
S2 Bab 58
Dengan cepat Ana menyusul langkah Alaric yang sangat cepat.
“Abang!” teriaknya sambil menarik tangan yang brusaha dia gapai.
Alaric menghentikan langkahnya, tanpa membalikkan badan. Ana memeluk tubuh Alaric dan meminta maaf atas kebohongan yang sudah dibuatnya. Alaric masih diam tida mempedulikan apa yang dikatakan Ana. Selesai Ana bicara, Alaric melepaskan tangan Ana yang melingkar di pinggangnya. Dia oun membalikkan badannya, kemudian menatap Ana dengan tatapan yang tajam.
Mendapat tatapan dari kekasih hatinya bukan senang tapi jantung Ana merasa ketakutan. Pasalnya tatapan Alaric begitu tajam menusuk, sampai-sampai Ana merunduk tak mampu melihatnya.
“Sayang, maksud kamu apa dengan semua yang terjadi? Kamu sengaja mau menghukum aku dengan menghancurkan hatiku? Apa sebenci itukah kamu padaku, hah?” ucap Alaric sambil mencubit keningnya dan kembali membalikkan badannya.
Ana menarik ujung baju Alaric, sambil menunduk dia mengatakan, “Maafkan aku!” dengan nada yang pelan. Melihat Ana yang seperti itu entah kenapa, kekecewaan dan kemarahan Alaric seakan sirna. Dia terlalu gemas dengan sikap Ana yang manja seperti itu.
“Argh ....” teriaknya dan membalikkan badannya menghadap ke Ana. Ana yang mendengarmya cukup kaget, dia terhentak mengangkat wajahnya.
“Maaf!” lirihnya dengan memasang wajah yang memelas.
Semakin tidak bisa menahannya, Alaric menarik tubuh Ana dan memeluknya dengan erat. Ana yang mendapat pelukan itu langsung tersenyum dan membalas pelukan dengan melingkarkan tangannya di pinggang Alaric.
“Aku sangat merindukanmu, Sayang. Sangat merindukanmu,” ucap Alaric sambil menengelamkan wajahnya di leher jenjang Ana.
“Aku juga,” jawab Ana.
Tidak lama memeluk Ana, Alaric melepaskan pelukannya dan kembali menatap Ana. Ana merasa kebingungan dengan sikap Alaric hanya mengangkat alis seolah-olah meminta penjelasan kenapa Alaric melepaskan pelukannya.
“Jadi, kamu milikku. Dan tidak ada yang bisa memilikimu selain aku.” Alaric kembali memeluknya. Ana tersenyum bahagia, “Ya ... sejak dulu hati ini milik Abang. Tidak ada yang bisa memilikinya.” Alaric tersenyum dan mempererat memeluk tubuhnya.
Tepukan tangan dari Erna dan Satria membuat mereka langsung melepaskan pelukannya dan merasa malu. Keduanya memberikan selamat atas kesetiaan untuk saling menunggu cinta kembali.
“Wah ... cinta kalian berdua keren banget. Pantesa saja bunda Riana mohon-mohon sama gue buat mempertemukan kalian berdua. Salur gue sama cinta kalian,” ucap Erna. Alaric dan Ana yang mendengarnya saling pandang dan melempar senyuman. Alaric pun menarik Ana dan merangkulnya sedangkan Ana melingkarkan tangannya di pinggang Alaric.
“Menunggu Ana bukan hal yang sulit. Gue bisa menunggu dia sampai kapan pun,” ucap Alaric sambil menatap Ana.
__ADS_1
“Tugas kita udah beres 'kan? Waktunya kita menghabiskan waktu berdua juga,” canda Satria mengundang tawa semuanya.
“... kalau gitu gue pamit ya. Bro, jaga adik gue! Kalau lo bikin dia nangis lagi, bener-bener gue rebut terus jadiin istri kedua,” ucapan Satria langsung mendapat cubitan di perut oleh kekasihnya. Sambil berjalan keluar, Satria terus meringis kesakitan karena ulah Erna. Ana dan Alaric menggelengkan kepala sambil tertawa melihat keduanya.
Setelah keduanya pergi, Alaric dan Ana terdiam dan saling menatap. Melepaskan kerinduan yang selama ini mereka tahan. Alaric menarik bahu Ana menghadap padanya. Ana menatap Alaric malu-malu, karena tatapan Alaric padanya sangat tajam menusuk.
