Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
S2 Bab 72


__ADS_3

S2 Bab 72


Ana masih menenangkan sahabatnya yang masih merenungi rasa bersalahnya. Aulia tidak tahu kalau Krisna yang dapat telepon dari Alaric langsung menuju ke sana. Kedua wanita cantik itu sedang duduk di taman belakang, dan Ana masih merangkul dan menepuk pundak Aulia agar merasa tenang.


Saat Krisna datang, Alaric memberitahu istrinya lewat pesan singkat agar dia membiarkan Aulia sendiri di sana. Mendapat pesan dari Alaric, Ana pamit dengan alasan pergi ke toilet. Aulia hanya mengangguk dan masih menatap kosong ke depan. Melihat Krisna yang sudah berdiri di belakang Aulia membuat Ana tersenyum dan mengepalkan kelima jarinya memberikan semangat, Krisna hanya mengangguk tersenyum.


Krisna melangkahkan kakinya perlahan sampai dia berdiri di hadapan calon istrinya. Aulia yang melihatnya jelas merasa kaget dan tidak percaya.


“Abang!” Krisna tersenyum, dia pun berlutut di depan Aulia dan mengusap wajah cantiknya.


“Cemberut terus, kenapa cih?” tanyanya dengan suara manja. Aulia tersenyum dan langsung memeluk tubuh Krisna.


“Sayang, maafin aku! Aku salah, maafin aku!” ucap Aulia dengan penuh rasa menyesal. Krisna menyambut pelukan Aulia dengan erat, “Enggak ada yang salah, Yank. Kita kurang saling mengerti aja. Aku juga minta maaf ya sudah buat kamu malu dan kesal.” sambil menangis Aulia menggelengkan kepalanya. Calon pengantin itu pun pamit pada Ana dan Alaric.


Rumah tampak kembali sepi dan itu membuat pengantin baru itu merasa bosan berada di rumah. Alaric mengajak istrinya menonton film di bioskop, walaupun mereka sebenarnya sejak tadi menonton beberapa film setelah kepulangan Aulia.


Ana juga merasa bosan, dan akhirnya keduanya pun pergi ke mall terdekat. Setelah sampai di mall, keduanya tidak sengaja bertemu dengan Gibran dan juga anak istrinya.


“Hai ....” sapa Intan pada Ana saat keduanya berpas-pasan saat berjalan. Ana yang sadar langsung memberhentikan langkahnya.


“Kak Intan, Bang Gibran.” sapa Ana. Alaric yang bertemu dengan sepupunya langsung bersalaman dan tos ala mereka sejak kecil.


“Pada mau kemana nih?” tanya Gibran.


“Belum jelas sih, rencananya mau nonton, jenuh di rumah, Bro,” jawab alaric.


“Waah ... pengantin baru ada jenuhnya juga di rumah, kalau gue sih dulu betah di rumah, bebas mainin permainan baru,” canda Gibran yang ujungnya mendapat cubitan dari sang istri, membuat mereka tertawa.


Tagisan bayi yang berada dalam kereta bayi membuat perhatian mereka tertuju padanya. Bayi laki-laki yang kini berusia empat bulan itu bumbuh sehat dan gemuk. Ana yang melihatnya langsung meminta izin pada intan untuk menggendongnya. Intan pun mengangguk dan mengijinkan Ana.


Entah kenapa, bayi yang sering disapa baby Piw yang bernama asli Pitter itu, tangisnya seketika berhenti dalam pelukan Ana. Dan itu membuat ketiga orang yang berada di Ana kaget dengan kejadian yang mereka lihat.


“Waaah ... kayanya udah cocok banget nih jadi ibu,” ucap Gibran. Ana tersenyum, dia memang menginginkan langsung mempunyai keturunan tanpa menundanya. Alaric yang melihat istrinya tersenyum dan langsung merangkul Ana, ikut mangajak main bayi mungil itu Sampai tertawa.

__ADS_1


“Oh iya ... kalian mau kemana?” tanya Alaric.


“Kita mau cari makan, habia beli keperluan baby piw.”


“Bagaimana kita makan bersama? Kebetulan kita juga belum makan siang,” ajak Alaric dan mereka semua pun menyetujuinya.


Selama menunggu makanan tiba, Ana masih terus saja mengajak bayi mungil itu bermain dan berulang kali juga baby piw tertawa melihat Ana.


