
Hampir setiap hari Desi main ke rumah adiknya, semata-mata untuk memulai pendekatan dengan anaknya. Riana dengan senang hati menyambut kakaknya. Malah dia berulang kali dia menawarkan pada Desi untuk tinggal bersamanya, Rendra pun tidak keberatan dengan itu. Tapi, Desi menolaknya dan dia lebih memilih untuk tinggal di rumah kedua orang tuanya.
“Ria, apakah kamu benar-benar menyukai Rendra?” tanya Desi, karena sejak lama dia penasaran dengan hal itu. Desi tau kalau adiknya menikah tanpa adanya rasa cinta.
“Sangat mencintainya Kak. Oia Kak, apa aku boleh menanyakan sesuatu?” Desi mengangguk tersenyum.
“Apa Kakak mengenal Indri?”
“Tentu saja, dia mantan kekasih Rendra. Apa mereka masih berhubungan?” tanyanya dengan nada sedikit emosi.
“Ga Kak, cuma pas kita berdua bulan madu, dia menghampiri kita dan meminta bukti pada Mas Rendra, kalau dia benar-benar mencintaiku atau tidak. Berarti mereka berhubungan sudah sangat lama ya kak,” ucapnya cemas.
“Ga kok, setahu aku mereka putus semenjak kelas 2 SMA. Aku malah baru tahu kalau mereka balikan lagi,”
“Kata Mas Rendra, mereka pacaran selama 3 tahun, tapi Mas Rendra tidak pernah mencintainya. Aku juga ga tahu bagaimana perasaan Mas Rendra sebenarnya. Tapi, aku percaya kalau sekarang Mas Rendra hanya mencintai aku.” ucap Riana tersenyum. Melihat itu Desi ikut merasakan bahagia. Dia menarik tubuh adiknya masuk ke dalam pelukannya.
“Berbahagialah Dek! Dengan melihatmu seperti ini Kakak juga merasa bahagia. Apalagi sekarang Kakak bisa berjumpa dengan anak Kakak.” Desi melepaskan pelukannya. Keduanya sambil melempar senyuman dan mereka pun kembali bermain bersama Salsa.
Ingin rasanya Desi bicara jujur depan anaknya kalau dirinya adalah ibu kandungnya. Tapi, dia mengurungkan niatnya melihat betapa sayangnya Riana pada anaknya. Dia tidak mau Riana merasa sedih dengan pengakuannya.
Hari sudah semakin sore, Desi pamit pada adiknya untuk pulang ke rumah mereka dulu. Dia tahu kalau sebentar lagi Rendra akan pulang dan dia tidak ingin menjadi penganggu keduanya. Memang dasar sudah mempunyai ikatan, Salsa menangis saat ibunya akan pulang. Dia tidak ingin kalau ibunya meninggalkan dirinya. Riana tersenyum melihat pemandangan yang sejak lama dia impikan.
Akhirnya Desi memutuskan untuk pulang setelah Salsa tidur. Selagi kedua orang yang disayanginya bermain, Riana menyiapkan makan malam untuk keluarganya. Sebenarnya Rendra tidak memperbolehkan dirinya untuk mengerjakan apapun kerjaan di rumah termasuk untuk memasak. Tapi, Riana tidak bisa hanya berdiam diri, maka dari itu dia memasak hanya saat membumbui masakannya selebihnya dilakukan oleh assisten rumah tangga.
Semua makanan siap bersamaan dengan datangnya Rendra. Riana menyambut suaminya dengan pelukan mesra dan Rendra membalasnya dengan kecupan manis di keningnya. Sebelumnya dia mengabari suaminya, kalau kakaknya masih ada di rumah mereka dan berita itu langsung disampaikan Rendra pada sahabatnya.
Mendengar berita bahagia itu, tentu saja Didit tidak akan tinggal diam. Dia juga ikut pulang ke rumah Rendra dan itu berhasil membuat Desi sedikit kaget. Susah berhari-hari Desi sengaja menjauhkan diri dari mantan kekasihnya itu. Menurutnya, dia tidak pantas untuk mendapatkan cinta Didit, walaupun sebenarnya dia sangat mencintainya.
