Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 40


__ADS_3

S2 Bab 40


“Abang!” Seru Ana dengan nada yang pelan. Mendengar suara Ana membuat Alaric cukup kaget. Dengan cepat dia menghapus air matanya.


“Bang, ada yang ingin aku jelaskan. Aku mohon! Abang mau mendengar penjelasan aku.” Alaric hanya diam. Saat Ana melangkahkan kaki mendekati Alaric, dia langsung berdiri dari tempat duduknya. Alaric kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar tidur. Dengan cepat Ana memeluk tubuh Alaric dari p belakang.


“Aku mohon, Bang! Dengarkan dulu penjelasan aku. Semua yang kamu lihat itu adalah kesalahpahaman. Pria kemarin itu adalah ....” Belum selesai Ana melanjutkan penjelasannya, Alaric sudah melepaskan tangan Ana yang memeluk pinggangnya.


“Untuk saat ini aku mau sendiri. Aku mohon kamu mengerti!” ucapnya dan masuk ke dalam kamar. Ana berdiri mematung depan pintu kamarnya sambil menangis terisak-isak. Dia teramat kecewa dengan Alaric yang memilih tidak ingin mendengarkan penjelasannya seperti sahabatnya Aulia.


Ana pun meletakkan sepucuk surat yang sudah dipersiapkannya semalam di depan pintu kamar. Ana sudah mengira hal ini akan terjadi, dan dia juga sudah mempersiapkan semuanya secara matang. Dia letakkan surat itu bersamaan dengan handphone Alaric yang jatuh kemarin.


'Maafkan aku!' Ucapnya pelan sambil perlahan melangkah mundur.


Ana mengusap air matanya, dan berusaha tegar, karena di luar dia akan bertemu dengan Gibran dan Krisna. Dia ingin tampak semuanya baik-baik saja. Ana melangkahkan kakinya keluar dan sesekali melirik ke arah pintu kamar Alaric. 'Aku sangat menyayangimu, Abang.' ucapan dia terakhir dan terus melangkah pergi.


Krisna dan Gibran menunggu Ana, di-lobby apartemen yang berada di lantai dasar. Ana terus saja menatik nafas dalam dan membuangnya dari mulutnya, guna untuk menahan air mata yang sudah tidak sabar ingin mengalir dengan sangat sangat deras.


Sampai di lantai dasar, Ana berjalan menunduk. Berharap kalau Gibran dan Krisna tidak ada di-lobby. Karena wajahnya yang menunduk Ana tidak melihat kedua lelaki itu yang sedang duduk di sana. Gibran yang menyadari kalau itu Ana langsung memanggilnya.


“Ana!” panggil Gibran dan itu berhasil menghentikan langkahnya. Ana membalikkan badannya dan memasang wajah senyum pada kedua lelaki itu. Gibran dan Krisna pun menghampirinya.


“Bangaimana? Apa masalahnya sudah selesai?” tanya Gibran.


“Emm ... dia sedang ingin sendiri.” Sambil tersenyum Ana menjawabnya. Pikir dua lelaki itu kalau masalah beres, karena melihat Ana dengan wajahnya yang santai tersenyum.


“Syukurlah,” timpal Krisna.


“Abang, aku pamit pulang ya! Emmm ... sampaikan salam aku buat bang Al. Jangan pernah biarkan dia sendiri ya, Bang!” ucap Ana dan langsung melangkah pergi.


“An ... Ana! Maksud kamu apa?” Ana terus melangkah dengan cepat, tanpa menghiraukan panggilan dari Gibran. Dia sebenarnya sudah tidak kuat menahan air mata yang sejak tadi sudah meronta-ronta ingin keluar. Sambil berlari kecil dan langsung naik ke dalam taxi yang mangkal di depan apartemen Ana menumpahkan tangisnya.


Gibran dan Krisna tidak mengerti dengan ucapan Ana yang seolah-olah dia akan pergi dan tidak kembali. Keduanya pun bergegas naik ke atas dan ingin mendengar ceritanya langsung dari Alaric. Saat keduanya sampai, mereka menemukan sepucuk surat di bawah ponsel Alaric yang di simpan di lantai depan pintu kamarnya. Keduanya saling memandang, dan mereka yakin kalau masalah ini belum selesai.

__ADS_1


“Bang! Abang buka! Jangan kaya anak kecil dong, Bang.” Gibran terus mengetok pintu kamar Alaric. Sampai si empunya kamar merasa risih dan membuka pintu kamarnya.


“Apa?” tanyanya singkat.


“Nih ... Ana meninggalkan ini di depan pintu kamar lo. Masalah kalian belum beres? Kenapa tadi tidak dibereskan sih, Bang?” Kesal Gibran. Karena memang diantara semuanya Gibran berpikiran lebih dewasa dibandingkan dengan yang lainnya.


