
Sejak H-2 sebelum acara pernikahan Sonia dan Eki, Rendra dan keluarga kecilnya menginap di kediaman kedua orang tuanya. Rendra berulang kali memesan pada istri dan orang rumahnya agar tidak membiarkan Riana melakukan apapun. Riana merasa tidak enak hanya duduk manis melihat kesibukan semua orang yang ada di rumah.
“Mas, aku bantuin Ibu ya? Ga enak , 'kan aku disini ga berbuat apa-apa,”
“Kalau aku bilang ga, berarti ga boleh!! Aku aja selama 4 bulan ini ga berani nyentuh kamu, itu saking aku ga mau terjadi apa2 sama bayi kita.” Riana tersenyum dan menghampiri suaminya yang sedang duduk di meja kerjanya.
Riana memeluk suaminya dari belakang, dan mencium tengkuknya. Aroma wangi yang khas membuat Riana tidak pernah bosan untuk terus menciumnya.
“Mas, aku ngerti kamu sangat khawatir sama aku dan bayi kita. Tapi, ga perlu seperti ini. Aku juga perlu bergerak dan berolahraga. Dan lagi kata Dokter kan tidak Masalah kalau Mas mau melakukannya.” Perkataan terakhir Riana di ucapkan dengan sedikit berbisik. Rendra langsung menarik tangan istrinya sampai duduk di atas pangkuannya.
“Kamu ngomong tadi?” Riana hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.
Rendra sangat gemas dengan istrinya langsung mencium istrinya dengan sedikit kasar. Rendra sudah tidak tahan dengan senyuman sang istri yang menggoda. Selama empat bulan ini dia bisa menahannya, tapi hari ini dinding pertahanan dia roboh. Rendra mengendong sang istri menuju ke kasur mereka.
“Mas, aku berat,”
“Ga kok, kamu masih ringan. Jadi harus makan banyak. Sayang aku akan melakukannya perlahan ya.” bisiknya. Riana hanya tersenyum, Rendra pun melakukan aksinya.
Keduanya melepas rasa rindu setelah empat bulan lamanya Rendra menahan untuk tidak melakukannya. Rendra melakukannya dengan sangat hati-hati. Dia tidak ingin istri dan anaknya terjadi sesuatu. Riana tertawa kecil, karena Rendra tidak pernah selembut ini padanya saat di ranjang.
**♥️♥️**
Dini hari semua orang sudah mulai sibuk mempersiapkan pernikahan Sonia. Sonia sendiri sudah diambil alih oleh tim make up. Riana mempersiapkan jas dan gaun couple untuknya dan untuk dirinya. Setelah mendadani anak dan suaminya, Riana pun segera bersiap.
Salsa duduk di pangkuan ayahnya. Keduanya asik melihat Riana yang sedang merias wajahnya. Mata Rendra terus melihat keindahan wajah istrinya. Dia benar-benar sangat jatuh cinta pada Riana. Rendra menduduki anaknya di kasur dan menghampiri istrinya.
“Sayang, kamu ga usah make up, biasa aja,”
“Memangnya kenapa Mas? Ini kan pernikahan masa aku dandan biasa aja,” Riana kembali mengoles blush-on di wajahnya. Rendra dengan cepat mengambil semua alat make up istrinya dan menyimpannya jauh dari Riana.
“Kenapa sih, sayang?”
__ADS_1
“Cukup segitu aja. Kaya gitu aja kamu udah cantik banget gimana lebih dari itu? Aku ga mau kecantikan kamu dinikmati orang lain. Hanya aku yang boleh melihat semuanya.” Riana tertawa dengan ucapan Rendra. Dia tidak menyangka Rendra yang dia kenal menjadi bucin dirinya.
“Kenapa ketawa? Aku serius sayang, ga lagi ngelawak.” Riana berdiri dan memeluk pinggang suaminya. Rendra mendekatkan wajahnya, tetapi dengan cepat Riana menghalangi bibirnya saat Rendra hendak mencium dirinya.
“Mas, Salsa ngeliatin kita.” Rendra lupa kalau anaknya juga berada di dalam kamar dengan mereka.
“Kamu sih pake meluk segala, aku 'kan ga kuat dideketin sama kamu.” mendengar itu Riana langsung melepaskan pelukannya.
