
S2 Bab 38
Dada Alaric terasa sangat sesak. Dia tidak menyangka foto yang diterimanya benar adanya. Ana adalah gadis yang baik di matanya tega-teganya menghianati cintanya. Begitukah yang di pikirkan Alaric.
Alaric tertunduk, untuk pertama kalinya air matanya jatuh membasahi pipi. Rasa kecewa yang teramat dalam membuat dia menjadi orang lain bagi dirinya sendiri. Alaric tidak menyangka kalau dirinya bisa seperti ini karena seorang wanita.
Alaric memutuskan pergi ke apartemen miliknya, yang dia beli dua bulan yang lalu, untuk dirinya kelak bersama dengan Ana apabila sudsh menikah. Dia tidak mau membuat Riana, bundanya merasa khawatir. Alaric ingin mengirim kabar pada ayahnya, dia mencari ponselnya di setiap saku tapi tidak juga ketemu.
“Shiiit!!!!!” Alaric baru mengingat kalau ponselnya jatuh di depan kost-an Ana.
“Pak, apa saya bisa meminjam ponsel anda? Akan saya ganti biayanya,” ucap Alaric pada sopir taxi itu. Sopir itu pun memberikan ponselnya.
Beruntungnya dia ingat di kuar kepala semua nomer ponsel yang dimiliki orang-orang terdekatnya. Pertama-tama dia menghubungi ayahnya, karena pasti ayahnya akan mencari keberadaan dirinya. Setelah menjelaskan pada Rendra kalau dia ada suatu hal.yang di urus, Alaric mengubungi kedua saudara sekaligus sahabat baginya. Mendapat kabar dari Alaric, Krisna dan Gibran segera menyusul dirinya ke apartemen Alaric.
Bimo masih belum mengerti apa yang terjadi. Dia memapah Ana untuk masuk ke dalam kamar kost-annya. Tidak lupa Ana mengambil ponsel milik Alaric yang tadi terjatuh. Bimo memilih untuk diam saat ini, tapi dia sudah bisa membaca kalau Ana sedang ada masalah dengan kekasihnya.
“Mulai besok, tingalah di rumah. Papa merasa khawatir kalau saat ini kamu tinggal sendiri,” ucap Bimo. Ana hanya mengangguk sambil tertunduk di depan pintu kamar kost-annya.
Ana menangis saat ayahnya pamit pulang, dia yakin kalau Alaric sudah mengetahui kabar yang beredar. Ditambah kesalahpahaman yang tadi dilihat olehnya. Ana binggung harus menghubungi Alaric bagaimana. Pasalnya ponsel Alarix ada pada dia. Dia mencoba telepon Aulia tapi nomor dia sudah di blok oleh sahabatnya itu.
Tangis Ana pecah, dia tidak tahu lagi harus mulai dari mana untuk menjelaskan kesalahpahaman ini. Gosip dengan cepatnya menyebar luas. Dia juga tidak mungkin menceritakan masalah ini pada papahnya, karena dia tidk mau membuat papanya kepikiran dengan masalah yang dia hadapi.
Krisna dan Gibran sudah sampai di depan pintu aparteman Alaric. Keduanya langsung masuk, karena memang mereka mengetahui kode pintu apartemen saudaranya itu. Saat masuk, betapa kagetnya mereka saat melihat Alaric sudah menghabiskan beberapa botol minuman yang mengandung alkohol.
Seumur hidup, mereka tidak pernah melihat Alaric meminum minuman haram itu. Entah ide dari mana membuat dia minum minuman itu. Dengan cepat Girbran mengambil botol yang hendak akan diminumnya lagi.
“Bang, lo apa-apa sih?!” Teriak Gibran sambil merebut botol minuman itu.
“Hahahaha ....” Alaric hanya tertawa puas. Dia merebahkan tubuhnya ke sofa, sambil terus tertawa.
__ADS_1
“Bro, dia sudah mabuk. Mending bawa dia ke kamar dulu,” ucap Krisna pada Gibran.
Keduanya pun menggendong tubuh Alaric dan perlahan membaringkannya di kasur. Sambil menghela nafas panjang Gibran dan Krisna menggelengkan kepala secara bersamaan. Mereka tidak menyangka ternyata karena satu wanita bisa membuat seorang Alaric jatuh tidak berdaya seperti itu.
