Istri Pilihan Ibu

Istri Pilihan Ibu
Bonus Chapter 6


__ADS_3

Bonus Chapter 6


Hesti dan Andri yang baru saja tiba langsung masuk ke rumah Kalila. Sedikit cerita tentang sahabat Kalila. Saat pertama masuk sekolah, Hesti dan Andri adalah orang pertama yang menegurnya di sekolah. Awalnya Kalila menutup diri dan tidak mau berteman dengan siapa pun, tetapi Hesti terus mendekatinya sampai pada akhirnya Kalila pun luluh dan mau berteman dengannya. Andri sendiri adalah sahabat Hesti sejak mereka masih duduk di bangku SMP dan otomatis Andri pun sekarang menjadi teman baik Kalila. Walaupun Andri berbeda jurusan dengan keduanya, tapi mereka tetap menjadi teman dekat.


“Sore, tante!” sapa Hesti yang bertemu dengan Ana di ruang keluarga. Hesti dan Andri pun terlebih dahulu mencium tangan Ana dan Alaric sebelum keduanya masuk bertemu dengan Kalila.


“Sore! Apa kabar kalian berdua? Semenjak kelas tiga, kalian jarang sekali main ke sini,” keluh Mami Ana.


“Kabar kita berdua baik, Tan. Iya ... maaf ya, Tan! Kita berdua sibuk dengan pelajaran tambahan. Maklum tante, otak kita enggak seencer Kalila,” jawab Andri yang membuat mereka tertawa.


“Kamu ini bisa saja. Kalian naik ke atas gih. Cari tahu Kalila kenapa, terus ceritain sama tante ya!” keduanya menaikkan jempol dan langsung menuju kamar Kalila.


Benar saja apa yang dikatakan Kalila, saat Hesti dan Andri masuk ke kamarnya, semua cemilan sudah tersedia di atas meja pendek yang berada di tengah-tengah kamar Kalila.


“Kalila!” teriak Hesti dan langsung memeluk Kalila yang sedang asik tiduran di sofa sambil membaca novel kesukaannya.


“Iih ... gue masih normal woy!” ucap Kalila melepaskan pelukan Hesti dan bangun dari tidurnya.


“Kalau gue boleh dong!” goda Andri, Saat dia hendak memeluk Kalila, gadis cantik itu langsung memperlihatkan kepalan tangannya membuat Andri tersenyum dan membatalkan niat dia untuk memeluk tubuh Kalila.


“Lo sentuh gue sedikit saja, satu tonjokan yang bikin gigi lo rontok.”

__ADS_1


“Dih, jadi cewek itu jangan galak-galak napa, La. Lo itu cantik, feminim dikit kaya Elina tuh. Kalau lo feminim pasti gue udah naksir sama lo dari dulu. Tapi sayang, kelakuan lo kaya preman pasar, jadi hati gue pindah deh ke Elina.” mendengar itu, Hesti dan Kalila langsung melemparkan bantal ke arahnya.


“Dih, gue feminim juga belum tentu gue mau sama lo. Pede banget sih!” Hesti yang melihat mereka berdua hanya tertawa. Keduanya memang tidak pernah akur kalau bertemu, karena Andri yang selalu saja membandingkan Kalila dengan Elina.


Hesti mengeluarkan tugas yang diberikan Pak Akbar tadi di sekolah. Melihat buku pelajaran ekonomi membuat Kalila sangat malas dan hanya melirik buku itu lalu kembali membaca novel yang tadi sempat tertunda.


“La, ayo kerjain dong. Biar gue tinggal nyalin jawaban lo,” keluh Hesti dan berusaha meyakinkan Kalila untuk mengerjakan tugas itu. Setelah berbagai macam cara, akhirnya Hesti meluluhkan hati Kalila dan mau mengerjakan tugasnya. Selama Kedua gadis ini menerjakan tugas, Andri sibuk dengan cemilan dia sambil terus saja berhubungan dengan Elina.


Ya ... memnag Andri sangat menyukai Elina. Siapa sih yang tidak menyukai gadis cantik dan lemah lembut seperti Elina? Tapi berulang kali Andri menyatakan cinta padanya, berulang kali juga Elina menolak dia. Itu karena, Elina tidak mau pacaran sebelum Kalila mendapat pasangan. Elina melakukan itu, agar Kalila mau kembali menjadi Kalila yang dulu dia kenal, bukan seperti sekarang yang sama sekali tidak peduli dengan penampilannya.


“La, gue haus. Gue ambil minum sendiri ya!” ucap Hesti setelah menyelesaikan tugasnya. Kalila hanya mengangguk dan melanjutkan membaca novelnya.


Hesti seketika jatuh menabrak Kama saat keluar dari kamar, “Enggak apa-apa 'kan?” tanya Kama sambil mengulurkan tangannya membantu Hesti untuk berdiri. Hesti hanya diam dan terus menatap wajah Kama. Kama pun langsung menarik tangannya, setelah cukup lama Hesti tidak menerima uluran tangannya.


“... kamu enggak apa-apa 'kan?” tanyanya lagi setelah membantu Hesti berdiri.


“Ah ... so-sorry! Aku enggak apa-apa kok,” jawab Hesti terbata. Kama hanya tersenyum melihat Hesti yang selalu salah tingkah apabila bertemu dengannya.


“Mau kemana?” Hesti menunjukan botol minum. Kama pun mempersilakan Hesti untuk jalan terlebih dahulu di depannya.


Hesti tidak menyangka, kalau Kama mengikuti dirinya dari belakang. Jantungnya semakin berdetak dengan kencang saat mereka hanya berdua berada di dapur. Kama mengambil gelas dan keduanya sama-sama mengambil air mineral di dispenser. Tidak ada jarak saat keduanya berdiri dan itu membuat hati Hesti semakin tidak karuan. Hesti memang sangat menyukai Kama sejak dulu, tapi sayang Hesti mundur sebelum berjuang, karena gosip yang menyebar katanya Kama sudah mempunyai kekasih yang berada di luar negeri. Hesti juga tidak menanyakan kebenaran berita itu pada Kalila, karena sampai sekarang sahabatnya itu tidak mengetahui perasaan dia pada Kama.

__ADS_1


“Kama, aku duluan ya!” ucap Hesti dan kama hanya mengangguk tersenyum.


Sambil berlari kecil, Hesti segera kembali ke kamar Kalila. Saat masuk ke dalam kamar, Hesti langsung menyenderkan tubuhnya di belakang pintu, sambil memeluk botol minum dan tersenyum memandang langit-langit kamar Kalila.


“Lo kesurupan?” tanya Andri seketika yang membuat dia tersadar. Kalila yang melihatnya tertawa kecil dan kembali membaca.


“Gila! Iman gue kuat, setan takut masuk ke tubuh gue,” kesal Hesti dan duduk kembali sambil menyantap cemilan yang ada. Pikiran dia dipenuhi wajah Kama yang tadi tersenyum padanya. Ingin rasanya Hesti berteriak untuk melepaskan rasa gugupnya.


~Bersambung~


Readers yang Setiaaa...


Follow IG author yuk @ PenulisMicin


FB @Septriani Wulandari


Biar kalian bisa mengikuti karya-karya Author yang lainnya.


Terima kasih semua


Aku padamu 🥰🥰🥰😘

__ADS_1


__ADS_2