“Mas, perutku sudah keliatan banget ya? Apa aku terlihat gendut?”
“Ga kok sayang, kamu terlihat seksi di mata aku.” Rendra mencium keningnya. Mereka pun keluar kamar, karena acara pernikahan akan segera berlangsung.
Semua mobil sudah siap berjajar di depan kediaman Wicaksono. Mereka pun pergi menuju gedung yang ada di pusat kota Jakarta tidak jauh dari rumah mereka. Sampai di gedung, Riana membantu adik iparnya, menuntun dirinya masuk ke ruang tunggu, sambil menunggu panggilan MC acara.
“Mba aku gugup,” Sonia terus menggenggam tangan kakak iparnya.
“Wajar sih, Mba juga dulu seperti itu. Sering-seringlah tarik nafas agar kamu merasa tenang.” Sonia mengangguk.
“Kamu cantik, De.” bisik Eki dan berhasil membuat wajah Sonia memerah.
Suasana hening. Semua mata tertuju di tengah-tengah gedung. Prosesi sakral pun dimulai, Eki mengucapkan ijab kabul dengan lantang dan lancar. Penghulu pun mengucapkan Sah dan para saksi pun mengucapkan sah. Ucapan rasa syukur bergema di dalam ruangan.
Setelah ijab kabul, keduanya melakukan prosesi ada Sunda, karena keluarga dari pihak Eki menginginkan pernikahan yang mengangkat adat Sunda. Selama prosesi Semua yang ada di dalam ruangan menyaksikan secara hikmat. Tidak sedikit dari mereka terharu saat melihat prosesi sungkeman kedua pengantin pada masing-masing orang tua mereka.
“Capek ga? Kalau cape kita pulang duluan aja.” bisik Rendra. Sejak tadi dia sangat merasa khawatir dengan kondisi istrinya. Dia takut istrinya akan merasa kelelahan dan dia takut kandungannya terjadi apa-apa.
“Ga kok sayang. Ngomong-ngomong Kak Desi mana ya, Mas? Dari tadi aku belum melihatnya,”
“Mas juga sejak tadi ga lihat sayang.” jawabnya.
Rendra menyerahkan Salsa yang sudah tertidur dalam gendongannya ke pengasuh anaknya.
__ADS_1
Akhirnya prosesi adat pernikahan telah selesai. Acara utama pun sudah dimulai. Musik jazz pun meramaikan suasana. Para tamu mulai berdatangan dan memenuhi gedung pernikahan. Mata Riana terus melihat sekeliling mencari keberadaan kakaknya.
Memang Desi sengaja untuk datang saat acara utama. Saat dia hendak mencari angkutan umum, Didit menghampirinya. Sejak tadi Didit menunggu dirinya keluar dari gang rumahnya. Karena kalau tidak seperti itu, Desi akan menolak dirinya untuk dijemput.
“Ngapain disini?” tanyanya sinis pada Didit.
“Canti-cantik jutek. Jemput kamulah mau apa lagi?” jawab Didit sambil melempar senyuman mautnya. Desi melirik tajam ke arahnya.
“Masuk yu!” Desi pasrah saat Didit menarik tangannya masuk ke dalam mobilnya.
Selama perjalanan menuju ke gedung Eki terus melirik ke arah Desi yang ada di sampingnya. Dia sangat kagum dengan kecantikan Desi yang sejak SMA tidak sama sekali berubah. Menyadari mata Didit yang terus mencuri-curi pandang darinya, Desi langsung melirik tajam ke arah Didit dan berhasil membuat Didit kembali tersenyum.
“Sayang, ngeliatnya jangan gitu napa? Aku bisa-bisa semakin jatuh cinta sama kamu,”
“Ngapain juga liat-liat gue coba? Terus jangan panggil gue sayang, karena gue bukan kekasih lo,”
“Oke ... tapi sebentar lagi juga kamu bakal jadi kekasih aku.” Desi tidak memperdulikan apa yang yang dikatakan Didit. Dia menatap keluar jendela. Sebenarnya hatinya sangat berdebar dan Desi berusaha menahan senyumannya.
.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote sebanyak-banyaknya....