di parkiran, dari kejauhan Ana sudah melihat wajah kesal suaminya. Dia berjalan sambil melemparkan senyuman manis untuk suaminya, berharap Alaric luluh dengan senyumannya.


“Stop! Enggak usah senyum-senyum gitu depan aku, enggak akan ngaruh!” ucap Alaric dengan nada ketus saat Ana suah masuk ke dalam mobil.


“Dih ... Sayang, jangan ngambek dong! Emmm ... jatahnya dua kali deh,” goda Ana dan itu langsung berhasil membuat Alaric luluh. Dia melirik ke arah Ana dan langsung mencium habis bibir manis istrinya.


“Awas ya kamu, kalau sudah sampe rumah!” ucap Alaric. Keduanya tersenyum dan Alaric pun segera melajukan mobilnya.

__ADS_1


“Yank ....” panggil Ana.


“Iya Sayang,” jawab Alaric sambil menggenggam tangannya dan sesekali menciumnya.


“Aulia hamil.” mendengar itu membuat Alaric kaget, “Serius kamu, Yank?” Ana tersenyum mengangguk.


Alaric langsung memarkirkan mobilnya di pinggir taman dekat komplek rumahnya. Memang mall itu sangat dekat dengan rumah mereka. Alaric mengubah duduknya menghadap Ana dan kembali mencium tangannya.


“Kamu enggak apa-apa, Sayang?” Alaric sangat khawatir kalau-kalau istrinya akan stress lagi memikirkan kapan dirinya akan mengandung.


Ana menggelengkan kepalanya,“Aku happy, Sayang. Kamu tenang saja, aku tidak akan kepikiran kaya kemarin-kemarin kok. Aku pasrah, kapan pun Tuhan kasih.” Alaric mencium kening istrinya dan mengusap wajahnya dengan lembut.


“Sayang, kalau bulan depan kamu masih belum positif, bagaimana kalau kita program bayi tabung?” Ana tersenyum mengangguk. Kembali Alaric mencium kening istrinya dan kembali menjalankan mobilnya.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Jangan lupa


👍Like


💬 Komen


🌺 Vote sebanyak-banyaknya.


Happy reading...

__ADS_1


Aku Padamu ❤️❤️❤️


__ADS_2