
S2 Bab 84
Ana merasa sangat kesal dengan suaminya. Niat hati ingin menghabiskan malam bersama dengan Aulia, tapi itu tidak terlaksana. Semalaman dia terus saja menelpon Ana dan membuat Ana tidak bisa bebas bicara dengan sahabatnya itu. Melihat Ana yang seperti itu Aulia sadar, betapa sangat menyebalkan mempunya suami yang posesifnya selangit seperti sepupunya itu.
Ana sengaja menunggu Alaric tidur, karena dia tahu suaminya tidak bisa menahan ngantuk di atas jam 11 malam. Setelah mendengar napas panjang dari suaminya, Ana sangat yakin bahwa dia sudah tertidur. Ana pun menutup ponselnya.
“Gue enggak nyangka bang El sebucin ini. Yang gue kenal abang gue itu cuek dan garing, tapi ternyata pecinta wanita. Lo kasih apa abang gue sampe berubah seperti itu?” canda Aulia membuat keduanya tertawa.
“Gue juga jadi curiga kalau suami gue punya kepribadian lain. Dia di depan orang akan menjadi berbeda dan sangat jauh saat dia bersama gue. Dan kalau gue ceritain ini nih ke orang, enggak ada yang percaya kecuali mereka melihat langsung, kaya seperti lo.”
“Bener-bener. Kalau lo cerita Bang Al seperti itu sama gue tanpa bukti gue 100% enggak akan percaya. Karena emang Abang beda jauh banget kalau di depan lo. Emmm ... gue enggak bisa ngebayangin kalau Bang Kris kaya gitu, karena memang enggak akan mungkin terjadi.” keduanya tertawa.
“Emmm ... nothing is Impossible, Beb. Kali aja bang Kris kaya gitu,” lanjut Ana tertawa. Aulia yang membayangkannya seketika merinding, karena akan menjadi aneh kalau memang itu terjadi.
Tidak terasa sahabat yang kini sudah menjadi sepupu ipar itu melewatkan malam mereka. Ana menyadari kalau jam sudah menunjukan dini hari dan dia menyuruh Aulia untuk segera tidur. Mendengar itu bukannya rasa kantuk yang menghampiri dia, tapi Aulia semakin tidak bisa tidur karena dia merasa sangat gugup.
Wajar memang untuk pengantin akan merasakan gugup, tapi Ana memberi pengetian kalau kita tidak tidur, akan mempengaruhi ke aura wajah kita nanti. Mendengar itu Aulia tidak mau aura kecantikannya mengurang. Dia pun memaksakan diri untuk tidur.
Pagi hari semua orang tampak sibuk seperti biasa. Ini bukan pengalaman pertama buat Sonia menikahkan anaknya, tapi ini menjadi pengalamam pertama Eki untuk menikahkan anak perempuannya. Dan ini akan menjadi hal memberatkan baginya, karena dengan begitu dia harus merelakan putri kesayangannya dimiliki oleh pria lain.
Kedekatan Eki dan Sonia tidak diragukan lagi. Sonia memang sangat manja dengan papi kesayangannya itu. Saat pagi hari, Eki terus berdiam diri di kamar, membuat istrinya merasa khawatir. Berulang kali membujuknya untuk keluar bergabung dengan Rendra yang sudah datang bersama keluarganya.
“Yank, bisa lepas ga? Aku mau bantuin tante Sonia,” ucap Ana pada suaminya yang baru saja datang dan langsung memeluk terus tubuh istrinya.
“Enggak akan aku lepasin. Kamu tahu enggak aku sudah menahan rindu ini sejak kemarin. Masa kamu tega sih nyuruh aku lepasin pelukanku.” Ana membuang napasnya dengan kasar.
__ADS_1
Semua orang yang melihat kelakuan Alaric menggelengkan kepala mereka.
“Enggak nyangka Bang Al bisa se-bucin itu,” bisik Intan pada mertua dan Riana yang sedang mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa ke gedung.
“Namanya juga mabuk cinta, Kak. Ya ... gitu. Emang Gibran enggak gitu ya?” tanya Riana.
“Boro-boro Bun, dia mah lempeng-lempeng saja. Tapi romantis kalau bercinta,” canda Intan membuat semua tertawa.
Mendengar cerita dari maminya, Aulia menghampiri Eki di kamarnya. Perlahan dia membuka pintu kamar dan mendekat ke arah papinya yang sedang berdiri menatap keluar. Perlahan dia berjalan lalu tiba-tiba memeluk tubuh papinya dari belakang dan berhasil membuat Eki kaget.
“Papi ....” mendengar itu Eki membalikkan badan menghadap anak kesayangannya. Dia melemparkan senyumannya dan mencium kening anaknya.
“Mungkin ini menjadi ciuman terakhir papi untuk kamu, De.” mendengar itu membuat Auli berkaca-kaca. Dia langsung memeluk tubuh Eki dan menangis.
“Papi, Aulia sampai kapan pun akan tetap menjadi anak papi. Papi juga bebas kalau mencium anak nakal papi ini. Aulia tidak akan berubah sedikit pun dan tetap akan menjadi anak kesayangan papi.”
“Enggak Pi, enggak akan ada yang berubah. Aul masih butuh papi sampai kapan pun. Nanti kalau Bang Kris nakal sama Aul siapa yang bakal marahin? Papi bukan? Makanya Aul mohon papi jangan berpikiran seperti ini dan jangan bersedih hati! Aul tetap dan selamanya akan menjadi anak manja buat Papi.” Eki mengangguk dan kembali mencium kening anaknya.
“De, bagaimana pun suamimu nanti, kamu harus tunduk dan patuh padanya ya! Jadikan dia satu-satunya orang yang kamu cintai.”
“Iya Pi. Aul janji sama Papi akan menjadi istri yang baik buat Bang Kris. Sekarang Papi jangam sedih terus dong! Keluar yuk, gabung sama yang lain!” Eki tersenyum mengangguk. Dia pun akhirnya mau keluar dari kamarnya sambil merangkul pundak anaknya.
Acara pernikahan akan diadakan sore hingga malam hari. Makanya pagi itu mereka masih sibuk mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa ke gedung.
Semua orang sudah berkumpul di gedung yang tidak jauh dari tempat tinggal Aulia. Memang pernikahan Aulia tidak sebesar dan semewah Ana, tapi tidak kalah bagusnya. Eki terus berada disisi anaknya dan menemani dia saat Aulia sedang dirias oleh tim rias pengantin.
__ADS_1
Eki terus menatap wajah cantik Aulia dan tersenyum melihatnya.
“De, Krisna akan sangat beruntung mendapatkan kamu. Anak papi sangat cantik sekali.” Aulia mendengar itu langsung membalas senyuman papinya.
Gaun berwarna gold dengan riasan yang natural tapi terkesan mewah membuat Aulia sangat canti dan bercahaya. Dia sudah siap dan menunggu pihak dari pembawa acara memanggilnya keluar dari tempat riasnya.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Jangan lupa
👍Like
💬Komen
🌺Vote
__ADS_1
Maaf kemarin tidak sempet kasih bonus, sebagai gantinya sekarang aku kasih bonusnya yaaa...
Happy reading...