Didit melempar senyuman dan langsung menghampiri ibu dan anak itu. Salsa yang merasa sudah sangat akrab dengan Didit langsung menghampirinya dan duduk di pangkuan Didit. Desi merasa salting saat itu. Rendra dan Riana yang melihatnya tersenyum. Mereka pun meninggalkan keduanya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Saat di kamar, Rendra langsung berlutut dihadapan istrinya membuat Riana merasa kaget. Ternyata suaminya hanya ingin mencium perutnya yang masih rata.
“Hai Baby, Ayah pulang dan Ayah sangat merindukan kamu.” Rendra memeluk pinggang istrinya dan tidak henti-hentinya menciumi perutnya. Riana merasa sangat bahagia.
“Ayah, ganti baju cepet! Ga enak mereka menunggu kita.” mendengar itu Rendra langsung berdiri dan mengecup bibir manis istrinya. Dia sangat bahagia mendengar apa yang di ucapkan Riana tadi.
Rendra pun menuruti perintah istrinya. Setelah menyiapkan baju ganti untuk suaminya, Riana keluar dari kamarnya dan bergabung dengan kakak dan Didit yang masih asik bermain dengan Salsa.
“Maaf ya! Mas Rendra sedang mandi,” ucapnya.
“Ga apa-apa kok, De,” sahut Desi.
“Tante, nginep cini ya?” ucap polos Salsa pada ibu kandungnya. Desi langsung menatap Riana dengan serius, tapi Riana membalasnya dengan senyuman sambil menaikkan kedua bahunya.
“Iya Chi, kali-kali kamu nginep sini. Kasian Salsa kangen sama tante. Iya kan, sayang?” Salsa mengangguk tersenyum.
“Tante besok kerja, tapi tante bakal nemenin Salsa sampai Salsa tidur oke.” gadis kecil itu melompat kegirangan. Mereka tersenyum melihat betapa bahagianya Salsa terutama Riana yang mengasuh dirinya sejak bayi.
Selesai makan dan bermain sebentar dengan Salsa, Desi pun menemani anaknya untuk tidur di kamar. Tidak butuh waktu yang lama untuk menidurkan gadis kecil itu. Desi keluar dari kamar anaknya dan langsung pamit pada adiknya.
Kenapa dia belum pulang aja, sih? kesal Desi dalam hatinya.
“Aku anter pulang ya, udah malam ga enak perempuan jalan sendiri,”
“Terimakasih, Gue bisa pulang sendiri,”
“Kak, dari tadi Kak Didit nungguin Kak Desi loh. Ga enak, udah malem juga. Mending Kakak pulang di anter Kak Didit aja,”
“Tuh ... Denger kan? Ya udah, diam artinya setuju. Bro Gue balik ya ....” Desi terpaksa ikut dengannya.
__ADS_1
Selama perjalanan Desi hanya diam dan terus memainkan ponselnya. Sebenarnya dia juga di tahu harus mencari apa dalam ponselnya. Tapi, ini dia lakukan agar suasana tidak canggung dan membosankan.
“Chi, kamu kok diem aja? Kalau bicara, ga ada salahnya kan?” Desi terus memainkan ponselnya hingga mereka sampai di tempat tujuan.
“Makasih ya.” Didit menarik tangan Desi saat dirinya hendak keluar.
“Chi, kamu kenapa seperti ini? Aku hanya ingin dekat seperti dulu lagi, Apa itu salah?”
“Salah!! Dit, gue bukan cewek yang baik dan sempurna buat lo. Masih banyak gadis diluar sana yang lebih baik dari pada gue. Dan gue berharap lo bisa menemukannya.”
Didit mengejar Desi yang sudah turun dari mobil. Dia memeluk tubuh Desi dari belakang dan itu membuat Desi kaget dan menghentikan langkahnya.
“Sejak dulu, hati aku ga pernah berubah buat kamu. Aku berharap bisa memulai kembali hubungan kita seperti dulu. Dan memang pada dasarnya hubungan kita tidak pernah berakhir. Aku tidak peduli seperti apa kamu sekarang. Yang aku peduli adalah perasaan aku yang tulus selama ini untukmu.”
Desi yang mendengar perkataan Didit meneteskan air matanya. Dia melepaskan pelukan Didit dan dengan cepat berlari masuk ke gang rumahnya. Didit menarik rambutnya, Apa salah yang aku lakukan? ucapnya dalam hati.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan Vote sebanyak-banyaknya yaaaa......