Alaric mengambil surat dan ponselnya dari tangan Gibran dan kembali menutup pintu kamarnya. Kedua saudaranya pun membiarkan Alaric sendiri dulu untuk saat ini agar hatinya bisa lebih tenang.


“Bro, gue tinggal dulu ya! Harus jemput adik lo, sebentar lagi ada kuliah,” ucap Krisna. Gibran hanya mengangguk dan dia pun merebahkan tubuhnya di sofa sambil meraih ponselnya untuk menghubungi kekasihnya, Intan.


Alaric menatap sepucuk surat yang diberikan oleh Ana. Dia pun membuka surat itu dan membacanya.


...Abang,...


...maafkan aku sudah membuat kamu kecewa....


...Aku tahu kamu sangat benci sama aku, Bang. Dan aku bisa menerimanya. Cuma satu hal yang aku pinta, aku mohon dengarkan penjelasan aku! Sebenarnya pria kemarin itu adalah papa angkatku. Saat aku berusia delapan tahun, aku diadopsi oleh kedua orang tua angkatku sekarang. Kenapa aku tidak cerita sejak dulu? Aku hanya menunggu waktu yang pas. Sebenarnya kemarin saat aku bilang ingin mengenalkan Abang pada seseorang, aku mau mempertemukan Abang sama kekuarga angkatku. Tapi, ternyata Tuhan berkehendak lain, aku haru menunda memperkenalkan abang sama keluargaku....


......Terimakasih Abang untuk semua kebahagiaan yang telah kau berikan untukku. Mengenalmu adalah anugrah terindah yang Tuhan berikan padaku. Sampaikan salam sayang aku untuk bunda, ayah dan juga Arez. Kalian sudah menjadi keluarga untukku. Aku benar-benar sangat menyayangi kalian. Sekali lagi terimakasih sudah mau menerima aku apa adanya. Aku harap kamu selalu bahagia. Jaga kesehatan kamu ya, Bang!......


...Aku akan selalu mencintai dirimu....


Membaca itu membuat Alaric tidak mengerti apa maksud dari surat yang diberikan oleh Ana. Seolah-olah surat itu menandakan perpisahan untuk mereka. Padahal sebenarnya Alaric tidak ingin semua ini terjadi. Dia tadi memilih untuk masuk ke kamar, karena ia tidak ingin Ana melihatnya sedang menangis. Dia sangat ingin mendengarkan penjelasan dari kekasihnya itu, tapi bukan hari ini. Tapi ternyata Ana menangkapnya lain dari yang dia maksudkan.


Alaric mengambil jaketnya dan bergegas keluar dari kamarnya.


“Bro, pinjam kunci mobil lo,” ucap Alaric pada Gibran yang sedang asik menelepon kekasihnya.


“Lo mau kemana?”


“Mana kunci lo, cepetan!”


“Tuh di atas meja. Lo mau kemana, Bang!” Alaric mengambil kunci mobil yang ditunjukan Gibran dan langsung berlari keluar.

__ADS_1


“Woy Bang!” Gibran bangkit dari tidurnya dan langsung menyusul Alaric. Karena dia takut kalau Alaric akan melakukan hal bodoh seperti kemarin malam.


Gibran berhasil menyusul Alaric, dan menarik pundaknya, “Hosh ... hosh, jelasin dulu ke gue lo mau kemana?” Tanya Gibran dengan nafas yang tersengal-sengal saat mengejar sepupunya itu.


“Gue harus kejar Ana,” jawabnya singkat. Gibran pun melepaskan cengkraman di pundak Alaric.


“Oke! Apa perlu gue yang nyetir?”


“Ga usah, gue bisa sendiri.” Alaric pun bergegas menuju tempat parkiran.


“Hadeh ... dasar bucin. Giliran udah kaya gini lo takut bang kehilangan Ana,” bisik Gibran pelan sambil melangkah kembali.


Selama perjalanan menuju rumah kedua orang tua angkatnya, Ana tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Dia sungguh kecewa, kenapa orang-orang yang sangat disayanginya tidak sama sekali tidak mempercayai dirinya. Tekadnya sudah sangat bulat. Dan dia berharap keputusan yang diambil olehnya tidak akan membawa penyesalan untuk dia dan untuk siapapun.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


Akankah Alaric bertemu kembali dengan Ana?


wkwkwkwk terus ikuti kisah mereka yaaaaaa...


Follow IG Author donga @PENULISMICIN biar kalian bisa tahu update-an terbaru novel-novel Author...


AKU PADAMU SEMUANYA ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2