“Dasar wanita murahan! Kenapa gue cinta banget sama lo, Brengs*k!” Teriak Alaric sambil memenjamkan matanya.
“Bro, keluar yuk! Biarkan dia istirahat.” Gibran pun mengangguk. Sambil melangkahkan kaki keluar, Gibran terus menatap sepupu kesayangannya itu. Dia benar-benar masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat hari ini.
Sepatah-patah hatinya seorang Alaric dia tidak pernah seperti hari ini. Dan ini yang membuat Gibran penasaran. Dia pun sudah memikirkan untuk bertemu dengan Ana dan meminta penjelasan atas semua yang telah terjadi.
“Gue ga tahu apa yang terjadi hari ini. Tapi, gue yakin dia sudah bertemu dengan Ana,” ucap Krisna sat keduanya sedang duduk santai di ruang TV.
“Emmm ... gue ga habis pikir, kenapa semua ini bisa terjadi. Gue yakin kalau semua ini hanya kesalahpahaman,” lanjut Gibran.
Di sisi lain, Riana sangat khawatir dengan keadaan anak sulungnya. Dia baru mendapatkan kabar dari suaminya Rendra, kalau Alaric sudah pulang ke Jakarta. Berulang kali dia menelepon anaknya tapi nomornya sudah tidak aktif. Ya ... memang Ana sengaja mematikan ponsel Alaric karena sejak tadi ponsel kekasihnya itu tidak henti-hentinya berbunyi.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia begitu mendadak pulanh ke Jakarta? Dan kenapa sekarang sangat sulit untuk di hubungi?” banyak pertanyaan yang terlontar dari bibir Riana sambil menangis.
Dret ... dret .... -- suara getar ponsel Salsa--
Saat melihat ponselnya, Salsa dengan cepat mengangkat telepon dari adiknya, dia yakin pasti Krisna tahu tentang kabar Alaric.
Salsa :“Halo.”
Krisna :“Halo Kak, aku sekarang ada di apartemen Bang Al. Bilang sama bunda, bang Al baik-baik saja. Sekarang dia sedang tidur, mungkin kelelahan. Jangan mengkhawatirkan bang Al ya! Disini ada aku sama Gibran yang menjaganya.” Jelas Krisna. Karena dia tahu pasti Riana san kakaknya merasa khawatir tentang keadaan Alaric.
Salsa :“Syukurlah kalau seperti itu. De, sebenarnya ada apa?” bisik Salsa agar tidak terdengar oleh bundanya.
Krisna :“Ceritanya panjang, Kak. Nanti aku kirimkan lewat pesan apa yang terjadi ya. Sekarang Kakak tenangin bunda dulu ya! Bang Al baik-baik saja.”
__ADS_1
Salsa :“Ya sudah. Titip Al ya!” Salsa pun mematikan ponselnya.
“Bagaimana Kak? Itu bang Al ya?” Tanya Riana.
“Bukan, Bun. Itu Krisna. Bang Al baik-baik saja, sekarang dia sedang tidur. Bunda ga usah khawatir ya! Mending sekarang kita tidur aja, bagaimana?” Ajak Salsa sambil merangkul lengan Riana. Riana tersenyum mengangguk.
Setelah sang bunda tidur, Salsa segera mengambil ponselnya yang sejak tadi bergetar. Banyak pesan masuk dari Krisna. Betapa kagetnya Salsa saat membaca semua pesan dari adiknya itu. Ada rasa percaya dan tidak melihat isi pesannya. Salsa tidak menyangka kalau kisah cinta adiknya menjadi rumit seperti ini. Dia juga tidak percaya tentang Alaric yang down sampai meminum minuman keras.
Salsa tahu betul kalau adiknya tidak seperti itu. 'Sebegitu besarnya 'kah kamu mencintai Ana, Bang?' batin Salsa sambil membaca semua cerita dari Krisna.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Masih penasaran 'kan? Terus ikuti ceritanya yaaaa! Btw jangan emosi dan jaga hati hahahahaa aku aja yang nulisnya kesel sendiri...wkwkwkwkwk.... tetap semangat semuanya ❤️❤️
jangan lupa like, komen, dan vote yaaa...
Follow IG Author donga @PENULISMICIN biar kalian bisa tahu update-an terbaru novel-novel Author...
Aku padamu semua ❤️❤️❤️
__ADS_1