“Yank, kamu ingin sekali mempunyai anak ya?” lirih Alaric dan Ana mengangguk. Matanya tidak lepas pada bayi mungil yang berada di dalam stoler.


“Ya udah, nanti malam kita bikin ya!” bisik Alaric membuat Ana melirik sinis ke arahnya. Intan dan juga Gibran tertawa melihat kelakuan pengantin baru itu. Yang paling membuat mereka tidak percaya, kalau Alaric bisa juga bercanda seperti pada istrinya.


“Cih ... emang bikin anak kaya bikin kue apa!” kesal Ana dan kembali tujuannya pada bayi mungil yang ada di depannya.


Aneka makanan yang dipesan akhirnya datang juga. Mereka pun langsung menyantap lahap makanan yang sudah tersusum rapih di atas meja. Selesai menyantap makanan, Gibran dan Intan pun langsung pamit karena mereka sudah sejak pagi berkeliling mall, sedangkan Ana dan Alaric melanjutkan kencan mereka.


Keduanya memilih untuk menonton film yang sedang ramai dibicarakan oleh netizen di dunia maya. Sebenarnya film romance bukanlah genre yang disukai oleh Alaric, tapi demi istrinya dia pun ikut menontonnya.


Selama pemutaran film, Ana begitu konsentrasi mengikuti jalannya film sambil menikmati popcorn caramel kesukaannya, sedangkan sang suami yang memang tidak terbiasa menonton film melow malah ketiduran. Ya ... mungkin selama ini dia merasa capek dengan kerjaan yang menumpuk.


“Yank, aku ingin sekali bulan madu ke sana,” ucap Ana yang matanya masih lurus ke depan. Tidak mendapat respon dari sang suami membuat dia akhirnya melirik ke arah Alaric.


Ana membuang napas kasar saat melihat Alaric yang tertidur pulas. Dia pun membiarkan Alaric dalam tidurnya dan melanjutkan menonton film. Saat lampu studio dinyalakan, barulah Ana membangunkan suaminya. Ingin rasanya dia memarahi suaminya, tapi dia sadar kalau selama ini Alaric capek dengan kerjaannya yang banyak di kantor. Akhirnya Ana memilih diam, untuk memendam emosinya.


Alaric sadar bahwa yang dia salah. Berulang kali dia meminta maaf pada Ana, tapi dia hanya mengangguk dan berjalan terus tanpa mempedulikan Alaric.


“Yank ... maafin aku!” ucap Alaric dengan nada manjanya sambil menggenggam tangan Ana. Lagi-lagi Ana hanya mengangguk dan itu berhasil membuat Alaric semakin tidak tenang.


“... Sayang.” Alaric berhenti dan membuat itu juga Ana menghentikan langkahnya.


“Iya ... Abang, ada apa?” tanyanya sinis.


“Kok manggilnya abang sih? Kenapa enggak sayang? Yank, Maafin aku dong! Aku beneran enggak tahu kalau ketiduran. Aku menyesal, Yank. Jangan cuekin aku kaya gini napa!” Alaric menunduk menyesal, membuat Ana tidak tahan untuk berlama-lama cuek padanya, pasalnya sikap Alaric yang seperti anak kecil membuat dia sangat gemas. Ana pun mencubit kedua pipi Alaric membuat si empunya mengangkat wajahnya.

__ADS_1


“Maafin aku juga ya, aku paham betul kamu capek, tapi aku malah marah-marah enggak jelas.” Alaric tersenyum dan merangkul pundak istrinya.


“Kita pulang yuk! Bikin dede.” seketika Ana langsung mencubit perut Alaric membuat dia merasa kesakitan.


Dret ... dret ... dret ---suara getaran handphone---


“Yank, Bu Sarah,” ucap Ana memperlihatkan layar ponselnya. Alaric pun menyuruh Ana segera mengangkat telepon dari ibu asuhnya itu.


“Ya, Bu.”


“Ana, bisa kamu ke panti asuhan sekarang?”


“Ada apa, Bu? Ibu enggak sakit 'kan?”


“Ibu baik-baik saja. Pokoknya ibu tunggu di panti ya, Nak.” Ana pun menyetujuinya.


Entah apa yang akan dibicarakan oleh Ibu Sarah, keduanya bergegas menuju panti asuhan.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


👍Like


💬Komen

__ADS_1


🌺Vote sebanyak-banyaknya...


Terima kasih semuanya ❤️❤️❤️❤️


__ADS_2