“Aku rindu,” ucapnya sambil perlahan mendekati wajahnya. Ana tahu apa yang akan dilakukan Alaric, entah kenapa tiba-tiba kedua matanya menutup dan dengan pasrah menunggu Alaric mendekat.
“Ehem ....” seketika keduanya tersentak dan saling mundur satu langkah saat mendengar suara geraman dari Bimo.
“Papa ....” sapa Ana dan tertunduk malu. Bimo menahan senyumannya, dan berusaha menapilkan dirinya yang tegas dan berwibawa.
“Kalian berdua, masuk!” ucapnya sambil melangkah masuk ke dalam.
Alaric menatap Ana dengan tatapan binggung seolah-olah ingin bertanya apa yang akan terjadi nanti di dalam. Ana menggelengkan kepalanya dan menarik tangan Alaric agar mengikui titah papanya.
Keduanya sudah duduk di ruang tamu menunggu Bimo yang mengganti pakaian kerjanya.
“Tidak mungkin, Sayang. Tenang saja, papa orangnya baik kok. Paling kamu diomelin bentar,” canda Ana sambil cengegesan. Tapi itu tidak membuat Alaric tertawa, karena perasaannya saat ini sangat tegang. Pikiran Alaric sudah melayang-layang kemana-mana. Dia takut kalau Bimo tidak menyetujui hubungan dia dan Ana mengingat apa yang sudah dia lakukan dulu.
Bimo dan istrinya pun datang dan langsung duduk bergabung dengan keduanya. Alaric seketika berdiri, dan mengulurkan tangan untuk salam pada keduanya. Tina tersenyum dan menyambut uluran tangan Alaric, sedangkan Bimo hanya diam dan langsung duduk tanpa membalas uluran tangan Alaric.
Perlakuan Bimo membuat Alaric pasrah, dia yakin pasti dirinya tidak akan pernah disetujui mendekati Ana. Tapi, kalaupun itu terjadi, Alaric tidak akan menyerah, dia tetap akan memperjuangkan cintanya yang sudah dia tunggu selama tiga tahun ini.
“Duduklah nak Al!” titah Tina karena dari tadi Alaric masih saja berdiri. Ana pun menarik lengan Alaric untuk duduk sesuai perintah mamanya.
“Om, tante maaf sebelumnya saya baru datang dan memperkenalkan diri saya pada kalian. Saya Alaric, kekasih Ana,” ucapnya memperkenalkan diri.
“Sejak kapan kamu menjadi kekasih anak saya? Setahu saya, Ana tidak punya hubungan apapun dengan kamu,” ucap Bimo membuat suasana menjadi sangat tegang.
“Papa ....” Ana mencoba untuk menjelaskan, tapi Tina menatap Ana menggelengkan kepalanya agar Ana tidak ikut bicara. Ana pun patuh dan hanya bisa tertunduk.
“Ma-maaf Om. Sebelumnya saya tidak pernah memperkenalkan diri. Saya sangat mencintai Ana, Om sejak dulu hingga sekarang. Maafkan saya karena kejadian tiga tahun yang lalu. Saya ceroboh dan egois tidak mau mendengarkan penjelasan dari Ana terlebih dahulu. Tapi Om, saya benar-benar masih sangat mencintai Ana. Saya sangat menyesal dengan semua yang telah terjadi. Om izinkan saya untuk kembali dengan Ana.” Alaric memohon sambil tertunduk pada Bimo, Ana yang mendengarnya merasa sangat terharu dan berharap papanya menerima Alaric.
__ADS_1
“Kamu sudah menyakiti anak saya, dan dengan gampangnya meminta Ana kembali? Enak banget hidup kamu!”
“Papa, Alaric sudah menyesal dan benar-benar menyesal,” ucap Ana yang kini sudah menangis.
“Diam Ana. Dan sekarang papa mohon kamu masuk ke dalam, biarkan papa bicara empat mata dengannya. Mama, bawa Ana masuk!”
“Tapi, Pa!” Alaric menatap wajah Ana dan mengangguk tersenyum. Ana pun menuruti titah Bimo dan masuk ke dalam dengan mamanya.
“Ma, aku sangat mencintai bang Al, Ma,” lirih Ana sambil melingkarkan tangannya dipinggang Tina. Tina hanya membelai ramput anaknya dan berusaha menenangkan Ana.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Jangan lupa
👍Like
💬 Komen
🌺 Vote
AKU PADAMU SEMUANYA ❤️❤️
__ADS_1